Share

Bab 6

Author: Mommy_Ar
last update Last Updated: 2025-12-19 17:29:26

Belum sempat Dirga menyusun kata-kata untuk menjelaskan, tiba-tiba pintu ruangan Yudha terbuka dengan cukup keras.

Brakk!

Suara itu menggema di lorong kantor yang tadinya sunyi. Beberapa karyawan refleks menoleh, suasana langsung menegang.

“Kak Eve!” seru Wilona spontan, matanya membulat saat melihat sosok wanita cantik berwajah tegang berdiri di ambang pintu.

Evelyn melangkah keluar dengan ekspresi dingin yang sama sekali tidak ramah. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, jelas menahan emosi yang siap meledak kapan saja.

“Wilona, kamu ngapain di sini?” tanya Evelyn cepat, nadanya dingin dan penuh curiga.

Wilona refleks menggenggam tasnya. Otaknya mendadak kosong. 

“Oh… itu… tadi aku mau—” kalimatnya menggantung, lidahnya kelu. Ia sendiri bingung harus menjelaskan apa.

“Udahlah,” potong Evelyn tegas. “Ayo pulang aja.”

“Loh, loh, Kak Eve tunggu dulu! Kak!” Wilona panik ketika tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik cukup keras.

Sentuhan itu tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membuat Wilona sadar, Evelyn sedang benar-benar kesal.

Dirga hanya bisa terdiam, menatap punggung mereka yang menjauh dengan napas tertahan. Ia tahu, badai besar baru saja dimulai.

Wilona sendiri tidak sempat berpikir panjang. Ia hanya bisa pasrah, langkahnya tertatih mengikuti Evelyn yang berjalan cepat tanpa menoleh sedikit pun.

Mereka tidak menuju parkiran seperti yang Wilona kira. Evelyn justru menyeberang jalan, masuk ke sebuah kafe yang berada tepat di seberang gedung kantor Yudha.

Begitu duduk, Evelyn langsung menyilangkan tangan di dada. Wajahnya menegang, napasnya berat, seolah dadanya penuh dengan amarah yang tertahan terlalu lama.

“Kakak kenapa sih?” tanya Wilona hati-hati, mencondongkan tubuh sedikit. “Kapan Kak Eve pulang? Kok Wilo gak tahu?”

“Barusan!” jawab Evelyn ketus. “Aku dari bandara langsung ke sini!”

Wilona terkejut. “Hah? Langsung ke kantor om Yudha?”

“Iya,” Evelyn menyandarkan punggung ke kursi, menutup mata sejenak. “Tanpa istirahat.”

Wilona mengerjap, lalu menggaruk tengkuknya sendiri. “Terus… kenapa ngereog begini?”

Evelyn membuka matanya, menatap Wilona dengan sorot frustrasi. Ia menghela napas kasar, seperti menahan ledakan emosi.

“Aku kesel sama dia. Nyebelin banget, Wil!”

Wilona terdiam sesaat. “Kakak pulang cuma buat berantem sama Om Yudha?”

 “Cuma kamu bilang?’’ Evelyn tertawa sinis, tapi tawanya hambar, penuh getir.  ‘’Coba Wil, kamu pikir. Kamu pikir baik-baik. Kurang apa aku coba?”

Wilona mengernyit, benar-benar kebingungan. “Maksudnya apa sih, Kak? Sumpah, Wilo gak paham.”

Evelyn menunduk, jemarinya mencengkeram gelas kopi yang bahkan belum disentuh. 

“Aku capek-capek langsung ke kantor nemuin dia. Aku belum istirahat, belum ganti baju, belum tidur. Tapi apa yang aku dapat?”

Ia mendongak, matanya sedikit berkaca-kaca meski berusaha keras menahannya.

“Dia cuekin aku, Wil. Dikacangin. Bahkan… diusir.”

Wilona tercekat. “Diusir?”

“Hem.” Evelyn mengangguk pelan. “Kalau emang dia sibuk, its oke aku bisa ngerti. Tapi aku gak suka dari cara dia Wil!’’

‘’Cara maksud kakak?’’

‘’Ya mukanya itu! Dingin, angkuh, nyebelin. Dia kalua ngambek kaya anak kecil!’’

‘Bukannya muka Om Yudha emang kaya gitu ya?’ gumam Wilona dalam hati.

Wilona menelan ludah. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap tanpa alasan jelas. Ingatannya melayang pada kejadian beberapa hari lalu tatapan Yudha, nada suaranya, dan luka di bibir itu.

Perlahan, Wilona menunduk. “Kak…”

“Hm?”

“Om Yudha… mungkin emang lagi sibuk,’’

Evelyn menyandarkan punggungnya ke kursi kafe, menyilangkan tangan di dada. 

Wajahnya masih menyimpan sisa amarah, tapi suaranya kini lebih terkontrol, meski jelas ada lelah yang menumpuk.

“Aku gak masalah dia sibuk,” ulang Eve sambil menghela napas panjang, “aku tahu tanggung jawabnya besar. Tapi setidaknya jangan marah-marah gitu maksudku, Wil.” 

Matanya menatap keluar jendela, ke arah gedung kantor Yudha yang menjulang dingin. “Aku cuma pengin disambut… bukan malah diusir.”

“Lagian kakak juga kenapa pergi gak pamit sih?” katanya hati-hati, takut salah kata. Wilona mengaduk minumannya pelan, es batu berdenting lirih.

Eve langsung menoleh. “Bukan gak pamit, Wilona. Aku pamit sama dia,” tegasnya. “Walau telat.”

Nada suaranya membuat Wilona terdiam. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar salah paham.

 Ada ego, ada gengsi, dan ada dua orang dewasa yang sama-sama keras kepala. Wilona menghela napas berat, pipinya mengembung sebentar. 

“Oh ya,” kata Eve tiba-tiba sambil menyipitkan mata, “kamu sendiri kenapa bisa nyasar ke klub waktu itu, hah?”

Eve mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kakak belum buat perhitungan sama kamu ya!”

“Hehehehe…” Wilona nyengir gugup, refleks menggigit bibirnya. “Itu, Kak… kemarin di ajak Vera.”

“ASTAGA, Wil!” Eve spontan menaikkan nada suara, membuat beberapa pengunjung kafe melirik. Eve langsung menurunkannya lagi, tapi ekspresinya tetap kesal. 

“Jangan mau kalau di ajak-ajakin ke tempat begitu. Kamu pikir aman?”

Wilona menunduk. “Iya… Wilo salah.”

“Untung aja ada Yudha yang nolongin kamu,” lanjut Eve, kini lebih serius. “Kalau gak ada dia, gimana coba? Kamu itu ceroboh banget sih.”

“Iya iya, Kak,” Wilona cepat mengangguk. “Gak bakal kesana lagi. Janji.”

Eve menghela napas, kemarahannya sedikit mereda. Tangannya meraih gelas kopi, menyeruput perlahan sebelum menatap Wilona dengan tatapan menyelidik.

“Kamu lagi berantem sama Revan?” tanyanya tiba-tiba.

“Enggak!” jawab Wilona cepat, terlalu cepat.

Eve mengangkat alis, lalu tertawa kecil. “Semangat banget jawabnya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Evievoy Rafyno
yudha sibuk...???? sibuk lagi mikirin wilona kali
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 7

    Setelah saling curhat cukup lama, Wilona sempat mengira Evelyn akan mengantarkannya pulang. Setidaknya sampai depan rumah, atau minimal sampai mobilnya. Tapi dugaannya salah besar.Begitu ponsel Eve bergetar dan sebuah nama klien muncul di layar, perempuan itu langsung berubah mode. Wajah lelahnya diganti profesionalisme dingin. Tanpa banyak penjelasan, Eve bangkit, meraih tas, lalu pamit terburu-buru.Wilona hanya bisa melongo, menatap punggung kakaknya yang menjauh.Dan seperti biasa… dia ditinggal.Tak ada pilihan lain, Wilona akhirnya kembali melangkah ke gedung perusahaan Yudha untuk menyelesaikan niat awalnya.Di depan ruangan Yudha, Wilona berhenti sejenak. Mengatur napas. Meyakinkan diri bahwa kedatangannya kali ini murni untuk mengembalikan baju tidak lebih.“Om, aku mau ketemu Om Yudha,” kata Wilona pada Dirga, berusaha terdengar santai.“Oh iya, masuk aja. Orangnya ada kok,” jawab Dirga cepat, seperti ingin segera menyingkir dari sana. Baru saja ia melangkah keluar dari

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 6

    Belum sempat Dirga menyusun kata-kata untuk menjelaskan, tiba-tiba pintu ruangan Yudha terbuka dengan cukup keras.Brakk!Suara itu menggema di lorong kantor yang tadinya sunyi. Beberapa karyawan refleks menoleh, suasana langsung menegang.“Kak Eve!” seru Wilona spontan, matanya membulat saat melihat sosok wanita cantik berwajah tegang berdiri di ambang pintu.Evelyn melangkah keluar dengan ekspresi dingin yang sama sekali tidak ramah. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, jelas menahan emosi yang siap meledak kapan saja.“Wilona, kamu ngapain di sini?” tanya Evelyn cepat, nadanya dingin dan penuh curiga.Wilona refleks menggenggam tasnya. Otaknya mendadak kosong. “Oh… itu… tadi aku mau—” kalimatnya menggantung, lidahnya kelu. Ia sendiri bingung harus menjelaskan apa.“Udahlah,” potong Evelyn tegas. “Ayo pulang aja.”“Loh, loh, Kak Eve tunggu dulu! Kak!” Wilona panik ketika tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik cukup keras.Sentuhan itu tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membua

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 5

    Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Yudha, tenang, rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar mereka seakan menegang.Sontak Wilona memundurkan tubuhnya sampai hampir menabrak sandaran kursi. Jantungnya berdegup tak karuan, seolah baru saja dikejar sesuatu yang tak kasat mata.“O—Om… hehhee… Om bercanda, kan?” suaranya terdengar gugup, tawa kecil yang dipaksakan keluar sebagai tameng. Tangannya refleks mencengkeram ujung meja, seakan butuh pegangan agar tidak benar-benar tumbang.Yudha menyipitkan mata, memperhatikan reaksi Wilona dengan ekspresi yang sulit ditebak. Begitu kalimat itu keluar dari bibir Yudha, nadanya tegas tanpa memberi ruang bantahan.“Sudahlah, habiskan sarapanmu. Saya antar ke kampus.”Wilona langsung mengangguk cepat, refleks seperti anak sekolah yang takut dimarahi guru. Tidak ada protes, tidak ada manyun. Ia buru-buru menyuapkan sisa makanannya, meski pipinya sedikit menggembung karena terlalu cepat mengunyah.Yudha hanya melirik sekilas, lalu m

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 4

    “Saya yang masak!” jawab Yudha datar tanpa menoleh, kedua matanya tetap fokus pada tablet di depannya. Jemarinya sesekali mengetuk layar, seolah sedang memeriksa laporan penting yang tak bisa ditunda. Wilona langsung membeku. Sendok yang tadi sibuk ia gerakkan kini berhenti di udara. Perlahan ia menurunkannya, menatap Yudha seperti melihat fenomena langka. “Kenapa? Nggak percaya?” tanya Yudha sambil akhirnya mengalihkan pandangan. Tatapannya bertemu langsung dengan mata Wilona. Deg! Jantung Wilona berdebar aneh, terlalu keras untuk ukuran percakapan biasa. Ada sesuatu pada tatapan itu tenang, dewasa, tapi entah kenapa membuat tubuhnya terasa hangat. Tanpa sadar, pandangannya turun… ke bibir Yudha. Dahinya mengerut spontan. “Bibir Om kenapa? Luka?” tanyanya polos, benar-benar tanpa rasa bersalah. Yudha menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Menurutmu kenapa?” “Gak tahu, kegigit ya om?” Wilona mengernyit lebih dalam. “Hemm.” Yudha hanya menggumam, malas menjelas

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 3

    Pagi harinya, sinar matahari yang merambat masuk lewat celah tirai perlahan-lahan mulai menyentuh wajah Wilona. Suasana kamar apartemen terasa hangat, namun berbeda dari kamar yang biasa ia tempati. Di luar, bunyi samar kendaraan yang melintas terdengar seperti dengungan jauh. Tiba-tiba— TRRTT TRRTT! Alarm dari ponsel Wilona berbunyi nyaring dan memecah keheningan. “Eughhh…” gerutunya setengah sadar. Masih dalam kondisi setengah bermimpi, ia meraba-raba ranjang mencari sumber suara. Namun bukannya menemukan benda persegi, jemari Wilona malah menyentuh sesuatu yang hangat… dan berotot. Alisnya langsung berkerut. “A—apa ini? Kok… keras… tapi bukan HP?” Perlahan, Wilona membuka mata. Dan seketika itu juga— “HUAAAAAAAAAA!” Jeritan melengkingnya mengguncang seluruh kamar. Ia bangkit dengan sigap, mencengkram selimut erat-erat seperti orang yang baru saja kabur dari penculikan. Di sebelahnya, seorang laki-laki ikut bangun dengan kepala sedikit pening. Rambutnya bera

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 2

    Laki-laki itu yang kini berdiri tepat di depannya membeku sesaat. Tatapannya tajam, tajam sekali, bukan seperti pria mabuk di klub, tapi seperti seseorang yang terbiasa memerintah dan mengintimidasi. Ia menatap Wilona tanpa berkedip, dan ketika matanya menangkap jelas wajah cantik gadis itu… ia tanpa sadar menelan saliva. Ada sesuatu yang membuatnya terkejut entah karena kecantikan Wilona, penampilan berani gadis itu, atau karena ia mengenal seseorang yang mirip dengannya. “Kenapa kamu bisa di sini?” tanyanya datar, low and dangerous. Nada suaranya terdengar bukan sekadar heran… tapi seperti seseorang yang sedang menahan diri agar tidak melakukan hal bodoh. Wilona terkekeh, tubuhnya hampir jatuh ke depan sebelum pria itu menahan pinggangnya. “Aku mau cari sugar daddy…” ucapnya manja, mendengungkan suaranya seperti sengaja menggoda. Dan sebelum pria itu sempat menghindar, tangan lentik Wilona terulur, mengusap dada bidang pria itu dari kerah kemejanya, turun perlahan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status