Share

Bab 2 Jangan Sentuh Aku!

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2026-02-27 13:50:02

"Tidak ada malam pertama, pulang saja. Ada banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan kan?"

Anna bergeser ke samping untuk bisa menatap wajah suaminya.

"Lagian, untuk apa menemani gadis lumpuh kan?"

Amar mengangguk, dia menjentikkan puntung rokoknya lalu membuangnya ke sudut kolam. Dia bukan orang yang punya banyak waktu senggang. Ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan minggu-minggu ini.

Besok, dia bahkan harus keluar kota. Jadi urusannya dengan Thalia, dia selesaikan sekarang.

"Ayo, Sayang, kita pulang." Anna menggamit lengan Amar dan menariknya pergi. Untuk Anna, tugas Amar sudah selesai untuk hari ini. Kedepannya, Anna yang akan mengatur tentang rencana bayi tabung.

Di sudut ruangan, Thalia duduk di kursi rodanya. Dia lihat dari jauh bagaimana mesranya pasangan itu.

Untuk apa menemani gadis lumpuh? Benar, untuk apa? Amar sudah memberi nafkah lahir batin pada istri lumpuh seperti Thalia. Jadi dia memang harus pergi.

"Non Thalia, apa kamu ingin makan?" tanya pembantu paruh baya yang sudah bekerja di keluarga ini selama belasan tahun.

"Nanti saja Bi. Aku masih kenyang," jawab Thalia dengan suara pelan dan memutar kursi rodanya. Dia kembali masuk ke kamar.

Kamar yang sudah cukup rapi karena dia bereskan beberapa saat lalu. Meski kakinya bermasalah, namun Thalia tidak ingin membuatnya jadi masalah. Selama ini, dia terus belajar mandiri.

Dokter bilang masih ada harapan untuk kaki Thalia bisa sembuh, namun Thalia menolak itu. Baginya tidak ada yang berubah meski kakinya bisa berjalan dan keluar, dunianya tetap sama--sepi, tidak ada keluarga yang dulu selalu membuatnya tersenyum.

***

Anna seorang penyanyi terkenal, meski ketenarannya tidak lagi seperti dulu, namun di mata dunia dia tetap seorang penyanyi berbakat yang pernah berjaya di masanya.

Sekarang dia menjadi sosok sosialita yang aktif menyebarkan setiap aktifitasnya di sosial media. Dia sudah punya pengikut jutaan. Hampir setiap hari melakukan perjalanan, entah itu shopping, jalan-jalan, atau berlibur keluar negri.

Selain dikenal sebagai penyanyi, selebgram, sosialita, tentu dia juga terkenal karena menjadi seorang istri dari pebisnis muda yang berpengaruh.

Hidupnya sangat sempurna, hanya satu yang kurang selama menikah hampir tiga tahun ini, Anna belum mendapatkan momongan.

Berbeda jauh dengan Thalia, gadis yang semenjak lumpuh menghabiskan banyak waktunya hanya berdiam diri di rumah. Tapi dia bukan tidak terkenal, dia juga punya banyak pengikut namun di tempat yang berbeda.

Namanya dikenal jauh dari dirinya sendiri ... 'Tha', nama dengan hanya tiga huruf itu sangat terkenal di kalangan orang-orang yang menyukai dunia sastra dan kepenulisan. Seorang pengarang yang sudah mempunyai banyak karya, baik buku fiksi atau pun non-fiksi.

***

Thalia termangu, mata indahnya di balik kacamata tebal itu menatap jauh, tidak berkedip. Pikirannya yang melayang-layang membuatnya tidak fokus.

"Non Thalia, jangan lewatkan makan malam lagi, nanti perutmu sakit," kata Mirna penuh perhatian.

Pembantu itu sudah menganggap Thalia seperti putrinya karena dia juga tidak punya keluarga.

Thalia menoleh ke arah Mirna dan memaksakan senyumnya.

"Iya, Bi. Nanti ya."

Tetap saja jawaban Thila mengulur waktu makan. Itu membuat Mirna ikut sedih, sudah beberapa hari semenjak pernikahan itu Thalia jadi murung.

"Non, boleh Bibi bicara?"

"Katakan saja, Bi," sahut Thalia tidak keberatan.

"Menurut Bibi, keputusan Non Thalia untuk menerima pernikahan itu sudah benar. Karena kalau pun Non Thalia menolak, Bu Anna pasti akan tetap memaksa. Pahitnya, bisa saja Non Thalia malah disuruh mengandung anaknya tanpa pernikahan. Maaf ya, Non, kalo Bibi lancang ngomong gini."

Thalia menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca.

Dia tahu Mirna orang paling mengerti dirinya. Dengan segala pertimbangan selain untuk balas dendam, alasan terbesar Thalia persis apa yang Mirna pikirkan. Nyatanya, hingga detik ini Thalia memang belum mampu melawan Anna.

Jika dia memberontak dan menolak keinginan Anna, bisa saja wanita kejam itu akan membawa Thalia ke dokter dan langsung menanamkan benih di rahimnya, memaksanya mengandung anak Anna dan Amar tanpa persetujuan Thalia, dan itu jauh lebih menyakitkan.

Namun, yang tidak Thalia habis pikir sikap Amar yang diluar perkiraannya. Dia kira Amar tidak akan pernah menyentuhnya, sayangnya yang terjadi setelah menikah Amar tidak membuang waktu sedikit pun untuk itu.

Bayang-bayang saat Amar menjamahnya dan setiap sentuhan lelaki itu di tubuhnya selalu terbayang dan membuat Thalia merasa stress.

Untungnya hampir seminggu ini, lelaki itu tidak terlihat batang hidungnya. Mungkin sedang fokus dengan istri pertama, atau memang berniat tidak akan menemui Thalia lagi setelah merenggut keperawanannya.

***

Thalia tidur dengan meracau, sejak tadi dia bermimpi buruk. Keningnya sampai berkeringat meski ada AC yang membuat kamarnya dingin.

"Jangan sentuh aku!" sentak Thalia saat di mimpinya datang seorang penjahat berpakaian serba hitam ingin meraihnya.

Sentakan Thalia membuat tangan Amar terpental.

Wanita itu terbangun kaget, lebih kaget lagi saat melihat Amar sudah ada di kamarnya dan duduk di tepi ranjang.

Mata Thalia membulat, dengan buru-buru dia ingin bergeser menjauh, namun Amar lebih sigap mengulurkan tangannya untuk mengungkung pinggang Thalia dan mengunci pergerakannya.

"Mau ke mana? Bergeser pun tidak akan jauh," ucap Amar dengan senyum mencibir yang membuat Thalia sensitif dan tersinggung. Ucapan Amar selalu pedas menyinggung dia yang lumpuh.

"Menyingkir! Menyingkirkan dariku!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 14 Ciuman Amar

    Suaranya terdengar tajam, memecah keheningan di antara mereka. "Lucu sekali. Pria yang membiarkan istrinya menyiksaku selama bertahun-tahun, tiba-tiba sekarang berperan jadi guru penasihat." ​Amar tidak menarik kembali sendoknya. Ia justru menatap Thalia lebih dalam, seolah sedang membedah isi kepala gadis itu. ​"Aku tidak mengajarimu cara melawan," balas Amar tenang, suaranya berat dan stabil. "Aku hanya memberimu senjata. Bagaimana kamu menggunakannya, itu urusanmu. Tapi senjata itu tidak akan berguna jika pemegangnya mati kelaparan atau pingsan karena kekurangan nutrisi." ​Thalia tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Senjata? Maksudmu janin ini? Kamu dan Anna sama saja. Kalian menganggap janin ini sebagai alat. Bedanya, Anna ingin menggunakannya untuk harga diri, dan kamu...." Thalia menggantung kalimatnya, menatap Amar penuh selidik. "Aku belum tahu apa tujuanmu sebenarnya." ​"Tujuanku sederhana, Thalia," Amar memajukan wajahnya, "Aku ingin melihat siapa yang bert

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 13 Bagaimana Cara Melawan Anna?

    ​"Janinnya selamat," ucap Dokter Haikal lirih namun tegas. "Ini benar-benar sebuah keajaiban. Benturannya cukup keras dan sempat terjadi pendarahan hebat, tapi posisinya sangat kuat. Kami sudah menyuntikkan penguat rahim dosis tinggi."​Anna langsung terduduk di kursi tunggu, bahunya yang tegang seketika merosot. Ia menangis sesenggukan, bukan karena empati pada adiknya, melainkan rasa lega karena 'tiket' masa depannya tidak hancur. "Terima kasih, Tuhan ... anakku selamat."​Namun, Amar tidak menampakkan kelegaan yang sama. Ia berdiri mematung, menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat. Matanya yang dingin tidak sedikit pun beralih ke arah istrinya yang sedang meratap.​"Tapi ada satu hal yang harus Anda perhatikan," lanjut dokter itu, suaranya merendah. "Thalia mengalami trauma fisik dan psikologis yang berat. Jika hal seperti ini terulang kembali, saya tidak bisa menjamin keselamatan janin maupun ibunya. Rahimnya sedang dalam kondisi sangat sensitif sekarang."Anna mengangguk pah

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 12 Dibawa Ke Rumah Sakit

    Suaranya yang biasa merdu kini bergetar karena cemburu buta. Pikirannya tidak lagi jernih, obsesinya pada Amar dan harga dirinya sebagai seorang diva legendaris melunturkan sisa-sisa kewarasannya. Ia lupa pada kondisi kehamilan yang harus dijaga, lupa bahwa Thalia adalah "wadah" bagi ambisinya.​"Dasar jalang!" sentak Anna kalap.​Tanpa peringatan, Anna merangsek maju dan mencengkeram tangan Thalia dengan tenaga yang tak terduga. Ia menarik tubuh Thalia dari atas ranjang dengan sentakan kasar, membuat wanita muda yang tak berdaya itu terpelanting ke lantai.​Buuughh!​Suara benturan keras itu menggema di dalam kamar. Thalia terjatuh dengan posisi yang sangat buruk. Selimut yang menutupinya tersingkap, meninggalkan tubuhnya yang memar terpapar dinginnya lantai marmer. Namun, rasa malu itu segera terkalahkan oleh rasa sakit yang luar biasa yang menjalar dari perut bagian bawahnya.​"Akhh..." Thalia mengerang, kedua tangannya refleks memegangi perutnya yang terasa seperti diremas hebat.

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 11 Kamu Merayu Amar saat Aku Tidak Ada?

    Amar tidak melepaskan tatapannya, bahkan saat tetesan air es itu membasahi kerah kemejanya. Alih-alih merasa terancam atau mundur karena gertakan Thalia, rahangnya justru mengeras, dan kilat di matanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya.​Tanpa peringatan, Amar merangsek maju. Sebelum Thalia sempat menekan tombol panggil di ponselnya, Amar sudah lebih dulu menepis benda itu hingga terlempar ke atas sofa. Dengan satu gerakan dominan yang tak terduga, ia membungkuk dan menyusupkan lengannya di bawah tubuh Thalia, lalu membopong tubuh mungil itu dari kursi rodanya.​"Apa yang kamu lakukan, Kak Amar! Turunkan aku!"Thalia histeris. Ia memukul bahu Amar dengan tangannya yang gemetar, namun pria itu terasa seperti dinding beton yang tak tergoyahkan.​Amar tidak menyahut. Ia melangkah lebar dengan napas yang masih memburu, membawa Thalia masuk ke dalam kamar dan menendang pintunya hingga tertutup rapat dengan dentuman keras.​"Kamu ingin bicara soal konsekuensi?" s

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 10 Aku Aset Pribadimu

    Siang itu, Thalia duduk terdiam di sudut ruang tengah. Jemarinya perlahan mengusap layar ponsel, menampilkan cuplikan berita hiburan yang sedang memanas. Di sana, di bawah sorotan lampu flash dan kerumunan pers, Anna dan Amar berdiri berdampingan sebagai pasangan paling ikonik tahun ini. ​Anna, dengan suara merdunya yang terlatih, memberikan pernyataan terbuka yang mengejutkan publik. Ia mengaku sedang menjalani proses bayi tabung melalui surrogate mother atau ibu pengganti. Alasannya terdengar begitu masuk akal sekaligus mengundang simpati, Anna memiliki kendala kesehatan yang membuatnya tidak bisa mengandung, ditambah usianya yang telah menyentuh angka tiga puluh lima, usia yang rentan bagi seorang wanita untuk menjalani kehamilan pertama. ​Thalia menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring yang penuh ejekan. Ia menatap layar itu dengan muak. Betapa sempurnanya mereka bersandiwara. Amar yang selalu tampil tenang dan berwibawa, sementara Anna memerankan sosok istri yang

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 9 Liciknya Amar

    Sepanjang malam, Thalia nyaris tidak memejamkan mata. Ia terjebak dalam posisi yang menghinakan-- mendekap tubuh pria yang menjadi sumber mimpi buruknya. Aroma maskulin Amar yang bercampur dengan wangi sabun mahal terus mengusik indra penciumannya, sementara jantung Thalia bertalu liar, seolah ingin melompat keluar dari dadanya yang sesak.​Tiba-tiba, keheningan pagi itu pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru di koridor luar. Suara ketukan hak sepatu stiletto yang tajam, ritme yang sangat dihafal Thalia sebagai langkah kaki Anna yang terdengar semakin mendekat.​Ceklek!​"Thalia, bangun! Aku harus melihat hasil catatan suhu basalmu pagi ini--"​Pintu terayun, lalu terbuka lebar. Anna, sang diva terkenal yang bahkan di pagi buta pun tampak sempurna, mematung di ambang pintu. Matanya yang biasanya terlihat sayu dan elegan kini membelalak sempurna. Di atas ranjang, ia melihat adiknya yang lumpuh sedang mendekap erat suaminya sendiri di bawah satu selimut yang sama.​Thalia ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status