LOGIN"Kau pikir maafmu bisa mengembalikan keadilan yang kau hancurkan di Aula Agung tadi, Zhao Jun?!" bentak Zi Han dengan suara bergetar, membalikkan badannya membelakangi sang kaisar yang berdiri mematung di ambang pintu Paviliun Utama. Zhao Jun melangkah mendekat, mencoba menggapai jemari Zi Han yang menegang rapat. "Zi Han, dengarkan aku dulu. Jika aku memaksakan eksekusi mati Long Feng tanpa bukti fisik yang sah saat seluruh selir berbohong, dewan menteri akan menganggap kekaisaran ini dipimpin oleh tirani yang buta. Aku melakukan ini untuk mengulur waktu—" "Mengulur waktu untuk memberi kesempatan pada iblis-iblis itu menyusun rencana baru?!" potong Zi Han cepat, menepis kasar tangan Zhao Jun sebelum pria itu sempat menyentuhnya. Matanya memancarkan amarah yang bercampur dengan rasa kecewa yang amat mendalam. "Aku tidak butuh penjelasan politikmu! Keluar dari sini, Zhao Jun. Pergi!" "Zi Han—" "Kubilang pergi!" jerit Zi Han seraya menunjuk lurus ke arah pintu luar. "Sana temui seli
"Jadi... kau sedang menyuruhku memanggil tabib untuk memeriksa jiwa Permaisuri Agung kekaisaran ini, Yao Xian?" suara Zhao Jun bergema rendah, penuh kepungan dingin yang menusuk tulang. Selir Yao Xian makin menundukkan kepalanya, menyatukan jemarinya di atas lantai marmer seraya terisak pelan. "Hamba tidak bermaksud merendahkan Permaisuri, Yang Mulia. Hamba hanya prihatin. Sejak sembuh dari sakit berat itu, beliau banyak berubah. Beliau menjadi sangat curiga, agresif, dan kini... menuduh hal yang tidak pernah terjadi di istana belakang." "Cukup, Yao Xian!" bentak Zi Han dengan mata membelalak penuh amarah. Tangannya mengepal rapat di sisi tubuhnya. "Sandiwara murahanmu ini sungguh menjijikkan! Kau membungkam mulut para selir dalam semalam, lalu sekarang berlagak menjadi korban yang prihatin?!" Menteri Hukum langsung mengambil langkah maju, membungkuk dalam dengan raut wajah penuh penekanan. "Yang Mulia Permaisuri Agung! Mohon jaga wibawa Anda di Aula Agung ini! Kesaksian puluhan se
"Ampuni hamba yang hina ini, Yang Mulia Kaisar..." Suara Selir Mei bergetar lembut saat ia bersujud di lantai marmer Aula Agung yang dingin. "Hamba sungguh tidak pernah melihat atau bertemu dengan Perdana Menteri Long Feng di kediaman istana belakang, apalagi keluar dari kamar hamba di tengah malam." Pernyataan itu bergaung nyaring di seluruh Aula Agung, disambut bisik-bisik riuh dari puluhan menteri yang berdiri berbaris di sepanjang lorong. Di atas takhta naga, Zhao Jun memicingkan matanya tajam. Aura dingin menyengat memancar dari tubuhnya, membuat para penjaga di sekelilingnya menahan napas. Di sampingnya, Zi Han berdiri tegap dengan jubah kebesaran phoenix. Wajahnya yang semula tenang perlahan mengeras, matanya menatap Selir Mei dari atas tangga takhta dengan picingan penuh kecurigaan. "Kau yakin dengan ucapanmu, Selir Mei?" potong Zi Han dengan suara yang dingin dan tegas, melangkah satu tapak ke depan. "Ingat di mana kau berdiri saat ini. Kau berada di bawah sumpah kekaisara
"Psst... Perdana Menteri Long!" bisik sebuah suara wanita yang bergetar pelan di balik jeruji besi yang dingin dan lembap. Suasana lorong penjara bawah tanah Istana Terlarang malam itu begitu pekat dan berbau amis racun serta karat. Di bawah remang cahaya obor yang berkedip-kedip, sosok berbalut jubah hitam dengan penutup kepala rapat tampak menempelkan badannya pada dinding sel. Selir Yao Xian telah menghabiskan dua kantong emas murni untuk menyuap tiga penjaga pintu utama agar bisa menyusup tanpa terdeteksi oleh pengawal pribadi kaisar. Dari kegelapan dalam sel, seorang lelaki tua berselimut kain kusam bergerak perlahan. Pakaian kebesarannya kini kotor bercak tanah, namun matanya masih berkilat penuh kelicikan. Begitu mengenali paras elok di balik tudung hitam itu, sebuah senyum miring nan menjijikkan terukir di bibirnya yang pucat. "Ah... rupanya Selir Agung Yao Xian yang molek," goda Long Feng dengan suara serak, melangkah mendekati jeruji besi tanpa raut ketakutan sedikit pun.
"Jaga sikapmu, Yang Mulia," bisik Zi Han tajam, lalu menyikut rusuk Zhao Jun cukup keras hingga kaisar itu sedikit meringis namun tetap tersenyum miring. Zi Han melangkah maju satu tapak, membelakangi Zhao Jun dan menatap tajam ke arah puluhan menteri yang masih gemetar di atas lantai marmer. Suaranya bergema nyaring, mengalihkan fokus seluruh isi ruangan dari godaan konyol sang kaisar. "Para menteri yang terhormat!" seru Zi Han anggun. "Daripada kalian berlutut ketakutan dan sibuk membela pengkhianat, bukankah lebih baik kalian ikut memberikan pertimbangan? Hukuman apa yang paling pantas dijatuhkan pada Perdana Menteri Long Feng atas tuduhan pengkhianatan dan percobaan penodaan terhadap Permaisuri?!" Para menteri saling pandang dengan wajah pucat. Menteri Hukum yang tadinya paling lantang membela Long Feng, kini menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab dengan suara bergetar. "J-Jika seluruh tuduhan itu terbukti benar di depan sidang, Permaisuri... maka sesuai hukum Dinas
Aura di Aula Agung malam itu serasa membeku. Suasana yang biasanya dipenuhi oleh bisik-bisik para pejabat kini berembus amat menegang. Belasan menteri agung dan pejabat tinggi istana luar berdiri berbaris rapi di sepanjang lantai marmer, wajah-wajah mereka memancarkan kegelisahan sekaligus tuntutan penjelasan atas penangkapan mendadak Perdana Menteri Long Feng. Di atas takhta naga, Zhao Jun duduk tegap dengan jubah kebesarannya yang bersulam benang emas. Wajah tampannya dingin tak beriak, namun matanya yang tajam berkilat penuh amarah yang ditahan, sisa kejengkolan karena momen intimnya dengan Zi Han diganggu begitu saja. "Yang Mulia!" seru Menteri Hukum, melangkah maju dua tapak dan membungkuk dalam. "Perdana Menteri Long Feng adalah pilar kekaisaran yang telah mengabdi selama puluhan tahun! Mengurungnya di penjara bawah tanah tanpa sidang terbuka dan persetujuan dewan menteri adalah tindakan yang akan memicu gejolak politik di seluruh negeri!" Beberapa menteri senior di belakangn






