เข้าสู่ระบบMusik mulai mengalun, lembut dan teratur.Satu per satu pasangan melangkah ke lantai dansa, mengikuti irama yang mengisi seluruh aula.Orang-orang sibuk memandangi para pasangan yang tengah menari di lantai dansa, tak terkecuali Marielle.Ia tersenyum senang melihat Raja dan Ratu begitu serasi dalam irama musik yang mempesona. Untuk pertama kali ia melihat Ratu Elira tersenyum indah, begitu dengan Cassian yang tengah mengeratkan satu tangan di pinggang Ratu.“Mereka sangat serasi ya,” ucap Marielle pelan.“Benar. Mereka adalah pasangan yang paling bersinar di malam hari ini.” Enzo menyahuti.“Kau benar.”Di mata Marielle, Elira dan Cassian adalah pasangan yang sempurna, tapi harus berakhir tragis oleh kesalahannya.“Aku tidak akan membiarkan kalian bercerai hanya karena wanita seperti ini. Aku akan berusaha keras untuk mempertahankan pernikahan kalian,” batin Marielle.Wanita itu menghirup nafas dalam kemudian mengeluarkannya kembali. Ia menegakkan bahu, melihat ke arah Enzo.“Enzo, a
Jari Marielle mengepal pelan di sisi gaunnya. Namun wajahnya tetap tenang, seolah tak ada apa pun yang sanggup mengguncang hatinya sekarang. “Apa Anda pikir ancaman seperti itu masih bisa membuat saya takut?” ucapnya pelan, suaranya nyaris datar. Aldric tersenyum tipis, matanya menyipit penuh minat. “Bukan ancaman, Lady Marielle,” bisiknya lembut, “aku hanya mengingatkan dimana posisi Anda.” Marielle menahan napas sejenak, lalu mengalihkan pandangannya. “Kalau hanya itu yang ingin Anda sampaikan, saya rasa percakapan ini sudah selesai.” Ia hendak melangkah pergi. Baru selangkah kakinya berjalan, ia mendengar Hugo bicara. “Kau hanya seorang budak. Jangan terlalu memaksakan diri.” Suara berat Hugo terdengar dari samping. Langkah Marielle terhenti. Dan Hugo Krane menatapnya dari jarak dekat, senyum tipis terukir di wajahnya. “Berusaha terlihat kuat, padahal ketakutan di dalam.” Marielle perlahan menoleh. Tatapannya kini jauh lebih dingin. “Aku sudah bukan milikmu lagi,” jawa
Denting gelas kristal saling bersahutan, bercampur tawa para bangsawan yang memenuhi aula istana. Cahaya lilin memantul di dinding marmer, menciptakan kilau hangat di tengah malam akhir tahun.Malam pembukaan pesta tahun baru akhirnya dimulai.Pesta tahun baru biasanya berlangsung selama tiga hari tiga malam, dengan berbagai acara yang telah dijadwalkan setiap harinya.Para tamu kehormatan dari luar negeri dan para bangsawan mulai memenuhi aula pesta.“Lady Marielle, semuanya sudah siap.” Diana mundur beberapa langkah seusai mendandani Marielle dengan gaun biru pilihannya sendiri.Wajahnya sangat memukau. Tubuh rampingnya juga terlihat indah dengan gaun biru yang memeluk setiap lekuk tubuh.Marielle berputar, melihat bayangannya di cermin.“Ternyata wajahku sangat cantik ya,” batinnya.“Lady… saya akan mengantarkan Lady menuju tempat pesta.” Enzo yang sudah menunggu dari tadi membungkuk, menawarkan diri.Marielle mengangguk. Dia berjalan menuju pintu. Diikuti Enzo setelahnya.“Malam i
Lorong istana tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Para pelayan berlalu-lalang membawa kain, bunga, dan lilin-lilin besar.“Enzo, kenapa istana jadi seramai ini?” tanya Marielle, alisnya sedikit berkerut.“Karena pesta tahun baru akan segera dilaksanakan Lady. Jadi orang-orang ini sedang mempersiapkan dekorasi untuk malam pesta dansa nanti.”Mendengar kata pesta dansa, tubuh Marielle langsung menegang.Pesta Dansa.Ia teringat dalam pesta dansa itu Marielle yang sudah meniru gaun Ratu, dia juga memaksa dirinya untuk berdansa dengan Raja. Hingga terjadi insiden dimana dia terjatuh yang membuat gaunnya robek cukup lebar. Membuatnya menjadi bahan canda dan tawa oleh para bangsawan dan tamu negara.Gadis itu menggeleng keras. Dia tidak ingin berakhir memalukan seperti di cerita asli. Ia terdiam sejenak, menampar kecil pipinya berkali-kali.“Tidak, aku tidak mau hal itu terjadi,” bisiknya pelan.“Lady, anda baik-baik saja?” Enzo khawatir melihat perubahan sikap dari Marielle.Marielle me
Marielle duduk termangu di salah satu bangku taman istana. Seperti menunggu sesuatu. Matanya terus melihat orang-orang yang keluar dari salah satu pintu besar yang tak jauh dari tempatnya duduk.“Enzo, apa kau yakin Yang Mulia Ratu akan lewat pintu itu?” Wajah Marielle mulai memperlihatkan keraguan.“Hari ini jadwal Ratu memetik bunga Lady. Karena setiap akhir pekan Yang Mulia Ratu selalu menghias kamarnya dengan bunga yang sedang mekar,” jawab Enzo menenangkan.Marielle berdiri, tangannya saling menggenggam harap-harap cemas. Ia kembali duduk lagi. Kegugupannya semakin jelas terlihat setelah hampir setengah jam dia menanti kedatangan Elira yang tak kunjung datang.Berbeda dengan Marielle, Enzo tampak begitu tenang. Ksatria muda itu tetap berdiri tegak di belakang Marielle.“Lady Marielle. Lihat, itu dayang Yang Mulia Ratu.” Tangannya menunjuk seseorang yang baru saja keluar.Dan benar, Marielle melihat beberapa orang keluar dari pintu yang sudah ia amati sejak tadi. Dan diantara mer
Cassian tampak tenang, sangat berbeda dengan Marielle.Langkahnya pasti menuju pintu. Sedangkan Marielle sesegera mungkin merapikan gaunnya kembali untuk menghapus jejak-jejak keintiman mereka.Cassian menarik pintu dari dalam. Elira sudah berdiri dari balik pintu. Wajahnya terlihat tegang.“Ada apa kau kemari?” tanya Cassian datar, seolah tak peduli kedatangan sang permaisuri.Elira terdiam, matanya beralih pada Marielle yang duduk di sofa. Pandangannya tajam, membuat Marielle gugup dan tertunduk.“Aku ingin membicarakan soal pesta tahun baru nanti,” jawab Elira asal.Kedatangannya kesini tak lain dan tak bukan karena mendapat informasi dari salah satu bawahannya yang melihat Marielle masuk ke ruang kerja Raja.Langkahnya tegas, masuk lebih dulu menghampiri Marielle yang duduk terpaku.“Maaf Yang Mulia, saya sudah bicara pada Yang Mulia Ratu untuk tidak datang saat ini, tapi saya tak bisa menolak keinginannya.” Rowan menunduk depan Cassian karena merasa gagal.“Tidak apa-apa. Aku bis







