Home / Romansa Dewasa / Mengandung Anak Suami Musuh / Bab 6 Anakku dan Suamiku Kakak

Share

Bab 6 Anakku dan Suamiku Kakak

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2026-02-27 14:02:52

Darah Thalia seolah berhenti mengalir. Wajahnya memucat seketika. "Kenapa Dokter bertanya begitu?"

​"Ini tidak mungkin. Prosedur bayi tabung ini tidak perlu dilakukan," ucap dokter itu sambil menunjuk ke arah monitor yang menunjukkan gambaran rahim Thalia.

"Sudah ada aktivitas di sana. Sperma sudah masuk ke rahim Anda secara alami dan saat ini sedang dalam proses pembuahan. Anda ... kemungkinan besar sudah hamil, atau setidaknya sedang dalam proses menuju ke sana."

​Dunia seolah runtuh menimpa Thalia. Ia teringat setelah pernikahan itu. Di mana Amar menjamahnya tanpa ampun, di saat Anna mengira mereka hanya akan menjalani prosedur medis yang kaku.

​"Bajingan itu...," desis Thalia dalam hati.

​Ternyata, Amar sengaja melakukannya. Dia sengaja "menanam" benihnya sendiri secara langsung agar Thalia mengandung anak kandungnya secara biologis, bukan anak hasil program bayi tabung yang menggunakan sel telur Anna.

Jika ini berhasil, anak yang dikandung Thalia adalah sepenuhnya anak Amar dan Thalia, bukan anak "titipan" yang diinginkan Anna.

​"Dokter, kumohon," Thalia mencengkeram lengan Dokter Haikal dengan tangan gemetar. "Jangan katakan ini pada Kak Anna. Tolong katakan saja bahwa prosedur bayi tabungnya sedang berjalan."

​"Tapi Nona, ini melanggar prosedur medis jika saya memalsukan--"

​"Aku mohon!" air mata Thalia jatuh. "Jika dia tahu ini terjadi secara alami, dia akan membunuhku. Atau lebih buruk lagi, dia akan melenyapkan janin ini sebelum sempat bernapas."

​Thalia tahu watak Anna. Anna ingin anak hasil perpaduan dirinya dan Amar. Jika Anna tahu Thalia hamil karena hubungan intim langsung dengan Amar, itu bukan lagi surrogate mother, melainkan pengkhianatan terbesar.

​Thalia masih terisak, memohon dengan sisa harga dirinya agar Dokter Haikal tidak menghancurkan hidupnya dengan laporan medis itu. Di tengah isak tangisnya, sebuah ponsel di atas meja kayu di sudut ruangan bergetar. Nama Amar terpampang di layar.

​Dokter Haikal tertegun sejenak, lalu segera menyambar ponsel itu. Ia berjalan menjauh ke sudut ruangan, membelakangi Thalia agar percakapan itu tidak terdengar jelas.

​Thalia hanya bisa melihat bahu dokter itu menegang. Dokter Haikal sesekali mengangguk patuh sambil menggumamkan, "Baik, Pak... Saya mengerti," dengan nada yang sangat formal, seolah sedang menerima instruksi dari seorang atasan yang sangat berkuasa.

​Setelah menutup telepon, dokter itu kembali menghampiri Thalia. Ia menarik napas panjang, wajahnya yang semula tampak bingung kini berubah menjadi tenang, namun sulit diartikan.

​"Tenanglah, Nona Thalia," ucap Dokter Haikal sambil merapikan peralatannya. "Saya akan menuruti permintaan Anda. Saya merasa kasihan melihat kondisi Anda yang begitu tertekan. Saya akan melaporkan pada Ibu Anna bahwa prosedur bayi tabung baru saja kita mulai dan berjalan sesuai rencana."

​Thalia mengembuskan napas lega yang teramat sangat. Ia merasa seolah baru saja lolos dari lubang jarum. "Terima kasih, Dok ... Terima kasih banyak."

​Namun, di balik wajah tulusnya, Thalia tidak tahu bahwa Dokter Haikal baru saja diperingatkan oleh Amar di balik telepon. Amar tidak memberikan pilihan, dia memerintahkan dokter itu untuk membungkam mulutnya tentang kehamilan alami tersebut.

***

Setibanya dari rumah sakit, Thalia langsung mengurung diri. Kemurungan menyelimuti wajahnya seperti kabut tebal yang tak kunjung hilang.

Biasanya, menulis adalah napas baginya, jemarinya akan menari lincah di atas keyboard untuk menumpahkan segala amarah. Namun, sudah beberapa hari ini layar laptopnya dibiarkan gelap. Inspirasinya seolah ikut mati bersama dengan rahasia yang kini tertanam di rahimnya.

​Sore ini, Thalia duduk terdiam di kursi rodanya di tengah taman belakang mansion yang luas. Matanya kosong, hanya mengamati seekor kupu-kupu yang berterbangan rendah di atas pucuk bunga mawar yang sedang mekar. Pemandangan itu indah, namun bagi Thalia, kupu-kupu itu jauh lebih beruntung, setidaknya ia punya sayap untuk pergi ke mana pun ia mau.

​Hari-harinya kini terasa hampa. Tidak ada lagi suara renyah Bi Mirna yang selalu memerhatikannya dengan tulus atau sekadar menawarkan teh hangat. Di rumah mewah yang dingin ini, Thalia benar-benar merasa sendirian di tengah keramaian. Hanya suara desir angin dan gemericik air kolam yang seolah setia menemaninya dalam bisu.

​Ia meraba perutnya yang masih rata. Di sana, ada kehidupan yang tumbuh dari sebuah pengkhianatan. Ia merasa seperti wadah yang hanya dipinjam, tanpa ada yang peduli pada jiwanya yang perlahan retak.

​"Ehem."

​Suara deheman berat itu memecah keheningan taman, membuat Thalia tersentak dari lamunannya. Ia menoleh dengan kaku pada Amar yang kini sudah berdiri tepat di samping kursi rodanya, tampak menjulang tinggi dan mengintimidasi.

​"Kenapa melamun? Ibu hamil dilarang stres," ucap Amar datar, namun ada nada mengejek yang terselip di sana.

​Thalia mendengus, sorot matanya menajam. "Siapa bilang aku hamil?" ketusnya.

Meski di rumah sakit Dokter Haikal sudah memberi isyarat tentang adanya aktivitas di rahimnya, Thalia tetap ingin mengingkari fakta itu. Baginya, mengakui kehamilan berarti mengakui kemenangan Amar.

​Amar tidak marah. Ia justru menarik sudut bibirnya, membentuk senyum mencibir yang selalu membuat Thalia merasa kecil.

​"Oh, kenapa bicara begitu?" Amar membungkuk, menumpukan tangannya pada sandaran kursi roda Thalia hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Harusnya kamu senang dan menyambut keberadaan anak kita, kan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 14 Ciuman Amar

    Suaranya terdengar tajam, memecah keheningan di antara mereka. "Lucu sekali. Pria yang membiarkan istrinya menyiksaku selama bertahun-tahun, tiba-tiba sekarang berperan jadi guru penasihat." ​Amar tidak menarik kembali sendoknya. Ia justru menatap Thalia lebih dalam, seolah sedang membedah isi kepala gadis itu. ​"Aku tidak mengajarimu cara melawan," balas Amar tenang, suaranya berat dan stabil. "Aku hanya memberimu senjata. Bagaimana kamu menggunakannya, itu urusanmu. Tapi senjata itu tidak akan berguna jika pemegangnya mati kelaparan atau pingsan karena kekurangan nutrisi." ​Thalia tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Senjata? Maksudmu janin ini? Kamu dan Anna sama saja. Kalian menganggap janin ini sebagai alat. Bedanya, Anna ingin menggunakannya untuk harga diri, dan kamu...." Thalia menggantung kalimatnya, menatap Amar penuh selidik. "Aku belum tahu apa tujuanmu sebenarnya." ​"Tujuanku sederhana, Thalia," Amar memajukan wajahnya, "Aku ingin melihat siapa yang bert

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 13 Bagaimana Cara Melawan Anna?

    ​"Janinnya selamat," ucap Dokter Haikal lirih namun tegas. "Ini benar-benar sebuah keajaiban. Benturannya cukup keras dan sempat terjadi pendarahan hebat, tapi posisinya sangat kuat. Kami sudah menyuntikkan penguat rahim dosis tinggi."​Anna langsung terduduk di kursi tunggu, bahunya yang tegang seketika merosot. Ia menangis sesenggukan, bukan karena empati pada adiknya, melainkan rasa lega karena 'tiket' masa depannya tidak hancur. "Terima kasih, Tuhan ... anakku selamat."​Namun, Amar tidak menampakkan kelegaan yang sama. Ia berdiri mematung, menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat. Matanya yang dingin tidak sedikit pun beralih ke arah istrinya yang sedang meratap.​"Tapi ada satu hal yang harus Anda perhatikan," lanjut dokter itu, suaranya merendah. "Thalia mengalami trauma fisik dan psikologis yang berat. Jika hal seperti ini terulang kembali, saya tidak bisa menjamin keselamatan janin maupun ibunya. Rahimnya sedang dalam kondisi sangat sensitif sekarang."Anna mengangguk pah

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 12 Dibawa Ke Rumah Sakit

    Suaranya yang biasa merdu kini bergetar karena cemburu buta. Pikirannya tidak lagi jernih, obsesinya pada Amar dan harga dirinya sebagai seorang diva legendaris melunturkan sisa-sisa kewarasannya. Ia lupa pada kondisi kehamilan yang harus dijaga, lupa bahwa Thalia adalah "wadah" bagi ambisinya.​"Dasar jalang!" sentak Anna kalap.​Tanpa peringatan, Anna merangsek maju dan mencengkeram tangan Thalia dengan tenaga yang tak terduga. Ia menarik tubuh Thalia dari atas ranjang dengan sentakan kasar, membuat wanita muda yang tak berdaya itu terpelanting ke lantai.​Buuughh!​Suara benturan keras itu menggema di dalam kamar. Thalia terjatuh dengan posisi yang sangat buruk. Selimut yang menutupinya tersingkap, meninggalkan tubuhnya yang memar terpapar dinginnya lantai marmer. Namun, rasa malu itu segera terkalahkan oleh rasa sakit yang luar biasa yang menjalar dari perut bagian bawahnya.​"Akhh..." Thalia mengerang, kedua tangannya refleks memegangi perutnya yang terasa seperti diremas hebat.

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 11 Kamu Merayu Amar saat Aku Tidak Ada?

    Amar tidak melepaskan tatapannya, bahkan saat tetesan air es itu membasahi kerah kemejanya. Alih-alih merasa terancam atau mundur karena gertakan Thalia, rahangnya justru mengeras, dan kilat di matanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya.​Tanpa peringatan, Amar merangsek maju. Sebelum Thalia sempat menekan tombol panggil di ponselnya, Amar sudah lebih dulu menepis benda itu hingga terlempar ke atas sofa. Dengan satu gerakan dominan yang tak terduga, ia membungkuk dan menyusupkan lengannya di bawah tubuh Thalia, lalu membopong tubuh mungil itu dari kursi rodanya.​"Apa yang kamu lakukan, Kak Amar! Turunkan aku!"Thalia histeris. Ia memukul bahu Amar dengan tangannya yang gemetar, namun pria itu terasa seperti dinding beton yang tak tergoyahkan.​Amar tidak menyahut. Ia melangkah lebar dengan napas yang masih memburu, membawa Thalia masuk ke dalam kamar dan menendang pintunya hingga tertutup rapat dengan dentuman keras.​"Kamu ingin bicara soal konsekuensi?" s

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 10 Aku Aset Pribadimu

    Siang itu, Thalia duduk terdiam di sudut ruang tengah. Jemarinya perlahan mengusap layar ponsel, menampilkan cuplikan berita hiburan yang sedang memanas. Di sana, di bawah sorotan lampu flash dan kerumunan pers, Anna dan Amar berdiri berdampingan sebagai pasangan paling ikonik tahun ini. ​Anna, dengan suara merdunya yang terlatih, memberikan pernyataan terbuka yang mengejutkan publik. Ia mengaku sedang menjalani proses bayi tabung melalui surrogate mother atau ibu pengganti. Alasannya terdengar begitu masuk akal sekaligus mengundang simpati, Anna memiliki kendala kesehatan yang membuatnya tidak bisa mengandung, ditambah usianya yang telah menyentuh angka tiga puluh lima, usia yang rentan bagi seorang wanita untuk menjalani kehamilan pertama. ​Thalia menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring yang penuh ejekan. Ia menatap layar itu dengan muak. Betapa sempurnanya mereka bersandiwara. Amar yang selalu tampil tenang dan berwibawa, sementara Anna memerankan sosok istri yang

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 9 Liciknya Amar

    Sepanjang malam, Thalia nyaris tidak memejamkan mata. Ia terjebak dalam posisi yang menghinakan-- mendekap tubuh pria yang menjadi sumber mimpi buruknya. Aroma maskulin Amar yang bercampur dengan wangi sabun mahal terus mengusik indra penciumannya, sementara jantung Thalia bertalu liar, seolah ingin melompat keluar dari dadanya yang sesak.​Tiba-tiba, keheningan pagi itu pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru di koridor luar. Suara ketukan hak sepatu stiletto yang tajam, ritme yang sangat dihafal Thalia sebagai langkah kaki Anna yang terdengar semakin mendekat.​Ceklek!​"Thalia, bangun! Aku harus melihat hasil catatan suhu basalmu pagi ini--"​Pintu terayun, lalu terbuka lebar. Anna, sang diva terkenal yang bahkan di pagi buta pun tampak sempurna, mematung di ambang pintu. Matanya yang biasanya terlihat sayu dan elegan kini membelalak sempurna. Di atas ranjang, ia melihat adiknya yang lumpuh sedang mendekap erat suaminya sendiri di bawah satu selimut yang sama.​Thalia ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status