تسجيل الدخولTanpa memberikan kesempatan bagi Vera untuk membantah lagi, Revan langsung menyibakkan selimut.
Dengan gerakan yang sangat sigap namun penuh kehati-hatian karena perut Vera yang sudah besar, Revan mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongannya.Vera refleks melingkarkan lengannya di leher Revan, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil tertawa kecil."Revan, turunkan! Aku berat, tahu!" rengek Vera, meski hatinya merasa sangat dilindungi."Kamu tidak berat sama sekali,Tanpa memberikan kesempatan bagi Vera untuk membantah lagi, Revan langsung menyibakkan selimut. Dengan gerakan yang sangat sigap namun penuh kehati-hatian karena perut Vera yang sudah besar, Revan mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongannya. Vera refleks melingkarkan lengannya di leher Revan, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil tertawa kecil."Revan, turunkan! Aku berat, tahu!" rengek Vera, meski hatinya merasa sangat dilindungi."Kamu tidak berat sama sekali, Ver. Kamu dan jagoan kita ini adalah beban paling ringan dan paling berharga yang pernah aku angkat," sahut Revan sambil mengecup pipi Vera sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang luas dan mewah itu.Di dalam kamar mandi, suasana seketika berubah menjadi hangat. Revan menyalakan *shower* dengan suhu air yang hangat, membiarkan uap tipis mulai memenuhi ruangan kaca tersebut. Suara gemericik air yang jatuh ke lantai marmer menjadi musik latar bagi mereka berdua.Awalnya, ni
Cahaya matahari pagi yang lembut menyeruak masuk melalui celah-celah gorden blackout yang tidak tertutup rapat, menciptakan garis-garis emas di atas lantai kayu kamar. Udara sejuk dari pendingin ruangan masih terasa menyelimuti kulit, namun suasana di atas ranjang itu terasa begitu hangat.Vera perlahan membuka matanya. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah wajah Revan yang berada hanya beberapa inci dari wajahnya. Suaminya itu masih terlelap dalam tidur yang tampak sangat pulas. Dalam jarak sedekat ini, Vera bisa memperhatikan setiap detail wajah pria yang beberapa bulan terakhir telah jungkir balik membuktikan cintanya.Garis rahangnya yang tegas tampak sedikit lebih rileks saat tidur, bulu matanya yang lebat menaungi kelopak mata yang terpejam, dan deru napasnya terdengar teratur, menyapu permukaan kulit wajah Vera. Vera tersenyum tipis. Ada rasa damai yang merayap di dadanya setiap kali ia bangun dan menyadari bahwa pria ini masih di sisinya, menjaga s
Malam merambat perlahan, menyisakan kesunyian yang menenangkan di dalam kamar utama yang temaram. Cahaya lampu tidur yang berwarna kuning hangat menciptakan atmosfer yang intim dan damai. Revan sudah meletakkan tablet dan urusan kantornya sejak satu jam yang lalu. Baginya, waktu sebelum tidur adalah momen sakral yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun. Vera berbaring setengah bersandar pada tumpukan bantal empuk, mengenakan daster satin yang nyaman. Perutnya yang sudah memasuki usia tujuh bulan tampak menonjol indah di balik kain tipis itu. Seperti ritual yang tidak pernah terlewatkan, Revan menggeser tubuhnya mendekat, lalu berlutut di sisi ranjang agar wajahnya sejajar dengan perut Vera. Dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh permata paling berharga di dunia, Revan meletakkan telapak tangannya di atas perut Vera. Dinginnya telapak tangan Revan seketika disambut oleh kehangatan k
Mobil putih milik Wilona berhenti tepat di depan lobi apartemen mewah tempat Vera tinggal. Suasana di dalam kabin mobil itu terasa berat, sisa-sisa ketegangan dari mal tadi masih menggantung di udara. Wilona mematikan mesin mobilnya, lalu menoleh ke arah Vera yang sejak tadi hanya menatap kosong ke arah luar jendela.Wilona menghela napas panjang, ia merasa sangat mengkhawatirkan kondisi mental sahabatnya itu. "Kamu beneran gapapa, Ver?" tanya Wilona pelan, suaranya melembut, sangat jauh berbeda dengan nada bicaranya yang meledak-ledak saat menghadapi Sari dan Jenny tadi.Vera mengerjapkan mata, mencoba kembali ke realitas. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang sangat dipaksakan. "Aku gapapa, Wil, beneran. Cuma capek sedikit."Wilona mendengus pelan, ia tidak mudah tertipu. "Sumpah Ver, senyum kamu jelek kalau gitu. Jangan dipaksa kalau emang lagi pengen nangis atau maki-maki orang."Vera menunduk, ia memainkan ujung bajunya dengan jemari
Mereka menoleh serempak. Jenny berjalan santai ke arah mereka, satu tangannya sengaja mengusap-usap perutnya yang mulai membuncit, seolah ingin memamerkan eksistensi nyawa di dalamnya. Kali ini ia sendirian, Sari tampaknya masih tertinggal di dalam toko untuk menyelesaikan sesuatu."Mau apa lagi kamu, hah?" seru Wilona dengan nada yang sudah siap untuk meledak. Ia melangkah satu langkah ke depan, menempatkan dirinya sebagai tameng hidup bagi Vera."Cih, nggak usah ikut campur. Urusan aku itu sama Vera, bukan sama asisten setianya," kata Jenny sinis, matanya menatap Wilona dengan jijik sebelum beralih ke arah Vera.Vera terdiam. Sejak memasuki trimester ketiga, hormon kehamilannya membuat suasana hatinya sangat mudah goyah. Ada rasa lelah yang luar biasa saat melihat wajah Jenny yang selalu penuh dengan tipu daya. Namun, Vera mencoba berdiri tegak, meski tangannya sedikit gemetar di sisi tubuhnya."Kita sama-sama hamil, Ver. Tapi lihat kenyataannya
Vera dan Wilona menoleh serempak. Jantung Vera seolah berhenti berdetak sesaat ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Itu Jenny. Dan yang lebih menyakitkan, di belakang Jenny berdiri seorang wanita paruh baya yang sangat Vera kenali, Sari, ibu kandungnya."Mama, aku mau yang ini! Warnanya pas banget sama konsep kamar bayi aku nanti," kata Jenny dengan nada manja yang dibuat-buat, sambil menggoyang-goyangkan lengan Sari.Pramuniaga itu tampak kebingungan dan serba salah. "Mohon maaf Kak, untuk tipe edisi terbatas ini hanya sisa satu unit ini saja. Dan kebetulan Ibu ini sudah memesannya lebih dulu.""Gak mau! Aku pokoknya mau yang ini, Ma! Masa aku pakai barang yang pasaran? Pokoknya ini harus buat aku!" Jenny merengek, matanya menatap Vera dengan tatapan menantang dan penuh kebencian yang masih sama seperti dulu.Vera masih bergeming. Ekspresi wajahnya mendadak datar, sedatar dinding beton. Ia menatap Sari, wanita yang seharusnya menjadi
Udara pagi di tempat itu begitu berbeda dari hiruk-pikuk kota.Tak ada suara klakson. Tak ada gedung tinggi. Yang terdengar hanya desir angin yang menyapu pepohonan, suara burung, dan gemericik air dari sawah yang membentang luas sejauh mata memandang.Di sebuah rumah sederhana yang berdiri di ping
Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menol
Ola bersedekap tangan di dada. Bahunya tegak, dagunya sedikit terangkat. Tatapannya lurus ke depan, menembus dinding kaca besar yang memperlihatkan gemerlap kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi berdiri angkuh, kendaraan bergerak seperti barisan semut yang tak pernah berhenti. Semua tampak normal. Ha
“Om Dirga,” Wilona memotong cepat, napasnya mulai tak beraturan, “tolong kasih tahu aku. Di mana Mas Yudha sekarang?”Hening lagi. Lalu satu kalimat yang langsung meruntuhkan seluruh dunia Wilona.“Pak Yudha, di rumah sakit, Non !’’‘’Siapa yang sakit Om?” suaranya nyaris tak terdengar.“Tadi sore,







