Share

Bab 7

Author: Mommy_Ar
last update Last Updated: 2025-12-19 17:50:21

Setelah saling curhat cukup lama, Wilona sempat mengira Evelyn akan mengantarkannya pulang. 

Setidaknya sampai depan rumah, atau minimal sampai mobilnya. Tapi dugaannya salah besar.

Begitu ponsel Eve bergetar dan sebuah nama klien muncul di layar, perempuan itu langsung berubah mode. 

Wajah lelahnya diganti profesionalisme dingin. Tanpa banyak penjelasan, Eve bangkit, meraih tas, lalu pamit terburu-buru.

Wilona hanya bisa melongo, menatap punggung kakaknya yang menjauh.

Dan seperti biasa… dia ditinggal.

Tak ada pilihan lain, Wilona akhirnya kembali melangkah ke gedung perusahaan Yudha untuk menyelesaikan niat awalnya.

Di depan ruangan Yudha, Wilona berhenti sejenak. Mengatur napas. Meyakinkan diri bahwa kedatangannya kali ini murni untuk mengembalikan baju tidak lebih.

“Om, aku mau ketemu Om Yudha,” kata Wilona pada Dirga, berusaha terdengar santai.

“Oh iya, masuk aja. Orangnya ada kok,” jawab Dirga cepat, seperti ingin segera menyingkir dari sana. 

Baru saja ia melangkah keluar dari ruangan itu, raut wajahnya masih menyisakan kelelahan dan kebingungan.

Tok. Tok. Tok.

“Masuk!”

Wilona membuka pintu perlahan. Ruangan itu terasa sunyi, hanya suara kertas dan ketukan pulpen yang terdengar ritmis. 

Yudha duduk di balik meja kerjanya, dikelilingi tumpukan berkas, jasnya masih rapi meski dasinya sudah sedikit longgar.

Sebelum benar-benar melangkah masuk, Wilona menelan ludah. 

Ia menarik napas panjang, menenangkan degup jantungnya, lalu berjalan mendekat.

“O—Om Yudha…” panggilnya pelan.

Yudha menoleh. Alisnya langsung berkerut tipis. “Wilona, ngapain?”

Nada suaranya datar. Tidak marah. Tidak ramah. Sama seperti Yudha yang selalu Wilona kenal, dingin tapi terkontrol.

“Ini,” Wilona mengangkat tas kecilnya, lalu mengeluarkan baju yang terlipat rapi. “Wilo mau balikin baju waktu itu.”

“Gak usah dibalikin,” jawab Yudha singkat tanpa mengangkat kepala, jemarinya kembali sibuk membolak-balik dokumen.

Wilona mengerucutkan bibir. “Iks, ya gak enak. Wilo kan minjem, bukan minta.”

Yudha diam. Tidak membantah, tapi juga tidak merespons. Wilona akhirnya menyimpan kembali baju itu, matanya mengamati wajah Yudha dari samping. 

Ada sesuatu yang berbeda. Garis tegang di rahangnya lebih jelas. Lingkar gelap di bawah matanya tak bisa disembunyikan.

“Oh ya, Om…” Wilona melangkah satu langkah lebih dekat.

“Kenapa lagi, Wil?” sahut Yudha, masih dengan nada yang sama.

Wilona ragu sejenak, lalu memberanikan diri. “Om lagi berantem sama Kak Eve, ya?”

Seketika itu, pulpen di tangan Yudha berhenti bergerak. Ruangan yang tadinya hanya sunyi, kini terasa menekan. 

Yudha mengangkat kepalanya perlahan, menatap Wilona lurus-lurus. Tatapan itu bukan marah, tapi cukup membuat Wilona refleks meluruskan punggungnya.

“Kamu sudah ketemu kakak kamu?” tanya Yudha akhirnya.

Wilona mengangguk cepat. “Sebenernya tadi Wilo udah ke sini. Tapi diajak Kak Eve keluar. Wilo pikir mau diajak pulang, taunya malah ditinggal lagi Jadi ya udah… Wilo balik kesini lagi.”

Yudha menatap Wilona beberapa detik lebih lama dari sebelumnya. Tatapan itu bukan marah, melainkan seperti sedang menimbang sesuatu antara kesal, lelah, dan geli menghadapi keberanian gadis di depannya.

“Bicara apa saja dia ke kamu?” tanya Yudha akhirnya.

Ia menyandarkan punggung ke kursi kerjanya. Kursi itu sedikit berdecit saat tubuhnya bersandar, kedua tangannya terlipat di dada. 

Posisi defensif atau justru tanda ia sedang berusaha menahan diri. Wilona menggeser berat badannya dari satu kaki ke kaki lain. 

Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu luas, terlalu sunyi, hanya diisi suara pendingin ruangan dan detak jantungnya sendiri.

“Dia kesel sama Om Yudha katanya,” jawab Wilona jujur.

Yudha tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip garis tipis daripada lengkungan bahagia. “Kamu tahu kakak kamu gimana kan, Wil?”

Wilona mengangguk pelan. Evelyn memang tipe yang perfeksionis, ambisius, dan emosinya sering terbungkus rapi sampai akhirnya meledak kalau sudah terlalu penuh.

“Tapi Om juga gak peka sama Kak Eve,” ucap Wilona tiba-tiba, suaranya lebih berani dari yang ia kira.

Alis Yudha terangkat sebelah. “Gak peka?”

“Iya.” Wilona melangkah setengah langkah lebih dekat, seolah ingin memastikan ucapannya terdengar jelas. 

“Kak Eve itu udah kasih effort loh buat Om Yudha. Dia dari bandara langsung ke sini, belum istirahat, langsung nemuin Om. Eh malah diusir.”

Kata diusir meluncur begitu saja dari bibir Wilona, membuat Yudha menghela napas kasar untuk kedua kalinya hari itu. 

Tangannya terlepas dari dada, satu di antaranya mengusap wajahnya singkat, jelas sedang menahan emosi.

“Jadi,” Yudha menatap Wilona lagi, kali ini lebih tajam, “menurutmu saya yang salah?”

Wilona mengerjap. Ia tahu ini wilayah berbahaya salah jawab sedikit saja, bisa berujung petir. Namun entah kenapa, ia justru mengangkat bahu kecil.

“Lima puluh-lima puluh deh,” katanya santai. “Biar adil.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 7

    Setelah saling curhat cukup lama, Wilona sempat mengira Evelyn akan mengantarkannya pulang. Setidaknya sampai depan rumah, atau minimal sampai mobilnya. Tapi dugaannya salah besar.Begitu ponsel Eve bergetar dan sebuah nama klien muncul di layar, perempuan itu langsung berubah mode. Wajah lelahnya diganti profesionalisme dingin. Tanpa banyak penjelasan, Eve bangkit, meraih tas, lalu pamit terburu-buru.Wilona hanya bisa melongo, menatap punggung kakaknya yang menjauh.Dan seperti biasa… dia ditinggal.Tak ada pilihan lain, Wilona akhirnya kembali melangkah ke gedung perusahaan Yudha untuk menyelesaikan niat awalnya.Di depan ruangan Yudha, Wilona berhenti sejenak. Mengatur napas. Meyakinkan diri bahwa kedatangannya kali ini murni untuk mengembalikan baju tidak lebih.“Om, aku mau ketemu Om Yudha,” kata Wilona pada Dirga, berusaha terdengar santai.“Oh iya, masuk aja. Orangnya ada kok,” jawab Dirga cepat, seperti ingin segera menyingkir dari sana. Baru saja ia melangkah keluar dari

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 6

    Belum sempat Dirga menyusun kata-kata untuk menjelaskan, tiba-tiba pintu ruangan Yudha terbuka dengan cukup keras.Brakk!Suara itu menggema di lorong kantor yang tadinya sunyi. Beberapa karyawan refleks menoleh, suasana langsung menegang.“Kak Eve!” seru Wilona spontan, matanya membulat saat melihat sosok wanita cantik berwajah tegang berdiri di ambang pintu.Evelyn melangkah keluar dengan ekspresi dingin yang sama sekali tidak ramah. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, jelas menahan emosi yang siap meledak kapan saja.“Wilona, kamu ngapain di sini?” tanya Evelyn cepat, nadanya dingin dan penuh curiga.Wilona refleks menggenggam tasnya. Otaknya mendadak kosong. “Oh… itu… tadi aku mau—” kalimatnya menggantung, lidahnya kelu. Ia sendiri bingung harus menjelaskan apa.“Udahlah,” potong Evelyn tegas. “Ayo pulang aja.”“Loh, loh, Kak Eve tunggu dulu! Kak!” Wilona panik ketika tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik cukup keras.Sentuhan itu tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membua

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 5

    Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Yudha, tenang, rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar mereka seakan menegang.Sontak Wilona memundurkan tubuhnya sampai hampir menabrak sandaran kursi. Jantungnya berdegup tak karuan, seolah baru saja dikejar sesuatu yang tak kasat mata.“O—Om… hehhee… Om bercanda, kan?” suaranya terdengar gugup, tawa kecil yang dipaksakan keluar sebagai tameng. Tangannya refleks mencengkeram ujung meja, seakan butuh pegangan agar tidak benar-benar tumbang.Yudha menyipitkan mata, memperhatikan reaksi Wilona dengan ekspresi yang sulit ditebak. Begitu kalimat itu keluar dari bibir Yudha, nadanya tegas tanpa memberi ruang bantahan.“Sudahlah, habiskan sarapanmu. Saya antar ke kampus.”Wilona langsung mengangguk cepat, refleks seperti anak sekolah yang takut dimarahi guru. Tidak ada protes, tidak ada manyun. Ia buru-buru menyuapkan sisa makanannya, meski pipinya sedikit menggembung karena terlalu cepat mengunyah.Yudha hanya melirik sekilas, lalu m

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 4

    “Saya yang masak!” jawab Yudha datar tanpa menoleh, kedua matanya tetap fokus pada tablet di depannya. Jemarinya sesekali mengetuk layar, seolah sedang memeriksa laporan penting yang tak bisa ditunda. Wilona langsung membeku. Sendok yang tadi sibuk ia gerakkan kini berhenti di udara. Perlahan ia menurunkannya, menatap Yudha seperti melihat fenomena langka. “Kenapa? Nggak percaya?” tanya Yudha sambil akhirnya mengalihkan pandangan. Tatapannya bertemu langsung dengan mata Wilona. Deg! Jantung Wilona berdebar aneh, terlalu keras untuk ukuran percakapan biasa. Ada sesuatu pada tatapan itu tenang, dewasa, tapi entah kenapa membuat tubuhnya terasa hangat. Tanpa sadar, pandangannya turun… ke bibir Yudha. Dahinya mengerut spontan. “Bibir Om kenapa? Luka?” tanyanya polos, benar-benar tanpa rasa bersalah. Yudha menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Menurutmu kenapa?” “Gak tahu, kegigit ya om?” Wilona mengernyit lebih dalam. “Hemm.” Yudha hanya menggumam, malas menjelas

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 3

    Pagi harinya, sinar matahari yang merambat masuk lewat celah tirai perlahan-lahan mulai menyentuh wajah Wilona. Suasana kamar apartemen terasa hangat, namun berbeda dari kamar yang biasa ia tempati. Di luar, bunyi samar kendaraan yang melintas terdengar seperti dengungan jauh. Tiba-tiba— TRRTT TRRTT! Alarm dari ponsel Wilona berbunyi nyaring dan memecah keheningan. “Eughhh…” gerutunya setengah sadar. Masih dalam kondisi setengah bermimpi, ia meraba-raba ranjang mencari sumber suara. Namun bukannya menemukan benda persegi, jemari Wilona malah menyentuh sesuatu yang hangat… dan berotot. Alisnya langsung berkerut. “A—apa ini? Kok… keras… tapi bukan HP?” Perlahan, Wilona membuka mata. Dan seketika itu juga— “HUAAAAAAAAAA!” Jeritan melengkingnya mengguncang seluruh kamar. Ia bangkit dengan sigap, mencengkram selimut erat-erat seperti orang yang baru saja kabur dari penculikan. Di sebelahnya, seorang laki-laki ikut bangun dengan kepala sedikit pening. Rambutnya bera

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 2

    Laki-laki itu yang kini berdiri tepat di depannya membeku sesaat. Tatapannya tajam, tajam sekali, bukan seperti pria mabuk di klub, tapi seperti seseorang yang terbiasa memerintah dan mengintimidasi. Ia menatap Wilona tanpa berkedip, dan ketika matanya menangkap jelas wajah cantik gadis itu… ia tanpa sadar menelan saliva. Ada sesuatu yang membuatnya terkejut entah karena kecantikan Wilona, penampilan berani gadis itu, atau karena ia mengenal seseorang yang mirip dengannya. “Kenapa kamu bisa di sini?” tanyanya datar, low and dangerous. Nada suaranya terdengar bukan sekadar heran… tapi seperti seseorang yang sedang menahan diri agar tidak melakukan hal bodoh. Wilona terkekeh, tubuhnya hampir jatuh ke depan sebelum pria itu menahan pinggangnya. “Aku mau cari sugar daddy…” ucapnya manja, mendengungkan suaranya seperti sengaja menggoda. Dan sebelum pria itu sempat menghindar, tangan lentik Wilona terulur, mengusap dada bidang pria itu dari kerah kemejanya, turun perlahan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status