Se connecter“Ganti gaun ini dengan pakaian yang lebih tertutup dan kaku, Diana,” perintah Marielle tegas sambil menunjuk gaun malam berenda sutra yang telah disiapkan di atas tempat tidur.“Tapi, Lady... Ini adalah gaun khusus yang dikirimkan langsung dari penjahit pribadi Kastil Valtore atas perintah Yang Mulia Grand Duke untuk makan malam nanti,” cicit Diana cemas, memegang gaun berwarna merah marun tersebut dengan kedua tangannya yang gemetar.“Aku tidak peduli siapa yang memesannya,” sahut Marielle dingin. Manik peraknya berkilat tajam di depan cermin rias. “Aku berada disini karena kekalahan duel pedang, bukan karena aku bermaksud menjadi teman kencan malamnya. Ambilkan kemeja kerja dan celana penunggang kudaku yang biasa.”Diana menarik napas panjang, menyadari tak ada gunanya mendebat wanita bertekad baja di hadapannya ini. Setengah jam kemudian, Marielle sudah duduk tegak di salah satu kursi kayu ukir di ruang duduk kamarnya. Ia mengenakan kemeja katun putih berkerah tinggi yang terka
“Saya permisi dulu, Grand Duke, Lady Marielle.” Jackson langsung menghambur keluar dan menutup pintu cepat-cepat.Suara langkah kakinya yang berlari terburu-buru menyusuri koridor batu terdengar mereda di kejauhan. Keheningan yang mendadak jatuh di dalam ruang kerja terasa amat sangat pekat, membuat suara detak jam dinding kuno dan deru angin dingin di luar jendela terdengar makin bising.Marielle memanfaatkan momen interupsi konyol Jackson untuk menghentakkan tangannya kuat-kuat, melepaskan cengkraman Aldric pada pergelangan tangannya. Dengan satu dorongan tegas di dada bidang sang Grand Duke, Marielle mengambil dua langkah mundur. Nafasnya naik-turun cepat, sementara wajahnya memerah paduan antara amarah dan rasa malu yang amat sangat.“Lihat apa yang baru saja Anda lakukan, Grand Duke?!” desis Marielle tajam, menatap Aldric dengan kilatan perak matanya yang menyala-nyala. “Gara-gara kelakuan konyol Anda, seluruh Kastil Valtore akan makin berpikir bahwa pimpinan strategi mereka
“Lady Marielle... sarapan dan teh hangat Anda sudah siap,” bisik Diana pelan, membuyarkan lamunan Marielle. Pelayan muda itu menatap pergelangan tangan Marielle dengan cemas. “Bagaimana tangan Anda? Apakah masih terasa sangat sakit?”Marielle yang baru terbangun langsung menyembunyikan sisa memar keunguan di kulitnya. “Sudah jauh lebih baik, Diana. Tolong siapkan gaunku ya. Hari ini aku harus memeriksa alokasi logistik di ruang kerja utama.”“Baik, Lady.”Satu jam kemudian, Marielle melangkah menyusuri koridor menuju ruang kerja utama. Langkah kakinya mantap dan anggun, menunjukkan profesionalisme penuh meski hatinya dirayapi prasangka.Di dalam ruang kerja yang luas dan dipenuhi rak-rak buku tua, Jackson tampak sedang memilah tumpukan surat berstempel lilin berbagai warna. Wajah pria berkacamata itu terlihat kelelahan, jarinya lincah mencatat poin-poin penting di atas perkamen.“Selamat pagi, Jackson,” sapa Marielle tenang sambil menarik kursi di seberang meja kerja besar.Ja
“Lady... bentar lagi bengkaknya makin parah kalau tidak diolesi obat,” cicit Diana dengan suara gemetar panik. Pelayan muda itu berlutut di samping tempat tidur, memegang mangkuk berisi air hangat dan kain kompres yang sudah diperah.Matanya berkaca-kaca melihat kulit mulus di pergelangan tangan sang Lady yang kini berubah warna menjadi kemerahan keunguan. “Kenapa Anda harus nekat sekali? Yang Mulia Grand Duke kan... beliau kan memang dikenal sebagai monster di medan perang...”Marielle tidak menjawab. Manik peraknya menatap kosong ke arah lantai kayu ukir. Suara nafasnya teratur namun dingin, menyembunyikan badai kemarahan yang berkecamuk di dalam dirinya. Ia tahu Diana khawatir, tapi rasa simpati itu hanya makin mempertegas kenyataan tragis bahwa dirinya kini adalah tahanan tak berdaya yang terkurung di ruangan tempat ia dipaksa tinggal.Suara engsel besi yang berputar halus memecah keheningan kamar.Diana terlonjak kaget hingga hampir menjatuhkan mangkuk air hangat di tangan
“Lady! Apa Anda yakin akan melakukan duel dengan Grand Duke?!” Diana masih saja mengikuti Marielle yang sudah mengenakan baju zirah dan menuju lapangan untuk berduel.“Aku tidak punya pilihan lain. Ini semua untuk kebebasanku,” ujarnya tanpa gentar.Pagi yang dingin menggelayut di atas arena latihan terbuka Kastil Valtore. Di tengah arena, dua sosok berdiri berhadapan dengan jubah latihan tebal dan pedang tumpul di tangan masing-masing.Di pinggir lapangan, Jackson berdiri dengan cemas bersama beberapa komandan divisi militer senior Valtore. Mereka memperhatikan dua figur utama kastil tersebut dengan pandangan penuh rasa ingin tahu dan bisik-bisik heran.“Apakah Lady Marielle sudah bosan hidup? Menantang Yang Mulia dalam duel pedang sama saja menyerahkan leher secara sukarela,” bisik Komandan Divisi Dua sambil merapatkan jubah berbulunya.Komandan Divisi Tiga di sampingnya terkekeh pelan sambil menggeleng. “Tapi lihatlah cara dia memegang pedang itu. Pimpinan strategi kita ternyata
“Anda pikir saya tidak berani?!”Brak!Ayunan pertama gulungan dokumen tebal di tangan Marielle membelah udara dengan suara angin yang tajam. Namun, alih-alih mempertahankan posisi tegap dan mengintimidasi sebagai Penguasa, Grand Duke Aldric justru melakukan hal yang sama sekali tak terduga.Pria tinggi dan kekar itu refleks menyandarkan tubuhnya jauh ke belakang sandaran kursi, mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepala, dan memicingkan mata dengan ekspresi dramatis yang dibuat-buat secara berlebihan.Marielle terus melayangkan beberapa kali ayunan yang sempat mengenai kepala Aldric beberapa kali.“Astaga! Marielle! Apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah gila?” seru Aldric dengan nada orang kaget karena tindakan Marielle yang spontan.Marielle membeku di tempat, tangan yang memegang gulungan dokumen itu mengudara di atas kepala. Manik peraknya membelalak lebar dalam ketidaktahuan total. Untuk beberapa detik, ruangan itu diselimuti keheningan absurd. Pimpinan strategi itu
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m
“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi
“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi







