Share

Bab 4

Author: Nia
Kana menatap kekacauan di lantai dengan tenang, lalu menjawab singkat, "Ya".

"Kakak benar-benar murah hati."

Aline tersenyum cerah, tangannya makin tidak terkendali saat memilih-milih perhiasan.

Sebuah kalung mutiara laut dalam putus di tangannya.

Butiran mutiara sebesar kacang jatuh berserakan di lantai.

Kana hanya melihatnya dengan wajah datar, lalu turun dari tempat tidur dan mulai berpakaian.

Aline menghela napas pelan.

"Acara amal malam ini sangat penting. Aku sebenarnya cukup suka kalung mutiara ini, sayang sekali rusak. Katanya itu peninggalan ibumu yang sudah meninggal, aku benar-benar minta maaf."

Kuku tajam Kana menancap ke telapak tangannya, menimbulkan rasa nyeri.

Suaranya sangat pelan. "Nggak masalah, itu cuma benda mati."

"Benda nggak lebih penting dari manusia. Selama kau suka, semua barang di rumah ini boleh kau pilih."

Aline terdiam sejenak.

Namun, detik berikutnya, matanya berkilat jahat. Dia melangkah maju dan menarik pergelangan tangan Kana.

"Kakak, gelang ini cantik sekali." Aline tersenyum menatap Kana.

"Tiga tahun lalu, Kak Marcel bilang dia membelikan satu buatku, tapi sayangnya hilang. Itu sama persis kayak punya Kakak.

Kana menundukkan kepala. Saat pandangannya jatuh pada warna hijau di pergelangan tangannya, tubuhnya sedikit bergetar.

Itu adalah barang yang dibeli Marcel di lelang Christie’s setelah dia meraih keuntungan pertamanya di Neuyork.

Saat melihatnya di kantor Marcel, dia begitu senang hingga langsung memakainya.

Tiga tahun tidak pernah dilepas.

Kana mengira itu hadiah pernikahan.

Ternyata, dia hanya salah paham.

Aline menariknya dengan kasar, mencoba melepas gelang itu.

Kana mengernyit menahan sakit dan mundur selangkah.

Namun, Aline memanfaatkan kesempatan itu untuk jatuh ke lantai. Sambil memegangi dadanya, dia mulai terengah-engah.

Marcel entah sejak kapan sudah datang. Dia segera membantu Aline berdiri.

Alisnya berkerut. "Ada apa?"

Aline menggigit bibirnya, tampak hampir menangis. "Maaf, aku cuma mau melihat gelang Kakak."

"Tapi aku terlalu bodoh, sepertinya aku membuat kakak kesakitan, jadi kakak mendorongku. Tapi nggak apa-apa. Kak Marcel, jangan marahi kakak."

"Nggak perlu minta maaf. Itu memang untukmu." Marcel menenangkan Aline, lalu menatap Kana dengan sorot dingin.

Belum sempat dia bicara, Kana sudah mendahului.

Suaranya serak, datar tanpa emosi. "Kalau Nona Aline menyukainya, aku bisa langsung melepasnya."

Hantu perempuan yang selalu menangis di belakangnya mendadak membeku.

Dia tertegun menatap Kana yang berwajah tenang.

Tangan-tangannya yang terpelintir dalam sudut tidak wajar perlahan tampak kembali normal.

Kana melangkah pelan ke arah Marcel.

Kemudian, dia menarik paksa gelang giok itu dari pergelangan tangannya sendiri.

Krak!

Suara seperti tulang patah terdengar jelas. Tangan Kana seketika membiru dan membengkak.

Namun, wajahnya tetap tenang. Dia menyerahkan gelang itu ke tangan Aline.

"Buatmu."

Aline tidak sempat menangkapnya. Gelang itu jatuh ke lantai dan menggelinding.

Dada Marcel terasa panas oleh emosi yang tidak jelas asalnya.

Wajahnya menggelap. "Kana!"

Namun, Kana tidak memberinya kesempatan untuk melanjutkan. Dia membungkuk, mengambil kembali gelang giok itu dari lantai, lalu memasukkannya ke tangan Aline.

"Tuan Marcel, jangan khawatir. Nggak rusak."

"Kalau nggak ada hal lain, kalian bisa pergi sekarang."

Marcel sangat emosi, tapi semuanya tertahan di tenggorokannya.

Rasa tertekan itu telah berlangsung begitu lama.

Kemudian, dia menarik Aline pergi dan membanting pintu. "Kuharap kau benar-benar semurah hati itu."

Ruangan kembali sunyi.

Kana membelai tangan hantu perempuan yang telah kembali ke bentuk semula melalui kehampaan, berusaha menenangkannya.

"Apa di kehidupan sebelumnya mereka mematahkan tanganmu karena kau nggak mau memberikannya?"

"Jangan takut. Kali ini nggak bakal terjadi lagi. Semuanya bakal perlahan membaik. Sebentar lagi nggak bakal sakit lagi."

"Lima hari lagi, ayah sudah bisa diberangkatkan dengan pesawat medis. Kita bertahan sedikit lagi, ya?"

Malam pun tiba.

Di pesta amal di Hangkang, para elit dan tokoh masyarakat memenuhi ruangan.

Kana berdiri bersama Aline di depan kamera, sesuai pengaturan Marcel.

Saat ditanya soal tamparan di pesta perayaan.

Kana menjawab tenang, "Itu cuma kesalahpahaman. Tuan Marcel benar, aku memang terlalu arogan."

Namun, setelah sesi itu selesai, Aline terus mengikuti Kana seperti bayangan yang tidak bisa dilepaskan.

Bahkan saat Kana dikelilingi oleh beberapa sahabat masa kecilnya yang sedang menanyakan keadaannya, Aline tetap memaksa masuk ke tengah-tengah mereka.

"Kakak memang terlalu suka berpura-pura tegar, tapi terima kasih atas perhatian kalian padanya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 17

    Di lantai satu gereja.Sosok hantu perempuan yang tidak dapat dilihat siapa pun berbisik di telinga Kana."Kana, mereka datang. Mereka ada di lantai dua ... jangan takut."Bulu mata Kana bergetar pelan, tetapi dia tidak menoleh ke lantai dua, apalagi menunjukkan kepanikan.Takut? Sejak lama dia sudah tidak takut lagi.Lima tahun lalu di Hangkang, dia nyaris berjalan melewati neraka.Hari ini, kemungkinan terburuk hanyalah kematian. Lalu apa yang perlu ditakutkannya?Dia menjawab hantu perempuan itu dengan suara lembut."Aku nggak takut.""Aku sudah menempatkan orang-orang di tempat tersembunyi. Aku bukan cuma nggak takut, aku juga bakal mengubah takdir kita dengan tanganku sendiri."Di sudut gelap lantai dua.Tangan Marcel yang menggenggam pistol terus bergetar."Tembak!" Pria berwajah penuh bekas luka itu mendesak sambil menggertakkan gigi. "Apa lagi yang kau tunggu? Bunuh Noah, dan dia bakal menjadi milik kita!"Jari Marcel sudah menekan pelatuk lebih dari setengahnya.Asalkan dia me

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 16

    Pria itu tidak mengatakan apa-apa.Setelah menyunggingkan senyum dingin, dia perlahan mengeluarkan sebuah pistol yang telah dipasangi peredam suara.Moncong pistol hitam pekat itu dengan tenang diarahkan ke tengah dahi Aline."Ditambah kali ini, aku sudah membunuhmu sembilan kali. Semoga ini yang terakhir."Suara pria itu tidak menunjukkan sedikit pun emosi.Seolah merenggut nyawa Aline hanyalah perkara sepele baginya."Nggak! Jangan! Tolong!"Aline menjerit putus asa.Namun, yang menjawabnya hanyalah bunyi pelan pelatuk yang ditarik.Detik berikutnya, darah muncrat ke segala arah.Mata Aline membelalak lebar. Tubuhnya jatuh keras ke lantai, lalu tidak bergerak lagi.Pria itu menyimpan kembali pistolnya dengan ekspresi dingin.Dia menatap mayat Aline dari atas untuk waktu yang lama, lalu berbisik dengan suara serak dan dingin."Kuharap, saat kita bertemu lagi, kau cukup tahu diri buat menjauh sejak awal. Jangan datang lagi mengganggu hubunganku dengan Kana."Setelah mengatakan itu, pri

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 15

    Teriakan Marcel yang menyayat hati, serta suara keras pagar rumah besar yang ditendang hingga roboh, memutus kehangatan yang baru saja mengisi taman itu.Senyum di wajah Kana seketika menghilang.Dia menoleh, menatap Marcel yang berjalan cepat ke arahnya.Lima tahun berpisah, kini kembali bertemu.Namun, yang memenuhi hati Kana hanyalah rasa muak yang samar.Sebaliknya, Marcel tampak sangat terguncang.Tangannya yang terulur untuk meraih Kana bergetar hebat.Sayangnya, sebelum sempat menyentuhnya, Noah yang berdiri di sisi Kana menepis tangan itu dengan keras.Namun, Marcel seolah tidak melihat keberadaan orang lain.Sepasang matanya yang memerah menatap Kana tanpa berkedip."Kana, aku sudah mencarimu selama lima tahun penuh. Pulanglah bersamaku."Nada bicaranya mengandung keyakinan seolah semuanya sudah sewajarnya seperti itu.Kepercayaan dirinya bersumber dari cinta Kana di masa lalu, cinta yang pernah diberikan tanpa syarat.Bahkan, tatapan Marcel kepada Noah pun dipenuhi penghinaan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 14

    Setelah mengatakan itu, Marcel berbalik dengan cepat dan tergesa-gesa naik ke mobil.Mobil Maybach itu melesat keluar dari parkiran bawah tanah seperti orang gila.Sementara pria yang telah memberi pencerahan kepada Marcel itu perlahan menghilang ke dalam sudut yang gelap.Dia menatap diam ke arah lenyapnya lampu belakang mobil Marcel.Di dalam tatapan yang hampa dan tanpa kehidupan itu, bergejolak obsesi yang tidak sehat."Pergilah."Dia bergumam pelan, "Semoga kali ini kau masih sempat."Dia perlahan menundukkan pandangan. Ujung jarinya yang kasar mengusap pistol dingin di dalam saku.Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum menyeramkan."Kalau di garis waktu ini kau masih gagal memenangkan hatinya kembali ....""Maka aku ... cuma bisa mengakhiri hidupmu seperti beberapa sampah sebelumnya. Aku bakal membunuhmu dengan tanganku sendiri, membunuh kalian semua, hingga di seluruh garis waktu ini cuma tersisa aku."Pria itu mendongak menatap kehampaan, lalu berbisik lirih, seolah

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 13

    Asisten itu menundukkan kepala, suaranya bergetar. "Maaf, Tuan Marcel.""Kami sudah mengerahkan semua sumber daya lintas negara yang bisa digunakan. Jalur resmi maupun ilegal sudah kami telusuri, tapi nyonya ... seolah benar-benar menghilang dari muka bumi. Nggak ada catatan penerbangan, nggak ada riwayat transaksi, nggak ada jejak kehidupan apa pun.""Tuan Marcel, sepertinya nyonya telah mengeluarkan harga yang sangat besar buat menyembunyikan dirinya .... Dia benar-benar nggak mau kita menemukannya lagi."Ruangan itu seketika diliputi keheningan.Beberapa saat kemudian, Marcel mendadak murka.Dia menendang meja rias di sampingnya hingga terbalik."Omong kosong!"Mata Marcel memerah, suaranya serak."Kana mencintaiku sejak usia delapan belas tahun sampai sekarang. Mana mungkin dia rela meninggalkanku?""Asalkan aku bisa menemukannya dan membuatnya tahu bahwa di hatiku juga ada dirinya, dia pasti bakal kembali.""Cari ... terus cari dia." Suaranya bergetar hebat. "Pasang hadiah buronan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 12

    Duar!Seolah ada petir dahsyat meledak di dalam kepala Marcel.Enam miliar.Demi enam miliar yang digunakan untuk menyelamatkan nyawa Aline itu.Dia pernah menundukkan kepala di hadapan Tuan Oliver, menandatangani perjanjian untuk masuk ke keluarga Oliver sebagai menantu matrilokal, lalu sejak saat itu membenci Kana sepenuh hati.Namun, ternyata ... semua itu adalah kebohongan Aline.Enam miliar itu hanyalah utang judi yang dia habiskan di kasino Makau.Amarah yang berkobar di dada Marcel nyaris merobek dirinya sendiri. Namun, di sudut bibirnya justru terukir senyum dingin.Dia bertanya dengan suara yang dingin, "Masih ada lagi?""Masih ada ...." Sang asisten membuka beberapa rekaman CCTV yang telah dipulihkan dengan susah payah melalui tablet.Rekaman pertama memperlihatkan sebuah kasino bawah tanah. Setelah sengaja mematikan ponselnya, Aline mengobrol santai dengan teman di sampingnya.Dia berkata dengan nada penuh kemenangan, "Kana memang pengecut. Dia sampai menyuruh orang menculik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status