LOGIN"Tarik seragam mereka dan lempar semuanya ke dalam penjara bawah tanah!" teriak Panglima Pengawal Istana yang baru, suaranya menggelegar di sepanjang koridor luar Aula Agung. Pagi itu, kabut tipis menyelimuti kekaisaran, membawa aroma tanah basah bercampur embun dingin. Namun, suasana di dalam kompleks kerajaan sama sekali jauh dari kata tenang. Ratusan prajurit berzirah emas menyisir setiap sudut paviliun, menyeret puluhan pejabat, kasim, dan perwira menengah yang terbukti terlibat dalam jaringan pemberontakan Jenderal Han. Suara dentang rantai besi dan jeritan memohon ampun bergema di mana-mana, menandai dimulainya pembersihan besar-besaran di Kekaisaran Da Sheng. Di dalam Aula Agung, Zhao Jun duduk tegap di atas Takhta Naga. Meskipun bahu kirinya masih dibalut kain kasa tebal di balik jubah kebesarannya yang bernuansa hitam-emas, wajah kaisar muda itu memancarkan aura ketegasan dan wibawa yang tak tertandingi. Di samping kirinya, sebuah kursi takhta berukir burung phoenix b
Keheningan kembali menyelimuti Paviliun Utama. Pertanyaan jujur dari bibir Zi Han seolah mengendap lembut di udara, bergantung di antara pendar cahaya lilin yang menari-nari pelan. Zi Han menatap lurus ke dalam iris mata hitam Zhao Jun, menunggu respons dari pria di hadapannya. Sebagai jiwa modern Xiao Rin, ia mengerti betul betapa pentingnya garis keturunan bagi seorang penguasa di zaman ini. Namun, ia juga ingin tahu seberapa dalam perasaan kaisar muda ini padanya jika takhta dan penerus dipertaruhkan. Zhao Jun tidak langsung menjawab. Kaisar muda itu menatap Zi Han dengan raut wajah yang mendadak melunak, kehilangan seluruh jejak kejengkolan dan rasa cemburu dari candaan tadi. Secara perlahan, Zhao Jun meraih kedua tangan Zi Han yang menangkup pipinya, membawa jemari lentik itu ke bibirnya, lalu mendaratkan kecupan hangat yang amat lama di sana. "Jika memang rumor itu benar..." bisik Zhao Jun dengan suara rendah, parau, dan amat dalam, "Lalu kenapa?" Zi Han terkekeh tipis
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu..." bisik Zhao Jun dengan suara parau nan rendah, menatap lurus ke dalam iris mata Zi Han dari pangkuan wanita itu. Zi Han menghentikan gerakan jemarinya yang sedang membelai rambut hitam sang kaisar, menunduk sedikit untuk menatap raut wajah Zhao Jun yang mendadak sangat serius. "Ada apa, Zhao Jun? Kenapa wajahmu mendadak tegang begitu?" Zhao Jun menghela napas panjang, meremas jemari Zi Han yang berada di dalam genggamannya. "Kau pasti tahu tentang rumor lama yang selalu berembus di lorong-lorong Istana ini sejak beberapa tahun lalu, bukan?" Zi Han mengernyitkan dahi sejenak, mencoba mengingat-ingat ingatan milik Permaisuri Zi Han asli yang mengendap di memorinya. "Rumor tentang... Permaisuri yang tidak bisa memberikan kaisar keturunan?" "Ya," sahut Zhao Jun lirih, mengalihkan pandangannya ke arah tirai sutra yang berkibar pelan tertiup angin malam. "Rumor yang menyebutkan bahwa Permaisuri Zi Han adalah wanita mandul yang tak layak mem
"Aww! Zi Han, sakit!" ringis Zhao Jun spontan seraya memegangi bibir bawahnya yang baru saja dicubit gemas oleh jemari lentik Permaisuri Zi Han. "Bagus kalau sakit!" omel Zi Han dengan mata membelalak lebar, kedua tangannya bersedekap di dada. "Kau ini baru saja lolos dari cengkeraman maut, racun di tubuhmu baru dinetralkan beberapa jam lalu, dan luka panah di bahumu masih membiru! Bisa-bisanya otakmu itu berpikir sampai ke sana, Kaisar mesum?!" Zhao Jun terkekeh pelan, meski ringisan di wajahnya belum sepenuhnya hilang. Ia menarik napas dalam, merengkuh pergelangan tangan Zi Han lalu mengusapnya lembut dengan ibu jari. "Maafkan aku, Zi Han. Aku hanya bergurau. Wajahmu yang panik dan ketakutan semalaman tadi sungguh menggemaskan, aku hanya ingin membuatmu sedikit tersenyum." "Bergurau katamu? Bikin orang senut-senut jantungnya, tahu!" desus Zi Han seraya membuang muka, walau pendar merah di kedua pipinya tak bisa disembunyikan. "Iya, iya, aku salah," bisik Zhao Jun lembut, menatap
"Zi Han..." Sebuah erangan halus keluar dari celah bibir Zhao Jun yang pecah. Kelopak matanya yang berat perlahan-lahan terbuka, menyesuaikan diri dengan pendar temaram lampu minyak yang menghangatkan sudut Paviliun Utama. Aroma racikan obat herbal dan dupa kayu cendana merayap lembut menembus indra penciumannya. Zhao Jun mencoba menggerakkan jemari tangan kanannya, dan saat itulah ia merasakan kehangatan yang amat dikenal, genggaman erat dari jemari mungil yang tak kunjung melepaskannya sepanjang malam. Di tepi ranjang, Permaisuri Zi Han tertidur dengan posisi menyandarkan kepalanya di atas lengannya sendiri, tepat di samping tubuh Zhao Jun. Wajah cantiknya tampak lelah, dengan sisa jejak air mata kering yang masih membayang di pipi mulusnya. Zhao Jun mengamati paras anggun wanitanya itu dalam keheningan. Sudut bibirnya yang pucat perlahan terangkat, membentuk senyuman tipis nan hangat. Rasa sakit yang membakar di dadanya seketika menguap, terobati oleh keberadaan sosok di hadapa
"K-Kau... bagaimana bisa kau..." gagap Jenderal Han dengan napas tersendak-sendak, darah segar mengalir deras dari mulutnya dan merembes memenuhi pakaian kebesarannya. Zhao Jun tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi pengkhianat itu untuk membalas. Dengan tatapan mata yang teramat dingin dan tanpa ampun, kaisar muda itu memutar belati hitam di dalam rusuk Jenderal Han, lalu menariknya keluar dalam satu sentakan tajam. SREET! "Aagghh!" raung Jenderal Han kesakitan, tubuhnya limbung berlutut di atas lantai marmer yang kini bersimbah darah. Zhao Jun menyambar hulu pedang emasnya yang tergeletak di lantai, lalu mengayunkan bilah tajam itu ke udara dalam satu gerakan melingkar yang sempurna. CRASH! Kepala Jenderal Han terpenggal dari lehernya, berguling beberapa kali di atas karpet merah Aula Agung sebelum akhirnya berhenti tepat di depan kaki para menteri yang berdiri membeku ketakutan. Suasana di dalam ruangan raksasa itu seketika menjadi teramat sunyi, hanya dihiasi oleh







