MasukBelum sempat Dirga menyusun kata-kata untuk menjelaskan, tiba-tiba pintu ruangan Yudha terbuka dengan cukup keras.
Brakk! Suara itu menggema di lorong kantor yang tadinya sunyi. Beberapa karyawan refleks menoleh, suasana langsung menegang. “Kak Eve!” seru Wilona spontan, matanya membulat saat melihat sosok wanita cantik berwajah tegang berdiri di ambang pintu. Evelyn melangkah keluar dengan ekspresi dingin yang sama sekali tidak ramah. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, jelas menahan emosi yang siap meledak kapan saja. “Wilona, kamu ngapain di sini?” tanya Evelyn cepat, nadanya dingin dan penuh curiga. Wilona refleks menggenggam tasnya. Otaknya mendadak kosong. “Oh… itu… tadi aku mau—” kalimatnya menggantung, lidahnya kelu. Ia sendiri bingung harus menjelaskan apa. “Udahlah,” potong Evelyn tegas. “Ayo pulang aja.” “Loh, loh, Kak Eve tunggu dulu! Kak!” Wilona panik ketika tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik cukup keras. Sentuhan itu tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membuat Wilona sadar, Evelyn sedang benar-benar kesal. Dirga hanya bisa terdiam, menatap punggung mereka yang menjauh dengan napas tertahan. Ia tahu, badai besar baru saja dimulai. Wilona sendiri tidak sempat berpikir panjang. Ia hanya bisa pasrah, langkahnya tertatih mengikuti Evelyn yang berjalan cepat tanpa menoleh sedikit pun. Mereka tidak menuju parkiran seperti yang Wilona kira. Evelyn justru menyeberang jalan, masuk ke sebuah kafe yang berada tepat di seberang gedung kantor Yudha. Begitu duduk, Evelyn langsung menyilangkan tangan di dada. Wajahnya menegang, napasnya berat, seolah dadanya penuh dengan amarah yang tertahan terlalu lama. “Kakak kenapa sih?” tanya Wilona hati-hati, mencondongkan tubuh sedikit. “Kapan Kak Eve pulang? Kok Wilo gak tahu?” “Barusan!” jawab Evelyn ketus. “Aku dari bandara langsung ke sini!” Wilona terkejut. “Hah? Langsung ke kantor om Yudha?” “Iya,” Evelyn menyandarkan punggung ke kursi, menutup mata sejenak. “Tanpa istirahat.” Wilona mengerjap, lalu menggaruk tengkuknya sendiri. “Terus… kenapa ngereog begini?” Evelyn membuka matanya, menatap Wilona dengan sorot frustrasi. Ia menghela napas kasar, seperti menahan ledakan emosi. “Aku kesel sama dia. Nyebelin banget, Wil!” Wilona terdiam sesaat. “Kakak pulang cuma buat berantem sama Om Yudha?” “Cuma kamu bilang?’’ Evelyn tertawa sinis, tapi tawanya hambar, penuh getir. ‘’Coba Wil, kamu pikir. Kamu pikir baik-baik. Kurang apa aku coba?” Wilona mengernyit, benar-benar kebingungan. “Maksudnya apa sih, Kak? Sumpah, Wilo gak paham.” Evelyn menunduk, jemarinya mencengkeram gelas kopi yang bahkan belum disentuh. “Aku capek-capek langsung ke kantor nemuin dia. Aku belum istirahat, belum ganti baju, belum tidur. Tapi apa yang aku dapat?” Ia mendongak, matanya sedikit berkaca-kaca meski berusaha keras menahannya. “Dia cuekin aku, Wil. Dikacangin. Bahkan… diusir.” Wilona tercekat. “Diusir?” “Hem.” Evelyn mengangguk pelan. “Kalau emang dia sibuk, its oke aku bisa ngerti. Tapi aku gak suka dari cara dia Wil!’’ ‘’Cara maksud kakak?’’ ‘’Ya mukanya itu! Dingin, angkuh, nyebelin. Dia kalua ngambek kaya anak kecil!’’ ‘Bukannya muka Om Yudha emang kaya gitu ya?’ gumam Wilona dalam hati. Wilona menelan ludah. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap tanpa alasan jelas. Ingatannya melayang pada kejadian beberapa hari lalu tatapan Yudha, nada suaranya, dan luka di bibir itu. Perlahan, Wilona menunduk. “Kak…” “Hm?” “Om Yudha… mungkin emang lagi sibuk,’’ Evelyn menyandarkan punggungnya ke kursi kafe, menyilangkan tangan di dada. Wajahnya masih menyimpan sisa amarah, tapi suaranya kini lebih terkontrol, meski jelas ada lelah yang menumpuk. “Aku gak masalah dia sibuk,” ulang Eve sambil menghela napas panjang, “aku tahu tanggung jawabnya besar. Tapi setidaknya jangan marah-marah gitu maksudku, Wil.” Matanya menatap keluar jendela, ke arah gedung kantor Yudha yang menjulang dingin. “Aku cuma pengin disambut… bukan malah diusir.” “Lagian kakak juga kenapa pergi gak pamit sih?” katanya hati-hati, takut salah kata. Wilona mengaduk minumannya pelan, es batu berdenting lirih. Eve langsung menoleh. “Bukan gak pamit, Wilona. Aku pamit sama dia,” tegasnya. “Walau telat.” Nada suaranya membuat Wilona terdiam. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar salah paham. Ada ego, ada gengsi, dan ada dua orang dewasa yang sama-sama keras kepala. Wilona menghela napas berat, pipinya mengembung sebentar. “Oh ya,” kata Eve tiba-tiba sambil menyipitkan mata, “kamu sendiri kenapa bisa nyasar ke klub waktu itu, hah?” Eve mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kakak belum buat perhitungan sama kamu ya!” “Hehehehe…” Wilona nyengir gugup, refleks menggigit bibirnya. “Itu, Kak… kemarin di ajak Vera.” “ASTAGA, Wil!” Eve spontan menaikkan nada suara, membuat beberapa pengunjung kafe melirik. Eve langsung menurunkannya lagi, tapi ekspresinya tetap kesal. “Jangan mau kalau di ajak-ajakin ke tempat begitu. Kamu pikir aman?” Wilona menunduk. “Iya… Wilo salah.” “Untung aja ada Yudha yang nolongin kamu,” lanjut Eve, kini lebih serius. “Kalau gak ada dia, gimana coba? Kamu itu ceroboh banget sih.” “Iya iya, Kak,” Wilona cepat mengangguk. “Gak bakal kesana lagi. Janji.” Eve menghela napas, kemarahannya sedikit mereda. Tangannya meraih gelas kopi, menyeruput perlahan sebelum menatap Wilona dengan tatapan menyelidik. “Kamu lagi berantem sama Revan?” tanyanya tiba-tiba. “Enggak!” jawab Wilona cepat, terlalu cepat. Eve mengangkat alis, lalu tertawa kecil. “Semangat banget jawabnya.”Sejak kepulangannya dari rumah sakit, suasana memang selalu dipenuhi kewaspadaan semua orang berjalan pelan, bicara lirih, seolah takut mengusik ingatan yang belum kembali.Bel berbunyi.Pelayan membuka pintu, dan seorang pria berdiri rapi di sana.“Selamat malam, Pak,” sapa Dirga sopan ketika akhirnya ia berhadapan langsung dengan Yudha di ruang tamu.Sudah lama ia ingin datang. Tapi baru sekarang, ia bisa menjenguk langsung.Yudha menatapnya beberapa detik. Tatapannya kosong, menilai, seperti mencoba mencari sesuatu di wajah pria itu.“Kamu siapa?” tanya Yudha datar.Dirga menelan ludah pelan, tapi tetap menjaga sikap profesional.“Saya Dirga, Pak. Asisten pribadi Pak Yudha di kantor.”Beberapa detik hening.Yudha mengangguk kecil, seolah mencatat informasi itu dalam kepalanya yang kini seperti buku kosong.“Apa kamu bisa kupercaya?”Pertanyaan itu membuat Dirga sedikit terkejut. Namun ia langsung menunduk hormat.“InsyaAllah bisa, Pak.”Yudha menatapnya sekali lagi, lalu tanpa berk
Beberapa hari kemudian, dokter akhirnya memperbolehkan Yudha pulang.Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara fisik ia sudah cukup stabil untuk menjalani rawat jalan. Hanya saja, satu hal yang belum kembali ingatannya.Ola dan Andika datang lebih dulu ke rumah sakit pagi itu. Evelyn menyusul tak lama kemudian. Ia mengenakan blouse putih sederhana dan celana panjang hitam. Tidak seperti biasanya yang glamor dan penuh sorotan kamera, hari itu ia tampil sederhana. Matanya pun masih sembab entah karena kurang tidur atau terlalu sering menangis.Perawat membantu Yudha duduk di kursi roda. Tatapannya tenang, tapi kosong. Ia melihat ketiganya bergantian, seolah sedang berusaha mengenali siapa yang berdiri di hadapannya.“Kita pulang ya, Nak,” ucap Ola lembut, berusaha terdengar ceria.Yudha hanya mengangguk pelan.Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana di dalam mobil terasa canggung. Andika menyetir. Ola di kursi depan. Sementara Yudha d
Ada jeda sepersekian detik. Sangat singkat. Tapi cukup untuk membuat Evelyn menyadarinya.“Kenapa kamu tanya begitu?” balas Ola.“Apa yang sebenarnya terjadi, Tante?” Evelyn menelan ludah. “Kenapa Yudha hanya mengingat nama Wilo? Kenapa bukan aku? Kenapa bukan Tante? Pasti ada sesuatu yang Eve gak tahu…”Kalimat itu menggantung di udara. Ola menggenggam tangan Evelyn. Genggamannya erat, hampir terlalu erat.“Kamu percaya sama Tante?” Evelyn terdiam. “Kamu tahu kan Tante sayang sama kamu, Eve? Tante cuma mau yang terbaik buat kamu dan Yudha.”“Maksud Tante?” tanya Evelyn pelan.Ola menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Sudahlah. Kamu tidak perlu lagi memikirkan adik kamu itu.”Kalimat itu membuat jantung Evelyn berdegup lebih kencang.Bukan “kita cari bersama.”Bukan “kita lapor polisi lagi.”Tapi, Tidak perlu memikirkan.“Tolong fokuslah pada Yudha,” lanjut Ola dengan suara lembut namun mengandung tekanan yang kuat. “Dan segera
Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menoleh ke arah Evelyn.Ola juga.Tatapan mereka sama-sama terkejut. Evelyn berdiri tegak, meski jantungnya seperti diremas. Tangannya dingin. Tapi ia tidak ingin bersembunyi lagi di balik diam.“Wilona adalah adikku,” ulangnya lebih pelan, menatap langsung ke mata Yudha. “Kenapa kamu mencarinya?”Ada getar halus di suaranya.Bagaimana mungkin…?Pria yang ia tunggu sebulan penuh untuk sadar, pria yang hampir ia nikahi, justru membuka mata dan menyebut nama perempuan lain.Nama adiknya sendiri. Yudha memandang Evelyn lama. Wajah itu cantik. Lembut. Penuh kesedihan.Tapi tetap saja, Tidak ada kenangan.“Adik kamu?” ulang Yudha pelan. “Di mana dia sekarang?”S
Bunyi mesin monitor berdetak pelan memenuhi ruang ICU yang kini terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sudah hampir satu bulan Yudha terbaring tanpa kesadaran. Tubuhnya terpasang berbagai selang dan alat bantu. Wajahnya pucat, namun tetap menyimpan garis tegas yang dulu begitu hidup. Dan pagi itu… jari-jarinya bergerak. Pelan. Sangat pelan. Alisnya berkerut. Napasnya berubah lebih berat. Lalu perlahan… matanya terbuka. Pandangan Yudha masih kabur. Lampu putih di langit-langit terasa menyilaukan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba fokus. Ruangan itu kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya suara mesin dan detak jantungnya sendiri yang terdengar. Bibirnya yang kering bergerak pelan. “W–Wilona…” Nama itu keluar begitu saja. Refleks. Seolah tertanam dalam kesadarannya yang paling dalam. Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka pelan. Evelyn masuk membawa tas kecil di tangannya. Ia datang seperti hari-hari sebelumnya menemani, berbicara pada tubuh yang tak pernah
Langit Jakarta terlihat mendung, seolah ikut memayungi hati Evelyn yang tak tenang. Mobilnya meluncur menuju kantor Yudha dengan kecepatan stabil, tapi pikirannya kacau.Ucapan Vera dan Tika terus terngiang. Wilona sering manggil Mas Yudha… Beberapa kali dijemput Dirga… Udah cukup lama sih, Kak…Tidak.Ia hanya ingin memastikan. Hanya itu. Gedung kantor yang menjulang tinggi dengan dinding kaca itu berdiri megah di pusat kota. Biasanya tempat itu membuatnya bangga, tempat calon suaminya bekerja. Tempat masa depan mereka disusun rapi.Hari ini terasa asing. Evelyn turun dari mobil, langkahnya mantap meski dadanya sesak. Resepsionis langsung berdiri ketika melihatnya.“Selamat siang, Nona Evelyn.”“Saya mau bertemu Dirga,” ucapnya tenang.“Baik, Nona. Beliau ada di ruangan.”Lift eksekutif membawanya ke lantai atas. Ting!Pintu terbuka. Beberapa staf menunduk hormat saat ia melintas.Tok tok.“Masuk,” suara tegas terdeng







