Share

Bab 2

Author: Rieyukha
last update publish date: 2025-01-23 19:14:30

“Saya terima nikah dan kawinnya Flora Adisti Zaviyar binti Didit Zaviyar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”

"Bagaimana saksi, sah? Sah?"

“Sah!” suara saksi terdengar tegas, memastikan bahwa pernikahan itu sah. Penghulu kemudian melanjutkan dengan doa, mengiringi ikatan yang baru saja terjadi.

Di kasur perawatan, Lia terbaring lemah, namun senyuman penuh haru mengembang di wajahnya. Air mata mengalir, tak bisa dibendung. Perasaan campur aduk, antara bahagia dan haru, memenuhi hatinya.

"Akhirnya, kalau pun aku harus pergi, aku bisa pergi dengan tenang, Des. Tenang karena melihat semuanya terwujud" ujar Lia lirih, suaranya begitu lemah namun penuh ketulusan. Ia menatap sahabatnya yang sejak awal menemani di sisinya.

Desi menggenggam tangan Lia dengan erat, seakan memberikan kekuatan. “Jangan bicara seperti itu, Li. Kamu akan sembuh, kamu akan sehat. Kamu akan menyaksikan Birru dan Flora tumbuh bersama, punya anak, dan melihat cucu-cucu kita yang akan tumbuh besar. Kamu akan ada di sana, mendampinginya."

Lia hanya mengangguk, meski hatinya berat. Desi dengan cepat menyeka air mata yang mengalir, takut Lia melihatnya, dan mencoba tersenyum meski hati tak sekuat yang terlihat.

"Terima kasih, Des. Kamu dan suamimu sudah menikahkan Flora meski dia masih sekolah. Itu bukan hal yang mudah," ujar Lia dengan penuh rasa terima kasih.

Desi mengusap tangan Lia dengan lembut. "Jangan jadikan itu masalah, Li. Semua syarat sudah terpenuhi, usianya bukan halangan. Kita sudah menjodohkan mereka sejak dulu, dan janji ini harus dipenuhi. Mereka saling menyayangi, itu yang paling penting."

Keduanya terdiam sejenak, menikmati kebersamaan yang penuh makna. Lalu mereka saling berpelukan, saling menguatkan dalam cinta dan persahabatan yang abadi.

***

Flora duduk bersandar di kursi belajarnya, matanya menatap kosong ke depan. Sejak pernikahan yang tiba-tiba itu, hari-harinya berubah drastis. Ia merasa seperti terjebak dalam sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Dia menjadi lebih banyak diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Dia kembali menghela napas berat, entah sudah keberapa kali sejak tadi. Pandangannya jatuh pada buku tulis yang terbuka di hadapannya. Baru dua soal yang berhasil ia selesaikan, sementara tiga soal lainnya masih menunggu. Rasanya berat, seperti ada ribuan hal lain yang membebani pikirannya.

"Gini amat hidup," gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Dengan lesu, dia mencoba kembali fokus pada tugasnya. Namun pikirannya terus melayang, seperti menolak untuk berkonsentrasi. Tangannya mulai bergerak, menyentuh pena yang tergeletak di atas meja.

Namun, sebelum sempat menulis, suara pintu kamar yang terbuka membuyarkan konsentrasinya. Ia menoleh dan melihat Birru melangkah masuk.

Mereka saling pandang. Tak ada kata yang keluar, hanya keheningan yang terasa dingin menyelimuti. Tatapan Birru datar, seperti biasa, sementara Flora hanya menatapnya dengan kosong sebelum kembali memalingkan wajah ke buku tulisnya mencoba melanjutkan apa yang sempat tertunda.

Birru tak berkata apa-apa. Ia berjalan melewati Flora begitu saja dan menuju kamar mandi. Langkahnya tenang, nyaris tanpa suara.

Keheningan kembali mengisi ruangan, hanya suara samar dari gesekan pena di atas kertas yang terdengar. Flora mencoba tenggelam dalam tugasnya, namun hatinya tetap terasa berat, seolah ada beban yang tak bisa ia ungkapkan.

Flora menguap lebar, menahan kantuk yang tak tertahankan. Matanya berair, tanda kelelahan yang tak bisa lagi disembunyikan. Ia hanya mampu menyelesaikan satu soal sebelum akhirnya menyerah. Dengan perlahan, ia merebahkan kepalanya di atas meja belajar, berharap bisa memberikan jeda pada mata dan pikirannya yang penat.

Birru keluar dari kamar mandi dengan langkah santai. Tanpa berkata apa-apa, ia menuju walk-in closet untuk mengenakan pakaian bersih. Setelah rapi, pandangannya sempat tertuju pada Flora yang masih tertunduk di meja. Namun, ia hanya menatap sekilas, tidak menunjukkan rasa peduli. Dengan sikap dingin, ia berjalan ke ranjang, duduk bersandar di headboard, dan mulai membaca buku di tangannya.

Waktu berlalu. Setengah jam kemudian, Birru menutup bukunya dan meletakkannya di atas nakas di samping tempat tidur. Ia bersiap merebahkan tubuh untuk tidur, tetapi pandangannya kembali tertuju pada Flora. Gadis itu masih berada di posisi yang sama, kepala tertunduk di atas meja.

Birru menghela napas panjang, ekspresinya terlihat kesal. Dengan langkah berat ia menghampiri Flora. “Flo!” panggilnya seraya mencolek jari-jari Flora. Tidak ada respons. “Flo, bangun!” katanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih keras. Namun, Flora tetap tak bergerak, benar-benar terlelap.

Birru mendesah panjang, merasa frustrasi. “Terserah lu, mau tidur di mana kek, posisi apa kek,” gumamnya pelan sambil kembali ke ranjang. Ia menarik selimut dan mencoba memejamkan mata, berusaha untuk tidak peduli.

Namun, meskipun tubuhnya lelah, pikirannya justru gelisah. Belum sampai lima menit, rasa kantuk yang tadinya menghampiri mendadak hilang. Ia menghela napas lagi, kali ini lebih berat.

“Ck!” Birru mendecak pelan, menahan rasa kesal yang tiba-tiba muncul. Ia tak ingin peduli, tapi nuraninya berkata lain. Dengan enggan, ia bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Flora lagi.

Tanpa berkata sepatah pun, ia membungkuk dan mengangkat tubuh gadis itu. Birru meletakkannya di atas kasur dengan hati-hati. Flora menggeliat kecil dalam tidurnya, meregangkan tubuh sejenak sebelum kembali meringkuk. Wajahnya terlihat damai, benar-benar tak sadar akan apa yang baru saja terjadi.

Birru kembali ke tempatnya di sisi ranjang. Ia menarik selimut dan memejamkan mata. Kali ini, suasana terasa hening dan nyaman. Dalam hitungan detik, kantuk kembali menghampiri, dan Birru akhirnya tertidur lelap.

**

Flora kecil berlari pelan, kakinya menyusuri rerumputan basah sambil mengejar seekor kupu-kupu yang terbang bebas di depannya. Tawanya sempat terdengar riang, hingga tiba-tiba kakinya tersandung dan tubuhnya terjatuh ke tanah. Flora meringis, pandangannya tertuju pada lututnya yang kini tergores dan berdarah.

"Kamu nggak apa-apa, Flo?" Suara itu membuat Flora menoleh. Sosok Birru berdiri tak jauh darinya, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Mendengar suara itu, Flora berusaha menenangkan dirinya. Ia menggigit bibir, mencoba menahan tangis yang mulai memenuhi dadanya.

"Nggak apa-apa, Mas," jawabnya pelan, meski suaranya sedikit gemetar.

Birru mendekat, setengah berjongkok di hadapan Flora. "Ayo sini," katanya seraya membalikkan badan, menunjukkan punggungnya agar Flora naik.

Flora tampak ragu. "Nanti Mas capek. Flo berat, Mas," ujarnya polos, menatap Birru dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Birru menoleh dan tersenyum, seolah meyakinkannya. "Nggak apa-apa, Flo. Mas kan kuat. Laki-laki itu harus kuat. Ayo, naik sebelum hujan turun," ucapnya sambil melirik ke langit yang mulai mendung, awan hitam sudah menguasai cakrawala.

Dengan ragu, Flora akhirnya menurut. Ia naik ke punggung Birru, membiarkan tubuh kecilnya digendong. Langkah Birru mantap meski tanah basah di bawahnya terasa licin. Namun, baru beberapa langkah, hujan tiba-tiba turun, rintiknya berubah deras hanya dalam hitungan detik.

"Mas hujan!" seru Flora panik. Tangannya refleks menutupi kepala Birru, mencoba melindunginya dari air hujan yang mulai membasahi mereka berdua.

Birru hanya tertawa kecil, melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan hujan yang semakin deras. Tapi Flora semakin gelisah. "Mas! Kita kehujanan!" katanya lagi, suaranya mulai panik.

Tiba-tiba, semuanya menghilang. Flora membuka matanya, napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya terasa lembap, seolah masih basah oleh hujan yang baru saja ia rasakan dalam mimpinya. Tangannya menyentuh wajah, menyeka keringat yang bercampur dengan air mata.

Ia menatap sekeliling, menyadari dirinya masih berada di kamar. Perasaan itu masih membekas, seolah luka di lutut yang perih dan hujan yang dingin benar-benar nyata.

Beberapa hari terakhir, momen masa kecilnya bersama Birru sering muncul di mimpinya, mengingatkan kenangan penuh keakraban yang dulu pernah mereka miliki. Tapi semua itu kini terasa jauh, hilang ditelan kebencian yang tumbuh karena pernikahan mendadak yang tak pernah mereka harapkan. Mimpi itu hanya menyisakan luka dan rindu yang tak terucapkan.

Flora menatap ke arah Birru yang masih terlelap di sisi ranjang. Wajahnya terlihat begitu tenang, tanpa beban, seperti seseorang yang sedang menikmati tidur paling damai. Pemandangan itu membawa ingatannya kembali ke masa kecil mereka—masa ketika semuanya terasa sederhana, penuh tawa, dan tanpa jarak.

Namun, kenyataan kini jauh berbeda. Flora menghela napas panjang, dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit ia ungkapkan. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia perlahan bangkit dari kasur.

Langkahnya pelan menuju kamar mandi. Ia menatap bayangannya di cermin, mencoba menyusun kembali ketegaran yang terasa mulai rapuh. Hari ini, ia harus kembali ke sekolah, kembali menjalani rutinitas yang terasa aneh setelah semua perubahan besar dalam hidupnya.

Flora menarik napas panjang sekali lagi, lalu mulai bersiap-siap, meninggalkan segala kerumitan pikiran untuk sesaat. Meski hatinya berat, ia tahu hari harus terus berjalan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 87

    Flora melangkah masuk setelah mendapat izin dari Riki. Ruangan itu cukup luas dan tenang. Dinding kaca di sisi kanan membiarkan cahaya siang masuk, sementara meja kerja Riki berada di sudut ruangan dengan beberapa dokumen tertata rapi di atasnya. “Silakan duduk, Flo." Riki menunjuk sofa panjang di sisi ruangan. Flora mengangguk singkat. Ia berjalan ke sofa dan duduk dengan posisi tegak. Tangannya secara refleks bertumpu di atas perutnya yang kini mulai terlihat jelas. Riki masih berdiri di dekat meja kerjanya. Beberapa detik kemudian, ia justru meninggalkan kursinya dan memilih duduk di single sofa yang letaknya tidak jauh dari Flora. Tatapannya sempat jatuh ke perut Flora. Hanya sesaat. Namun cukup untuk membuat Flora menyadarinya. Hari itu Flora mengenakan dress kerja yang sederhana dan elegan. Potongannya menyesuaikan tubuhnya yang sedang hamil, membuat perubahan pada bentuk tubuhnya semakin terlihat. Riki mengalihkan pandangan. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Flo

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 86

    Begitu sampai di ruangannya, Flora menutup pintu perlahan. Ia meletakkan laptop dan beberapa dokumen di atas meja, lalu duduk di kursinya. Tubuhnya terasa begitu lelah. Bukan hanya karena rapat yang berlangsung hampir dua jam, tetapi juga karena semalaman ia nyaris tidak tidur. Pikirannya terlalu penuh. Tentang Birru. Tentang kondisi Lia. Tentang Riki dan tentang percakapan yang belum sempat ia selesaikan dengan suaminya. Flora mengambil ponselnya. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menekan nama Birru dan melakukan panggilan video.Tidak lama kemudian, panggilan tersambung. Wajah Birru muncul di layar. Flora langsung terdiam. Wajah suaminya terlihat jauh lebih lelah daripada terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sayu, dan ada bayangan kelelahan yang jelas terlihat di bawah matanya. “Mas...” panggil Flora lirih. Birru tersenyum tipis. “Sudah sampai kantor?” Flora mengangguk. “Iya.” “Kamu sudah sarapan?” Flora t

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 85

    Malam itu Flora hampir tidak tidur. Setelah pulang bersama kedua orang tuanya, tubuhnya memang berada di rumah, tetapi pikirannya masih tertinggal di rumah sakit. Setiap kali mencoba memejamkan mata, wajah Birru kembali muncul di benaknya. Tatapan datar suaminya ketika mendengar nama Riki. Percakapan yang terputus dan kalimat Birru sebelum ia kembali masuk ke ruang perawatan. Kita bahas nanti, ya. Entah mengapa, dua kata terakhir itu justru membuat Flora semakin gelisah. Pagi harinya, ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai kamar, Flora sudah terbangun. Matanya terasa berat dan kepalanya sedikit pusing. Ponselnya yang berada di samping bantal bergetar. Satu pesan masuk dari Birru. Mas Birru: Mas sudah sarapan. Flora menatap pesan itu cukup lama. Hanya kalimat sederhana, namun entah mengapa, justru semakin membuat pikirannya ke mana-mana. Tidak ada panggilan sayang seperti biasanya. Tidak ada pertanyaan apakah ia sudah sarapan. Tidak ada pesan panjang yang biasan

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 84

    Malam itu, ruang keluarga terasa begitu sunyi. Cahaya lembut dari layar televisi menjadi satu-satunya penerangan, membias di wajah Flora dan Birru yang duduk berdampingan di sofa.Flora bersandar nyaman di pangkuan Birru. Kepalanya terbaring di paha sang suami, sementara satu tangan Birru masih berada di perutnya, mengusapnya perlahan dengan gerakan yang nyaris tak disadari.Televisi menyala, tetapi perhatian Birru sebenarnya tidak sepenuhnya tertuju ke sana. Ada ketenangan yang selalu ia rasakan setiap kali Flora berada di dekatnya. Malam yang sederhana seperti ini seharusnya cukup untuk membuatnya merasa bahagia.Namun, ketenangan itu perlahan terusik.“Mas...” panggil Flora pelan.Birru menunduk, menatap istrinya. “Hm?”“Aku mau kasih tau sesuatu.”Nada suara Flora membuat Birru sedikit mengernyit. Ia masih menatap layar televisi, tetapi telinganya kini sepenuhnya tertuju kepada istrinya.“Iya. Apa?”Flora menghela napas panjang. “Sebenarnya nggak penting, sih...”Birru terkekeh ke

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 83

    Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 82

    Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status