Share

Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan
Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan
Penulis: Nia

Bab 1

Penulis: Nia
Selama tiga bulan ini, untuk pertama kalinya hantu perempuan itu mengucapkan satu kalimat yang utuh.

Seperti ramalan dingin yang membekukan, kata-katanya membuat bulu kuduk Kana meremang.

Namun ....

Dia tidak percaya.

Selama tiga bulan Marcel berada di Amriga.

Setiap pagi, Marcel selalu mengucapkan selamat pagi kepadanya.

Setiap malam, mereka selalu melakukan panggilan video.

Marcel pernah berkata dengan mulutnya sendiri bahwa Kana adalah penyelamat hidupnya.

Namun, ketika Kana mendorong pintu hingga terbuka, di tengah kegelapan ruang pesta.

Dia melihat Marcel sedang memeluk seorang gadis bergaun putih di bawah sorotan lampu yang begitu terang.

Saat Marcel lengah, gadis itu diam-diam mengecup dagunya.

Dunia Kana seketika runtuh.

Dia langsung berlari ke atas panggung.

Hantu perempuan itu menghalangi jalannya, suaranya terdengar seperti sedang menangis. "Jangan memukulnya. Dia adalah orang yang paling berharga di hati Marcel. Kalau kau menamparnya, dia bakal ...."

Namun, sudah terlambat.

Tangan Kana menembus tubuh transparan hantu perempuan itu dan langsung menampar wajah gadis tersebut.

Plak!

Suara tamparan yang nyaring membuat seluruh keramaian di pesta itu terhenti.

"Masih punya muka? Nggak tahu dia sudah beristri? Nggak tahu dia adalah suami orang?"

Sunyi.

Telapak tangan Kana terasa panas.

Kana menatap Marcel tanpa berkedip, menunggu penjelasannya.

Menunggu pria itu, seperti biasanya, menarik tangannya dengan sikap dingin namun lembut, lalu bertanya apakah dia kesakitan.

Namun, kali ini tidak.

Untuk pertama kalinya, Kana melihat niat membunuh di mata Marcel.

Sepasang mata yang biasanya tenang itu seketika memerah.

Dia menunduk, membantu gadis yang terjatuh karena tamparan itu berdiri, lalu melindunginya dalam pelukannya.

"Minta maaf."

Marcel berkata dengan suara sedingin es.

"Apa katamu?" Kana hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Marcel, aku ini istrimu."

"Tadi di atas panggung kau mengatakan dia adalah orang yang paling penting dalam hidupmu. Lalu di mana tempatku? Aku juga melihat dia menciummu tadi, tapi justru aku yang kau suruh minta maaf?"

Marcel tidak membantah, juga tidak marah.

"Dia adikku, Aline Lusila."

Kana tertawa getir. "Tiga tahun menikah, sejak kapan kau punya adik perempuan? Kau pikir aku anak kecil berusia tiga tahun?"

"Nama margamu Davka, sedangkan marganya Lusila. Adik macam apa itu? Adik siapa yang memandang kakaknya dengan tatapan seperti itu? Adik mana yang mencium dagu kakaknya seperti tadi?"

Marcel tidak lagi melirik Kana.

Dia hanya membungkuk dan menggendong Aline yang gemetar sambil menangis.

Sebelum pergi, Marcel berhenti melangkah. Suaranya terdengar begitu menyeramkan.

"Kana, kau boleh menghina aku, tapi kau seharusnya nggak menyentuhnya."

Air mata yang selama ini ditahan Kana akhirnya jatuh.

Menghina dia?

Bagaimana mungkin Kana tega?

Pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama saat berusia delapan belas tahun.

Pria yang begitu ingin dinikahinya saat berusia dua puluh tiga tahun, sampai dia melakukan segala cara demi menjadi istrinya.

Kana bahkan ingin menyerahkan semua hal terbaik di dunia kepadanya.

Bagaimana mungkin Marcel mengatakan bahwa Kana telah menghina dirinya?

Namun, Marcel tidak menoleh lagi. Dia hanya memerintahkan para pengawal di belakangnya dengan dingin.

"Antar nyonya pulang. Sebelum aku kembali, awasi dia."

Namun, baru saja Kana melangkah keluar dari ruang pesta, dia diseret ke sebuah gang yang gelap.

Dia murka dan berteriak kepada para pengawal.

"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!"

Pemimpin para pengawal itu menggulung lengan bajunya tanpa ekspresi. "Maaf, Nyonya. Ini perintah Tuan Marcel."

Kana bahkan belum sempat bereaksi ketika sebuah tamparan keras sudah menghantam wajahnya.

Plak!

Tamparan itu langsung membuat Kana linglung.

Denging tajam memenuhi telinganya. Separuh wajahnya seketika membengkak, mati rasa, dan memerah.

Hantu perempuan itu entah dari mana kembali muncul. Tatapannya pada Kana bahkan lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Hemat tenagamu. Jangan menangis atau berteriak lagi. Kau memberi satu tamparan pada orang yang paling berharga baginya, jadi dia bakal membalasnya seratus kali lipat ...."

Setelah mengatakan itu, dia kembali tertawa dan menangis seperti orang gila.

Sampai seratus tamparan itu selesai.

Seluruh wajah Kana sudah kehilangan rasa. Mulutnya dipenuhi rasa amis darah.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Dia merasa seolah jiwanya sedang dicabik sedikit demi sedikit.

Para pengawal membawanya kembali ke vila.

Di atas sofa impor yang telah Kana datangkan dari luar negeri dengan biaya mahal, Aline duduk meringkuk ketakutan.

Marcel yang dingin dan selalu berada di atas angin itu.

Dia sedang berlutut dengan satu kaki, mengoleskan obat pada pipi Aline yang memerah dan membengkak.

Mendengar suara, Marcel menoleh.

Tatapan dinginnya berhenti beberapa detik pada wajah Kana yang penuh darah, lalu dia kembali memusatkan perhatian untuk mengoleskan obat pada Aline.

Air mata mengalir tanpa sadar dari mata Kana.

Kana tersenyum sinis. "Marcel, aku sudah sering melihat pria yang melupakan asal-usulnya lalu berubah menjadi nggak tahu balas budi. Kalau kau berubah hati, katakan saja."

"Asalkan kau keluar dari rumah ini tanpa membawa harta apa pun, kita bisa langsung bercerai. Tapi sekarang? Hah ...."

Nada bicara Kana menjadi tajam dan penuh sindiran. "Jadi ini adik kesayanganmu, ya? Bersiaplah jadi wanita simpanan seumur hidup."

Namun, seolah tidak mendengar kata-katanya.

Marcel langsung menggendong Aline dan naik ke lantai atas.

Malam itu, Kana mengurung diri di kamarnya. Dia menangis seperti orang yang kehilangan akal.

Namun, dia tidak rela.

Sepuluh hari kemudian.

Memanfaatkan saat Marcel sedang dalam perjalanan dinas, Kana mengatur orang-orang untuk secara paksa mengusir Aline.

Hantu perempuan yang gila itu kembali menghalangi jalannya.

Wajah yang sama persis dengannya menangis dengan pilu, tetapi tidak ada setetes air mata pun yang jatuh.

"Hentikan. Aku mohon. Kana, jangan bodoh ...."

"Begitu kau mengusirnya, kau bakal dicambuk sembilan puluh sembilan kali sampai kulitmu robek dan tubuhmu penuh luka."

"Selain itu, ayah ... ayah bakal mati. Kita bakal membunuhnya ...."

Tangan Kana yang memegang telepon gemetar mendengar ramalan dingin dari hantu perempuan itu.

Beberapa saat kemudian.

Dia akhirnya berkata dengan suara serak, "Hentikan. Aku tetap bakal membayar kalian. Pergilah, jangan sentuh dia."

Namun ....

Pukul lima pagi keesokan harinya, Marcel tetap berdiri di hadapannya dengan hawa dingin yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

Telapak tangannya yang besar mencengkeram dagu Kana. Dingin dan tanpa belas kasihan.

"Aku sudah memperingatkanmu. Jangan menyentuhnya. Apa kau nggak mengerti bahasa manusia?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 17

    Di lantai satu gereja.Sosok hantu perempuan yang tidak dapat dilihat siapa pun berbisik di telinga Kana."Kana, mereka datang. Mereka ada di lantai dua ... jangan takut."Bulu mata Kana bergetar pelan, tetapi dia tidak menoleh ke lantai dua, apalagi menunjukkan kepanikan.Takut? Sejak lama dia sudah tidak takut lagi.Lima tahun lalu di Hangkang, dia nyaris berjalan melewati neraka.Hari ini, kemungkinan terburuk hanyalah kematian. Lalu apa yang perlu ditakutkannya?Dia menjawab hantu perempuan itu dengan suara lembut."Aku nggak takut.""Aku sudah menempatkan orang-orang di tempat tersembunyi. Aku bukan cuma nggak takut, aku juga bakal mengubah takdir kita dengan tanganku sendiri."Di sudut gelap lantai dua.Tangan Marcel yang menggenggam pistol terus bergetar."Tembak!" Pria berwajah penuh bekas luka itu mendesak sambil menggertakkan gigi. "Apa lagi yang kau tunggu? Bunuh Noah, dan dia bakal menjadi milik kita!"Jari Marcel sudah menekan pelatuk lebih dari setengahnya.Asalkan dia me

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 16

    Pria itu tidak mengatakan apa-apa.Setelah menyunggingkan senyum dingin, dia perlahan mengeluarkan sebuah pistol yang telah dipasangi peredam suara.Moncong pistol hitam pekat itu dengan tenang diarahkan ke tengah dahi Aline."Ditambah kali ini, aku sudah membunuhmu sembilan kali. Semoga ini yang terakhir."Suara pria itu tidak menunjukkan sedikit pun emosi.Seolah merenggut nyawa Aline hanyalah perkara sepele baginya."Nggak! Jangan! Tolong!"Aline menjerit putus asa.Namun, yang menjawabnya hanyalah bunyi pelan pelatuk yang ditarik.Detik berikutnya, darah muncrat ke segala arah.Mata Aline membelalak lebar. Tubuhnya jatuh keras ke lantai, lalu tidak bergerak lagi.Pria itu menyimpan kembali pistolnya dengan ekspresi dingin.Dia menatap mayat Aline dari atas untuk waktu yang lama, lalu berbisik dengan suara serak dan dingin."Kuharap, saat kita bertemu lagi, kau cukup tahu diri buat menjauh sejak awal. Jangan datang lagi mengganggu hubunganku dengan Kana."Setelah mengatakan itu, pri

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 15

    Teriakan Marcel yang menyayat hati, serta suara keras pagar rumah besar yang ditendang hingga roboh, memutus kehangatan yang baru saja mengisi taman itu.Senyum di wajah Kana seketika menghilang.Dia menoleh, menatap Marcel yang berjalan cepat ke arahnya.Lima tahun berpisah, kini kembali bertemu.Namun, yang memenuhi hati Kana hanyalah rasa muak yang samar.Sebaliknya, Marcel tampak sangat terguncang.Tangannya yang terulur untuk meraih Kana bergetar hebat.Sayangnya, sebelum sempat menyentuhnya, Noah yang berdiri di sisi Kana menepis tangan itu dengan keras.Namun, Marcel seolah tidak melihat keberadaan orang lain.Sepasang matanya yang memerah menatap Kana tanpa berkedip."Kana, aku sudah mencarimu selama lima tahun penuh. Pulanglah bersamaku."Nada bicaranya mengandung keyakinan seolah semuanya sudah sewajarnya seperti itu.Kepercayaan dirinya bersumber dari cinta Kana di masa lalu, cinta yang pernah diberikan tanpa syarat.Bahkan, tatapan Marcel kepada Noah pun dipenuhi penghinaan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 14

    Setelah mengatakan itu, Marcel berbalik dengan cepat dan tergesa-gesa naik ke mobil.Mobil Maybach itu melesat keluar dari parkiran bawah tanah seperti orang gila.Sementara pria yang telah memberi pencerahan kepada Marcel itu perlahan menghilang ke dalam sudut yang gelap.Dia menatap diam ke arah lenyapnya lampu belakang mobil Marcel.Di dalam tatapan yang hampa dan tanpa kehidupan itu, bergejolak obsesi yang tidak sehat."Pergilah."Dia bergumam pelan, "Semoga kali ini kau masih sempat."Dia perlahan menundukkan pandangan. Ujung jarinya yang kasar mengusap pistol dingin di dalam saku.Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum menyeramkan."Kalau di garis waktu ini kau masih gagal memenangkan hatinya kembali ....""Maka aku ... cuma bisa mengakhiri hidupmu seperti beberapa sampah sebelumnya. Aku bakal membunuhmu dengan tanganku sendiri, membunuh kalian semua, hingga di seluruh garis waktu ini cuma tersisa aku."Pria itu mendongak menatap kehampaan, lalu berbisik lirih, seolah

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 13

    Asisten itu menundukkan kepala, suaranya bergetar. "Maaf, Tuan Marcel.""Kami sudah mengerahkan semua sumber daya lintas negara yang bisa digunakan. Jalur resmi maupun ilegal sudah kami telusuri, tapi nyonya ... seolah benar-benar menghilang dari muka bumi. Nggak ada catatan penerbangan, nggak ada riwayat transaksi, nggak ada jejak kehidupan apa pun.""Tuan Marcel, sepertinya nyonya telah mengeluarkan harga yang sangat besar buat menyembunyikan dirinya .... Dia benar-benar nggak mau kita menemukannya lagi."Ruangan itu seketika diliputi keheningan.Beberapa saat kemudian, Marcel mendadak murka.Dia menendang meja rias di sampingnya hingga terbalik."Omong kosong!"Mata Marcel memerah, suaranya serak."Kana mencintaiku sejak usia delapan belas tahun sampai sekarang. Mana mungkin dia rela meninggalkanku?""Asalkan aku bisa menemukannya dan membuatnya tahu bahwa di hatiku juga ada dirinya, dia pasti bakal kembali.""Cari ... terus cari dia." Suaranya bergetar hebat. "Pasang hadiah buronan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 12

    Duar!Seolah ada petir dahsyat meledak di dalam kepala Marcel.Enam miliar.Demi enam miliar yang digunakan untuk menyelamatkan nyawa Aline itu.Dia pernah menundukkan kepala di hadapan Tuan Oliver, menandatangani perjanjian untuk masuk ke keluarga Oliver sebagai menantu matrilokal, lalu sejak saat itu membenci Kana sepenuh hati.Namun, ternyata ... semua itu adalah kebohongan Aline.Enam miliar itu hanyalah utang judi yang dia habiskan di kasino Makau.Amarah yang berkobar di dada Marcel nyaris merobek dirinya sendiri. Namun, di sudut bibirnya justru terukir senyum dingin.Dia bertanya dengan suara yang dingin, "Masih ada lagi?""Masih ada ...." Sang asisten membuka beberapa rekaman CCTV yang telah dipulihkan dengan susah payah melalui tablet.Rekaman pertama memperlihatkan sebuah kasino bawah tanah. Setelah sengaja mematikan ponselnya, Aline mengobrol santai dengan teman di sampingnya.Dia berkata dengan nada penuh kemenangan, "Kana memang pengecut. Dia sampai menyuruh orang menculik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status