Share

Suami Dewi

Penulis: Gilva Afnida
last update Tanggal publikasi: 2023-01-30 21:41:27

Rafa meraup wajahnya dengan kasar. Ingin rasanya ia menyerang balik pukulan mentah yang dilayangkan oleh Xavier namun sekuat tenaga ia menahannya. Bukan karena ia takut kepada pria itu, tapi lebih kepada mengontrol diri agar akting yang sedang dilakoninya dapat berakhir dengan sempurna.

"Hanya sebulan, Rafa. Bertahanlah!" gumamnya menyemangati diri sendiri.

"Mas Rafa! Apa kau tadi habis bertengkar dengan pak Xavier?" Dika datang dari arah belakang, ia nampak rapi seperti biasa dengan setelan se
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mendadak Miskin   43. Pertemuan dengan Starla (2)

    ​Rafa menyunggingkan senyum. "Selamat sore, Bu Starla. Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan Anda," balasnya tak memedulikan sindiran Starla.​"Saya rasa kita tidak perlu berbelit-belit, Pak Rafa," ujar Starla. "Kalau tujuan Anda mengundang saya ke sini adalah untuk membicarakan tawaran kerja sama seperti sebelum-sebelumnya, jawaban saya masih sama. Perusahaan saya tidak tertarik untuk bersekutu dengan perusahaan Anda."​"Saya menghargai ketegasan Anda, Bu Starla," balas Rafa dengan tenang. "Dan saya tahu kenapa Anda selalu menolak proposal kami. Xavier memang culas dan cara berbisnisnya sangat merugikan. Tapi... bagaimana jika saya katakan bahwa alasan kedatangan saya hari ini bukan untuk meminta kerja sama, melainkan untuk memberikan pertolongan?"​Starla tertawa kecil. "Pertolongan? Pertolongan seperti apa, Pak Rafa? Perusahaan kami sangat stabil dan mandiri."​Rafa memberi isyarat pada Liam. Dengan sigap, Liam menggeser map kulit hitam itu ke hadapan Starla.​"Si

  • Mendadak Miskin   42. Pertemuan dengan Starla

    Rafa kali ini mendengus sinis. ​"Kesempatan? Kamu nggak pernah menyesal atas apa yang kamu perbuat padaku, Pevita. Kamu cuma menyesal karena pria yang kamu anggap miskin ini ternyata masih memegang kekuasaan."​"Nggak, Rafa! Nggak gitu!" racau Pevita histeris, air matanya meleleh merusak riasan tebal di wajahnya. "Aku beneran nyesel! Aku masih cinta sama kamu, Rafa!"​"Sudah terlambat," potong Rafa dingin. "Penyesalanmu nggak ada artinya lagi. Di hatiku, cuma ada Dewi dan Rafi. Dan mereka adalah alasan aku berdiri di sini hari ini."​Rafa memalingkan wajahnya, lalu menatap dua petugas keamanan gedung yang berdiri tak jauh dari pintu utama.​"Satpam, tolong kondisikan area lobi. Pastikan orang-orang yang tidak berkepentingan tidak mengganggu ketertiban gedung ini."​"Baik, Pak Rafa!" sahut kedua satpam itu sigap.Mereka segera melangkah mendekati Pevita dan memegangi kedua lengannya.​"Rafa, tolong! Rafa! Dengerin aku dulu, Rafa!" jerit Pevita seraya diseret keluar dari gedung.Usai Pe

  • Mendadak Miskin   41. Pevita memohon kembali

    Usai mengakhiri pidatonya, Rafa turun dari podium. Di sampingnya, Liam dan Dika berjalan mengawal.​Namun, saat Rafa baru saja melewati pintu kaca otomatis menuju area lobi luar, langkahnya mendadak terhenti saat melihat wajah yang amat ia kenali.​"Rafa?! Sedang apa kamu di sini?"​Seorang wanita dengan gaun merah mencolok dan kacamata hitam besar melangkah masuk dengan gaya menantang. Sudah lama Rafa tidak melihat Pevita. Wanita masih terlihat angkuh, berjalan meliuk dengan tas bermerek di lengannya, serta melempar pandangan jijik dari ujung kaki hingga ujung kepala Rafa.​"Coba lihat... penampilanmu sok rapi begitu," cibir Pevita seraya bersedekap dada, terkekeh geli. "Kenapa? Kamu dipecat dari petugas cleaning service sampai harus pinjam jas murahan begitu buat melamar pekerjaan lain?"​Liam yang berdiri di belakang Rafa mengepalkan tangannya, hendak maju. Namun, Rafa menahannya dengan mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar sahabatnya tetap tenang.​"Ada keperluan apa kamu k

  • Mendadak Miskin   40. Kembalinya Rafa

    Dika menatap Xavier lurus-lurus, lalu menyunggingkan senyum tenang. "Saya di sini bukan untuk mengacau, Pak Xavier. Saya cuma membukakan pintu untuk pimpinan tertinggi yang sebenarnya."​Sebelum Xavier sempat memaki lagi, Rafa melangkah masuk ke dalam ruangan.​Keheningan seketika mencengkeram seluruh isi ruangan. Beberapa komisaris spontan berdiri dari kursi mereka dengan mata membelalak tak percaya.​Xavier membeku di tempatnya, wajahnya memucat saat matanya bertabrakan langsung dengan tatapan tajam nan mengintimidasi milik Rafa.​Rafa?!" gagap Xavier, suaranya bergetar. "Kenapa... kenapa kamu—"​"Kenapa saya ada di sini dengan jas ini, Xavier?" potong Rafa dengan suara dingin. Ia berjalan santai menuju ujung meja, tepat bertatap muka dengan Xavier.​Rafa melempar map kulit di tangannya hingga mendarat keras di hadapan Xavier.​"Permainan penyamaranku sudah selesai," bisik Rafa tajam, membuat napas Xavier tercekat seketika. "Dan hari ini, riwayatmu di perusahaan ini resmi berakhir."

  • Mendadak Miskin   39. Saudara kandung

    "Kita ini saudara, Dika. Kamu adalah adik kandungku."​Usai kalimat itu terucap, keheningan seketika menyelimuti ruangan. Dika terpaku di atas sofa. Matanya menatap Rafa tanpa berkedip, sementara jemarinya yang memegang ponsel tampak membeku. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.​Rafa mengamati perubahan raut wajah adiknya dengan dada berdebar cemas. Penyesalan mendadak menyusup ke benak Rafa. Ia tahu betul luka masa lalu yang ditinggalkan ayah mereka. Ayahnya telah menorehkan luka dalam, mengkhianati dan menelantarkan Dika serta ibunya selama bertahun-tahun. Rafa takut... jika rasa benci Dika pada sosok ayah mereka kini berimbas pada dirinya.​"Dika... aku tahu... Papa kita udah bikin luka yang terlalu besar buat kamu dan ibu kamu. Aku paham kalau kamu marah besar sama aku. Kalau kamu benci sama aku karena garis keturunan ini, aku terima, Dika. Aku sungguh-sungguh minta maaf atas nama Papa—"​Tiba-tiba, sudut bibir Dika terangkat. Keheningan seketika pecah saat Dika terkekeh

  • Mendadak Miskin   38. Pernyataan jujur dengan Dika

    Sore kembali datang, Rafa Mengamati wajah lelap Rafi di pangkuan Dewi, lalu mendekatkan tubuhnya dan mengusap pipi mungil anak itu dengan penuh rasa kasih.​"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Dewi," bisiknya, tatapannya beralih menatap Dewi. "Aku tahu perjuangan kamu sendirian membesarkan Rafi nggak mudah. Mulai hari ini, kamu nggak perlu nanggung semuanya sendirian lagi."​Dewi menyunggingkan senyum tipis. "Aku juga gak nyangka kalau aku bisa bertahan sejauh ini. Aku pernah berpikir untuk memberi Rafi pada orang lain, untung saja Budhe melarang."Rafa tertegun mendengarnya. Ia semakin menyesal karena tak berada di sisi Dewi lebih awal. Ia malah sibuk mengatasi pernikahannya pada Pevita yang tak tahu diuntung itu.Dewi kemudian menatal Rafa dengan mata berkaca-kaca. "Sejujurnya, saat kamu datang, aku sangat marah karena kamu datang terlambat.""Dewi... aku... aku minta maaf..."Dewi tersenyum tipis. "Sekarang aku udah memaafkanmu, Rafa. Bagaimanapun, aku harus menekan egoku demi

  • Mendadak Miskin   Bertemu dengan Dewi

    Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil

  • Mendadak Miskin   Lina si Tubuh Gempal

    Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak

  • Mendadak Miskin   Cleaning Service

    Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.

  • Mendadak Miskin   Mendadak Miskin

    Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status