LOGIN"Zhao Jun! Mengaku padaku! Kau pasti sedang merencanakan untuk merekrut selir-selir baru di belakangku, kan?!" Suara nyaring Zi Han membelah keheningan pagi di Paviliun Utama. Pintu kayu berukir naga belum sepenuhnya terbuka, namun omelan sang permaisuri sudah bergema hingga ke koridor luar, membuat dua pengawal bayangan yang berdiri menjaga di depan pintu spontan menegakkan tubuh dengan raut wajah sangat cemas. Di dalam kamar, Kaisar Zhao Jun yang baru saja selesai mengenakan jubah kebesarannya seketika membeku. Ia menghentikan tangannya yang sedang membetulkan sabuk emas di pinggangnya, lalu berbalik cepat menatap Zi Han dengan wajah penuh kepasrahan dan kebingungan. "Zi Han... demi langit dan bumi, dari mana lagi pikiran aneh itu muncul?" bisik Zhao Jun seraya melangkah mendekati ranjang, mencoba menyunggingkan senyuman sehangat mungkin. "Aku baru saja bangun tidur dan belum melangkah keluar dari paviliun ini sama sekali." Zi Han duduk bersandar di atas tumpukan bantal empuk, k
"Mungkinkah Yang Mulia Permaisuri sebenarnya sedang mengandung anak Yang Mulia Kaisar?" Bisikan dari pelayan pribadi tua itu menggema bagaikan petir di siang bolong di dalam kamar Paviliun Utama. Zhao Jun membeku sepenuhnya. Seluruh napasnya tertahan di tenggorokan, dan manik hitam di matanya melebar, menatap tak percaya ke arah wanita yang kini bersandar lemas di dalam dekapannya. Mengandung... anakku?! Sebelum Zhao Jun sempat mencerna kejutannya, pintu kamar utama terbuka dengan tergesa-gesa. Tabib Kepala bersama dua asistennya datang terengah-engah, membawa kotak kayu berisi jarum perak dan racikan obat. "Yang Mulia Kaisar! Hamba datang menghadap!" seru Tabib Kepala panik, langsung menjatuhkan diri berlutut di atas lantai marmer. "Ada apa dengan Permaisuri Agung? Apa racun lama di tubuh beliau kambuh?" "Bukan!" potong Zhao Jun cepat, suaranya bergetar hebat antara panik dan penuh harap. "Periksa nadinya sekarang juga, Tabib! Dia tiba-tiba mual hebat dan kepalanya pusing s
"Zhao Jun! Jangan sentuh manisan teratai itu! Itu milikku!" cetus Zi Han tiba-tiba dengan suara melengking, langsung menepis tangan Zhao Jun yang baru saja hendak menyentuh piring porselen di atas meja. Zhao Jun membelalak kaget, menyenggol cangkir tehnya hingga sedikit tumpah ke marmer meja. Kaisar muda itu menatap Zi Han dengan raut wajah penuh kebingungan dan kepasrahan. "Zi Han... di piring itu ada delapan potong manisan," bisik Zhao Jun pelan, mencoba membela diri dengan senyuman paling lembut. "Aku hanya ingin mengambil satu potong saja. Kenapa kau mendadak galak sekali?" "Tidak boleh!" omel Zi Han seraya menggeser seluruh piring manisan itu mendekat ke dadanya, matanya mendelik tajam. "Satu potong pun tidak boleh! Kau ini Kaisar Agung, kenapa harus berebut makanan kecil denganku?!" Zhao Jun mendesah pelan, menggelengkan kepalanya seraya terkekeh canggung. "Baiklah, baiklah. Seluruh piring itu milikmu, Permaisuriku. Jangankan manisan teratai, seluruh istana pun akan kuberika
"Kau benar-benar bangga padaku, Zi Han? Itu berarti kau mencintaiku?" goda Zhao Jun dengan kerlingan mata nakal, bibirnya yang sedikit pecah mengukir sunggingan senyum penuh kemenangan. Zi Han tersentak kaget. Pipi mulusnya yang memar seketika merona merah padam melebihi warna gaun merah marun yang dikenakannya. Dengan gengsi setinggi langit khas jiwa modernnya, Zi Han cepat-cepat memalingkan muka seraya menepis pelan tangan Zhao Jun dari pipinya. "S-Siapa juga yang bilang begitu?!" cetus Zi Han dengan nada tinggi yang sengaja dibuat-buat. "Aku bilang bangga karena kau berhasil menjalankan tugasmu sebagai kaisar dan panglima perang dengan baik! Jangan percaya diri sekali, Zhao Jun!" Zhao Jun mendengus pelan, lalu tiba-tiba menghentikan kudanya di tepi tebing batu. Kaisar muda itu melepas pegangan kekang kudanya, menyandarkan punggungnya pada pelana seraya melipat kedua tangannya di dada. Wajah tampannya yang tadinya berseri-seri seketika berubah muram dan berpaling menatap lauta
"Sekarang... nyawamu ada di genggaman tanganku, Penguasa Silla," ujar Zhao Jun dengan suara dingin yang menggelegar menembus heningnya malam. "Pilihanmu ada dua, berlutut dan minta maaflah pada Permaisuriku. Atau... kepalamu akan aku tebas detik ini juga!" Ujung pedang emas yang meneteskan darah segar itu menekan pelan kulit dahi Raja Silla. Setitik darah merah mengalir turun melintasi batang hidungnya yang gemetar. Hawa dingin malam berpadu dengan panasnya kobaran api yang membumihanguskan tenda-tenda di sekeliling panggung. Ribuan prajurit Silla yang mengepung panggung kayu itu berdiri terpaku, menahan napas dalam ketakutan yang mencekam. Tidak ada satu pun yang berani menggerakkan senjata, menyadari bahwa satu cengkeraman jari dari Kaisar Da Sheng akan mengakhiri riwayat junjungan mereka. Raja Silla mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas lantai kayu, dadanya naik turun memuntahkan darah segar akibat luka tebasan di dadanya. Rasa bangga dan keangkuhan sebagai penguasa darat
"Coba saja melangkah satu tapak lagi, Zhao Jun..." pangkas Raja Silla dengan senyuman iblis, menekan mata belati peraknya di pipi mulus Zi Han. "...dan aku akan mengukir wajah cantik Permaisuriku ini di depan matamu sendiri!" Zi Han meringis pelan merasakan dingin besi yang menusuk kulitnya, namun matanya tetap menatap Zhao Jun tanpa gentar sedikit pun. "Jangan ragu karena aku, Zhao Jun! Tebas iblis ini!" "Zi Han..." bisik Zhao Jun dengan napas tertahan. Di tengah desingan api yang membakar tenda-tenda di sekeliling mereka, mata hitam Zhao Jun memancarkan kilat ketajaman yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun sebelumnya. Dalam waktu sepersekian detik, sang kaisar tidak melangkah maju, ia menyambar tombak besi milik prajurit Silla yang tewas di dekat kakinya, lalu menendang pangkal tombak itu dengan tumitnya! SWOOSH! Tombak besi itu meluncur bagaikan kilat menembus udara, mengincar tepat di tengah dada prajurit elit yang memegang rantai pengekang Zi Han! JLEB! "Aaggh!







