LOGIN“Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena difitnah telah lancang pada Putri.”Nada suaranya terdengar tulus, namun juga penuh penyesalan.Diana tertawa di dalam hati.Inilah ‘pukulan’ yang ia maksud kepada Embun di dalam kereta kuda tadi.Bukan pukulan dengan kemarahan.Bukan dengan teriakan.Melainkan dengan membiarkan kebenaran berdiri di tengah keramaian dan berbicara sendiri.Ia tidak menjawab permohonan maaf Tuan Damar. Tidak perlu.Sebaliknya, ia menoleh pada tangan yang masih mencengkeram lengannya.“Menepi.”Suaranya datar.Tiara membatu di tempatnya. Jari-jarinya perlahan terlepas dari lengan Diana, seolah baru menyadari apa yang telah ia lakukan.Semua orang melihatnya.Untuk sesaat, Tiara berdiri tanpa suara, lalu lututnya
Tiara seketika tampak pucat.Wajahnya yang tadi berseri karena sanjungan kini kehilangan warna, seolah darah dalam tubuhnya mengalir mundur. Matanya menatap wanita yang berteriak kesakitan itu dengan kebingungan yang nyata—bukan pura-pura.Diana yang berdiri paling dekat memutuskan untuk mendekat. Langkahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam mengamati setiap detail.Wanita itu masih terduduk di tanah, kedua tangannya mencengkeram pipinya sendiri.“Panas… sakit… ahh!”Jeritannya membuat beberapa tamu mundur ngeri.Diana membungkuk sedikit untuk melihat lebih jelas—“Ah!”Ia mendadak mundur satu langkah, menutup setengah wajahnya dengan lengan hanfu, seolah terkejut oleh pemandangan di depannya.Reaksi itu membuat Tiara ikut terdorong rasa penasaran dan ketakutan. Ia menerobos kerumunan, jantungnya berdegup kencang.Begitu melihat kondisi wanita itu, napasnya tercekat.Wajah wanita tersebut kini memerah seluruhnya, bukan sekadar ruam biasa. Kulitnya tampak mengilap aneh, beberapa bagi
Setelah segala persiapan selesai, Diana melangkah keluar dari paviliunnya dengan langkah mantap. Gaun hanfu berwarna biru pucat yang dikenakannya tampak sederhana, namun potongannya elegan dan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi tusuk rambut phoenix yang menjadi lambang kedudukannya sebagai Putri Mahkota.Kereta kuda telah menunggu di depan.Embun berdiri di sampingnya, memegang ujung rok sang Putri agar tidak terseret tanah.Diana menaiki kereta tanpa banyak kata. Tirai ditutup, roda mulai berputar, dan kereta bergerak meninggalkan halaman istana menuju Kediaman keluarga Mahen.Di dalam kereta, suasana hening beberapa saat. Cahaya matahari siang menembus celah tirai, membentuk garis-garis tipis di wajah Diana yang tetap tenang.Embun menatap majikannya dengan raut heran yang sejak tadi ia tahan. Akhirnya ia tidak sanggup lagi.“Putri,” ujarnya pelan namun penuh rasa ingi
Isabella duduk tegak di hadapan cermin peraknya.Pantulan wajahnya terlihat sempurna—kulit pucat tanpa cela, bibir merah muda yang terlukis rapi, dan mata yang dingin bagai danau beku di musim dingin. Tidak ada siapa pun yang akan mengira bahwa di balik ketenangan itu, pikirannya berputar tanpa henti.Di belakangnya, seorang pelayan perempuan berdiri dengan tangan terampil, menyisir rambut panjang Isabella yang hitam berkilau. Setiap helai jatuh lembut di punggung gaunnya, menciptakan kontras indah dengan kain sutra berwarna gading yang ia kenakan.Hari ini ia harus menghadiri undangan Tiara Mahen.Undangan yang tampaknya sederhana—jamuan teh dan perbincangan ringan—tetapi Isabella tahu, tidak ada pertemuan di lingkungan bangsawan yang benar-benar tanpa maksud.Apalagi jika Diana juga akan hadir.Isabella menatap pantulannya tanpa berkedip.Ia tidak boleh kalah.Tidak dalam hal sikap.
Diana terbangun perlahan saat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh wajahnya.Sentuhan itu lembut, bergerak perlahan dari pelipis ke pipinya, seolah seseorang sedang memastikan ia benar-benar nyata. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit.Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata biru gelap yang begitu dekat.Arthur.Pria itu berbaring miring menghadapnya, satu tangan terangkat, jemarinya masih berada di sisi wajah Diana. Tatapannya dalam, tidak berkedip, seolah sedang mengamati sesuatu yang sangat berharga.Jantung Diana berdebar tanpa aba-aba.Pagi itu cahaya matahari yang menyelinap melalui tirai tipis jatuh tepat di wajah Arthur, membuat warna matanya terlihat lebih tajam, lebih hidup.Ia tampak… sangat menawan.Tanpa sadar, sudut bibir Diana terangkat.“Tampan sekali…” gumamnya pelan, suara seraknya masih bercampur sisa kantuk.Hening sejenak.Arthur mengangkat alisnya tipis.“Benarkah?” tanyanya ringan.Biasanya, jika Diana menggoda seper
“Yang Mulia, Anda yakin akan menemui Pangeran Keempat? Saya ragu beliau akan menyambut Anda dengan baik meskipun memang ibunya yang bersalah.”Suara itu datang dari Mila, pelayan pribadi Karin yang baru. Gadis itu berjalan setengah langkah di belakang tuannya, menjaga jarak yang sopan, tetapi nada khawatirnya terdengar jelas.Karin tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap tenang menyusuri koridor panjang menuju kediaman Deon. Hanfu kebesarannya yang bersulam phoenix emas bergeser lembut mengikuti gerakan tubuhnya. Stempel Harem yang kini menjadi simbol kekuasaannya terselip rapi di lengan dalamnya.“Aku yakin,” jawab Karin akhirnya, suaranya datar namun mantap.Mila masih tampak ragu. “Pangeran Keempat baru saja kehilangan ibunya. Istana pun tidak memberinya ruang untuk berduka. Jika Yang Mulia datang sekarang… saya takut beliau salah paham.”Karin berhenti sejenak.Ia menoleh tipis, tatapannya lembut tetapi tegas.“Justru karena itu aku harus datang.”Mila terdiam.Karin memang ti






