แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Nia
Kana hampir merasa dirinya akan mati karena kesakitan, tetapi matanya justru dipenuhi kebingungan.

Dia berkata dengan susah payah, "Aku ... nggak melakukan apa pun."

Setelah menatapnya dengan dingin cukup lama, Marcel melemparkannya ke lantai.

"Masih keras kepala? Kau sembunyikan dia di mana?"

Kana tersungkur di lantai yang dingin. "Aku nggak tahu. Bukan aku!"

Plak!

Cambukan pertama menghantam punggung Kana dengan keras.

Hantu perempuan itu berlari dengan langkah sempoyongan, mencoba melindungi Kana dengan tubuhnya yang hampir transparan.

"Jangan takut. Kalau aku memelukmu, kau nggak bakal terlalu sakit. Sembilan puluh sembilan cambukan, tahan saja, semuanya bakal berlalu."

"Kana, dengarkan aku. Beri tahu dia di mana perempuan itu."

Air mata Kana mengalir deras.

Hantu perempuan itu benar. Kulit yang tercabik dan daging yang robek, benar-benar menyakitkan.

Namun, apa yang bisa dia katakan?

Kana sama sekali tidak tahu di mana Aline berada.

Sembilan puluh sembilan cambukan, masing-masing disertai suara menderu yang mengoyak udara.

Ketika semuanya berakhir, Kana tergeletak di genangan darah. Bahkan napasnya sudah begitu lemah.

"Marcel, aku nggak tahu .... Bukan aku yang melakukannya ...."

"Bukan kau? Di seluruh Hangkang, siapa lagi yang berani menyentuhnya? Karena kau begitu keras kepala, jangan salahkan aku."

Saat itu juga, pintu vila didobrak terbuka.

Kepala pelayan rumah tua Keluarga Ehren berlari masuk.

"Nona, gawat! Tuan besar terkena serangan jantung dan sudah masuk ICU, tapi semua dokter menolak melakukan operasi ...."

Pupil mata Kana yang mulai kehilangan fokus seketika mengecil.

Namun, ketika kepala pelayan itu melihat tubuh Kana penuh luka dan berlumuran darah, dia langsung berlutut sambil menangis. "Nona, ada apa dengan Anda?"

"Apa yang terjadi? Tuan Muda, bagaimana bisa Anda memukul nona kami? Sejak kecil, dia bahkan nggak pernah dimarahi dengan kata-kata kasar ...."

Namun, Marcel sama sekali tidak menjawab.

Dia hanya berjalan perlahan ke depan Kana dan menatapnya dari atas.

"Makin lama Aline kembali, makin lama pula ayahmu nggak mendapatkan perawatan. Saat kau memberitahuku alamatnya, saat itu juga aku bakal mengizinkan dokter masuk ke ruang operasi."

Jari-jari Kana mencakar lantai marmer dengan sekuat tenaga. Akibat tekanan yang berlebihan, tiga kukunya patah.

"Marcel ...." Namanya keluar dari sela-sela gigi Kana.

"Sungguh bukan aku. Aku nggak tahu dia di mana."

Namun, Marcel seolah tidak mendengarnya. Dia mengangkat tangan dan melihat arlojinya. "Masih belum mau bicara?"

"Sudah lima menit berlalu. Pada usia ayahmu, kalau jantungnya berhenti lebih dari sepuluh menit, sekalipun dia berhasil diselamatkan, dia cuma bakal menjadi orang yang nggak berguna."

Kana memaksakan diri berdiri lalu berlutut di depan Marcel.

"Marcel, saat kau nggak punya uang, ayahku yang memberimu modal. Saat kau nggak punya koneksi, dia yang membuka jalan buatmu. Dia yang menopangmu hingga namamu masuk daftar Forbes. Aku mohon ...."

Air mata dingin mengalir tanpa henti. "Tolong lepaskan ayahku. Aku benar-benar nggak melakukan apa pun."

Alis Marcel berkerut, amarah mulai memenuhi matanya.

Namun, sebelum sempat berbicara, teleponnya berdering. Dari seberang terdengar suara ceria dan manja.

"Kak Marcel baterai ponselku habis. Maaf sudah membuatmu khawatir ...."

Tubuh Kana kehilangan seluruh kekuatannya dan kembali jatuh ke lantai.

Keheningan berlangsung cukup lama.

Di depan matanya, Marcel menelepon seseorang. "Beri tahu dokter di rumah sakit. Mereka boleh masuk dan menyelamatkan pasien."

Setelah itu, dia tidak memberikan penjelasan apa pun.

Marcel berbalik dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Kana merasa seluruh tenaganya terkuras habis. Dia pun pingsan dan jatuh ke lantai.

Saat sadar kembali, dua hari telah berlalu.

Begitu membuka mata.

Kana mencabut jarum infus di tangannya dengan ekspresi datar.

Punggungnya terasa seperti terbakar. Dia berjalan tertatih menuju ICU dengan berpegangan pada dinding.

Di balik kaca yang dingin.

Kana berdiri di samping hantu perempuan itu, bersama-sama memandang ayahnya yang dulu selalu menyayanginya sepenuh hati, tetapi kini berwajah pucat seperti orang mati dan dipenuhi selang di sekujur tubuhnya.

"Hubungan Aline dengan Marcel sebenarnya apa?"

Suara hantu perempuan itu serak, seolah pernah menelan pecahan kaca.

"Marcel bersedia menjadi menantu Keluarga Ehren cuma demi enam miliar itu, supaya dia bisa mengganti jantung wanita itu dengan yang baru."

Kana menyunggingkan senyum yang penuh ejekan.

"Lalu ... bagaimana kau mati?"

"Api ... api yang sangat besar." Suara hantu perempuan itu berubah menjadi jeritan yang memilukan. "Dia mematahkan kakiku dan menyiksaku siang malam. Sangat sakit .... Tolong aku. Aku nggak berani lagi."

"Jangan lepas pakaianku. Jangan sentuh aku. Jangan mendekat ...."

Seluruh tubuh Kana gemetar. Dia kehilangan tenaga dan jatuh terduduk di kursi.

Kana memejamkan mata erat-erat, sementara air mata mengalir tanpa suara.

Sudah cukup. Dia menyerah.

Kana duduk di depan ICU selama sehari semalam.

Keesokan paginya, dia memanggil kepala pelayan.

"Paman Willy, gadaikan seluruh saham Grup Ehren di pasar gelap tanpa sepengetahuan Marcel. Jangan pedulikan bunganya, dapatkan uang sebanyak mungkin."

"Diam-diam jual semua aset atas namaku. Apa pun yang bisa diuangkan, jual semuanya."

"Di rumah tua ada surat cerai yang sudah kutandatangani. Semua ini harus selesai dalam tujuh hari."

"Tujuh hari lagi, kita bakal meninggalkan Hangkang untuk selamanya."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 17

    Di lantai satu gereja.Sosok hantu perempuan yang tidak dapat dilihat siapa pun berbisik di telinga Kana."Kana, mereka datang. Mereka ada di lantai dua ... jangan takut."Bulu mata Kana bergetar pelan, tetapi dia tidak menoleh ke lantai dua, apalagi menunjukkan kepanikan.Takut? Sejak lama dia sudah tidak takut lagi.Lima tahun lalu di Hangkang, dia nyaris berjalan melewati neraka.Hari ini, kemungkinan terburuk hanyalah kematian. Lalu apa yang perlu ditakutkannya?Dia menjawab hantu perempuan itu dengan suara lembut."Aku nggak takut.""Aku sudah menempatkan orang-orang di tempat tersembunyi. Aku bukan cuma nggak takut, aku juga bakal mengubah takdir kita dengan tanganku sendiri."Di sudut gelap lantai dua.Tangan Marcel yang menggenggam pistol terus bergetar."Tembak!" Pria berwajah penuh bekas luka itu mendesak sambil menggertakkan gigi. "Apa lagi yang kau tunggu? Bunuh Noah, dan dia bakal menjadi milik kita!"Jari Marcel sudah menekan pelatuk lebih dari setengahnya.Asalkan dia me

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 16

    Pria itu tidak mengatakan apa-apa.Setelah menyunggingkan senyum dingin, dia perlahan mengeluarkan sebuah pistol yang telah dipasangi peredam suara.Moncong pistol hitam pekat itu dengan tenang diarahkan ke tengah dahi Aline."Ditambah kali ini, aku sudah membunuhmu sembilan kali. Semoga ini yang terakhir."Suara pria itu tidak menunjukkan sedikit pun emosi.Seolah merenggut nyawa Aline hanyalah perkara sepele baginya."Nggak! Jangan! Tolong!"Aline menjerit putus asa.Namun, yang menjawabnya hanyalah bunyi pelan pelatuk yang ditarik.Detik berikutnya, darah muncrat ke segala arah.Mata Aline membelalak lebar. Tubuhnya jatuh keras ke lantai, lalu tidak bergerak lagi.Pria itu menyimpan kembali pistolnya dengan ekspresi dingin.Dia menatap mayat Aline dari atas untuk waktu yang lama, lalu berbisik dengan suara serak dan dingin."Kuharap, saat kita bertemu lagi, kau cukup tahu diri buat menjauh sejak awal. Jangan datang lagi mengganggu hubunganku dengan Kana."Setelah mengatakan itu, pri

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 15

    Teriakan Marcel yang menyayat hati, serta suara keras pagar rumah besar yang ditendang hingga roboh, memutus kehangatan yang baru saja mengisi taman itu.Senyum di wajah Kana seketika menghilang.Dia menoleh, menatap Marcel yang berjalan cepat ke arahnya.Lima tahun berpisah, kini kembali bertemu.Namun, yang memenuhi hati Kana hanyalah rasa muak yang samar.Sebaliknya, Marcel tampak sangat terguncang.Tangannya yang terulur untuk meraih Kana bergetar hebat.Sayangnya, sebelum sempat menyentuhnya, Noah yang berdiri di sisi Kana menepis tangan itu dengan keras.Namun, Marcel seolah tidak melihat keberadaan orang lain.Sepasang matanya yang memerah menatap Kana tanpa berkedip."Kana, aku sudah mencarimu selama lima tahun penuh. Pulanglah bersamaku."Nada bicaranya mengandung keyakinan seolah semuanya sudah sewajarnya seperti itu.Kepercayaan dirinya bersumber dari cinta Kana di masa lalu, cinta yang pernah diberikan tanpa syarat.Bahkan, tatapan Marcel kepada Noah pun dipenuhi penghinaan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 14

    Setelah mengatakan itu, Marcel berbalik dengan cepat dan tergesa-gesa naik ke mobil.Mobil Maybach itu melesat keluar dari parkiran bawah tanah seperti orang gila.Sementara pria yang telah memberi pencerahan kepada Marcel itu perlahan menghilang ke dalam sudut yang gelap.Dia menatap diam ke arah lenyapnya lampu belakang mobil Marcel.Di dalam tatapan yang hampa dan tanpa kehidupan itu, bergejolak obsesi yang tidak sehat."Pergilah."Dia bergumam pelan, "Semoga kali ini kau masih sempat."Dia perlahan menundukkan pandangan. Ujung jarinya yang kasar mengusap pistol dingin di dalam saku.Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum menyeramkan."Kalau di garis waktu ini kau masih gagal memenangkan hatinya kembali ....""Maka aku ... cuma bisa mengakhiri hidupmu seperti beberapa sampah sebelumnya. Aku bakal membunuhmu dengan tanganku sendiri, membunuh kalian semua, hingga di seluruh garis waktu ini cuma tersisa aku."Pria itu mendongak menatap kehampaan, lalu berbisik lirih, seolah

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 13

    Asisten itu menundukkan kepala, suaranya bergetar. "Maaf, Tuan Marcel.""Kami sudah mengerahkan semua sumber daya lintas negara yang bisa digunakan. Jalur resmi maupun ilegal sudah kami telusuri, tapi nyonya ... seolah benar-benar menghilang dari muka bumi. Nggak ada catatan penerbangan, nggak ada riwayat transaksi, nggak ada jejak kehidupan apa pun.""Tuan Marcel, sepertinya nyonya telah mengeluarkan harga yang sangat besar buat menyembunyikan dirinya .... Dia benar-benar nggak mau kita menemukannya lagi."Ruangan itu seketika diliputi keheningan.Beberapa saat kemudian, Marcel mendadak murka.Dia menendang meja rias di sampingnya hingga terbalik."Omong kosong!"Mata Marcel memerah, suaranya serak."Kana mencintaiku sejak usia delapan belas tahun sampai sekarang. Mana mungkin dia rela meninggalkanku?""Asalkan aku bisa menemukannya dan membuatnya tahu bahwa di hatiku juga ada dirinya, dia pasti bakal kembali.""Cari ... terus cari dia." Suaranya bergetar hebat. "Pasang hadiah buronan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 12

    Duar!Seolah ada petir dahsyat meledak di dalam kepala Marcel.Enam miliar.Demi enam miliar yang digunakan untuk menyelamatkan nyawa Aline itu.Dia pernah menundukkan kepala di hadapan Tuan Oliver, menandatangani perjanjian untuk masuk ke keluarga Oliver sebagai menantu matrilokal, lalu sejak saat itu membenci Kana sepenuh hati.Namun, ternyata ... semua itu adalah kebohongan Aline.Enam miliar itu hanyalah utang judi yang dia habiskan di kasino Makau.Amarah yang berkobar di dada Marcel nyaris merobek dirinya sendiri. Namun, di sudut bibirnya justru terukir senyum dingin.Dia bertanya dengan suara yang dingin, "Masih ada lagi?""Masih ada ...." Sang asisten membuka beberapa rekaman CCTV yang telah dipulihkan dengan susah payah melalui tablet.Rekaman pertama memperlihatkan sebuah kasino bawah tanah. Setelah sengaja mematikan ponselnya, Aline mengobrol santai dengan teman di sampingnya.Dia berkata dengan nada penuh kemenangan, "Kana memang pengecut. Dia sampai menyuruh orang menculik

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status