Home / Romansa / Mengandung Anak Suami Musuh / Bab 4 Kamu Harusnya Menikmati

Share

Bab 4 Kamu Harusnya Menikmati

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-02-27 13:51:22

​

​Amar sengaja melakukannya, membuat Thalia merasa diinginkan saat mereka berdua, lalu menginjak-injak harga dirinya di depan Anna. Ini bukan sekadar rencana surrogate mother milik Anna, ini adalah siksaan mental yang dirancang Amar.

​***

​"Segera kemasi barangmu. Sore ini juga kamu ikut pindah ke rumahku," tegas Anna dengan nada yang tidak menerima penolakan. Ia berdiri berkacak pinggang, menatap Thalia seolah sedang memberikan perintah pada seorang pelayan.

"Aku enggan repot jika harus bolak-balik hanya untuk mengecek kondisimu di rumah tua ini."

​Thalia tersentak, tangannya mencengkeram erat sandaran kursi rodanya. "Tapi, Kak—"

​"Tidak ada tapi-tapian, Thalia," potong Anna cepat, suaranya naik satu oktav. "Tenang saja, ini hanya sementara sampai program bayi tabung itu berhasil. Setelah kamu mengandung dan bayinya lahir, kamu bisa kembali membusuk di rumah ini sesukamu."

​Tanpa menunggu jawaban, Anna memutar tubuhnya dan melangkah pergi dengan anggun, membiarkan bunyi langkah kakinya yang tajam menggema di ruangan itu. Baginya, pembicaraan sudah selesai, Thalia hanyalah objek yang harus dipindahkan ke tempat yang lebih mudah diawasi.

Thalia menatap punggung Anna yang menjauh dengan perasaan campur aduk.

Pindah ke rumah mewah Anna dan Amar berarti dia akan masuk ke kandang singa. Di sana, dia tidak akan punya privasi, dan yang lebih mengerikan, dia akan berada di bawah satu atap yang sama dengan Amar setiap detiknya.

​"Non... apa Non benar-benar ingin pindah?" suara Bi Mirna terdengar cemas dari balik pilar. Wanita tua itu telah mendengar semuanya.

​Thalia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Aku tidak punya pilihan, Bi. Jika aku menolak, Anna akan mencari cara yang lebih kejam untuk memaksaku."

​Thalia memutar kursi rodanya menuju kamar, mulai mengemasi barang-barangnya yang sedikit. Dia hanya membawa pakaian seperlunya dan yang paling penting: laptopnya. Senjata rahasianya.

***

Thalia duduk sendirian di jok belakang, seolah terpisah oleh sekat tak kasat mata dari dua orang di depannya. Anna duduk di samping kemudi, bersandar manja di dekat Amar yang saat ini fokus menyetir.

​Tidak ada obrolan di dalam kabin mobil yang mewah itu. Kesunyian terasa mencekik. Anna tampak sibuk dengan ponselnya—mungkin sedang memantau komentar di media sosialnya atau mengatur jadwal sosialitanya. Sementara itu, Thalia hanya terdiam, melemparkan pandangannya keluar jendela. Wajahnya tampak murung dan sendu, merefleksikan sisa-sisa kesedihan yang tak kunjung usai.

​Perjalanan menuju kediaman Amar dan Anna terasa begitu panjang dan melelahkan bagi Thalia. Sesekali ia memejamkan mata, mencoba mencari ketenangan di tengah badai batinnya. Namun, saat mobil berhenti karena lampu merah, Thalia secara tidak sengaja mendongak dan menatap spion tengah.

​Napasnya tertahan.

​Di sana, melalui pantulan cermin kecil itu, ia menangkap sepasang mata Amar yang tajam sedang memperhatikannya. Amar tidak memalingkan wajah, lelaki itu justru terus menatapnya dengan sorot mata misterius yang sulit diartikan. Di balik punggung Anna yang asyik dengan dunianya sendiri, ada komunikasi bisu yang gelap dan mengintimidasi antara Amar dan Thalia di tengah kemacetan kota.

​Thalia mendengus pelan, sepasang matanya yang semula sendu kini berubah menjadi sengit. Ia memberikan tatapan penuh kebencian melalui pantulan cermin, mencoba menunjukkan bahwa ia tidak takut pada intimidasi lelaki itu.

​Namun, alih-alih merasa terganggu, Amar justru menarik sudut bibirnya. Ia menunjukkan senyum miring yang penuh cibiran, seolah sedang menertawakan ketidakberdayaan Thalia yang mencoba melawan hanya dengan tatapan mata.

Senyum itu seolah menegaskan bahwa di mata Amar, Thalia hanyalah mangsa kecil yang sedang meronta sia-sia.

***

​​Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah megah dengan pilar-pilar tinggi yang angkuh. Anna segera turun, merapikan gaunnya tanpa menoleh sedikit pun pada Thalia.

​"Biarkan sopir yang mengurus kursi rodanya dan membawanya masuk," ketus Anna pada Amar sembari bersiap melangkah masuk ke rumah.

​Namun, Amar tidak bergerak dari posisinya di dekat pintu belakang. Ia justru membuka pintu mobil tepat di samping Thalia.

​"Tidak perlu. Sopir bisa membawakan barang-barangnya saja," ucap Amar tenang.

​Thalia menegang saat Amar membungkukkan tubuh, memasukkan kedua lengannya ke bawah punggung dan lutut Thalia.

​"Apa yang kamu lakukan? Lepas!" bisik Thalia dengan nada penuh ancaman, namun suaranya tertahan agar tidak terdengar oleh Anna.

​Amar tidak memedulikan protes itu. Dengan satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh Thalia yang ringan ke dalam dekapannya.

"Aku suamimu, Thalia. Sudah kewajibanku memastikan istriku masuk ke rumah barunya dengan aman, bukan?" ucap Amar cukup keras agar Anna mendengar.

​Langkah kaki Anna terhenti. Ia berbalik, matanya menyipit tajam melihat suaminya menggendong adik tirinya dengan begitu protektif. "Sayang, biarkan saja dia memakai kursi roda. Jangan memanjakannya."

​Amar melirik Anna sekilas dengan wajah datar andalannya. "Kursi rodanya masih ada di bagasi, Anna. Aku tidak ingin membuang waktu. Lagipula, bukankah kamu ingin dia segera beristirahat agar program bayi tabung kita lancar? Aku hanya memastikan 'asetmu' ini tidak kelelahan."

​Mendengar kata 'aset', ego Anna sedikit melunak, meski raut wajahnya tetap menunjukkan ketidaksukaan. Ia mendengus, lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang dihentakkan, tanda ia sedang menahan kekesalan.

​Sementara itu, di dalam dekapan Amar, Thalia merasa terbakar. Wajahnya berada tepat di depan dada Amar. Ia bisa mendengar detak jantung lelaki itu yang stabil, begitu kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu gila.

​"Turunkan aku," desis Thalia saat mereka memasuki lobi rumah yang luas.

​Amar justru mempererat pelukannya, menunduk sedikit hingga bibirnya nyaris menyentuh kening Thalia.

"Diamlah. Kamu seharusnya menikmati ini. Lihatlah kakakmu ... dia sudah mulai terbakar api cemburu, bukankah itu yang kamu inginkan dalam rencana balas dendammu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
si thalia ini bego dan kebanyakan drama. siapa juga yg akan menganggapnya berharga klu dia sdh kayak orang mau mati dan tidak bersemangat.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 42

    Bab 42 ​Sesaat, suasana menjadi hening. Tidak ada yang bicara. Hanya suara napas keduanya yang terdengar di tengah kamar yang kedap suara itu. Keheningan yang mendadak terasa berat, seolah ada beban masa lalu yang merangkak naik ke permukaan.​"Kalau sudah ada Thalia, berarti... jangan ingat Yulia lagi," ucap Gandira tiba-tiba. Suaranya kini lebih berat, penuh penekanan yang serius.​Amar menunduk, sudut bibirnya tertarik menciptakan senyum getir yang menyedihkan. Nama itu, Yulia, seolah menjadi hantu yang belum benar-benar pergi dari hidupnya.​"Kamu bisa bahagiakan Thalia untuk menebus rasa bersalahmu," lanjut Gandira lembut. "Sudahlah, Kek, jangan bahas itu." Amar mengalihkan topik, enggan membahas soal Yulia lebih jauh dia pun memilih pamit. ***"Sepertinya kamu tidur nyenyak semalam--" Anna mendatangi kamar Thalia, dia berdiri sambil bersedekap melihat Thalia yang duduk di kursi rodanya sambil menatap keluar jendela. "Lumayan, bagaimana dengan Kak Anna? Menikmati pesta sampai

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 41

    Bab 27 "Jangan... Kak Anna bisa masuk kapan saja," desis Thalia dengan suara yang nyaris hilang, mencoba membawa nama Anna sebagai tameng untuk mengingatkan batas di antara mereka. ​Amar tidak menjauh. Ia justru terkekeh pelan, suara baritonnya bergetar tepat di samping wajah Thalia, mengirimkan sensasi ganjil yang merambat ke seluruh tubuh wanita itu. "Biarkan saja. Bukankah dia sendiri yang bersikeras membawamu ke sini? Dia harus siap dengan segala konsekuensinya, termasuk melihat suaminya yang sedang 'berbakti' pada istrinya yang lain." ​Tangan Amar kini bergerak naik, jemarinya menyentuh dagu Thalia dan memaksanya untuk kembali menatap mata tajam itu. Suasana di antara mereka semakin memanas, mengaburkan fakta bahwa di bawah sana, sebuah pesta besar sedang berlangsung dengan segala kemunafikannya. ​Bibir mereka hampir saja menyatu sebelum suara ketukan pintu yang tegas seketika menghentikan pergerakan Amar. ​"Maaf, Pak Amar. Kakek Anda ingin bertemu sekarang," suara itu mil

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 40

    Ekspresi Thalia yang mendadak gugup justru membuat senyum mengejek di bibir Amar semakin lebar. Ia menikmati rona merah yang menjalar di pipi istrinya, sebuah reaksi yang tak bisa disembunyikan meski Thalia berusaha tampil ketus. ​"Apa setiap hal yang ingin kulakukan padamu harus kujelaskan secara detail, Thalia? Itu terlalu membuang waktu," bisik Amar rendah. ​Dari saku celananya, Amar mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna gelap. Aroma rempah yang kuat dan menenangkan seketika menyeruak di antara mereka. ​"A-apa itu?" tanya Thalia dengan nada waspada, matanya melirik botol itu lalu beralih ke wajah Amar. ​"Minyak herbal, ramuan khas keluargaku. Katanya cukup berkhasiat untuk melancarkan aliran darah. Aku ingin mencobanya sekarang," jawab Amar santai. ​"Untuk apa!" Thalia tersentak, suaranya naik satu oktaf saat tangan kokoh Amar tanpa permisi memegang pahanya, bersiap menyingkap sedikit kain gaunnya untuk mencapai bagian kaki. ​Amar tersenyum miring, menatap Tha

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 39

    Amar melangkah dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Setelan jas yang membungkus tubuh tegapnya semakin mempertegas kesan dingin yang justru membuat para wanita di pesta itu tak bisa melepaskan pandangan. Bagi mereka, Amar adalah sosok lelaki cool yang mustahil untuk digapai.​Langkah kaki Amar terhenti tepat di hadapan Tria dan Thalia. Suasana mendadak berubah tegang saat sepasang mata tajam itu mengunci keberadaan sang dokter di samping istrinya.​"Pak Amar," sapa Tria dengan senyum ramah yang profesional. Ia mengulurkan tangan dengan sopan. "Baru tiba?"​Amar hanya membalas dengan anggukan singkat, tangannya menjabat Tria dengan tekanan yang tegas. Matanya beralih, melirik noda merah yang mengotori gaun putih Thalia.​"Ah ya, tadi ada insiden kecil. Gaun Thalia terkena tumpahan jus, jadi--"​"Oh." Tanpa membiarkan Tria menyelesaikan kalimatnya, Amar bergerak cepat. Dengan gerakan posesif, ia menarik jas milik Tria dari pundak Thalia dan menyampirkan jas miliknya sendiri untuk membung

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 38

    Beberapa orang yang mendengar ucapan Lesha mulai tertawa kecil, saling melempar lirikan penuh penghinaan. Tisha, sang ibu tiri, ikut menyunggingkan senyum meremehkan. Di samping Thalia, Anna diam-diam menarik sudut bibirnya, menikmati pemandangan itu sebelum akhirnya memasang wajah prihatin. ​"Tante, tolong jangan begitu. Bagaimanapun, Thalia sudah sangat berbaik hati membantu kami," ucap Anna, seolah sedang membela. Ia mengusap pundak Thalia dengan lembut, namun sentuhan itu justru terasa seperti duri bagi Thalia. ​Di bawah meja, jemari Thalia meremas pegangan kursi rodanya hingga memutih. Dalam hati, ia tertawa getir. Jadi seperti ini cara wanita-wanita berkelas ini menghabiskan waktu? Memandang rendah orang lain hanya karena tidak memiliki kuasa atau harta? ​Mirisnya, tidak ada satu pun dari mereka yang mencela Anna. Padahal, secara norma, seorang istri yang enggan hamil dan memilih menyewa rahim biasanya akan dipandang miring. Namun di keluarga Amar, aturan itu seolah tidak be

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 37

    "Non Thalia..."​"Iya, Mbak?" sahut Thalia pada Rubi yang tengah mendorong kursi rodanya dengan perlahan keluar dari area lobi rumah sakit menuju area parkir.​Rubi tersenyum sungkan, seolah baru saja tersadar dari lamunannya. "Ah, tidak apa-apa, Non--"​"Mbak mau bilang apa? Tadi wajahnya sepertinya serius sekali," goda Thalia sambil melirik ke belakang.​"Itu... Dokter Tria tadi ganteng banget ya, Non? Sudah tampan, baik lagi. Suaranya itu lho, soft spoken banget. Non Thalia pasti sempat berdebar ya waktu diperiksa tadi?" canda Rubi dengan kedipan mata yang membuat Thalia spontan terkekeh.​"Mbak Rubi ada-ada saja. Kenapa? Mbak jadi naksir, nih?"​Rubi ikut tertawa kecil, pipinya sedikit merona. "Aduh, cuma kagum saja, Non. Andai saya masih muda dan belum punya suami, mungkin saya sudah minta nomor antrean paling depan untuk jadi pasiennya setiap hari!"​Thalia hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar gurauan Rubi. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang mengganjal. Tatapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status