แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Dby
Setelah nyaris kehilangan nyawa, aku mencium lembut kepala putraku.

Mulai hari ini, aku akan meninggalkan ayahnya dan hanya membesarkan anakku.

Tubuhku sangat lemah setelah melahirkan.

Saat berusaha turun dari ranjang sambil menahan sakit, ibu mertuaku masuk sambil berkata dengan nada sinis, “Di mana Nelson? Melahirkan itu sebuah peristiwa penting, masa tidak ada yang memberitahunya?”

Aku tersenyum dingin, “Nelson bilang dia sedang melakukan perjalanan waktu dan menghilang.”

Wajah ibu mertua langsung muram. Dia tahu itu hanyalah alasan yang dibuat Nelson, lalu mulai menyalahkanku, “Kamu juga benar-benar tidak becus. Bahkan tidak bisa menjaga suami sendiri.”

Namun saat melihat bayi di ranjang kecil sampingku, wajahnya langsung dipenuhi senyum, “Cucu laki-lakiku tampan sekali. Mirip dengan ayahnya.”

Aku sudah terbiasa dengan sindiran seperti itu.

Dulu, kakekku dan kakek Nelson adalah rekan seperjuangan. Kedua orang tuaku juga gugur saat menjalankan tugas negara.

Sebelum meninggal, kakek menitipkanku pada Keluarga Benedict. Karena itulah mereka menerimaku sebagai menantu.

Selama bertahun-tahun, demi memenuhi harapan Kakek Benedict, aku bertahan di keluarga ini dan berjanji akan memberikan seorang cucu bagi mereka.

Sekarang aku sudah menepati janjiku.

Begitu pesta satu bulan anakku selesai, diriku akan benar-benar meninggalkan Keluarga Benedict.

Setelah puas melihat cucunya, ibu mertua pergi dengan senang hati. Meninggalkanku di rumah sakit sendirian.

Aku menjaga anakku seorang diri siang dan malam tanpa beristirahat. Hingga keluar dari rumah sakit, Nelson tidak pernah muncul.

Yang terus kuterima hanyalah satu per satu foto kemesraannya dengan Messy.

Setelah pulang ke rumah, ibu mertua bahkan memecat pengasuh yang ada di rumah sambil berkata, “Seorang anak harus dibesarkan sendiri oleh ibunya. Baru bisa akrab.”

Tubuhku yang masih lemah ditambah menyusui selama 24 jam tanpa henti membuat tenagaku terkuras habis.

Di satu sisi, ada anakku yang terus menangis. Di sisi lain ada rambutku yang rontok setiap hari.

Selama sebulan penuh, aku berjalan di ambang kehancuran.

Bahkan diriku menerima pesan ejekan dari Messy.

[Devi, lalu kenapa kalau kamu menikah dengan Nelson? Orang yang paling dia cintai tetaplah diriku ….]

Saat membuka videonya, terlihat adegan keduanya yang begitu mesra dan sulit dipisahkan.

Suara napas berat seorang pria bercampur dengan suara manja seorang wanita terdengar dari rekaman itu.

Di tengah malam yang sunyi, aku memandangi wajah putraku yang tertidur lelap dan merasa hatiku semakin perih.

Di media sosial juga terus muncul unggahan perjalanan Nelson dan Messy ke berbagai negara.

Setiap tiba di tempat baru, mereka selalu mengunggah foto sebagai bukti kunjungan.

Melihat ratusan foto itu, aku seperti sedang menyiksa diri sendiri saat memaksakan melihat semuanya hingga akhir.

Di bawah unggahan itu ada komentar teman-teman mereka.

[Keren juga, Kak Nelson. Istrimu sedang melahirkan, kamu malah keliling dunia ….]

[Betul. Kali ini alasan apa yang dirimu berikan agar bisa kabur …?]

Nelson menjawab. [Aku bilang ada fenomena tujuh bintang sejajar yang terjadi sekali dalam 77 tahun, jadi diriku melakukan perjalanan waktu .…]

Temannya membalas. [Hahaha, hanya kamu yang bisa memikirkan alasan seperti itu. Tidak takut Kakak Ipar marah?]

Nelson menjawab lagi, [Devi sudah menahannya selama 3 tahun. Kali ini juga sama. Dia tetap menungguku pulang dengan patuh ….]

Aku pun sadar. Toleransi dan kesabaranku selama 3 tahun ini ternyata hanya menjadi bahan lelucon mereka saat berkumpul.

Namun kali ini aku tidak akan memakluminya lagi. Malam itu aku menangis sendirian hingga fajar.

Sampai akhirnya terdengar ketukan pintu yang tergesa-gesa dari luar.

“Sayang, aku pulang. Aku juga membawa hadiah untuk anak kita!”

Saat pintu dibuka, Messy berdiri di samping Nelson dengan penampilan yang sangat rapi dan anggun.

Sambil tersenyum manis, dia pun berkata, “Wah, Kakak Ipar, kenapa penampilanmu jadi berantakan begini? Wanita itu harus tahu cara merawat dirinya sendiri.”

Aku mengenakan pakaian rumah yang longgar. Di bagian depan baju masih terdapat noda ASI yang belum sempat kubersihkan.

Messy menutup hidungnya dengan jijik.

Lalu dia mengeluarkan parfum dari tasnya dan menyemprotkan ke tubuhnya sendiri, “Aduh, bau susu basi dari mana ini? Bau sekali.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mengembalikan Cinta dan Benci ke Titik Nol   Bab 8

    Dia berusaha mengulurkan tangan untuk menyentuhku. Namun aku berbalik dan menghindarinya.Tatapan dingin di mataku menusuk hatinya.Tetapi dibandingkan dengan semua penderitaan yang kuterima selama tiga tahun terakhir, dan sikapnya yang membiarkanku menghadapi kematian sendirian saat melahirkan, rasa sakit itu tidak ada artinya!Ibu Benedict akhirnya terduduk di lantai. Dia menangis histeris.Tangannya terus memukul dadanya sendiri.“Ini balasan ... Ini semua balasan atas perbuatanku!”“Apa yang sudah kulakukan ... Aku hampir membunuh anak kandungku sendiri!”Melihat ibu dan anak itu akhirnya menyesali semuanya, untuk pertama kalinya aku merasakan kelegaan.Aku mengambil surat wasiat dan dokumen pengalihan saham dari atas meja. Lalu berjalan keluar dari ruang rapat.Saat sinar matahari menyinari tubuhku, rasanya seperti harapan kehidupan baru.Di luar pintu ada cahaya dan masa depan. Di dalam pintu hanya tersisa penyesalan yang tidak akan pernah berakhir.Setelah menyelesaikan seluruh

  • Mengembalikan Cinta dan Benci ke Titik Nol   Bab 7

    Nelson sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan para eksekutif itu.Sampai akhirnya pintu lift terbuka. Pada detik itulah, seseorang yang sangat dikenalnya muncul di hadapannya.Tubuh Nelson langsung membeku. Dia tidak mampu bergerak untuk waktu yang lama.Wanita di hadapannya bukan lagi Devi lusuh yang pernah ada dalam ingatannya.Saat ini aku memancarkan pesona yang begitu memukau.Selama 3 tahun dalam kenangannya, diriku belum pernah terlihat secemerlang dan semenarik ini.Aku mengenakan pakaian haute couture, ditemani dua pengawal pribadi saat berjalan menuju ruang rapat.Ketika melewati Nelson, dia tidak kuasa menahan diri dan meraih tanganku.Dia memanggil dengan suara rendah, “Devi ... Devi ....”Aku menoleh dan tersenyum dengan tulus, “Halo, Tuan Benedict. Nama saya Diana.”Para pengawal di belakangku segera menariknya menjauh.Setelah aku duduk di kursi utama ruang rapat, Nelson terduduk lesu di kursi yang berhadapan denganku.Sepanjang rapat, matanya selalu menatapku. Se

  • Mengembalikan Cinta dan Benci ke Titik Nol   Bab 6

    “Apa Ibu tahu kalau dia hampir meninggal karena pendarahan setelah melahirkan?”Ibu Benedict langsung membalasnya, “Bagaimana denganmu? Bukankah kamu juga tiba-tiba menghilang? Ke mana saja waktu itu?”Melihat ibunya yang terus-menerus memanggil Devi dengan sebutan perempuan jalang, Nelson akhirnya mengerti.Selama 3 tahun saat dirinya tidak berada di rumah, entah berapa banyak hinaan dan makian dari ibunya yang harus didengar Devi.Karena dia tidak pernah memberikan status dan penghormatan yang layak kepada Devi di Keluarga Benedict, ibunya pun merasa bebas merendahkan Devi.Di telinganya terus terngiang suara ibunya yang memaki Devi. Akhirnya Nelson tidak tahan lagi dan berteriak, “Cukup, Bu! Orangnya sudah pergi untuk selamanya, kenapa Ibu masih terus memakinya?”Ibu Benedict justru tertawa, “Untung dulu aku tidak mengizinkan kalian mendaftarkan pernikahan secara resmi. Baguslah kalau dia pergi.”“Tidak ada surat cerai, dan dia juga tidak akan bisa mengambil harta Keluarga Benedict

  • Mengembalikan Cinta dan Benci ke Titik Nol   Bab 5

    Nelson bahkan tidak sempat melampiaskan amarahnya dan langsung melaju menuju hotel.Begitu tiba di aula perayaan, layar raksasa yang tergantung di depan ruangan sedang memutar video dirinya dan Messy.Suara-suara yang tidak pantas terdengar jelas di seluruh aula.Adegan-adegan intim mereka terpampang tanpa sensor di depan semua tamu.Nelson membentak dengan suara tegas, “Cepat! Cepat matikan videonya!”Pembawa acara panik dan mencoba mematikan video itu, tetapi apa pun yang dilakukannya, video tersebut tidak bisa dihentikan.Karena sejak awal aku sudah menyuap pembawa acara agar video itu diputar hingga selesai.Foto demi foto ditampilkan di layar, setiap gambar memperlihatkan Nelson dan Messy yang sedang menikmati perjalanan mereka di luar negeri dengan bebas dan bahagia.Tetapi beberapa foto terakhir adalah surat pemberitahuan kondisi kritis dari rumah sakit.Lalu surat persetujuan tindakan darurat untuk ibu hamil yang mengalami emboli cairan ketuban.Pada setiap dokumen itu tertulis

  • Mengembalikan Cinta dan Benci ke Titik Nol   Bab 4

    Nelson malah tersenyum sinis sambil berkata, “Lalu kenapa kalau dia mendengarnya? Siapa suruh menyiramimu dengan air panas? Ini hukuman untuknya!”Suara guntur dan kilatan petir terus bersahutan di luar. Aku memeluk putraku sepanjang malam tanpa bisa memejamkan mata.Ketika rasa kantuk mulai datang, tiba-tiba pintu kamarku ditendang hingga terbuka.Messy berdiri di ambang pintu dengan senyum penuh provokasi, “Devi, cepat bangun dan siapkan sarapan. Nelson sedang menunggu.”Melihatku tidak menjawab, dia sengaja mendekat. Bekas-bekas merah samar di tubuhnya terlihat jelas.Dia membungkuk ke dekat telingaku dan berbisik, “Semalam Nelson bilang, melihat keadaanmu sekarang saja sudah membuatnya mual.”“Seluruh tubuhmu mengeluarkan bau asam yang menjijikkan.”Aku mengabaikannya dan berjalan menuju kamar mandi.Namun detik berikutnya, tangisan putraku terdengar nyaring.Hatiku langsung berdebar.Saat menoleh, aku melihat kuku Messy menancap kuat di lengan kecil putraku yang masih sangat lembu

  • Mengembalikan Cinta dan Benci ke Titik Nol   Bab 3

    Lalu dengan senyum palsunya Messy berkata, “Maaf ya, Kakak Ipar. Hidungku memang agak sensitif, jangan tersinggung.”Nelson juga tampak sedikit mengernyitkan dahi sebelum berkata, “Sayang, beberapa hari ini kamu pasti sangat lelah. Aku baru kembali dari perjalanan waktu dan ini hadiah yang kubawa untuk putra kita.”Dia mengeluarkan sebuah patung Ultraman dari dalam tas dan menyerahkannya kepadaku.Kalau dulu, diriku pasti sudah marah besar dan langsung melempar hadiah asal-asalan yang selalu dia berikan.Tetapi hari ini berbeda. Karena aku sudah tidak peduli lagi.Melihat Messy di belakangnya, Nelson pun menjelaskan, “Aku bertemu Messy di jalan. Dia bilang ingin melihat bayi, jadi kami datang bersama.”Karena aku tidak mengatakan apa-apa, Nelson mengira diriku sedang cemburu dan marah seperti biasanya.Namun detik berikutnya aku hanya tersenyum, “Tidak apa-apa. Masuklah.”Mata Nelson sempat menunjukkan sedikit kebingungan, tetapi itu segera menghilang.“Sayang, ternyata setelah menjadi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status