Share

Bab 3 Dia Monster!

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2026-02-27 13:50:45

Thalia meronta sekuat tenaga, tangan kecilnya memukul dada bidang Amar yang terasa seperti batu karang. Namun, perbedaan kekuatan fisik itu terlalu kontras.

Dengan satu sentakan yang dingin, Amar menangkap kedua pergelangan kaki Thalia yang lemas. Kaki yang bagi Thalia adalah simbol kutukan, lalu menariknya hingga tubuh gadis itu terseret ke tengah ranjang.

​Dalam sekejap, Amar sudah mengunci pergerakannya, menindih tubuh Thalia dengan berat badan yang membuatnya sesak.

​"Lepas! Kamu gila?! Kak Anna bisa datang kapan saja!" teriak Thalia dengan suara parau. Jantungnya berdegup kencang, antara takut dan muak.

​Amar tidak bergeming. Dia menatap Thalia lekat-lekat. Tatapan yang sulit diterjemahkan, ada kilat dominasi, namun ada juga sesuatu yang jauh lebih gelap di balik pupil matanya. Lelaki berusia lebih dari tiga puluh lima tahun itu tampak begitu tenang, kontras dengan Thalia yang hancur berantakan.

​"Seminggu tidak bertemu, kamu tidak rindu dengan suamimu ini?" Amar berbisik tepat di telinga Thalia. Senyumnya manis, namun bagi Thalia, itu adalah senyum iblis yang sedang menikmati mangsanya.

​"Suami? Kamu itu pencuri! Kamu mencuri kehormatanku dan kamu menghianati istrimu sendiri!" Thalia meludah kata-kata itu dengan penuh kebencian.

​Amar terkekeh rendah, getaran dadanya terasa hingga ke jantung Thalia.

"Menghianati Anna? Bukankah ini yang dia minta? Dia ingin anak, Thalia. Dan aku... aku hanya sedang menikmati proses 'pembuatannya' dengan cara yang paling alami."

​Tangan Amar mulai merambat naik, menyisap rambut Thalia yang berantakan.

"Kenapa? Kamu kecewa karena ternyata aku tidak sedingin yang Anna ceritakan? Atau kamu kecewa karena tubuhmu sendiri ternyata tidak menolak sentuhanku?"

​"Jangan sombong! Aku membencimu sedalam aku membenci Anna!"

Thalia memalingkan wajah, air mata mulai menggenang. Dia merasa terhina karena dalam posisi ini, dia benar-benar tidak berdaya. Kelumpuhannya membuatnya merasa seperti boneka porselen yang bisa dipatahkan Amar kapan saja.

​"Bagus," gumam Amar, jemarinya kini mengusap bibir Thalia yang bergetar. "Tetaplah membenciku. Karena kebencian itu yang akan membuat permainan ini menarik. Jika kamu jatuh cinta padaku, itu akan membosankan."

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor luar. Thalia menegang. Itu pasti Anna, dia ikut datang. Jika Anna melihat posisi mereka pasti tidak akan tinggal diam, meski Anna yang meminta pernikahan ini, Thalia tahu kakak tirinya itu memiliki sifat posesif yang gila.

​"Pindah ... Kak Amar, kumohon," bisik Thalia dengan nada memohon yang langka.

​Amar justru semakin merapatkan tubuhnya, seolah menantang bahaya.

"Takut? Bukankah kamu bilang ingin menjadi musuh dalam selimut? Ini saatnya, Thalia. Tunjukkan pada kakakmu betapa suaminya sangat 'menginginkan' adiknya yang lumpuh ini."

​Pintu kamar terbuka sedikit.

​"Amar? Kamu di dalam?" Suara melengking Anna terdengar dari balik pintu yang tidak terkunci rapat.

​Thalia menahan napas, matanya membelalak menatap Amar yang justru menatap pintu dengan seringai penuh teka-teki.

Celah pintu yang terbuka itu menyemburkan cahaya dari koridor.

Jantung Thalia berpacu, seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Dia bisa melihat bayangan Anna di sana. Namun, dalam hitungan detik yang sangat presisi—sepersekian detik sebelum daun pintu terbuka lebar—Amar melepaskan kunciannya.

​Dengan gerakan yang begitu tenang, seolah tidak terjadi apa pun, Amar bangkit berdiri. Dia merapikan jasnya yang sedikit kusut, lalu berbalik tepat saat Anna melangkah masuk.

​"Sayang? Kamu di sini?" Anna mematung di ambang pintu, matanya beralih dari Amar ke Thalia yang masih terengah-engah di atas ranjang dengan rambut acak-acakan.

​Amar menoleh pada Anna, wajahnya datar, dingin, dan tanpa ekspresi. "Hanya memeriksa apakah dia masih hidup. Dia berteriak tadi, kurasa dia bermimpi buruk lagi."

​Thalia tertegun. Suara Amar begitu meyakinkan. Tidak ada nada menggoda, tidak ada senyum miring, hanya nada bicara seorang pria yang sedang melakukan tugas yang membosankan.

​"Mimpi buruk?" Anna mendekat, melirik Thalia dengan tatapan merendahkan. "Tentu saja dia mimpi buruk. Hidupnya sendiri adalah mimpi buruk bagi kita, kan?"

​Anna kemudian beralih ke Amar, bermanja-manja di lengannya. "Lagipula, untuk apa kamu masuk ke sini tanpa memberitahuku? Bau kamar ini... apek. Khas orang sakit."

​Thalia meremas selimutnya kuat-kuat. Penghinaan Anna menyakitkan, tapi perubahan sikap Amar jauh lebih mengerikan. Baru semenit yang lalu lelaki itu menindihnya dengan gairah yang mengancam, dan sekarang dia berdiri di sana seolah Thalia hanyalah benda mati yang tidak berharga.

​"Ayo keluar. Aku tidak ingin kamu berlama-lama di sini," ajak Anna sambil menarik lengan Amar.

​Sebelum melangkah keluar, Amar sempat menoleh ke arah Thalia. Tatapannya kosong, seolah Thalia hanyalah pajangan rusak di sudut ruangan.

​"Pastikan dia makan, Anna. Aku tidak ingin program kita gagal hanya karena dia kurang gizi," ucap Amar dingin.

​Brak!

​Pintu tertutup. Thalia ditinggalkan dalam kesunyian yang mencekik. Dia merasa kotor, sekaligus bingung.

​"Dia ... dia monster," bisik Thalia pada kegelapan kamar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 14 Ciuman Amar

    Suaranya terdengar tajam, memecah keheningan di antara mereka. "Lucu sekali. Pria yang membiarkan istrinya menyiksaku selama bertahun-tahun, tiba-tiba sekarang berperan jadi guru penasihat." ​Amar tidak menarik kembali sendoknya. Ia justru menatap Thalia lebih dalam, seolah sedang membedah isi kepala gadis itu. ​"Aku tidak mengajarimu cara melawan," balas Amar tenang, suaranya berat dan stabil. "Aku hanya memberimu senjata. Bagaimana kamu menggunakannya, itu urusanmu. Tapi senjata itu tidak akan berguna jika pemegangnya mati kelaparan atau pingsan karena kekurangan nutrisi." ​Thalia tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Senjata? Maksudmu janin ini? Kamu dan Anna sama saja. Kalian menganggap janin ini sebagai alat. Bedanya, Anna ingin menggunakannya untuk harga diri, dan kamu...." Thalia menggantung kalimatnya, menatap Amar penuh selidik. "Aku belum tahu apa tujuanmu sebenarnya." ​"Tujuanku sederhana, Thalia," Amar memajukan wajahnya, "Aku ingin melihat siapa yang bert

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 13 Bagaimana Cara Melawan Anna?

    ​"Janinnya selamat," ucap Dokter Haikal lirih namun tegas. "Ini benar-benar sebuah keajaiban. Benturannya cukup keras dan sempat terjadi pendarahan hebat, tapi posisinya sangat kuat. Kami sudah menyuntikkan penguat rahim dosis tinggi."​Anna langsung terduduk di kursi tunggu, bahunya yang tegang seketika merosot. Ia menangis sesenggukan, bukan karena empati pada adiknya, melainkan rasa lega karena 'tiket' masa depannya tidak hancur. "Terima kasih, Tuhan ... anakku selamat."​Namun, Amar tidak menampakkan kelegaan yang sama. Ia berdiri mematung, menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat. Matanya yang dingin tidak sedikit pun beralih ke arah istrinya yang sedang meratap.​"Tapi ada satu hal yang harus Anda perhatikan," lanjut dokter itu, suaranya merendah. "Thalia mengalami trauma fisik dan psikologis yang berat. Jika hal seperti ini terulang kembali, saya tidak bisa menjamin keselamatan janin maupun ibunya. Rahimnya sedang dalam kondisi sangat sensitif sekarang."Anna mengangguk pah

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 12 Dibawa Ke Rumah Sakit

    Suaranya yang biasa merdu kini bergetar karena cemburu buta. Pikirannya tidak lagi jernih, obsesinya pada Amar dan harga dirinya sebagai seorang diva legendaris melunturkan sisa-sisa kewarasannya. Ia lupa pada kondisi kehamilan yang harus dijaga, lupa bahwa Thalia adalah "wadah" bagi ambisinya.​"Dasar jalang!" sentak Anna kalap.​Tanpa peringatan, Anna merangsek maju dan mencengkeram tangan Thalia dengan tenaga yang tak terduga. Ia menarik tubuh Thalia dari atas ranjang dengan sentakan kasar, membuat wanita muda yang tak berdaya itu terpelanting ke lantai.​Buuughh!​Suara benturan keras itu menggema di dalam kamar. Thalia terjatuh dengan posisi yang sangat buruk. Selimut yang menutupinya tersingkap, meninggalkan tubuhnya yang memar terpapar dinginnya lantai marmer. Namun, rasa malu itu segera terkalahkan oleh rasa sakit yang luar biasa yang menjalar dari perut bagian bawahnya.​"Akhh..." Thalia mengerang, kedua tangannya refleks memegangi perutnya yang terasa seperti diremas hebat.

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 11 Kamu Merayu Amar saat Aku Tidak Ada?

    Amar tidak melepaskan tatapannya, bahkan saat tetesan air es itu membasahi kerah kemejanya. Alih-alih merasa terancam atau mundur karena gertakan Thalia, rahangnya justru mengeras, dan kilat di matanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya.​Tanpa peringatan, Amar merangsek maju. Sebelum Thalia sempat menekan tombol panggil di ponselnya, Amar sudah lebih dulu menepis benda itu hingga terlempar ke atas sofa. Dengan satu gerakan dominan yang tak terduga, ia membungkuk dan menyusupkan lengannya di bawah tubuh Thalia, lalu membopong tubuh mungil itu dari kursi rodanya.​"Apa yang kamu lakukan, Kak Amar! Turunkan aku!"Thalia histeris. Ia memukul bahu Amar dengan tangannya yang gemetar, namun pria itu terasa seperti dinding beton yang tak tergoyahkan.​Amar tidak menyahut. Ia melangkah lebar dengan napas yang masih memburu, membawa Thalia masuk ke dalam kamar dan menendang pintunya hingga tertutup rapat dengan dentuman keras.​"Kamu ingin bicara soal konsekuensi?" s

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 10 Aku Aset Pribadimu

    Siang itu, Thalia duduk terdiam di sudut ruang tengah. Jemarinya perlahan mengusap layar ponsel, menampilkan cuplikan berita hiburan yang sedang memanas. Di sana, di bawah sorotan lampu flash dan kerumunan pers, Anna dan Amar berdiri berdampingan sebagai pasangan paling ikonik tahun ini. ​Anna, dengan suara merdunya yang terlatih, memberikan pernyataan terbuka yang mengejutkan publik. Ia mengaku sedang menjalani proses bayi tabung melalui surrogate mother atau ibu pengganti. Alasannya terdengar begitu masuk akal sekaligus mengundang simpati, Anna memiliki kendala kesehatan yang membuatnya tidak bisa mengandung, ditambah usianya yang telah menyentuh angka tiga puluh lima, usia yang rentan bagi seorang wanita untuk menjalani kehamilan pertama. ​Thalia menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring yang penuh ejekan. Ia menatap layar itu dengan muak. Betapa sempurnanya mereka bersandiwara. Amar yang selalu tampil tenang dan berwibawa, sementara Anna memerankan sosok istri yang

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 9 Liciknya Amar

    Sepanjang malam, Thalia nyaris tidak memejamkan mata. Ia terjebak dalam posisi yang menghinakan-- mendekap tubuh pria yang menjadi sumber mimpi buruknya. Aroma maskulin Amar yang bercampur dengan wangi sabun mahal terus mengusik indra penciumannya, sementara jantung Thalia bertalu liar, seolah ingin melompat keluar dari dadanya yang sesak.​Tiba-tiba, keheningan pagi itu pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru di koridor luar. Suara ketukan hak sepatu stiletto yang tajam, ritme yang sangat dihafal Thalia sebagai langkah kaki Anna yang terdengar semakin mendekat.​Ceklek!​"Thalia, bangun! Aku harus melihat hasil catatan suhu basalmu pagi ini--"​Pintu terayun, lalu terbuka lebar. Anna, sang diva terkenal yang bahkan di pagi buta pun tampak sempurna, mematung di ambang pintu. Matanya yang biasanya terlihat sayu dan elegan kini membelalak sempurna. Di atas ranjang, ia melihat adiknya yang lumpuh sedang mendekap erat suaminya sendiri di bawah satu selimut yang sama.​Thalia ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status