Se connecter“Apa urusannya denganku? Seharusnya kau bisa mendidik anakmu supaya selalu menuruti omonganmu!” Seorang kepala keluarga menolak mentah-mentah.Penolakan itu langsung diikuti beberapa lainnya hingga pertemuan malam hari itu sedikit rusuh dan berakhir buruk.Beberapa kepala keluarga keluar dari ruang kerja Grand Duke dengan wajah marah.“Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi! Jika Grand Duke takut berperang, kami bisa bergerak sendiri!” Ucapan itu membuat para ksatria Valtore yang berada di ruangan itu langsung menegang.Satu persatu kepala keluarga keluar hingga menyisakan Gerald dan Leonard saja. Aldric menghela nafas panjang, dia langsung berjalan menuju jendela.Aldric hanya berdiri diam di depan jendela besar cukup lama. Pandangannya tertuju pada kereta kuda yang mulai berjalan pergi.Damien mendekat perlahan. Dia adalah panglima tertinggi dari pasukan yang Aldric miliki.“Mereka mulai tidak percaya pada Anda.”“Aku tahu.”Damien menghela nafas panjang.“Saya takut koalisi yang A
“Aku tidak menyangka jika rumah ini sudah dikelilingi banyak pasukan yang Raja sewa untuk melindungi Anda.” Beberapa kali Claude terus mengintip dari balik jendela.Malam itu rumah kecil Marielle terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Namun dibalik kesunyian itu tersimpan beberapa orang yang tengah mengawasi rumah itu dalam senyap.Marielle hanya diam saja. Wajahnya terlihat lebih lelah daripada saat mereka berhasil menangkap Cesare.“Aku ingin tidur. Aku sangat lelah hari ini,” ujarnya pelan sambil melangkah menuju anak tangga untuk ke atas.Diana langsung mengikuti. “Biarkan saya menemani Anda, Lady.” Gadis itu sedikit berlari untuk memperkecil jarak.Diana membantu Marielle berbaring di ranjang sementara Claude keluar dan berjaga di luar rumah bersama beberapa pria asing yang ternyata memang pasukan bayaran kiriman Raja Cassian.Namun disisi lain, tepatnya di kediaman Grand Duke Valtore justru dipenuhi ketegangan.Count Gerald datang malam-malam setelah siangnya mengirim surat pada
“Lalu untuk apa mereka menuju kemari?” Marielle mulai terlihat khawatir jika kedatangan belasan orang itu akan menggemparkan desa.“Saya juga tidak tahu Lady,” jawab Claude.Suasana di halaman rumah kecil itu langsung berubah tegang. Marielle menatap Claude lekat-lekat.“Tadi kamu bilang mereka tidak membawa panji kerajaan kan? Apakah mereka sedang menyamar?” tanyanya pelan.Claude mengangguk.“Saya tidak yakin.”Diana langsung terlihat pucat. “Jangan-jangan…”Diana ak perlu menyelesaikan kalimat itu.Karena mereka semua memikirkan orang yang sama. Aldric.“Tidak. Mereka adalah rekan saya. Tidak mungkin orang-orang itu suruhan Aldric. Lagipula bukankah Lady sudah melakukan perjanjian dengan Grand Duke?” Diana dan Marielle mengangguk. Dalam diam, disetiap isi kepala mereka hanya tersisa satu nama yaitu, Yang Mulia Raja Cassian.Claude menoleh ke arah hutan di kejauhan.“Saya melihat mereka masuk desa sejak satu jam lalu. Lalu mereka berpencar. Beberapa tinggal di penginapan. Beberapa
“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti wanita itu.” Tangan Cassian mengepal keras.Namun ia berusaha untuk tenang, mengingat ia tengah berada di rumah ayah mertuanya, Count Gerald Virel.Langkah Cassian Aragon kembali berjalan menyusuri lorong kediaman keluarga Virel.Wajahnya tetap datar seperti tak terjadi apapun. Namun Rowan yang berjalan beberapa langkah di belakangnya tahu persis jika Raja mereka sedang marah.“Yang Mulia…” Rowan akhirnya memberanikan diri membuka suara.Cassian tak menoleh.“Berapa banyak pengawal yang harus saya kirim ke Valerante?”“Tambah dua puluh orang,” jawab Cassian cepat.Rowan langsung terdiam sesaat.“Itu terlalu banyak hanya untuk menjaga satu wanita biasa,” ucapnya hati-hati.Cassian berhenti berjalan. Perlahan ia menoleh. Tatapan emasnya terlihat dingin dan tajam.“Marielle bukan wanita biasa.” Jawaban itu membuat Rowan langsung menunduk.“Maaf, Yang Mulia.”Cassian kembali melangkah. “Aldric menginginkannya mati. Dan sekarang Count Gerald ju
“Kenapa diam saja, ayah mertua?” Cassian memajukan wajahnya seakan memberi tekanan pada Count Gerald Virel.Ruangan kerja itu mendadak terasa sesak.Tak ada seorangpun yang berani bergerak.Cassian Aragon berdiri tegak di depan meja kerja sambil menatap dingin dua pria di hadapannya. Senyumnya tipis. Namun senyuman itu justru yang membuat suasana semakin menakutkan.Gerald Virel menghela nafas pelan sebelum akhirnya membungkuk hormat.“Yang Mulia, bukan begitu maksud saya. Saya hanya mengkhawatirkan keadaan putri saya.” Gerald membungkuk. Mendadak suhu tubuhnya menjadi panas hingga beberapa bulir keringat mulai membasahi dahinya.Cassian tertawa kecil.“Jadi kau mengkhawatirkan Ratu dengan membicarakan rencana pembunuhan pada seorang wanita yang bahkan sudah tidak ada hubungannya denganku?” Nada suaranya tetap tenang.Tapi Leonard bisa merasakan hawa dingin menusuk di balik setiap katanya.“Sungguh saya hanya khawatir pada Elira, tolong maafkan saya Yang Mulia Raja” jawab Gerald akhi
Leonard hanya terdiam. Belum sempat ia melanjutkan percakapan, Elira kembali menatapnya dengan mata tajam.“Bisakah kau rahasiakan apa yang kau lihat semalam? Aku tidak ingin ayahku tahu soal ini.” Elira menyilangkan tangan dengan wajah dinginnya. Berusaha memberi intimidasi.Mau tak mau Leonard mengangguk. Dan akhirnya ia pamit undur diri. Elira mengangguk, dan mempersilahkan kerabatnya untuk pergi.Di lorong, Leonard mengepalkan tangannya erat-erat. Seolah masih tidak terima dengan tindakan yang dilakukan oleh Cassian semalam.“Aku harus mengatakan pada Count Gerald soal ini.” Leonard langsung pergi untuk menemui ayah Elira. Gerald Virel.Leonard melangkah cepat menyusuri lorong panjang kediaman keluarga Virel. Rahangnya mengeras, sementara pikirannya terus dipenuhi bayangan semalam saat ia melihat Raja Cassian diam-diam menemui wanita lain di tengah malam.Dan wanita itu bukan sembarang wanita. Dia adalah Marielle. Wanita yang selama ini menjadi duri dalam rumah tangga kerajaan. Ma







