Home / Romansa / Mengandung Anak Suami Musuh / Bab 7 Tokoh Utama Pria yang Brengsek!

Share

Bab 7 Tokoh Utama Pria yang Brengsek!

Author: Ratu As
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-27 14:09:29

​Amar sengaja menekankan kata 'anak kita', seolah ingin mengingatkan Thalia bahwa makhluk yang sedang tumbuh di rahimnya adalah hasil dari hubungan mereka, bukan sekadar prosedur laboratorium yang diinginkan Anna.

​Thalia memalingkan wajah, merasa mual bukan karena kehamilannya, melainkan karena cara Amar menggodanya. "Itu anak Kak Anna. Kamu sendiri yang bilang aku hanya rahim cadangan."

​"Itu yang dikatakan Anna," bisik Amar tepat di telinga Thalia, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

"Tapi kita berdua tahu kebenarannya, Thalia. Kamu tidak sedang mengandung sel telur kakakmu. Kamu mengandung milikmu sendiri. Dan aku sangat tidak sabar melihat bagaimana reaksi Anna saat dia menyadari bahwa anak yang dia banggakan sama sekali tidak memiliki kemiripan dengannya."

Mata Thalia membulat sempurna. Ia terpaku menatap wajah Amar, mencoba mencari celah di balik ekspresi pria itu yang selalu sulit dibaca.

Apa arti semua ucapan ini? Apakah Amar sebenarnya berada di pihaknya untuk menjatuhkan Anna? Ataukah pria ini justru sedang menenun rencana lain yang lebih licik?

​Pikiran Thalia berkelana liar. Mungkinkah Amar memang sengaja ingin mengadu domba dirinya dengan Anna? Menikmati pemandangan saat dua saudara tiri itu saling cakar dan menghancurkan satu sama lain, sementara ia duduk tenang menyaksikan kekacauan itu?

Jika itu benar, maka penderitaan Thalia barulah dimulai, ia bukan hanya diperbudak oleh ambisi Anna, tapi juga dijadikan bidak permainan oleh Amar.

​Memikirkan kemungkinan itu membuat Thalia menahan gemertak gigi karena kesal.

Rahangnya mengeras, dan tangannya mencengkeram erat pegangan kursi rodanya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia merasa seperti pion yang sedang digerakkan di atas papan catur yang gelap, dan ia sangat membenci perasaan tidak berdaya ini.

​"Kamu ingin melihat kami bertengkar, kan?" desis Thalia dengan suara rendah yang penuh kebencian. "Kamu ingin melihat aku semakin menderita di tangan Kak Anna setelah rahasia ini terbongkar?"

​Amar hanya menatapnya lurus, tidak membenarkan namun juga tidak membantah. Ia justru mengulurkan tangan, menyentuh ujung kuku Thalia yang masih gemetar di atas kursi roda.

​"Penderitaan atau kemenangan, itu tergantung bagaimana kamu memainkannya, Thalia," sahut Amar dingin.

"Sekarang, masuklah. Udara taman mulai tidak sehat untuk 'aset' berhargaku."

Belum sempat Thalia menyahut atau melontarkan makian yang sudah di ujung lidah, Amar sudah lebih dulu bergerak.

Tanpa permisi, kedua tangan kokohnya mencengkeram pegangan kursi roda itu dan memutarnya dengan sentakan yang tak terbantahkan.

​Amar mendorong kursi roda itu dengan langkah lebar, memaksa Thalia kembali masuk ke dalam rumah. Thalia mencoba menahan roda dengan tangannya, namun kekuatan Amar jauh lebih besar. Ia hanya bisa pasrah saat tubuhnya dibawa menjauh dari ketenangan taman yang baru saja ia nikmati.

​Suasana hening yang mencekam menyelimuti mereka sepanjang lorong rumah yang dingin. Amar tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun deru napasnya yang tenang di belakang kepala Thalia terasa seperti ancaman nyata.

Lelaki itu tidak berhenti di ruang tengah, ia terus mendorong kursi roda itu hingga masuk ke dalam kamar Thalia.

​Pintu kamar tertutup rapat. Amar melepaskan pegangannya, namun ia tidak segera pergi. Ia berdiri menjulang di depan pintu, seolah ingin memastikan bahwa Thalia benar-benar terkurung di tempat yang menurutnya aman.

​"Beristirahatlah," ucap Amar sambil menatap Thalia datar. "Jangan mencoba melakukan hal bodoh yang bisa membahayakan apa yang ada di perutmu. Karena jika sesuatu terjadi padanya, akulah orang pertama yang akan membuat hidupmu jauh lebih menderita daripada yang bisa dilakukan Anna."

​Setelah mengatakan itu, Amar berbalik dan melangkah menuju pintu penghubung di balik rak buku, masuk ke ruang kerjanya sendiri tanpa menunggu jawaban dari Thalia.

​Thalia hanya bisa menatap pintu yang tertutup itu dengan napas memburu. Ia merasa dikepung dari segala sisi. Di satu sisi ada Anna yang memperlakukannya seperti mesin, dan di sisi lain ada Amar yang memperlakukannya seperti tawanan berharga.

Setelah suara langkah Amar menghilang di balik pintu penghubung, Thalia masih terpaku di tengah kamar. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun.

Ia merasa dilecehkan secara mental, diperlakukan seperti wadah tak bernyawa yang hanya berharga karena apa yang ada di dalam rahimnya.

​Dengan susah payah, ia memutar kursi rodanya menuju meja kecil di sudut ruangan. Ia menyambar laptopnya, membukanya dengan sentakan kasar seolah sedang membuka luka lama. Cahaya biru dari layar menyinari wajahnya yang pucat dan penuh dendam.

​Ia tidak membuka draf lamanya. Ia membuat dokumen baru. Sebuah judul diketiknya dengan jemari yang menekan keyboard dengan tajam, "Melumpuhkan Suami Brengsek!"

​Thalia mulai menulis. Ia menumpahkan seluruh detail pertemuan mereka di taman tadi. Ia menggambarkan karakter Amar sebagai sosok pemangsa yang haus kendali, seorang lelaki yang menggunakan topeng ketenangan untuk menutupi jiwanya yang busuk.

Setiap hinaan Amar, setiap senyum mencibirnya, dan setiap intimidasi yang ia terima, Thalia ubah menjadi narasi yang mematikan.

​Menulis adalah cara Thalia membalas dendam. Di dunia nyata, kakinya boleh lumpuh, tapi di dalam ceritanya, ia baru saja menciptakan sebuah karakter wanita yang sedang merancang skenario untuk memenggal kepala sang tokoh utama pria.

​"Jika aku tidak bisa mengalahkanmu dengan tenaga, aku akan melumpuhkanmu lewat kata-kata," bisik Thalia pada layar yang kini sudah terisi ratusan kata.

​Waktu berlalu tanpa ia sadari. Suasana rumah sudah sangat sepi. Thalia begitu larut dalam dunianya hingga ia tidak menyadari pintu penghubung di balik rak buku itu sedikit berderit.

​Sebuah bayangan panjang jatuh di atas mejanya.

​Thalia membeku. Detak jantungnya seolah berhenti saat ia melihat pantulan seseorang di layar laptopnya yang gelap.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
si thalia yg kebanyakan drama dan cuma bisa marah dalam diam.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 42

    Bab 42 ​Sesaat, suasana menjadi hening. Tidak ada yang bicara. Hanya suara napas keduanya yang terdengar di tengah kamar yang kedap suara itu. Keheningan yang mendadak terasa berat, seolah ada beban masa lalu yang merangkak naik ke permukaan.​"Kalau sudah ada Thalia, berarti... jangan ingat Yulia lagi," ucap Gandira tiba-tiba. Suaranya kini lebih berat, penuh penekanan yang serius.​Amar menunduk, sudut bibirnya tertarik menciptakan senyum getir yang menyedihkan. Nama itu, Yulia, seolah menjadi hantu yang belum benar-benar pergi dari hidupnya.​"Kamu bisa bahagiakan Thalia untuk menebus rasa bersalahmu," lanjut Gandira lembut. "Sudahlah, Kek, jangan bahas itu." Amar mengalihkan topik, enggan membahas soal Yulia lebih jauh dia pun memilih pamit. ***"Sepertinya kamu tidur nyenyak semalam--" Anna mendatangi kamar Thalia, dia berdiri sambil bersedekap melihat Thalia yang duduk di kursi rodanya sambil menatap keluar jendela. "Lumayan, bagaimana dengan Kak Anna? Menikmati pesta sampai

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 41

    Bab 27 "Jangan... Kak Anna bisa masuk kapan saja," desis Thalia dengan suara yang nyaris hilang, mencoba membawa nama Anna sebagai tameng untuk mengingatkan batas di antara mereka. ​Amar tidak menjauh. Ia justru terkekeh pelan, suara baritonnya bergetar tepat di samping wajah Thalia, mengirimkan sensasi ganjil yang merambat ke seluruh tubuh wanita itu. "Biarkan saja. Bukankah dia sendiri yang bersikeras membawamu ke sini? Dia harus siap dengan segala konsekuensinya, termasuk melihat suaminya yang sedang 'berbakti' pada istrinya yang lain." ​Tangan Amar kini bergerak naik, jemarinya menyentuh dagu Thalia dan memaksanya untuk kembali menatap mata tajam itu. Suasana di antara mereka semakin memanas, mengaburkan fakta bahwa di bawah sana, sebuah pesta besar sedang berlangsung dengan segala kemunafikannya. ​Bibir mereka hampir saja menyatu sebelum suara ketukan pintu yang tegas seketika menghentikan pergerakan Amar. ​"Maaf, Pak Amar. Kakek Anda ingin bertemu sekarang," suara itu mil

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 40

    Ekspresi Thalia yang mendadak gugup justru membuat senyum mengejek di bibir Amar semakin lebar. Ia menikmati rona merah yang menjalar di pipi istrinya, sebuah reaksi yang tak bisa disembunyikan meski Thalia berusaha tampil ketus. ​"Apa setiap hal yang ingin kulakukan padamu harus kujelaskan secara detail, Thalia? Itu terlalu membuang waktu," bisik Amar rendah. ​Dari saku celananya, Amar mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna gelap. Aroma rempah yang kuat dan menenangkan seketika menyeruak di antara mereka. ​"A-apa itu?" tanya Thalia dengan nada waspada, matanya melirik botol itu lalu beralih ke wajah Amar. ​"Minyak herbal, ramuan khas keluargaku. Katanya cukup berkhasiat untuk melancarkan aliran darah. Aku ingin mencobanya sekarang," jawab Amar santai. ​"Untuk apa!" Thalia tersentak, suaranya naik satu oktaf saat tangan kokoh Amar tanpa permisi memegang pahanya, bersiap menyingkap sedikit kain gaunnya untuk mencapai bagian kaki. ​Amar tersenyum miring, menatap Tha

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 39

    Amar melangkah dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Setelan jas yang membungkus tubuh tegapnya semakin mempertegas kesan dingin yang justru membuat para wanita di pesta itu tak bisa melepaskan pandangan. Bagi mereka, Amar adalah sosok lelaki cool yang mustahil untuk digapai.​Langkah kaki Amar terhenti tepat di hadapan Tria dan Thalia. Suasana mendadak berubah tegang saat sepasang mata tajam itu mengunci keberadaan sang dokter di samping istrinya.​"Pak Amar," sapa Tria dengan senyum ramah yang profesional. Ia mengulurkan tangan dengan sopan. "Baru tiba?"​Amar hanya membalas dengan anggukan singkat, tangannya menjabat Tria dengan tekanan yang tegas. Matanya beralih, melirik noda merah yang mengotori gaun putih Thalia.​"Ah ya, tadi ada insiden kecil. Gaun Thalia terkena tumpahan jus, jadi--"​"Oh." Tanpa membiarkan Tria menyelesaikan kalimatnya, Amar bergerak cepat. Dengan gerakan posesif, ia menarik jas milik Tria dari pundak Thalia dan menyampirkan jas miliknya sendiri untuk membung

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 38

    Beberapa orang yang mendengar ucapan Lesha mulai tertawa kecil, saling melempar lirikan penuh penghinaan. Tisha, sang ibu tiri, ikut menyunggingkan senyum meremehkan. Di samping Thalia, Anna diam-diam menarik sudut bibirnya, menikmati pemandangan itu sebelum akhirnya memasang wajah prihatin. ​"Tante, tolong jangan begitu. Bagaimanapun, Thalia sudah sangat berbaik hati membantu kami," ucap Anna, seolah sedang membela. Ia mengusap pundak Thalia dengan lembut, namun sentuhan itu justru terasa seperti duri bagi Thalia. ​Di bawah meja, jemari Thalia meremas pegangan kursi rodanya hingga memutih. Dalam hati, ia tertawa getir. Jadi seperti ini cara wanita-wanita berkelas ini menghabiskan waktu? Memandang rendah orang lain hanya karena tidak memiliki kuasa atau harta? ​Mirisnya, tidak ada satu pun dari mereka yang mencela Anna. Padahal, secara norma, seorang istri yang enggan hamil dan memilih menyewa rahim biasanya akan dipandang miring. Namun di keluarga Amar, aturan itu seolah tidak be

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 37

    "Non Thalia..."​"Iya, Mbak?" sahut Thalia pada Rubi yang tengah mendorong kursi rodanya dengan perlahan keluar dari area lobi rumah sakit menuju area parkir.​Rubi tersenyum sungkan, seolah baru saja tersadar dari lamunannya. "Ah, tidak apa-apa, Non--"​"Mbak mau bilang apa? Tadi wajahnya sepertinya serius sekali," goda Thalia sambil melirik ke belakang.​"Itu... Dokter Tria tadi ganteng banget ya, Non? Sudah tampan, baik lagi. Suaranya itu lho, soft spoken banget. Non Thalia pasti sempat berdebar ya waktu diperiksa tadi?" canda Rubi dengan kedipan mata yang membuat Thalia spontan terkekeh.​"Mbak Rubi ada-ada saja. Kenapa? Mbak jadi naksir, nih?"​Rubi ikut tertawa kecil, pipinya sedikit merona. "Aduh, cuma kagum saja, Non. Andai saya masih muda dan belum punya suami, mungkin saya sudah minta nomor antrean paling depan untuk jadi pasiennya setiap hari!"​Thalia hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar gurauan Rubi. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang mengganjal. Tatapa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status