Home / Romansa / Mendadak Jadi Sugar Baby / Jadi, siapa yang salah?

Share

Jadi, siapa yang salah?

Author: Mommy_Ar
last update Last Updated: 2025-12-19 17:50:21

Setelah saling curhat cukup lama, Wilona sempat mengira Evelyn akan mengantarkannya pulang.

Setidaknya sampai depan rumah, atau minimal sampai mobilnya. Tapi dugaannya salah besar.

Begitu ponsel Eve bergetar dan sebuah nama klien muncul di layar, perempuan itu langsung berubah mode.

Wajah lelahnya diganti profesionalisme dingin. Tanpa banyak penjelasan, Eve bangkit, meraih tas, lalu pamit terburu-buru.

Wilona hanya bisa melongo, menatap punggung kakaknya yang menjauh.

Dan seperti biasa… dia ditinggal.

Tak ada pilihan lain, Wilona akhirnya kembali melangkah ke gedung perusahaan Yudha untuk menyelesaikan niat awalnya.

Di depan ruangan Yudha, Wilona berhenti sejenak. Mengatur napas. Meyakinkan diri bahwa kedatangannya kali ini murni untuk mengembalikan baju tidak lebih.

“Om, aku mau ketemu Om Yudha,” kata Wilona pada Dirga, berusaha terdengar santai.

“Oh iya, masuk aja. Orangnya ada kok,” jawab Dirga cepat, seperti ingin segera menyingkir dari sana.

Baru saja ia melangkah keluar dari ruangan itu, raut wajahnya masih menyisakan kelelahan dan kebingungan.

Tok. Tok. Tok.

“Masuk!”

Wilona membuka pintu perlahan. Ruangan itu terasa sunyi, hanya suara kertas dan ketukan pulpen yang terdengar ritmis.

Yudha duduk di balik meja kerjanya, dikelilingi tumpukan berkas, jasnya masih rapi meski dasinya sudah sedikit longgar.

Sebelum benar-benar melangkah masuk, Wilona menelan ludah.

Ia menarik napas panjang, menenangkan degup jantungnya, lalu berjalan mendekat.

“O—Om Yudha…” panggilnya pelan.

Yudha menoleh. Alisnya langsung berkerut tipis. “Wilona, ngapain?”

Nada suaranya datar. Tidak marah. Tidak ramah. Sama seperti Yudha yang selalu Wilona kenal, dingin tapi terkontrol.

“Ini,” Wilona mengangkat tas kecilnya, lalu mengeluarkan baju yang terlipat rapi. “Wilo mau balikin baju waktu itu.”

“Gak usah dibalikin,” jawab Yudha singkat tanpa mengangkat kepala, jemarinya kembali sibuk membolak-balik dokumen.

Wilona mengerucutkan bibir. “Iks, ya gak enak. Wilo kan minjem, bukan minta.”

Yudha diam. Tidak membantah, tapi juga tidak merespons. Wilona akhirnya menyimpan kembali baju itu, matanya mengamati wajah Yudha dari samping.

Ada sesuatu yang berbeda. Garis tegang di rahangnya lebih jelas. Lingkar gelap di bawah matanya tak bisa disembunyikan.

“Oh ya, Om…” Wilona melangkah satu langkah lebih dekat.

“Kenapa lagi, Wil?” sahut Yudha, masih dengan nada yang sama.

Wilona ragu sejenak, lalu memberanikan diri. “Om lagi berantem sama Kak Eve, ya?”

Seketika itu, pulpen di tangan Yudha berhenti bergerak. Ruangan yang tadinya hanya sunyi, kini terasa menekan.

Yudha mengangkat kepalanya perlahan, menatap Wilona lurus-lurus. Tatapan itu bukan marah, tapi cukup membuat Wilona refleks meluruskan punggungnya.

“Kamu sudah ketemu kakak kamu?” tanya Yudha akhirnya.

Wilona mengangguk cepat. “Sebenernya tadi Wilo udah ke sini. Tapi diajak Kak Eve keluar. Wilo pikir mau diajak pulang, taunya malah ditinggal lagi Jadi ya udah… Wilo balik kesini lagi.”

Yudha menatap Wilona beberapa detik lebih lama dari sebelumnya. Tatapan itu bukan marah, melainkan seperti sedang menimbang sesuatu antara kesal, lelah, dan geli menghadapi keberanian gadis di depannya.

“Bicara apa saja dia ke kamu?” tanya Yudha akhirnya.

Ia menyandarkan punggung ke kursi kerjanya. Kursi itu sedikit berdecit saat tubuhnya bersandar, kedua tangannya terlipat di dada.

Posisi defensif atau justru tanda ia sedang berusaha menahan diri. Wilona menggeser berat badannya dari satu kaki ke kaki lain.

Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu luas, terlalu sunyi, hanya diisi suara pendingin ruangan dan detak jantungnya sendiri.

“Dia kesel sama Om Yudha katanya,” jawab Wilona jujur.

Yudha tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip garis tipis daripada lengkungan bahagia. “Kamu tahu kakak kamu gimana kan, Wil?”

Wilona mengangguk pelan. Evelyn memang tipe yang perfeksionis, ambisius, dan emosinya sering terbungkus rapi sampai akhirnya meledak kalau sudah terlalu penuh.

“Tapi Om juga gak peka sama Kak Eve,” ucap Wilona tiba-tiba, suaranya lebih berani dari yang ia kira.

Alis Yudha terangkat sebelah. “Gak peka?”

“Iya.” Wilona melangkah setengah langkah lebih dekat, seolah ingin memastikan ucapannya terdengar jelas.

“Kak Eve itu udah kasih effort loh buat Om Yudha. Dia dari bandara langsung ke sini, belum istirahat, langsung nemuin Om. Eh malah diusir.”

Kata diusir meluncur begitu saja dari bibir Wilona, membuat Yudha menghela napas kasar untuk kedua kalinya hari itu.

Tangannya terlepas dari dada, satu di antaranya mengusap wajahnya singkat, jelas sedang menahan emosi.

“Jadi,” Yudha menatap Wilona lagi, kali ini lebih tajam, “menurutmu saya yang salah?”

Wilona mengerjap. Ia tahu ini wilayah berbahaya salah jawab sedikit saja, bisa berujung petir. Namun entah kenapa, ia justru mengangkat bahu kecil.

“Lima puluh-lima puluh deh biar adil,"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Apa dia anakku?

    Sejak kepulangannya dari rumah sakit, suasana memang selalu dipenuhi kewaspadaan semua orang berjalan pelan, bicara lirih, seolah takut mengusik ingatan yang belum kembali.Bel berbunyi.Pelayan membuka pintu, dan seorang pria berdiri rapi di sana.“Selamat malam, Pak,” sapa Dirga sopan ketika akhirnya ia berhadapan langsung dengan Yudha di ruang tamu.Sudah lama ia ingin datang. Tapi baru sekarang, ia bisa menjenguk langsung.Yudha menatapnya beberapa detik. Tatapannya kosong, menilai, seperti mencoba mencari sesuatu di wajah pria itu.“Kamu siapa?” tanya Yudha datar.Dirga menelan ludah pelan, tapi tetap menjaga sikap profesional.“Saya Dirga, Pak. Asisten pribadi Pak Yudha di kantor.”Beberapa detik hening.Yudha mengangguk kecil, seolah mencatat informasi itu dalam kepalanya yang kini seperti buku kosong.“Apa kamu bisa kupercaya?”Pertanyaan itu membuat Dirga sedikit terkejut. Namun ia langsung menunduk hormat.“InsyaAllah bisa, Pak.”Yudha menatapnya sekali lagi, lalu tanpa berk

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Sulit mengingat

    Beberapa hari kemudian, dokter akhirnya memperbolehkan Yudha pulang.Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara fisik ia sudah cukup stabil untuk menjalani rawat jalan. Hanya saja, satu hal yang belum kembali ingatannya.Ola dan Andika datang lebih dulu ke rumah sakit pagi itu. Evelyn menyusul tak lama kemudian. Ia mengenakan blouse putih sederhana dan celana panjang hitam. Tidak seperti biasanya yang glamor dan penuh sorotan kamera, hari itu ia tampil sederhana. Matanya pun masih sembab entah karena kurang tidur atau terlalu sering menangis.Perawat membantu Yudha duduk di kursi roda. Tatapannya tenang, tapi kosong. Ia melihat ketiganya bergantian, seolah sedang berusaha mengenali siapa yang berdiri di hadapannya.“Kita pulang ya, Nak,” ucap Ola lembut, berusaha terdengar ceria.Yudha hanya mengangguk pelan.Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana di dalam mobil terasa canggung. Andika menyetir. Ola di kursi depan. Sementara Yudha d

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Aku pacar kamu!

    Ada jeda sepersekian detik. Sangat singkat. Tapi cukup untuk membuat Evelyn menyadarinya.“Kenapa kamu tanya begitu?” balas Ola.“Apa yang sebenarnya terjadi, Tante?” Evelyn menelan ludah. “Kenapa Yudha hanya mengingat nama Wilo? Kenapa bukan aku? Kenapa bukan Tante? Pasti ada sesuatu yang Eve gak tahu…”Kalimat itu menggantung di udara. Ola menggenggam tangan Evelyn. Genggamannya erat, hampir terlalu erat.“Kamu percaya sama Tante?” Evelyn terdiam. “Kamu tahu kan Tante sayang sama kamu, Eve? Tante cuma mau yang terbaik buat kamu dan Yudha.”“Maksud Tante?” tanya Evelyn pelan.Ola menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Sudahlah. Kamu tidak perlu lagi memikirkan adik kamu itu.”Kalimat itu membuat jantung Evelyn berdegup lebih kencang.Bukan “kita cari bersama.”Bukan “kita lapor polisi lagi.”Tapi, Tidak perlu memikirkan.“Tolong fokuslah pada Yudha,” lanjut Ola dengan suara lembut namun mengandung tekanan yang kuat. “Dan segera

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Kebohongan Olla

    Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menoleh ke arah Evelyn.Ola juga.Tatapan mereka sama-sama terkejut. Evelyn berdiri tegak, meski jantungnya seperti diremas. Tangannya dingin. Tapi ia tidak ingin bersembunyi lagi di balik diam.“Wilona adalah adikku,” ulangnya lebih pelan, menatap langsung ke mata Yudha. “Kenapa kamu mencarinya?”Ada getar halus di suaranya.Bagaimana mungkin…?Pria yang ia tunggu sebulan penuh untuk sadar, pria yang hampir ia nikahi, justru membuka mata dan menyebut nama perempuan lain.Nama adiknya sendiri. Yudha memandang Evelyn lama. Wajah itu cantik. Lembut. Penuh kesedihan.Tapi tetap saja, Tidak ada kenangan.“Adik kamu?” ulang Yudha pelan. “Di mana dia sekarang?”S

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Kenapa Wilona?

    Bunyi mesin monitor berdetak pelan memenuhi ruang ICU yang kini terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sudah hampir satu bulan Yudha terbaring tanpa kesadaran. Tubuhnya terpasang berbagai selang dan alat bantu. Wajahnya pucat, namun tetap menyimpan garis tegas yang dulu begitu hidup. Dan pagi itu… jari-jarinya bergerak. Pelan. Sangat pelan. Alisnya berkerut. Napasnya berubah lebih berat. Lalu perlahan… matanya terbuka. Pandangan Yudha masih kabur. Lampu putih di langit-langit terasa menyilaukan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba fokus. Ruangan itu kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya suara mesin dan detak jantungnya sendiri yang terdengar. Bibirnya yang kering bergerak pelan. “W–Wilona…” Nama itu keluar begitu saja. Refleks. Seolah tertanam dalam kesadarannya yang paling dalam. Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka pelan. Evelyn masuk membawa tas kecil di tangannya. Ia datang seperti hari-hari sebelumnya menemani, berbicara pada tubuh yang tak pernah

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Evelyn frustasi

    Langit Jakarta terlihat mendung, seolah ikut memayungi hati Evelyn yang tak tenang. Mobilnya meluncur menuju kantor Yudha dengan kecepatan stabil, tapi pikirannya kacau.Ucapan Vera dan Tika terus terngiang. Wilona sering manggil Mas Yudha… Beberapa kali dijemput Dirga… Udah cukup lama sih, Kak…Tidak.Ia hanya ingin memastikan. Hanya itu. Gedung kantor yang menjulang tinggi dengan dinding kaca itu berdiri megah di pusat kota. Biasanya tempat itu membuatnya bangga, tempat calon suaminya bekerja. Tempat masa depan mereka disusun rapi.Hari ini terasa asing. Evelyn turun dari mobil, langkahnya mantap meski dadanya sesak. Resepsionis langsung berdiri ketika melihatnya.“Selamat siang, Nona Evelyn.”“Saya mau bertemu Dirga,” ucapnya tenang.“Baik, Nona. Beliau ada di ruangan.”Lift eksekutif membawanya ke lantai atas. Ting!Pintu terbuka. Beberapa staf menunduk hormat saat ia melintas.Tok tok.“Masuk,” suara tegas terdeng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status