공유

Menemukan Cinta Kembali
Menemukan Cinta Kembali
작가: Rieyukha

Bab 1

작가: Rieyukha
last update 최신 업데이트: 2025-01-23 17:45:42

Saat Riki mendekatkan wajahnya pada Flora, jantung Flora berdegup kencang. Ia menahan napas, memejamkan matanya, sadar sepenuhnya apa yang akan dilakukan Riki. Namun, sebelum segalanya terjadi, suara berat seorang pria memecah suasana.

"Apa-apaan ini!"

Flora membuka matanya dengan cepat, terkejut mendapati Birru—gurunya—sudah berdiri di hadapan mereka. Dengan satu gerakan, Birru menarik kerah baju Riki, menjauhkan pemuda itu dari Flora.

"Nggak ngapa-ngapain, Pak!" sergah Riki dengan nada panik, mencoba membela diri.

Flora hanya diam, menelan ludah dengan gugup. Ia merasa panik, tetapi berusaha untuk tetap tenang.

Birru menatap mereka berdua dengan tajam. Suaranya tegas penuh wibawa.

"Ini sekolah, tempat menuntut ilmu, bukan tempat untuk perbuatan tidak senonoh."

Wajah Riki memerah. Ia mengangguk, tak berani melawan.

"Pulang! Besok kalian berdua menghadap saya di ruang guru. Kalau tidak, saya akan laporkan ini ke kepala sekolah dan orang tua kalian!" ancam Birru tanpa kompromi.

"Iya, Pak," jawab Riki lemah, lalu melirik Flora sekilas sebelum pergi.

Saat Flora hendak menyusul, Birru dengan cepat menangkap lengannya, menghentikan langkahnya. Tatapannya tajam, seperti menusuk langsung ke dalam hati Flora.

"Ke ruangan sekarang!" perintahnya dengan nada dingin yang tak bisa dibantah.

Flora hanya bisa mengikuti langkah Birru menuju ruangannya. Sekolah sudah sepi karena jam pulang sekolah sudah lewat sejak satu jam yang lalu. Sepanjang koridor yang sunyi, hanya terdengar langkah mereka.

Begitu sampai di ruangan dan pintu tertutup rapat, Birru memutar tubuhnya, menatap Flora tajam.

"Apa maksud lu? Lu tau dia mau ngapain?" tanya Birru langsung begitu mereka berada di dalam ruangan, suaranya dipenuhi rasa marah dan bingung.

"Tau," jawab Flora dengan nada santai, tampak tidak terpengaruh.

"Terus, lu diam aja?" tanya Birru, terkejut dan tidak percaya dengan sikap Flora.

"Loh, memang kenapa? Nggak suka? Atau... cemburu?" tantang Flora, suaranya penuh nada kesal, meskipun ia tetap santai.

Birru menghela napas panjang, kesal dengan sikap Flora. Ia kemudian meraih bahu Flora dengan kuat, menatapnya tajam.

"Cemburu? Sama anak ingusan yang cuma tahu nongkrong dan nyusahin orang tua? Ngaca, Flo!" kata Birru sinis.

Dada Flora terasa sesak dan panas, merasa dihina. Ia menatap Birru dengan tatapan tajam, ingin melawan. Namun, sebelum ia sempat berbicara, Birru kembali bersuara.

"Kalau bukan karena status lu sebagai istri gue, terserah lu mau ngapain, gue nggak peduli!"

Flora merasa terbakar oleh kata-kata Birru. Ia menepis tangan Birru yang masih memegang bahunya, marah.

"Nggak usah sok peduli lu!" serunya dengan kesal. "Di sekolah ini, nggak ada yang tahu kalau kita suami istri. Lagian, laki-laki gila mana yang mau nikahi anak sekolah? Lu!" kata Flora, sambil menuding dada Birru dengan geram.

Birru terdiam, mulutnya terbuka seakan ingin berkata sesuatu, tetapi tak ada kata yang keluar. Ia hanya diam, mematung, menatap Flora yang kini sudah berbalik meninggalkan ruangan.

*

"Mana?" Adel mengulurkan tangannya dengan senyum lebar yang penuh kemenangan.

"Udah gue bilang, jangan di sekolah," Dara melontarkan peringatan yang sudah tidak asing lagi, tapi Flora tetap saja mengabaikannya.

Flora mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku seragamnya dan memberikannya kepada Adel dan Dara dengan ekspresi kesal yang jelas terlihat di wajahnya.

"Padahal, sedikit lagi tuh bibir lu bakal dibuka segel sama Riki," ujar Adel dengan nada penuh canda sambil menyimpan uang taruhannya.

"Sesuai taruhan, kan? Lu yang bayar semua ini, Flo," Dara mengingatkan sambil menunjuk ke meja yang penuh dengan makanan dan minuman.

"Bungkus sekalian!" jawab Flora dengan nada acuh tak acuh, meskipun jelas sekali kesal.

Adel dan Dara tertawa ringan mendengar jawabannya. "Nggak dong, kan sesuai taruhan," kata Dara dengan santai.

Namun, yang sebenarnya membuat Flora kesal bukan soal kalah taruhan. Itu hanya pemicunya. Yang benar-benar menghancurkan suasana hatinya adalah sikap dan kata-kata Birru yang masih terngiang di telinganya.

"Heran gue, Pak Birru bisa tahu kalau masih ada murid di sekolah? Padahal tempat lu sama Riki udah aman banget, loh," Adel berkata dengan nada bingung.

Flora tetap diam, karena begitu mendengar nama Birru, rasa bencinya langsung membuncah, seperti ada api yang mulai menyala di dalam dirinya.

"Astaga, kalian masih di luar dengan seragam sekolah?" suara tegas itu membuat ketiga pelajar itu langsung terkejut. Birru, guru mereka berdiri tepat di depan mereka, tatapannya tajam dan penuh kewibawaan.

Mereka saling bertukar pandang, bingung. Jam sekolah memang sudah berakhir, dan mereka merasa tidak ada yang salah dengan duduk santai setelah jam pulang. Lagi pula, mereka bukan sedang bolos.

"Kan udah jam pulang, Pak," Dara mencoba membela diri dengan alasan yang cukup masuk akal, yang langsung didukung dengan anggukan Adel. Sementara itu, Flora hanya diam, menyembunyikan ekspresi kesalnya.

"Betul, tapi bukan berarti kalian boleh tetap bebas kesana kemari dengan seragam sekolah," jawab Birru datar. "Pulang, sebentar lagi gelap," tambahnya, seolah tidak peduli dengan apapun yang akan mereka katakan lagi.

"Iya, Pak," jawab Adel dan Dara hampir bersamaan, segera berdiri dan mulai beranjak dari tempat mereka.

"Flo, ayo..." bisik Adel, sambil menyentuh lengan Flora dengan lembut, lalu melirik ke arah Birru yang masih berdiri di sana.

"Gue pulang dengan taksi online aja, ini lagi mau order," jawab Flora, sambil menunjukkan aplikasi di ponselnya yang sedang terbuka.

"Oke deh, gue duluan ya," ujar Adel sambil melambaikan tangan. Ia menoleh pada Birru, "Pamit, Pak," katanya, yang hanya disambut dengan anggukan acuh tak acuh dari Birru.

"Bye, Flo! Kabarin kita kalau udah sampai rumah, ya!" seru Dara ceria, lalu segera menyusul Adel keluar dari kafe.

Setelah kedua temannya menghilang dari pandangan, Birru akhirnya duduk di hadapan Flora.

"See, nongkrong sampai lupa waktu," sindirnya dengan nada sinis, sementara Flora hanya diam, menatap ke luar jendela kafe dengan ekspresi jutek yang jelas terlihat di wajahnya.

"Ayo pulang," titahnya kemudian, seraya memegang lengan Flora. Namun, Flora langsung menepisnya dengan kesal.

"Nggak usah pegang-pegang!" ujarnya dengan nada sinis.

"Nggak usah kepedean lah, Flo. Gue nggak minat buat pegang lu," balas Birru dengan senyum mengejek, yang justru membuat Flora semakin kesal dan menambah kebenciannya pada pria itu.

Dengan langkah cepat dan kesal, Flora beranjak menuju kasir membayar segala traktiran taruhannya, lalu mengikuti langkah Birru yang sudah menuju parkiran.

Di sudut kafe yang tersembunyi dari pandangan para pengunjung, dua gadis berseragam sedang mengamati dengan cermat.

"Tuh kan, gue udah bilang, ada yang aneh antara Flora sama Pak Birru," bisik Adel, menatap ke arah mereka.

"Mereka pacaran?" tanya Dara dengan penasaran.

Adel mengangkat bahu, tidak yakin. "Gue nggak yakin, deh. Sikap Flo yang cuek kayak gitu malah nggak kelihatan kayak dia pacaran. Tapi entahlah..." jawab Adel ragu, sambil matanya terus mengikuti mobil yang ditumpangi Flora menghilang dari pandangan mereka.

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 83

    Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 82

    Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 81

    Keputusan itu tidak diambil dalam satu malam. Aluna memikirkannya selama beberapa hari, menimbang bukan hanya perasaannya sendiri, tetapi juga masa depan yang akan ia jalani jika ia memilih tetap melangkah. Ia tidak takut pada masa lalu Riki. Ia hanya takut pada masa lalu yang belum selesai. Mereka bertemu di sebuah kafe sore itu. Bukan tempat romantis, bukan juga tempat asing. Tempat netral, seperti keputusan yang akan ia sampaikan. “Aku tidak ingin membatalkan apa pun,” kata Aluna tenang setelah percakapan pembuka yang singkat. “Aku hanya ingin menundanya.” Riki menatapnya lama. “Menunda?” “Aku ingin kamu benar-benar berpikir dulu sebelum menikah denganku.” Nada suaranya stabil. Tidak ada tuduhan. “Aku tidak mau kita menikah lalu suatu hari kamu sadar ada sesuatu yang belum pernah kamu tutup dengan benar. Aku tidak mau rumah tangga kita nanti jadi tempat kamu mencari jawaban dari masa lalu.” Riki terdiam. Kata-kata itu tidak menyakitkan, tetapi menoho

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 80

    Restoran itu tidak terlalu ramai malam itu. Setelah menonton film, mereka memilih duduk di sudut yang biasa mereka tempati—tempat yang sudah terlalu sering menjadi saksi percakapan ringan tentang pekerjaan, keluarga, dan rencana pernikahan. Hujan turun tipis di luar kaca, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Aluna tidak terlihat gelisah. Ia tidak memainkan ponsel, tidak juga menatap kosong terlalu lama. Ia hanya makan perlahan, sesekali menanggapi komentar Riki tentang film tadi. Namun di sela percakapan yang terdengar normal itu, ia mulai menyisipkan pertanyaan-pertanyaan kecil, seperti seseorang yang menyusun potongan puzzle tanpa terburu-buru. “Kamu pindah ke luar negeri setelah tahun pertama kuliah, kan?” tanyanya ringan, seolah hanya memastikan kronologi. Riki mengangguk. “Iya. Akhir semester dua.” “Berarti waktu ospek dan awal-awal kuliah kamu masih di sini.” “Iya.” Aluna tersenyum tipis. “Aku sempat lihat foto-foto lama kamu. Ramai

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 79

    Malamnya, Aluna membuka kembali ponselnya. Bukan untuk menghubungi Riki, tapi untuk mencari sesuatu yang sudah lama tidak ia sentuh. Nama itu masih ada di daftar pencarian lama. Flora. Akun media sosialnya tidak terlalu aktif. Foto-foto sederhana. Beberapa unggahan lama bersama teman-teman kuliah. Tidak ada Riki di sana. Tidak pernah ada. Namun sesuatu menarik perhatian Aluna. Tab tagged photos. Ia menekannya, dan di sanalah potongan-potongan masa lalu itu masih tersimpan. Foto-foto lama. Masa SMA. Awal kuliah. Masa ospek. Flora berdiri berdampingan dengan Riki. Terlalu dekat untuk sekadar teman. Bahu bersentuhan. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tatapan yang terlalu akrab. Foto kelompok, memang. Tapi selalu berdampingan. Selalu. Aluna memperbesar satu foto. Tahun pertama kuliah. Ia mengingat cerita Riki—bahwa setelah tahun pertama itu ia pindah ke luar negeri. Bahwa hubungan mereka selesai di sana. Selesai sebelum aku datang. Begitu yang ia pahami selama ini.

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 78

    Siang itu restoran tidak terlalu ramai. Cahaya matahari menembus jendela kaca besar, memantul lembut di lantai marmer. Suasananya tenang, cukup privat untuk percakapan panjang. Aluna duduk berhadapan dengan kakaknya, Alya. Tangannya memegang sendok, tapi ia tidak benar-benar makan. “Kamu yang ngajak ketemu,” kata Alya lembut. “Tapi dari tadi malah diam.” Aluna menghela napas. “Aku cuma… bingung mulai dari mana.” Alya menunggu, tidak mendesak. Aluna memang datang untuk bercerita tentang Riki. Tentang perubahan kecil yang terasa besar. Tentang jarak yang tidak kasatmata tapi makin nyata. Namun sebelum ia sempat membuka suara—pintu restoran terbuka. Aluna refleks menoleh dan dunia seakan berhenti sebentar. Flora. Ia mengenali wajah itu, bukan karena pernah diperkenalkan. Tapi karena malam di restoran bersama Riki, dan karena pencarian singkat yang ia lakukan beberapa hari lalu. Perempuan itu masuk dengan langkah ringan.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status