Share

Gerald Virel

Penulis: nababy
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 22:16:45

Leonard hanya terdiam. Belum sempat ia melanjutkan percakapan, Elira kembali menatapnya dengan mata tajam.

“Bisakah kau rahasiakan apa yang kau lihat semalam? Aku tidak ingin ayahku tahu soal ini.” Elira menyilangkan tangan dengan wajah dinginnya. Berusaha memberi intimidasi.

Mau tak mau Leonard mengangguk. Dan akhirnya ia pamit undur diri. Elira mengangguk, dan mempersilahkan kerabatnya untuk pergi.

Di lorong, Leonard mengepalkan tangannya erat-erat. Seolah masih tidak terima dengan tindakan y
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Minta Maaflah Grand Duke

    “Hei! Apa yang kau lakukan?” bisik Aldric setengah protes, meski sudut bibirnya sempat terangkat tipis merasakan kehangatan jemari Marielle yang melingkar erat di lengan mantelnya.​“Grand Duke, diamlah. Ikut saya, karena ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda,” balas Marielle tanpa mengalihkan pandangannya dari jalur koridor batu yang terbentang di hadapan mereka, menyeret sang penguasa Valerante menjauh dari tatapan membara Cassian yang masih terpaku di tempatnya.​Langkah kaki mereka menggema teratur, membawa keduanya menjauhi kerumunan sayap barat hingga akhirnya tiba di ruang kerja pribadi Aldric yang sunyi dan hangat. Begitu pintu kayu berukir itu tertutup rapat dan mengunci dari dalam, Marielle langsung melepaskan cengkramannya. Ia berbalik badan dengan cepat, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap tajam ke arah sang Grand Duke dengan mata perak yang menyipit penuh amarah tertahan.​“Apa sebenarnya yang ada di dalam kepala Anda, Grand Duke?” cerca Marielle sen

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Ketegangan Mendadak

    “Jangan bilang... kalau yang Mulia Raja masih mengharapkan wanita yang sudah lama Anda buang ini?” ledek Aldric telak, senyuman miringnya semakin melebar melihat raut wajah Cassian yang menggelap hebat.​Darah Cassian mendidih seketika. Tanpa memperdulikan tatapan para pengawal kerajaan dan prajurit Valerante di sekitar mereka, tangan sang Raja bergerak cepat, mencengkeram kuat kerah mantel bulu tebal Aldric hingga tubuh sang Grand Duke terdorong membentur dinding batu koridor dengan suara gedebuk yang keras.​“Jaga mulutmu, Aldric!” geram Cassian tertahan, suaranya bergemerincing penuh ancaman mematikan. Manik hitamnya menyala tajam, memancarkan amarah murni seorang penguasa yang harga dirinya diinjak-injak di tanah orang lain. “Kau pikir posisimu sebagai penguasa perbatasan memberimu hak untuk mempermainkan batas kesabaranku?”​Alih-alih merasa gentar atau takut, Aldric justru menatap balik manik hitam Cassian dengan seringai dingin yang semakin menguji kesabaran. Tidak ada sediki

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kecemburuan Dua Pria

    ​“Ma... Marielle...? Akhirnya aku bisa kembali bertemu denganmu.” ​Sebelum Marielle sempat merespons sapaan penuh ketidakpercayaan itu, Grand Duke Aldric melangkah lebih maju. Menyadari atmosfer emosional yang mulai menyelubungi udara di antara mantan suami-istri tersebut, Aldric sengaja menarik perhatian dengan suara baritonnya yang berat, memecah ketegangan yang menyesakkan dada. ​“Cukup pertunjukan emosional di tengah badai ini, Yang Mulia,” sapa Aldric dingin, sebelah tangannya masih enggan lepas dari pinggang Marielle. Matanya menyapu barisan karavan kerajaan di belakang sang Raja sebelum kembali menatap tajam manik hitam Cassian. “Tapi, ada satu hal ganjil yang menarik perhatian saya sejak tadi. Dimana Ratu Elira?” ​Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Cassian berubah mengeras. Bayangan wajah Elira yang pucat saat pingsan kemarin pagi kembali melintas di benaknya. Ia menatap sepupunya dengan tatapan penuh kemenangan kecil yang dingin. ​“Ratu tidak ikut,” jawab Cassian teg

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Antara Raja Dan Selirnya

    “Jaga dirimu dan calon anak kita baik-baik, Elira,” bisik Raja Cassian lembut, jemarinya mengusap pipi sang Ratu sebelum mengecup keningnya penuh kehangatan di ambang pintu istana. ​Ratu Elira mengangguk lemah, melepaskan genggaman tangan suaminya dengan berat hati. “Hati-hati di jalan, Yang Mulia. Badai musim dingin di barat sangat berbahaya.” ​Cassian menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan sebelum berbalik dan menuruni undakan tangga istana, di mana kereta kuda berpelindung baja telah menunggunya. Perjalanan dari ibu kota menuju Valerante bukanlah jarak yang pendek. Menembus jalanan bergunung-gunung dan hutan pinus yang tertutup salju tebal membutuhkan waktu penuh satu hari satu malam nonstop, dengan pergantian kuda di setiap pos penjagaan terluar. “Yang Mulia, apakah Anda ingin menginap di salah satu desa saat malam tiba?” tanya Rowan saat kereta kuda mulai berjalan keluar istana. “Tidak usah. Aku ingin segera sampai di Valerante. Aku ingin sekali bertemu secepat

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kabar Gembira di Istana

    “Apakah kereta kuda kerajaan sudah siap untuk keberangkatan ke Valtore, Rowan?” tanya Raja Cassian dengan suara rendah yang dingin, manik matanya menatap tajam ke arah peta wilayah utara yang terbentang di atas meja kerjanya.​Count Rowan, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan sang Raja, segera merunduk hormat dengan gestur yang terlatih sempurna. Ia merapikan gulungan dokumen di tangannya sebelum menjawab dengan nada terukur, memastikan tidak ada satupun detail kecil yang terlewat dari pengawasan ketat sang penguasa.​“Semua armada pengawal khusus, perbekalan logistik tahan dingin, serta dokumen peninjauan proyek Valerante sudah disiapkan sejak subuh, Yang Mulia,” lapor Rowan tangkas. “Kuda-kuda terbaik dari kandang kerajaan juga telah dipasangi pelindung es khusus. Kita bisa berangkat kapan pun Anda memberikan perintah.”​Cassian mengangguk tipis, raut wajahnya menyiratkan ketegasan mutlak yang tidak menyisakan ruang untuk bantahan. Perjalanan menuju Balerante di tengah punca

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Surat Dari Ibu Kota

    “Aku mohon, jangan menangis. Hatiku sesak saat melihatmu seperti ini,” bisik Aldric lirih.Tangannya kembali merengkuh tubuh Marielle kembali dalam pelukannya. Ia menghirup aroma Lavender yang selalu ia bisa hirup setiap kali dekat dengan wanita itu.Untuk sesaat, Aldric hanya diam mengelus punggung Marielle pelan naik turun. Perlahan, dirinya juga mengeratkan pelukannya. Gestur yang sangat tidak biasa ia tunjukkan pada Marielle selama ini.“Terima kasih, Grand Duke sudah mendengarkan keinginan saya,” ucap Marielle parau.“Sshhh… tidak apa-apa… memang aku yang salah.”​Di hadapan Aldric, Marielle menunduk dalam-dalam, mengeluarkan isakan tertahan yang terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Bahunya bergetar hebat, menciptakan ilusi keputusasaan yang sangat sempurna bagi siapa saja yang melihatnya.“Marielle, apa kau masih menangis​?” “Mmm…”Aldric menghela nafas berat. Ia tidak menyangka akan bersikap lembut seperti ini. Rencana yang awalnya agar pergerakan Marielle bisa ia kendalik

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Ingatan Masa Lalu

    “Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Di Luar Rencana

    “Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Tolong Dengarkan Aku

    “Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Perubahan Yang Terlihat

    Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status