Share

Mimpi Buruk

Penulis: Gilva Afnida
last update Tanggal publikasi: 2022-09-22 14:24:46

"Rafa, apa kau cinta denganku?" Nada suara yang manja sekaligus merdu itu selalu mampu menggelitik hati Rafa.

"Tentu, Dewi. Tunggulah sebentar lagi dan aku akan melamarmu dengan membawa sejuta bunga anyelir kesukaanmu."

Dewi tersenyum mempesona. Bagi Rafa, senyum Dewi adalah kebahagiaan untuknya. Sudah sepenuhnya Rafa menyerahkan hati yang utuh hanya untuk Dewi.

Namun sedetik kemudian pemandangan itu berubah menjadi wajah Dewi yang penuh dengan deraian air mata.

"Tinggalkan aku, Rafa! Aku mohon
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mendadak Miskin   24. Menjenguk Dika

    Selesai jam kerja, Rafa langsung memacu motornya menyusuri jalanan yang mulai padat oleh kendaraan pulang kantor. Mengikuti petunjuk alamat dari Pak Agus, ia mengarahkan kendaraannya menuju area pemukiman padat penduduk di pinggiran kota.​Begitu sampai di gang yang dituju, jalanan berubah menjadi lorong-lorong sempit yang hanya bisa dilalui satu sepeda motor. Kanan dan kirinya diapit oleh dinding-dinding rumah yang saling berdempetan, serta jemuran warga yang melintang di atas kepala.​Rafa memelankan laju motornya, matanya bergerak teliti memperhatikan nomor-nomor rumah yang tak berurutan. Karena kebingungan melewati gang yang berbelok-belok, ia akhirnya memutuskan berhenti di depan sebuah warung kelontong kecil.​"Permisi, Ibu," sapanya ramah dari atas motornya. "Mau tanya, kalau rumah Mas Dika Arfian sebelah mana, ya?"​Seorang ibu bertubuh gempal yang sedang menata barang dagangan mendongak. "Oh, Dika anak almarhumah Mbak Rini? Mas terus aja sampai ketemu pertigaan pohon mangga,

  • Mendadak Miskin   24. Dika sakit

    "Aku nggak sedang bikin kekacauan, Dewi. Aku cuma ingin menunjukkan ketulusanku," sahut Rafa.​"Ketulusan macam apa sampai harus bawa-bawa barang mahal begini?!" tegur Dewi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia merasa tertekan oleh situasi ini, terlebih di hadapan Budhe dan Pakdhenya yang kini menatap mereka dengan penuh rasa ingin tahu dan kecurigaan. "Kamu itu cuma bikin rumit semuanya, Rafa! Aku sudah bilang kemarin, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi!"​Joko yang sejak tadi diam memperhatikan fisik ayam jantan di keranjang, akhirnya berdehem untuk menengahi perdebatan.​"Sudah, sudah! Jangan ribut di depan rumah, nggak enak dilihat tetangga!" bentaknya seraya melambaikan tangan. Sorot matanya berpaling ke arah Rafa, lalu ke arah keranjang ayam di atas meja. "Rafa, kalau kamu emang bukan maling dan punya niat baik, buktikan lewat kelakuanmu, bukan cuma bawa barang-barang begini."​Lina dengan cepat menyambar kotak merah berisikan gelang emas itu sebelum ada yang sempat me

  • Mendadak Miskin   23. Dikira maling

    Malam harinya, Rafa langsung mendatangi rumah keluarga Dewi. Ia menyusuri gang kompleks hingga berhenti di depan sebuah rumah milik Pak Joko.​Dari dalam, terdengar suara TV yang menyala pelan. Rafa bersyukur dalam hati saat menyadari motor matic Dewi tidak ada di halaman. Sepertinya wanita itu masih menyelesaikan shift malam di toko tempatnya bekerja. Ini saat yang tepat untuk bicara langsung dengan Pak Joko dan Bu Lina.​Rafa mengetuk pintu dengan pelan. "Permisi... Assalamu’alaikum."​Tak lama kemudian, pintu terbuka. Joko keluar dengan sarung yang terikat di pinggang, namun wajahnya seketika berubah kaku begitu melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.​"Mau ngapain kamu ke sini?!" Suara melengking Lina langsung terdengar dari arah dalam.Wanita bertubuh gempal itu muncul di belakang suaminya dengan berkacak pinggang, menatap Rafa seperti hendak menelannya bulat-bulat."Mas, usir orang ini! Nggak sudi aku kalau rumah kita dikotorin sama dia!"​"Pergi kamu, Rafa! Sebelum saya pan

  • Mendadak Miskin   22. Penolakan Lina

    Begitu jam kerja usai dan ganti pakaian, Rafa segera pulang. Matanya berbinar saat melihat sosok anak laki-laki kecil berkaos biru sedang asyik menendang bola bersama teman-temannya di lapangan dekat kompleks.​Rafa memarkir motornya di pinggir jalan lalu melangkah mendekati lapangan. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak mainan mobil-mobilan remote control yang sengaja ia beli tadi saat dalam perjalanan.​"Rafi!" panggil Rafa, mengulas senyum hangat.​Bocah kecil itu menghentikan jalannya bola lalu menoleh. "Om Rafa!" serunya dengan polosnya, berlari kecil mendekati Rafa sementara teman-temannya tetap bermain.​"Lagi main bola, ya?" tanya Rafa seraya berlutut agar tingginya sejajar dengan sang putra. Hatinya bergetar saat menyadari wajah mungil Rafi yang ternyata sangat mirip dengannya itu. "Nih, Om punya sesuatu buat Rafi."​Mata Rafi seketika berbinar gembira. "Wah, mobil-mobilan! Buat Rafi, Om?"​"Iya, buat Rafi—"​"RAFI! NGAPAIN KAMU DI SITU?!"​Sebuah suara melengking mendadak

  • Mendadak Miskin   21. Keinginan kuat

    "Tapi Rafi butuh sosok ayah yang utuh, Dewi! Bukan sekadar seseorang yang sesekali datang!" desak Rafa. Ia merangkul kedua lutut Dewi, berusaha mengikis jarak yang membentang di antara mereka. "Kita bisa memulai semuanya dari awal. Belajar saling menyembuhkan luka masing-masing."​Namun, Dewi menggeleng kuat-kuat. Ia melepaskan genggaman tangan Rafa dari kakinya dan berdiri, memandangi Rafa yang masih bersimpuh di lantai.​"Keputusanku udah bulat, Rafa," kata Dewi dengan dingin. "Rafi hanya butuh tahu siapa ayah kandungnya, tapi aku... aku nggak butuh pria yang baru datang setelah segalanya hancur. Hubungan kita udah lama usai, dan nggak ada yang perlu diperbaiki lagi selain kewajibanmu pada anakmu."​"Dewi, tolong—"​"Aku harus pulang," potong Dewi cepat, mengabaikan tatapan memohon dari mata pria itu. "Rafi bisa terbangun kapan aja kalau menyadari aku nggak ada di rumah. Tolong, jangan ikuti aku."​Dengan gerakan cepat, Dewi berbalik melangkah menuju pintu. Ia tak memberi kesempatan

  • Mendadak Miskin   20. Lamaran yang ditolak

    "Kamu jangan terus mengelak, Dewi! Aku punya buktinya!" seru Rafa dengan menatap lurus ke arah wanita di hadapannya yang kini mulai berkaca-kaca.​"Apa buktinya?" balas Dewi cepat, berusaha menantang meski nada suaranya bergetar menahan rasa ketakutan di dalam dada.​Rafa langsung mengeluarkan selembar kertas yang sudah terlipat dari saku celananya, lalu menyodorkannya di hadapan Dewi.​"Silakan baca baik-baik."Dewi meraih lembaran kertas putih tersebut. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris istilah medis yang tertera, hingga pandangannya terpaku pada kolom kesimpulan di bagian paling bawah.​Persentase kecocokan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen membuat napasnya seketika tercekat. Kedua matanya membelalak lebar.​"Da... darimana kamu dapat tes ini?" Suara Dewi memelan, menatap Rafa dengan pandangan tidak percaya. "Ini pasti palsu, kan? Kamu cuma mau membohongiku!"​"Aku nggak mungkin selicik itu, Dewi," potong Rafa. Rasa bersalah terpancar jelas di matanya. "Kal

  • Mendadak Miskin   Cleaning Service

    Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.

  • Mendadak Miskin   Mendadak Miskin

    Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke

  • Mendadak Miskin   Ide Gila

    Suara tawa terdengar menggema di ruang santai milik pria berambut coklat bernama Liam. Tangannya menepuk keras bahu kawannya yang bernama Rafa-duduk di sampingnya. Rafa tak menggubris Liam yang masih tertawa bahagia di atas penderitaannya. Wajahnya masih bertekuk masam sambil memandang malas ke a

  • Mendadak Miskin   Bertemu dengan Dewi

    Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status