Share

Bab 47

Penulis: LV Edelweiss
last update Tanggal publikasi: 2026-04-03 17:05:41
Merasa jika hubungannya sudah berada di ujung tanduk, Anya pun memilih untuk pasrah. Sejak ia melihat isi pesan di ponsel Bintang, ia sudah bisa menduga, jika suaminya, pasti akan lebih memilih untuk bersama dengan perempuan itu.

Siapa Anya? Dia hanya pemeran pengganti alias stuntwoman dalam kisah cinta Bintang dan Bulan. Atau figuran, yang wara-wiri tidak jelas di belakang sang pemeran utama. Ada, tapi tak pernah dianggap ada.

Suara derit pintu kamar terdengar. Namun Anya hanya bergeming. P
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 53

    Terkejut, Anya segera bangkit dan duduk sembari melihat kepada Bintang. “Ke—kesakitan, Om? Apanya yang sakit, Om?” tanyanya panik. Ia benar-benar takut, sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya. Mengingat umur laki-laki itu juga sudah tidak lagi muda. Bisa saja kan, Sang Mayor punya riwayat penyakit jantung atau hipertensi akut yang kambuh secara tiba-tiba. “Rasanya, ngilu ... sekali, Anya.” Bintang terlihat meringis. “Ngilu? Apa sih, Om?” Anya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang suaminya katakan. Sakit? Ngilu? Apanya? Dengan dibantu oleh Anya, Bintang bangkit perlahan dan duduk bersila. Melihat kepada sosok cantik di depannya dengan wajah lesu mirip seperti orang yang sedang sakaratul maut. “Anya ....” lirih Bintang. “Iya, Om?” Anya terus melihat Bintang dengan tatapan menuntut. Dahinya masih mengernyit karena bingung. Hobi betul tentara satu itu dalam membuat seorang Anya penasaran. Tanpa berkata apa-apa lagi, Bintang pun segera meraih tangan Anya dan membawanya

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 52

    Diam. Mayor Bintang membisu tanpa jawaban. Pernyataan yang ia lontarkan barusan, justru menjadi jebakan untuk dirinya sendiri. Lantas, sekarang mau bagaimana lagi? “Kok diem?” tanya Anya. Ia semakin maju dan terus mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya. “Hmm ... Anya, nasi kamu masih belum habis.” Tunjuk Bintang, mengalihkan pembicaraan. “Aku udah kenyang, Om.” “Oh ....” Bintang terus menjauhi Anya seperti orang ketakutan. Bahkan lengan kanannya sudah menabrak tembok ruangan itu karena saking gugupnya. Benar-benar aneh sekali. Padahal siang tadi, ia baru saja mencium perempuan itu dengan membabi-buta. Kenapa sekarang kembali lagi ke setelan pabrik? “Kok Om menghindar gitu?” tanya Anya yang mulai tersinggung dengan gelagat suaminya. “Menghindar? Tidak ... saya tidak menghindari kamu.” “Lah, itu apa juga? Om geser-geser terus kayak nggak mau dekat-dekat sama aku. Om jijik ya sama aku? Atau karena aku nggak pintar ciuman?” Anya mulai marah. “Astaga, bukan begitu Anya.

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 51

    Bintang terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Kalau dia jujur, sudah pasti Anya akan tersinggung. Tapi kalau dia bohong, mau bikin apa alasan apa? “Hmm … Anya. Saya … saya pakai baju dulu, ya?” Akhirnya Bintang punya alasan dan segera berlalu ke kamar. Anya hanya diam, dan kembali melihat kepada masakannya. “Ini semua gara-gara kamu!” *** Malam menjelang, Anya baru saja mengambil air wudhu dan kembali ke kamar. Ia lu mengambil mukenahnya dan bersiap untuk sholat. “Kita … sholat berjamaah saja.” Tiba-tiba Bintang menawarkan. “Jamaah, Om? Oh, ok.” Anya mengangguk setuju. Bintang segera mengambil posisi agak di depan Anya. Membentang sajadahnya, bersiap untuk memulai kewajiban lima waktu mereka. Anya hanya mengikuti, mendengarkan bacaan sholat Bintang dengan khusuk. Hingga mereka selesai, Anya dan Bintang masih duduk di atas sajadah masing-masing. Selesai zikir dan berdoa sejenak, Bintang berbalik dan duduk menghadap Anya. Pria dengan koko hitam dan kopiah dengan warna se

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 50

    Mobil Bintang sudah berhenti sempurna di depan sebuah bangunan berlantai tiga. Akan tetapi, itu bukan bangunan kantor tempatnya bertugas, melainkan gedung kampus keperawatan militer yang ada di depannya. Begitu mesin kendaraan mati, ia segera turun dan melangkah mantap memasuki area kampus. Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang masih mengikuti jam kuliah, Bintang terus berjalan menyusuri koridor, menuju sebuah ruangan di ujung lorong yang pintunya bertuliskan DIREKTUR.Tiba di depannya, Bintang langsung mengetuk dua kali. Setelah diperkenankan untuk masuk, barulah ia membuka pintu.“Mayor Bintang ...! Masuk, masuk,” seru seseorang yang duduk di balik meja kaca yang cukup besar. Dia adalah Mayor Rafael Rafardha, seorang tentara yang merupakan dokter gigi pada dunia kesehatan militer. Sekaligus menjabat sebagai direktur di kampus tersebut.“Selamat siang, Mayor.” Bintang memberi hormat ala militer kepada teman seprofesinya itu.“Selamat siang juga, Mayor Bintang.” Rafael balas memberi h

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 49

    Bintang terus menciumi bibir Anya dengan begitu lihai. Pengalaman menunjukkan siapa yang lebih jago di antara mereka. Sebab ini adalah yang pertama bagi Anya, ia sedikit kewalahan dalam merespon pergerakan bibir suaminya. Ingin mengganti posisi. Bintang memegang belakang kepala Anya dan langsung membawa tubuh istrinya berputar seratus delapan puluh derajat. Mulai berjalan mundur perlahan hingga kaki Anya membentur tepi ranjang tempat tidur. Anya langsung terduduk, tubuhnya semakin panas dingin dibuat oleh pria yang selama ini selama ini selalu membuatnya sulit tidur malam. Pria dewasa yang biasanya begitu dingin tapi kini mendadak berubah menjadi panas dan binal. Seperti macan yang siap memangsanya hidup-hidup. Tak sanggup menahan berat tekanan yang Bintang berikan—karena posisi duduk dengan kepala yang menengadah— Anya pun menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke atas kasur. Hal itu pun membuat Sang Mayor juga ikut terjatuh dan langsung menimpa tubuhnya yang sintal. “Aduh ....” tiba-t

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 48

    Tiga puluh menit sebelumnya .... Mobil Bintang sudah berhenti sempurna. Berdiri tepat di belakang mobil Bulan yang masih terparkir di tepi jalan komplek asrama. Ia lalu turun dan melangkah tergesa ke arah rumah. Setelah tadi mendapat pesan dari Bulan yang mengatakan jika perempuan itu sudah berada di depan unit asramanya, yang pertama kali ingin ia temui adalah Anya. Istrinya sendiri, bukan mantan calon istri. Bintang tidak ingin Anya salah paham dengan kedatangan Bulan yang sama sekali tak pernah ia harapkan itu. Bahkan puluhan pesan dari Bulan saja tak ada yang ia balas satu pun. Ia bahkan sudah lama memblokir nomor Bulan, walau Bulan tetap akan menghubunginya dengan nomor lain. Ia tak pernah peduli. “Eh, Pak,” tegur Aurel begitu melihat Bintang sedang melangkah ke arahnya. “Di mana Anya?” tanya Bintang langsung. “Di–di dalam, Pak.” Aurel gelagapan. Bintang mengangguk pelan dan berniat ingin melangkah masuk ke dalam rumah. Namun baru saja ia hendak membuka sepatu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status