MasukKalimat itu membuat Revan terdiam. Ia tahu Vera memang tidak memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya.
Namun ia juga tahu Vera jarang sekali menunjukkan sisi rapuh seperti ini. Gadis itu biasanya selalu terlihat santai.Cerewet. Kadang menyebalkan. Tapi malam ini berbeda. Lampu merah memaksa mobil mereka berhenti.Revan akhirnya menoleh sepenuhnya ke arah Vera.“Jadi solusi kamu… nikah sama om-om?” katanya datar. ‘’Om om gak begitu buruk kok,” kata Vera santai, ‘’BWaktu berjalan begitu cepat. Tiga hari terakhir terasa seperti jeda yang aneh dalam kehidupan mereka bukan liburan, tapi juga bukan rutinitas biasa. Atas permintaan Mama Vita, Vera dan Revan harus tetap menginap di hotel setelah pernikahan mereka. Tidak ada alasan yang bisa mereka gunakan untuk menolak.Jadilah selama tiga hari itu, mereka hanya menghabiskan waktu di dalam kamar yang sama.Bersama.Awalnya canggung. Sangat canggung. Namun perlahan… mereka mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Dengan obrolan-obrolan kecil, makan bersama, bahkan diam bersama tanpa harus selalu mengisi suasana dengan kata-kata.Dan kini akhirnya mereka bebas.Lift apartemen berbunyi pelan saat pintunya terbuka. Revan melangkah keluar lebih dulu, diikuti Vera di belakangnya. Langkah mereka terasa lebih ringan, seolah beban tak kasat mata yang menahan selama tiga hari terakhir akhirnya terlepas.Revan menoleh sedikit ke arah Vera.“Kamu mau tinggal di
“Eughhhh…”Wilona menggeliat pelan di atas ranjang, menarik selimut sedikit lebih tinggi sebelum akhirnya membuka mata dengan berat. Cahaya matahari yang menyelinap dari celah tirai langsung menyambutnya, menandakan pagi sudah datang.Ia mengerjap beberapa kali, masih berusaha mengumpulkan kesadaran.Di sisi lain kamar, sosok suaminya sudah tampak rapi dengan kemeja kantor, berdiri di depan cermin sambil merapikan penampilannya.“Mas…” panggil Wilona dengan suara serak, masih setengah sadar.Yudha langsung menoleh. Senyum hangat terukir di wajahnya saat melihat istrinya sudah bangun.“Selamat pagi, sayang,” ucapnya lembut.Ia berjalan mendekat, lalu tanpa ragu mencium kening Wilona singkat.“Cup.”Wilona sedikit mengerucutkan bibirnya, masih bergelung di tempat tidur.“Kok gak bangunin aku?” protesnya pelan.Yudha justru terkekeh kecil, duduk di tepi ranjang.“Kamu semalem begadang sampai jam berapa sama Tika?” tanyanya santai, ta
Langkah kaki mereka yang semula riuh tiba-tiba terhenti. Saat Vera berusaha mengejar, kakinya tanpa sengaja tersandung kaki meja di samping ranjang.“Ah—!”Tubuhnya kehilangan keseimbangan.Bruk!Ia jatuh dengan posisi tidak sempurna, tangannya refleks menahan tubuh, namun justru membuat kukunya tertekuk keras.“Huaaaa sakitttt!” jerit Vera, suaranya langsung pecah menahan perih yang menjalar cepat.Revan yang tadi masih tertawa, seketika wajahnya berubah panik.“Ver!” Ia langsung berlari mendekat, napasnya masih ngos-ngosan. “Makanya jangan usil, kamu sih lari-larian!”“Kamu yang rese, Van!” balas Vera sambil meringis, matanya mulai berkaca-kaca.“Iya iya, maaf… aku yang salah,” ucap Revan cepat, nada suaranya langsung melunak.Tanpa banyak bicara, ia membantu Vera bangkit dengan hati-hati, memastikan tidak ada bagian lain yang terluka. Ia menuntunnya duduk di tepi tempat tidur, tangannya tetap siaga menopang pundak Vera.Revan kemudian b
Tak lama, keheningan canggung itu pecah oleh suara notifikasi ponsel milik Vera.Ting!Vera refleks menoleh, lalu segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia berdiri sedikit menjauh dari Revan, seolah mencari ruang aman untuk bernapas.Begitu layar menyala, alisnya langsung mengernyit. Pesan dari Wilona dan ia segera membukanya.“Enjoy your first night. It might hurt a little at first, but it will be worth it.”Dan seketika itu juga, mata Vera berhasil membola dengan sempurna.“Astaga!’’ lirihnya hampir tak terdengar.Belum sempat ia mencerna sepenuhnya isi pesan itu, notifikasi lain kembali masuk Dari Tika. Dengan jari yang sedikit gemetar, Vera membuka pesan berikutnya.“Semoga malam ini ‘gawang’-nya jebol ya, Ver. Aku sama Wilona udah siapin semuanya sebagus mungkin. Semoga keponakan kita cepat launching!”Vera benar-benar membeku di tempat. Wajahnya memerah sampai ke telinga, napasnya tercekat, sementara otaknya seperti berhenti bekerja beberapa detik.Perlahan, ia
Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi kembali terdengar terbuka. Vera keluar dengan langkah pelan. Tubuhnya kini dibalut bathrobe putih hotel yang lembut, sementara rambutnya terbungkus handuk. Wajahnya tampak lebih segar, meski sisa kegugupan itu belum sepenuhnya hilang dari matanya.Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.Kosong.Revan tidak terlihat di mana pun."Kemana dia?" gumamnya pelan, alisnya sedikit mengerut. "Pantesan aja aku panggil gak nyaut!"Ia melangkah menuju lemari, berniat mengambil baju ganti dari koper yang sejak tadi belum sempat ia sentuh. Gerakannya masih santai, belum ada firasat aneh sedikit pun.Namun begitu koper itu terbuka, Vera langsung terdiam. Matanya langsung membola."Ini… beneran punyaku, kan?" gumamnya pelan, tangannya mulai mengacak isi koper dengan bingung. "Gak salah kok… tapi kenapa isinya…?"Napasnya tertahan.Koper itu jelas miliknya. Nama “Vera” masih tertera rapi di bagian d
Vera menghela napas pelan. Ia menunduk sejenak sebelum kembali bersuara, mencoba terdengar biasa meski jemarinya saling bertaut gelisah.“Kamu mandi duluan aja…”Revan tidak langsung bergerak. Ia menatap Vera beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu yang tak diucapkan.“Gak usah. Kamu duluan aja. Kamu pasti lebih capek. Enakan berendam air hangat,” katanya akhirnya, nada suaranya tenang.Namun Vera tetap menggeleng. “Gapapa, kamu duluan aja, Van. Beneran… aku masih harus bersihin make up.”Hening sejenak. Revan menghela napas pelan, lalu mengangguk.“Ya udah.” Tanpa banyak kata lagi, ia berbalik dan melangkah menuju kamar mandi. Jas yang sejak tadi masih melekat di tubuhnya dilepas begitu saja di tengah jalan, menyisakan kemeja putih yang sedikit kusut setelah seharian dipakai. Tak lama, pintu kamar mandi tertutup suara air mulai terdengar mengalun pelan. Ruangan itu kembali sunyi.Vera menghela napas panjang, bahunya turun perlahan seolah
Ola bersedekap tangan di dada. Bahunya tegak, dagunya sedikit terangkat. Tatapannya lurus ke depan, menembus dinding kaca besar yang memperlihatkan gemerlap kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi berdiri angkuh, kendaraan bergerak seperti barisan semut yang tak pernah berhenti. Semua tampak normal. Ha
Lorong rumah sakit itu terasa semakin sunyi setelah Wilona benar-benar menghilang dari pandangan.Ola masih berdiri di tempatnya. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya bergejolak. Beberapa detik berlalu tanpa ia bergerak. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan emosi apa pun.Perlahan
Beberapa hari kemudian, dokter akhirnya memperbolehkan Yudha pulang.Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara fisik ia sudah cukup stabil untuk menjalani rawat jalan. Hanya saja, satu hal yang belum kembali ingatannya.Ola dan Andika datang lebih dulu ke rumah sakit pa
Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menol







