Home / Romansa / Mengandung Anak Suami Musuh / Bab 5 Program Bayi Tabung yang Gagal

Share

Bab 5 Program Bayi Tabung yang Gagal

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-02-27 13:52:43

​Thalia tertegun. Lelaki ini benar-benar iblis. Dia tahu persis apa yang ada di pikiran Thalia dan dia menggunakan itu untuk mempermainkan mereka berdua.

​Amar membawa Thalia melewati lorong panjang, namun bukannya menuju kamar di lantai dasar yang sudah disiapkan, dia justru melangkah menuju sebuah ruangan yang letaknya sangat dekat dengan ruang kerja pribadinya.

​"Ini kamarmu," ucap Amar sambil meletakkan Thalia dengan kasar namun hati-hati di atas ranjang besar.

​Thalia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Kamar itu memang jauh lebih mewah dari kamarnya di rumah tua, namun alih-alih merasa nyaman, bulu kuduknya justru meremang. Matanya tertuju pada satu titik yang membuatnya ngeri, sebuah pintu penghubung di sudut ruangan.

​Pintu itu sebenarnya tersembunyi dengan cerdik di balik rak partisi besar yang dipenuhi jajaran buku dan hiasan dinding. Sekilas, orang tidak akan menyadari keberadaannya. Namun saat ini, rak itu tampak sedikit tergeser, memperlihatkan pintu penghubung yang terbuka lebar, seolah sengaja menunjukkan jalan masuk rahasia bagi seseorang dari ruangan sebelah.

​"Itu pintu ke mana?" tanya Thalia curiga.

​Amar berjalan menuju pintu tersebut, membukanya sedikit hingga memperlihatkan ruang kerja pribadinya yang penuh dengan rak buku dan meja besar.

​"Itu akses pribadiku. Jadi, jika di tengah malam aku ingin memastikan rahimku baik-baik saja, aku tidak perlu melewati koridor yang bisa dipantau oleh Anna," bisik Amar dengan senyum miring yang penuh kemenangan.

Thalia tertegun sejenak. Napasnya tertahan di kerongkongan, dan detik berikutnya ia terpaksa menelan ludah dengan susah payah. Matanya menatap nanar pada celah pintu yang terbuka di balik rak itu.

​'Bajingan!' maki Thalia dalam hati, kata-kata yang hanya berani ia gaungkan di kepalanya sendiri.

​Setiap gerak-gerik Amar memang terasa sangat menyebalkan dan penuh jebakan, namun Thalia sadar ia berada di posisi yang terjepit. Menolak secara terang-terangan hanya akan membuatnya terlihat mencurigakan, dan mengadu pada Anna bukanlah pilihan yang bijak. Mengadu hanya akan membuat Anna semakin senang melihat Thalia menderita dan tertekan di rumah ini.

​Thalia mengepalkan tangannya di balik selimut. Ia mencoba mengalihkan rasa takutnya menjadi sebuah rencana. Jika Amar sengaja membuka akses rahasia ini, maka suatu saat nanti, akses ini pula yang akan ia gunakan untuk menghancurkan hidup lelaki itu, dan tentu saja, merugikan Anna. Thalia harus bersabar, dia harus menjadi musuh yang paling tenang sebelum akhirnya bisa menusuk mereka dari belakang.

***

Pagi pertama di kediaman Amar dan Anna tidak diawali dengan hangatnya sinar matahari, melainkan dengan atmosfer yang jauh dari kata romantis. Suasana di ruang makan yang mewah itu terasa begitu kaku, seolah udara di sana telah membeku.

​Amar duduk di kepala meja, mengenakan kemeja kerja yang licin tanpa celah. Sikapnya datar, wajahnya kaku, dan tatapannya hanya tertuju pada koran digital di hadapannya. Ia menyantap sarapannya dengan gerakan mekanis, tanpa suara, tanpa ekspresi.

​Di sisi lain, Anna tampak tak acuh. Ia makan dengan terburu-buru, bukan karena lapar, melainkan karena ingin segera menyelesaikan kewajibannya di meja makan agar bisa kembali fokus pada ponselnya. Bunyi denting sendok Anna yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik pengiring yang tidak nyaman.

​Thalia hanya terdiam di kursi rodanya yang diletakkan di sisi meja. Ia makan dengan gerakan sangat lambat, lebih banyak menunduk dan memandangi motif piringnya daripada menyentuh makanan yang ada. Nafsu makannya hilang entah ke mana, tertelan oleh rasa muak melihat kepura-puraan di depannya.

​"Suamiku sudah ke rumah sakit. Urusannya sudah selesai, spermanya sudah diambil dan disimpan di laboratorium," ucap Anna tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

​Ia menyesap minumannya perlahan sebelum melanjutkan dengan nada penuh kebanggaan, "Aku juga sudah menjalani pengambilan sel telur minggu lalu. Semuanya sudah siap di sana. Sekarang, tinggal tugasmu untuk menyediakan tempat bagi milik kami berdua."

​Anna akhirnya mendongak, menatap Thalia dengan pandangan memerintah yang dingin. "Setelah ini, kamu berangkat. Dokter sudah menunggu untuk prosedur penggabungan dan penanaman. Jangan membuat kesalahan, Thalia. Aku ingin rahimmu siap menerima benih dan sel telurku hari ini juga."

​Thalia melirik Amar, berharap ada sedikit pembelaan atau setidaknya reaksi manusiawi dari lelaki itu. Namun, Amar tetap diam. Ia bahkan tidak mendongak, seolah percakapan tentang benih dan rahim istrinya yang lain bukanlah urusannya.

​"Aku akan diantar siapa?" suara Thalia terdengar parau.

​"Sopir akan mengantarmu. Aku ada janji jam sepuluh," sahut Anna santai sembari berdiri dan menyampirkan tas branded-nya di bahu. "Cepatlah. Jangan membuang waktu."

​Anna melenggang pergi begitu saja. Di ruang makan itu kini hanya tersisa Thalia dan Amar.

​Amar meletakkan tabletnya, lalu berdiri. Sebelum melangkah pergi, ia berhenti tepat di samping kursi roda Thalia. Ia membungkuk sedikit, aroma parfumnya yang kuat kembali mengusik indra penciuman Thalia.

​"Lakukan apa yang dia mau," bisik Amar dengan suara berat yang hanya bisa didengar oleh Thalia.

​Setelah melempar kalimat perintah itu, Amar pergi tanpa menoleh lagi.

​Thalia ditinggalkan sendirian dalam keheningan yang menyesakkan. Tak lama kemudian, sopir pribadi keluarga itu masuk dan memberi isyarat bahwa mobil sudah siap.

Thalia menarik napas panjang, menguatkan hatinya. Di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit, ia menatap ke luar jendela dengan mata berkaca-kaca.

​Ia akan menanamkan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang akan mengikatnya selamanya dengan lelaki misterius itu dan kakak tirinya yang kejam. Namun, di balik kepasrahannya, Thalia berjanji pada dirinya sendiri, anak ini tidak akan menjadi alat bagi Anna. Anak ini akan menjadi awal dari kehancuran mereka.

***

Lampu ruang pemeriksaan terasa menyilaukan. Thalia berbaring dengan perasaan hancur, menatap langit-langit, sementara dokter melakukan prosedur pemeriksaan awal melalui USG transvaginal sebelum memulai proses bayi tabung.

​Hening yang lama menyelimuti ruangan itu. Thalia bisa melihat kening dokter berkerut dalam. Ia berkali-kali menggerakkan stik pemindai, menatap layar monitor dengan saksama.

​"Dokter? Ada yang salah?" tanya Thalia cemas. Jantungnya mulai berdegup tidak keruan.

​Dokter itu melepaskan kacamata, lalu menatap Thalia dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara bingung dan ragu.

​"Nona Thalia, apakah... apakah sebelumnya Anda melakukan hubungan intim dengan suami Anda secara alami?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 42

    Bab 42 ​Sesaat, suasana menjadi hening. Tidak ada yang bicara. Hanya suara napas keduanya yang terdengar di tengah kamar yang kedap suara itu. Keheningan yang mendadak terasa berat, seolah ada beban masa lalu yang merangkak naik ke permukaan.​"Kalau sudah ada Thalia, berarti... jangan ingat Yulia lagi," ucap Gandira tiba-tiba. Suaranya kini lebih berat, penuh penekanan yang serius.​Amar menunduk, sudut bibirnya tertarik menciptakan senyum getir yang menyedihkan. Nama itu, Yulia, seolah menjadi hantu yang belum benar-benar pergi dari hidupnya.​"Kamu bisa bahagiakan Thalia untuk menebus rasa bersalahmu," lanjut Gandira lembut. "Sudahlah, Kek, jangan bahas itu." Amar mengalihkan topik, enggan membahas soal Yulia lebih jauh dia pun memilih pamit. ***"Sepertinya kamu tidur nyenyak semalam--" Anna mendatangi kamar Thalia, dia berdiri sambil bersedekap melihat Thalia yang duduk di kursi rodanya sambil menatap keluar jendela. "Lumayan, bagaimana dengan Kak Anna? Menikmati pesta sampai

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 41

    Bab 27 "Jangan... Kak Anna bisa masuk kapan saja," desis Thalia dengan suara yang nyaris hilang, mencoba membawa nama Anna sebagai tameng untuk mengingatkan batas di antara mereka. ​Amar tidak menjauh. Ia justru terkekeh pelan, suara baritonnya bergetar tepat di samping wajah Thalia, mengirimkan sensasi ganjil yang merambat ke seluruh tubuh wanita itu. "Biarkan saja. Bukankah dia sendiri yang bersikeras membawamu ke sini? Dia harus siap dengan segala konsekuensinya, termasuk melihat suaminya yang sedang 'berbakti' pada istrinya yang lain." ​Tangan Amar kini bergerak naik, jemarinya menyentuh dagu Thalia dan memaksanya untuk kembali menatap mata tajam itu. Suasana di antara mereka semakin memanas, mengaburkan fakta bahwa di bawah sana, sebuah pesta besar sedang berlangsung dengan segala kemunafikannya. ​Bibir mereka hampir saja menyatu sebelum suara ketukan pintu yang tegas seketika menghentikan pergerakan Amar. ​"Maaf, Pak Amar. Kakek Anda ingin bertemu sekarang," suara itu mil

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 40

    Ekspresi Thalia yang mendadak gugup justru membuat senyum mengejek di bibir Amar semakin lebar. Ia menikmati rona merah yang menjalar di pipi istrinya, sebuah reaksi yang tak bisa disembunyikan meski Thalia berusaha tampil ketus. ​"Apa setiap hal yang ingin kulakukan padamu harus kujelaskan secara detail, Thalia? Itu terlalu membuang waktu," bisik Amar rendah. ​Dari saku celananya, Amar mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna gelap. Aroma rempah yang kuat dan menenangkan seketika menyeruak di antara mereka. ​"A-apa itu?" tanya Thalia dengan nada waspada, matanya melirik botol itu lalu beralih ke wajah Amar. ​"Minyak herbal, ramuan khas keluargaku. Katanya cukup berkhasiat untuk melancarkan aliran darah. Aku ingin mencobanya sekarang," jawab Amar santai. ​"Untuk apa!" Thalia tersentak, suaranya naik satu oktaf saat tangan kokoh Amar tanpa permisi memegang pahanya, bersiap menyingkap sedikit kain gaunnya untuk mencapai bagian kaki. ​Amar tersenyum miring, menatap Tha

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 39

    Amar melangkah dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Setelan jas yang membungkus tubuh tegapnya semakin mempertegas kesan dingin yang justru membuat para wanita di pesta itu tak bisa melepaskan pandangan. Bagi mereka, Amar adalah sosok lelaki cool yang mustahil untuk digapai.​Langkah kaki Amar terhenti tepat di hadapan Tria dan Thalia. Suasana mendadak berubah tegang saat sepasang mata tajam itu mengunci keberadaan sang dokter di samping istrinya.​"Pak Amar," sapa Tria dengan senyum ramah yang profesional. Ia mengulurkan tangan dengan sopan. "Baru tiba?"​Amar hanya membalas dengan anggukan singkat, tangannya menjabat Tria dengan tekanan yang tegas. Matanya beralih, melirik noda merah yang mengotori gaun putih Thalia.​"Ah ya, tadi ada insiden kecil. Gaun Thalia terkena tumpahan jus, jadi--"​"Oh." Tanpa membiarkan Tria menyelesaikan kalimatnya, Amar bergerak cepat. Dengan gerakan posesif, ia menarik jas milik Tria dari pundak Thalia dan menyampirkan jas miliknya sendiri untuk membung

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 38

    Beberapa orang yang mendengar ucapan Lesha mulai tertawa kecil, saling melempar lirikan penuh penghinaan. Tisha, sang ibu tiri, ikut menyunggingkan senyum meremehkan. Di samping Thalia, Anna diam-diam menarik sudut bibirnya, menikmati pemandangan itu sebelum akhirnya memasang wajah prihatin. ​"Tante, tolong jangan begitu. Bagaimanapun, Thalia sudah sangat berbaik hati membantu kami," ucap Anna, seolah sedang membela. Ia mengusap pundak Thalia dengan lembut, namun sentuhan itu justru terasa seperti duri bagi Thalia. ​Di bawah meja, jemari Thalia meremas pegangan kursi rodanya hingga memutih. Dalam hati, ia tertawa getir. Jadi seperti ini cara wanita-wanita berkelas ini menghabiskan waktu? Memandang rendah orang lain hanya karena tidak memiliki kuasa atau harta? ​Mirisnya, tidak ada satu pun dari mereka yang mencela Anna. Padahal, secara norma, seorang istri yang enggan hamil dan memilih menyewa rahim biasanya akan dipandang miring. Namun di keluarga Amar, aturan itu seolah tidak be

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 37

    "Non Thalia..."​"Iya, Mbak?" sahut Thalia pada Rubi yang tengah mendorong kursi rodanya dengan perlahan keluar dari area lobi rumah sakit menuju area parkir.​Rubi tersenyum sungkan, seolah baru saja tersadar dari lamunannya. "Ah, tidak apa-apa, Non--"​"Mbak mau bilang apa? Tadi wajahnya sepertinya serius sekali," goda Thalia sambil melirik ke belakang.​"Itu... Dokter Tria tadi ganteng banget ya, Non? Sudah tampan, baik lagi. Suaranya itu lho, soft spoken banget. Non Thalia pasti sempat berdebar ya waktu diperiksa tadi?" canda Rubi dengan kedipan mata yang membuat Thalia spontan terkekeh.​"Mbak Rubi ada-ada saja. Kenapa? Mbak jadi naksir, nih?"​Rubi ikut tertawa kecil, pipinya sedikit merona. "Aduh, cuma kagum saja, Non. Andai saya masih muda dan belum punya suami, mungkin saya sudah minta nomor antrean paling depan untuk jadi pasiennya setiap hari!"​Thalia hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar gurauan Rubi. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang mengganjal. Tatapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status