แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Nia
Keesokan harinya, Marcel memerintahkan sopir untuk menjemput Kana secara paksa.

Begitu dia masuk ke rumah, Aline yang sedang duduk meringkuk di atas karpet sambil menonton televisi segera berdiri dan buru-buru bersembunyi di belakang Marcel.

"Kakak, maaf. Kak Marcel bilang ini karpet kesukaanmu. Aku nggak seharusnya makan keripik di atasnya."

Matanya yang seperti rusa kecil tampak ketakutan, setiap kata yang keluar terdengar begitu hati-hati.

Namun, Kana jelas menangkap kilatan kemenangan yang belum sempat disembunyikan dari wajahnya.

Tiba-tiba Kana tidak bisa menahan tawanya.

Ternyata, perempuan yang disembunyikan dan dirindukan Marcel selama sepuluh tahun ini adalah barang murahan.

Tawa itu menarik luka di punggungnya, membuat tubuhnya sedikit membungkuk karena rasa sakit.

"Nggak apa-apa." Kana menatap lurus ke arah Marcel.

"Semua barang di rumah ini boleh kalian ambil. Saat kita bercerai nanti, cukup ganti dengan uang."

Tatapan Marcel menjadi menakutkan. "Kana, apa maksudmu?"

"Nggak ada maksud apa-apa." Suara Kana tenang tanpa riak. "Aku cuma nggak mau melanjutkan pernikahan ini."

Suasana ruang tamu mendadak jatuh ke dalam keheningan yang aneh.

Bahkan hantu perempuan yang selalu mengikuti Kana juga tiba-tiba berhenti meratap.

Di mata keruhnya, muncul sedikit kejernihan.

Bekas luka yang berkelok-kelok seperti lipan di wajahnya perlahan memudar, hingga kulitnya kembali bersih tanpa cela.

Melihatnya, hati Kana terasa perih.

Benar.

Dalam kehidupan sebelumnya, pada saat ini, ayahnya sudah meninggal dan dia dipaksa pulang. Saat itu, Kana pasti akan membuat keributan besar dan tidak akan berhenti sebelum semuanya berakhir.

Entah berapa banyak penderitaan yang telah dia lalui sampai wajahnya dipenuhi bekas luka seperti itu.

Jika mulai sekarang, setiap pilihan yang dia buat berbeda dari kehidupan sebelumnya ....

Apa dia dan hantu perempuan itu masih memiliki kesempatan untuk memulai kembali?

Apa tubuh hantu perempuan yang hancur dan penuh luka itu bisa pulih seperti semula?

Namun, pada detik berikutnya.

Marcel menyeretnya ke kamar dengan kasar dan melemparkannya ke lantai.

"Kana, kau berakting lagi? Kau mencintaiku sampai gila. Mana mungkin kau rela bercerai? Apa kau lagi merencanakan sesuatu buat menyakiti Aline lagi? Aku peringatkan ...."

"Aku nggak berakting."

Rasa sakit seperti sobekan kembali menyerang punggungnya. Darah yang merembes membuat mata Kana memerah. Dia tertawa mengejek dirinya sendiri. "Aku cuma takut."

"Tuan Marcel, seratus tamparan, sembilan puluh sembilan cambukan, ditambah ancaman terhadap ayahku .... Setelah kupikir-pikir, ternyata cintaku padamu nggak sampai pada tingkat rela mengorbankan nyawa."

"Jadi, mari bercerai. Aku melepaskanmu, juga melepaskan diriku sendiri."

Tangan Marcel yang mencengkeram dagunya mendadak mengencang. Kemarahan di hatinya pun langsung meluap.

"Kana, apa kau pikir aku masih pria yang bisa kau suruh sesuka hati? Mau bercerai atau nggak, aku yang memutuskan. Kau nggak punya hak."

"Selain itu, jangan berpikir bisa mengancamku dengan perceraian. Aline adalah orang yang harus kujaga seumur hidup. Dia terlahir berhati baik. Selama kau nggak mengusiknya, semuanya bakal tetap damai."

Namun, hantu perempuan itu tiba-tiba kembali menjadi gila.

Dia menangis dan berteriak, "Damai? Marcel, mimpi saja sana! Ayahku mengorbankan seluruh grup buat menjadi pijakanmu, tapi kau justru membunuhnya! Aku nggak bakal berhenti sampai salah satu dari kita mati! Bahkan kalau harus masuk neraka, aku bakal menyeretmu bersamaku! Kalian pasangan nggak tahu malu, semoga kalian mendapat akhir yang mengenaskan!"

Kana ingin menenangkan hantu perempuan itu, memintanya untuk tidak menangis dan merasa takut.

Tinggal enam hari lagi.

Paman Willy sudah mengatur semuanya. Ayahnya tidak meninggal. Mereka bisa pergi dengan selamat bersama-sama.

Namun, air mata justru mengalir tanpa sadar.

Dagunya terasa hampir remuk, tetapi Kana bahkan tidak mengerutkan dahi sedikit pun. Dia berkata dengan nada patuh, "Baik. Kalau kau bilang nggak mau bercerai, kita nggak bakal bercerai."

"Karena Nona Aline terlahir berhati baik, mulai sekarang aku bakal memperlakukannya seperti adik kandung. Dia boleh memilih kamar mana pun yang dia suka, memakai pakaian apa pun yang dia inginkan. Bahkan kalau dia mau aku menyajikan teh untuknya atau berlutut meminta maaf, aku bakal melakukannya."

"Asalkan kau ... jangan menyentuh ayahku lagi, setuju?"

Kana lupa bagaimana jawaban Marcel pada hari itu.

Namun, keesokan paginya, begitu membuka mata, dia melihat Aline berada di dalam kamarnya.

Dia membungkuk di depan etalase perhiasan Kana, sambil memilih-milih dengan santai.

Perhiasan yang tidak menarik perhatiannya langsung dilempar begitu saja ke lantai.

Tangan transparan hantu perempuan itu berusaha merebutnya, tetapi semuanya sia-sia.

"Taruh kembali! Jangan sentuh barang-barangku! Keluar dari kamarku! Itu peninggalan ibuku. Di seluruh dunia cuma ada satu. Lepaskan sekarang juga!"

Kana perlahan duduk di atas tempat tidur.

Aline tersenyum. "Kakak, ternyata kau sudah bangun."

"Perhiasan di sini cantik sekali. Boleh aku memilikinya?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 17

    Di lantai satu gereja.Sosok hantu perempuan yang tidak dapat dilihat siapa pun berbisik di telinga Kana."Kana, mereka datang. Mereka ada di lantai dua ... jangan takut."Bulu mata Kana bergetar pelan, tetapi dia tidak menoleh ke lantai dua, apalagi menunjukkan kepanikan.Takut? Sejak lama dia sudah tidak takut lagi.Lima tahun lalu di Hangkang, dia nyaris berjalan melewati neraka.Hari ini, kemungkinan terburuk hanyalah kematian. Lalu apa yang perlu ditakutkannya?Dia menjawab hantu perempuan itu dengan suara lembut."Aku nggak takut.""Aku sudah menempatkan orang-orang di tempat tersembunyi. Aku bukan cuma nggak takut, aku juga bakal mengubah takdir kita dengan tanganku sendiri."Di sudut gelap lantai dua.Tangan Marcel yang menggenggam pistol terus bergetar."Tembak!" Pria berwajah penuh bekas luka itu mendesak sambil menggertakkan gigi. "Apa lagi yang kau tunggu? Bunuh Noah, dan dia bakal menjadi milik kita!"Jari Marcel sudah menekan pelatuk lebih dari setengahnya.Asalkan dia me

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 16

    Pria itu tidak mengatakan apa-apa.Setelah menyunggingkan senyum dingin, dia perlahan mengeluarkan sebuah pistol yang telah dipasangi peredam suara.Moncong pistol hitam pekat itu dengan tenang diarahkan ke tengah dahi Aline."Ditambah kali ini, aku sudah membunuhmu sembilan kali. Semoga ini yang terakhir."Suara pria itu tidak menunjukkan sedikit pun emosi.Seolah merenggut nyawa Aline hanyalah perkara sepele baginya."Nggak! Jangan! Tolong!"Aline menjerit putus asa.Namun, yang menjawabnya hanyalah bunyi pelan pelatuk yang ditarik.Detik berikutnya, darah muncrat ke segala arah.Mata Aline membelalak lebar. Tubuhnya jatuh keras ke lantai, lalu tidak bergerak lagi.Pria itu menyimpan kembali pistolnya dengan ekspresi dingin.Dia menatap mayat Aline dari atas untuk waktu yang lama, lalu berbisik dengan suara serak dan dingin."Kuharap, saat kita bertemu lagi, kau cukup tahu diri buat menjauh sejak awal. Jangan datang lagi mengganggu hubunganku dengan Kana."Setelah mengatakan itu, pri

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 15

    Teriakan Marcel yang menyayat hati, serta suara keras pagar rumah besar yang ditendang hingga roboh, memutus kehangatan yang baru saja mengisi taman itu.Senyum di wajah Kana seketika menghilang.Dia menoleh, menatap Marcel yang berjalan cepat ke arahnya.Lima tahun berpisah, kini kembali bertemu.Namun, yang memenuhi hati Kana hanyalah rasa muak yang samar.Sebaliknya, Marcel tampak sangat terguncang.Tangannya yang terulur untuk meraih Kana bergetar hebat.Sayangnya, sebelum sempat menyentuhnya, Noah yang berdiri di sisi Kana menepis tangan itu dengan keras.Namun, Marcel seolah tidak melihat keberadaan orang lain.Sepasang matanya yang memerah menatap Kana tanpa berkedip."Kana, aku sudah mencarimu selama lima tahun penuh. Pulanglah bersamaku."Nada bicaranya mengandung keyakinan seolah semuanya sudah sewajarnya seperti itu.Kepercayaan dirinya bersumber dari cinta Kana di masa lalu, cinta yang pernah diberikan tanpa syarat.Bahkan, tatapan Marcel kepada Noah pun dipenuhi penghinaan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 14

    Setelah mengatakan itu, Marcel berbalik dengan cepat dan tergesa-gesa naik ke mobil.Mobil Maybach itu melesat keluar dari parkiran bawah tanah seperti orang gila.Sementara pria yang telah memberi pencerahan kepada Marcel itu perlahan menghilang ke dalam sudut yang gelap.Dia menatap diam ke arah lenyapnya lampu belakang mobil Marcel.Di dalam tatapan yang hampa dan tanpa kehidupan itu, bergejolak obsesi yang tidak sehat."Pergilah."Dia bergumam pelan, "Semoga kali ini kau masih sempat."Dia perlahan menundukkan pandangan. Ujung jarinya yang kasar mengusap pistol dingin di dalam saku.Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum menyeramkan."Kalau di garis waktu ini kau masih gagal memenangkan hatinya kembali ....""Maka aku ... cuma bisa mengakhiri hidupmu seperti beberapa sampah sebelumnya. Aku bakal membunuhmu dengan tanganku sendiri, membunuh kalian semua, hingga di seluruh garis waktu ini cuma tersisa aku."Pria itu mendongak menatap kehampaan, lalu berbisik lirih, seolah

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 13

    Asisten itu menundukkan kepala, suaranya bergetar. "Maaf, Tuan Marcel.""Kami sudah mengerahkan semua sumber daya lintas negara yang bisa digunakan. Jalur resmi maupun ilegal sudah kami telusuri, tapi nyonya ... seolah benar-benar menghilang dari muka bumi. Nggak ada catatan penerbangan, nggak ada riwayat transaksi, nggak ada jejak kehidupan apa pun.""Tuan Marcel, sepertinya nyonya telah mengeluarkan harga yang sangat besar buat menyembunyikan dirinya .... Dia benar-benar nggak mau kita menemukannya lagi."Ruangan itu seketika diliputi keheningan.Beberapa saat kemudian, Marcel mendadak murka.Dia menendang meja rias di sampingnya hingga terbalik."Omong kosong!"Mata Marcel memerah, suaranya serak."Kana mencintaiku sejak usia delapan belas tahun sampai sekarang. Mana mungkin dia rela meninggalkanku?""Asalkan aku bisa menemukannya dan membuatnya tahu bahwa di hatiku juga ada dirinya, dia pasti bakal kembali.""Cari ... terus cari dia." Suaranya bergetar hebat. "Pasang hadiah buronan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 12

    Duar!Seolah ada petir dahsyat meledak di dalam kepala Marcel.Enam miliar.Demi enam miliar yang digunakan untuk menyelamatkan nyawa Aline itu.Dia pernah menundukkan kepala di hadapan Tuan Oliver, menandatangani perjanjian untuk masuk ke keluarga Oliver sebagai menantu matrilokal, lalu sejak saat itu membenci Kana sepenuh hati.Namun, ternyata ... semua itu adalah kebohongan Aline.Enam miliar itu hanyalah utang judi yang dia habiskan di kasino Makau.Amarah yang berkobar di dada Marcel nyaris merobek dirinya sendiri. Namun, di sudut bibirnya justru terukir senyum dingin.Dia bertanya dengan suara yang dingin, "Masih ada lagi?""Masih ada ...." Sang asisten membuka beberapa rekaman CCTV yang telah dipulihkan dengan susah payah melalui tablet.Rekaman pertama memperlihatkan sebuah kasino bawah tanah. Setelah sengaja mematikan ponselnya, Aline mengobrol santai dengan teman di sampingnya.Dia berkata dengan nada penuh kemenangan, "Kana memang pengecut. Dia sampai menyuruh orang menculik

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status