Se connecterPlak!Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi mulus Rea. Dan itu diberikan oleh ayahnya sendiri, Kolonel Andika Pramudia. Entah sudah kali yang ke berapa pria paruh baya itu memukul putrinya sendiri. Namun kali ini, sangat wajar jika Sang Komandan melakukannya lagi. “Bisa-bisanya kamu bikin Papa malu seperti ini? Selama ini, Papa didik kamu dengan baik, Papa turuti semua kemauan kamu. Tapi lihat, apa yang kamu lakukan di kampus? Membully temanmu sendiri? Benar-benar keterlaluan kamu, Rea!” Kolonel Andika kembali melayangkan telapak tangannya, hendak menampar Rea kembali, tapi tak jadi.“Sudah, cukup Pak.” Tiba-tiba saja Anya bersuara. Sedari tadi ia hanya berdiri dan diam saja, kali ini ia merasa harus berbicara. Biar bagaimana pun, ia tidak sanggup melihat teman sekelasnya terus ditampar di depan matanya.Sebab membalas kekerasan dengan kekerasan, sejatinya tidak akan merubah apa-apa.Semua orang yang ada di ruangan itu melihat kepada Anya. Anya pun maju lebih mendekat kepada R
“Anya ... ada apa? Kenapa kamu menangis? Bilang sama saya, Anya. Apa yang terjadi?” Anya masih diam. Hanya isak tangis pilu yang terdengar keluar dari mulutnya. Wajahnya benar-benar terlihat sedih dan pilu. Ditambah dengan kehadiran laki-laki yang sangat ia cintai, semakin bertambahlah hancur hatinya. Ya, yang saat ini berdiri di depan Anya adalah Bintang. “Anya! Jawab saya. Siapa yang sudah merundung kamu lagi? JAWAB SAYA ANYA!” teriak Bintang, yang sudah tidak tahan lagi melihat Anya terus diam dan diam saat dibully. Dan Ini adalah kali pertama ia membesarkan suara pada Anya, sejak menjadi istrinya. Hal itu pun menarik perhatian para security yang berjaga di pos keamanan. Mereka langsung bergerak mendekati Anya dan Bintang. “Ada apa, Pak?” tanya salah seorang dari mereka. Tak menjawab pertanyaan security, pandangan Bintang terus tertuju kepada Anya. Melihat perempuan itu dengan tatapan menuntut. Menunggu istrinya untuk buka suara dan mengatakan yang sebenarnya. Tahu jika su
“Woi ... ngelamun aja!” Aurel datang dan langsung menggebrak meja.“Ih, apaan sih kamu? Selalu aja bikin aku kaget.” Anya cemberut.“Ya lagian, kamu. Pagi-pagi udah senyam-senyum sendiri. Ini pasti ada hubungannya sama Mayor Bintang, kan?” tebak Aurel.“Mang siapa lagi?” Anya membuka tas dan kembali memasukkan bahan-bahan kuliahnya. Mengingat dosen yang harusnya masuk pagi ini berhalangan datang, jadinya jadwal kuliah mereka pagi ini terpaksa ditiadakan.Sebagian mahasiswa memilih untuk ke kantin. Ada juga yang ke perpustakaan. Namun tidak sedikit juga yang memilih bertahan di dalam kelas ketimbang di lapangan yang panasnya cetar membahana.“Heh, cerita dong. Gimana kemarin?” Aurel mulai dengan penyelidikannya. Mengingat, kemarin dia meninggalkan dua manusia beda profesi itu di depan asrama temannya. Ia pun penasaran bagaimana kelanjutan setelah ia pergi? Apakah terjadi perang dunia ke tiga?“Apanya?” Anya bertanya balik.“Ih, itu … Mayor Bintang, sama mantannya. Mereka kan ketemu tuh
“Aaahh ....” Anya mendesah manja. Posisinya kini sudah berada di bawah Bintang. Pria itu terus menciumi batang lehernya dengan gerakan lembut dan penuh perasaan, membuat Anya hanyut dalam rasa yang sulit untuk dideskripsikan. Setelah dari leher, bibir Bintang perlahan turun ke bagian bukit kembar milik Anya. Dengan gerakan cepat dan gesit, ia pun berhasil menyingkap mini dress istrinya dan langsung “melahap” apa yang ada di depannya. “Ouhhh ….” Anya kembali mendesah. Kedua tangannya mencengkram seprai karena sensasi yang begitu luar biasa. Rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bintang mengulum, dengan tangan satunya meremas milik Anya yang kenyal dan padat. Dan setelah merasa puas bermain di sana, ia bangkit dan menjarak sedikit. Menatap dalam ke arah istrinya dengan satu tangan yang membelai pucuk kepalanya. “Terima kasih Anya. Kamu sudah membuat kekhawatiran saya sedikit berkurang,” bidik Bintang dengan napas yang masih terengah-engah. Anya tersenyum jengah. Dengan
Terkejut, Anya segera bangkit dan duduk sembari melihat kepada Bintang. “Ke—kesakitan, Om? Apanya yang sakit, Om?” tanyanya panik. Ia benar-benar takut, sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya. Mengingat umur laki-laki itu juga sudah tidak lagi muda. Bisa saja kan, Sang Mayor punya riwayat penyakit jantung atau hipertensi akut yang kambuh secara tiba-tiba. “Rasanya, ngilu ... sekali, Anya.” Bintang terlihat meringis. “Ngilu? Apa sih, Om?” Anya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang suaminya katakan. Sakit? Ngilu? Apanya? Dengan dibantu oleh Anya, Bintang bangkit perlahan dan duduk bersila. Melihat kepada sosok cantik di depannya dengan wajah lesu mirip seperti orang yang sedang sakaratul maut. “Anya ....” lirih Bintang. “Iya, Om?” Anya terus melihat Bintang dengan tatapan menuntut. Dahinya masih mengernyit karena bingung. Hobi betul tentara satu itu dalam membuat seorang Anya penasaran. Tanpa berkata apa-apa lagi, Bintang pun segera meraih tangan Anya dan membawanya
Diam. Mayor Bintang membisu tanpa jawaban. Pernyataan yang ia lontarkan barusan, justru menjadi jebakan untuk dirinya sendiri. Lantas, sekarang mau bagaimana lagi? “Kok diem?” tanya Anya. Ia semakin maju dan terus mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya. “Hmm ... Anya, nasi kamu masih belum habis.” Tunjuk Bintang, mengalihkan pembicaraan. “Aku udah kenyang, Om.” “Oh ....” Bintang terus menjauhi Anya seperti orang ketakutan. Bahkan lengan kanannya sudah menabrak tembok ruangan itu karena saking gugupnya. Benar-benar aneh sekali. Padahal siang tadi, ia baru saja mencium perempuan itu dengan membabi-buta. Kenapa sekarang kembali lagi ke setelan pabrik? “Kok Om menghindar gitu?” tanya Anya yang mulai tersinggung dengan gelagat suaminya. “Menghindar? Tidak ... saya tidak menghindari kamu.” “Lah, itu apa juga? Om geser-geser terus kayak nggak mau dekat-dekat sama aku. Om jijik ya sama aku? Atau karena aku nggak pintar ciuman?” Anya mulai marah. “Astaga, bukan begitu Anya.
Merasa jika hubungannya sudah berada di ujung tanduk, Anya pun memilih untuk pasrah. Sejak ia melihat isi pesan di ponsel Bintang, ia sudah bisa menduga, jika suaminya, pasti akan lebih memilih untuk bersama dengan perempuan itu. Siapa Anya? Dia hanya pemeran pengganti alias stuntwoman dalam kisah
“Istirahat ya? Jangan lupa makan. Saya harus balik ke kantor lagi, karena masih jam dinas.” Bintang meletakkan nasi dan lauk pauk di atas meja lesehan. Sedang Anya, ia hanya duduk diam dengan tatapan kosong ke arah depan. Wajahnya murung, seperti orang yang sudah bertahun-tahun dikurung. “Anya?
Setelah berhasil menerobos masuk ke dalam kerumunan, akhirnya Anya bisa melihat juga apa yang sedang disaksikan oleh para mahasiswa. Ia tercengang cukup lama dengan mulut yang ternganga. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bintang dan Rangga sedang berduel? Apa-apaan ini, piki
Akhirnya .... Setelah dirawat selama beberapa jam di rumah sakit TNI, Anya pun sudah diperbolehkan untuk pulang. Hasil pemeriksaan semuanya bagus. Jadi untuk pengobatan selanjutnya bisa dilakukan secara rawat jalan. “Kamu yakin baik-baik saja?” Bintang kembali bertanya saat mereka sudah berada di







