Mag-log in"Saya punya ucapan terima kasih kecil buat Budhe dan Pakdhe," sambung Rafa.Ia menoleh ke arah Dika yang sigap melangkah mendekat seraya menyerahkan sebuah folder dokumen berstempel emas."Sebagai rasa terima kasih saya," tutur Rafa seraya menyerahkan dokumen itu ke tangan Joko, "Saya sudah menyiapkan satu unit rumah dua lantai beserta tanahnya di kawasan perumahan elite tak jauh dari kediaman utama kita. Seluruh balik nama atas nama Budhe Lina dan Pakdhe Joko."Joko dan Lina seketika melongo. Mulut Lina menganga lebar, matanya membelalak tak percaya."G-Gusti Allah... R-rumah elite?!" pekik Lina parau, tangannya gemetar memegang dokumen tersebut."Bukan cuma itu, Budhe," potong Rafa seraya tersenyum hangat. "Saya tahu Pakdhe Joko dari dulu punya impian ingin membuka usaha kuliner sendiri. Saya sudah membelikan satu ruko dua lantai di pusat kota dengan modal usaha dan tim manajemen awal. Jadi Pakdhe tinggal mengelola restoran tanpa perlu pusing memikirkan modal."Joko hampir me
Napas Starla tersengal. Rasa cemas, takut, dan tertekan yang sempat menghimpit mendadak menguap. Rafa bukan hanya menyelamatkan nama baik keluarga dan perusahaannya, tetapi juga memberi penghormatan pada martabatnya sebagai seorang pebisnis.Starla menghembuskan napas panjang. "Terima kasih, Pak Rafa... Mulai hari ini, Berlian Group dan seluruh pengaruh yang saya miliki... sepenuhnya berada di pihak Anda."Rafa menyunggingkan senyum tipis, lalu mengulurkan tangannya. "Selamat bergabung dalam aliansi baru kita, Bu Starla."Starla menjabat tangan Rafa dengan tersenyum. "Saya akan meminta tim hukum saya menyiapkan draf perjanjian kerja sama resmi malam ini juga, Pak Rafa. Persoalan likuiditas dan penanganan sepupu saya... saya akan serahkan detailnya pada tim Anda.""Liam yang akan mengawal semuanya secara langsung," sahut Rafa. "Anda tidak perlu khawatir, Bu Starla. Nama baik keluarga Berlian dan stabilitas perusahaan Anda berada di tangan yang aman.""Terima kasih... sungguh, te
Rafa menyunggingkan senyum. "Selamat sore, Bu Starla. Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan Anda," balasnya tak memedulikan sindiran Starla."Saya rasa kita tidak perlu berbelit-belit, Pak Rafa," ujar Starla. "Kalau tujuan Anda mengundang saya ke sini adalah untuk membicarakan tawaran kerja sama seperti sebelum-sebelumnya, jawaban saya masih sama. Perusahaan saya tidak tertarik untuk bersekutu dengan perusahaan Anda.""Saya menghargai ketegasan Anda, Bu Starla," balas Rafa dengan tenang. "Dan saya tahu kenapa Anda selalu menolak proposal kami. Xavier memang culas dan cara berbisnisnya sangat merugikan. Tapi... bagaimana jika saya katakan bahwa alasan kedatangan saya hari ini bukan untuk meminta kerja sama, melainkan untuk memberikan pertolongan?"Starla tertawa kecil. "Pertolongan? Pertolongan seperti apa, Pak Rafa? Perusahaan kami sangat stabil dan mandiri."Rafa memberi isyarat pada Liam. Dengan sigap, Liam menggeser map kulit hitam itu ke hadapan Starla."Si
Rafa kali ini mendengus sinis. "Kesempatan? Kamu nggak pernah menyesal atas apa yang kamu perbuat padaku, Pevita. Kamu cuma menyesal karena pria yang kamu anggap miskin ini ternyata masih memegang kekuasaan.""Nggak, Rafa! Nggak gitu!" racau Pevita histeris, air matanya meleleh merusak riasan tebal di wajahnya. "Aku beneran nyesel! Aku masih cinta sama kamu, Rafa!""Sudah terlambat," potong Rafa dingin. "Penyesalanmu nggak ada artinya lagi. Di hatiku, cuma ada Dewi dan Rafi. Dan mereka adalah alasan aku berdiri di sini hari ini."Rafa memalingkan wajahnya, lalu menatap dua petugas keamanan gedung yang berdiri tak jauh dari pintu utama."Satpam, tolong kondisikan area lobi. Pastikan orang-orang yang tidak berkepentingan tidak mengganggu ketertiban gedung ini.""Baik, Pak Rafa!" sahut kedua satpam itu sigap.Mereka segera melangkah mendekati Pevita dan memegangi kedua lengannya."Rafa, tolong! Rafa! Dengerin aku dulu, Rafa!" jerit Pevita seraya diseret keluar dari gedung.Usai Pe
Usai mengakhiri pidatonya, Rafa turun dari podium. Di sampingnya, Liam dan Dika berjalan mengawal.Namun, saat Rafa baru saja melewati pintu kaca otomatis menuju area lobi luar, langkahnya mendadak terhenti saat melihat wajah yang amat ia kenali."Rafa?! Sedang apa kamu di sini?"Seorang wanita dengan gaun merah mencolok dan kacamata hitam besar melangkah masuk dengan gaya menantang. Sudah lama Rafa tidak melihat Pevita. Wanita masih terlihat angkuh, berjalan meliuk dengan tas bermerek di lengannya, serta melempar pandangan jijik dari ujung kaki hingga ujung kepala Rafa."Coba lihat... penampilanmu sok rapi begitu," cibir Pevita seraya bersedekap dada, terkekeh geli. "Kenapa? Kamu dipecat dari petugas cleaning service sampai harus pinjam jas murahan begitu buat melamar pekerjaan lain?"Liam yang berdiri di belakang Rafa mengepalkan tangannya, hendak maju. Namun, Rafa menahannya dengan mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar sahabatnya tetap tenang."Ada keperluan apa kamu k
Dika menatap Xavier lurus-lurus, lalu menyunggingkan senyum tenang. "Saya di sini bukan untuk mengacau, Pak Xavier. Saya cuma membukakan pintu untuk pimpinan tertinggi yang sebenarnya."Sebelum Xavier sempat memaki lagi, Rafa melangkah masuk ke dalam ruangan.Keheningan seketika mencengkeram seluruh isi ruangan. Beberapa komisaris spontan berdiri dari kursi mereka dengan mata membelalak tak percaya.Xavier membeku di tempatnya, wajahnya memucat saat matanya bertabrakan langsung dengan tatapan tajam nan mengintimidasi milik Rafa.Rafa?!" gagap Xavier, suaranya bergetar. "Kenapa... kenapa kamu—""Kenapa saya ada di sini dengan jas ini, Xavier?" potong Rafa dengan suara dingin. Ia berjalan santai menuju ujung meja, tepat bertatap muka dengan Xavier.Rafa melempar map kulit di tangannya hingga mendarat keras di hadapan Xavier."Permainan penyamaranku sudah selesai," bisik Rafa tajam, membuat napas Xavier tercekat seketika. "Dan hari ini, riwayatmu di perusahaan ini resmi berakhir."
Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil
Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak
Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.
Suara tawa terdengar menggema di ruang santai milik pria berambut coklat bernama Liam. Tangannya menepuk keras bahu kawannya yang bernama Rafa-duduk di sampingnya. Rafa tak menggubris Liam yang masih tertawa bahagia di atas penderitaannya. Wajahnya masih bertekuk masam sambil memandang malas ke a







