LOGINLeonard hanya terdiam. Belum sempat ia melanjutkan percakapan, Elira kembali menatapnya dengan mata tajam.“Bisakah kau rahasiakan apa yang kau lihat semalam? Aku tidak ingin ayahku tahu soal ini.” Elira menyilangkan tangan dengan wajah dinginnya. Berusaha memberi intimidasi.Mau tak mau Leonard mengangguk. Dan akhirnya ia pamit undur diri. Elira mengangguk, dan mempersilahkan kerabatnya untuk pergi.Di lorong, Leonard mengepalkan tangannya erat-erat. Seolah masih tidak terima dengan tindakan yang dilakukan oleh Cassian semalam.“Aku harus mengatakan pada Count Gerald soal ini.” Leonard langsung pergi untuk menemui ayah Elira. Gerald Virel.Leonard melangkah cepat menyusuri lorong panjang kediaman keluarga Virel. Rahangnya mengeras, sementara pikirannya terus dipenuhi bayangan semalam saat ia melihat Raja Cassian diam-diam menemui wanita lain di tengah malam.Dan wanita itu bukan sembarang wanita. Dia adalah Marielle. Wanita yang selama ini menjadi duri dalam rumah tangga kerajaan. Ma
“Yang Mulia Raja?!” Suara pria itu pecah penuh keterkejutan dari balik pepohonan.Cassian langsung menatap tajam ke arah sumber suara. Sedangkan Marielle refleks mundur satu langkah saat menyadari ada orang lain yang melihat mereka.Pria muda itu segera keluar dari bayangan gelap dengan wajah pucat. Dia adalah Leonard Virel. Salah satu bangsawan muda dari keluarga jauh Elira.“Yang Mulia…” Leonard buru-buru membungkuk hormat meski jelas masih syok.Ia kembali tegak lalu maju untuk mempersempit jarak diantara mereka.“Apa yang Anda lakukan disini? Bukankah Anda seharusnya bersama Ratu sekarang?” Mata Leonard menyipit waspada.Tatapannya sempat jatuh pada Marielle. Lalu kembali pada Cassian. Dan ekspresinya langsung berubah canggung.Cassian perlahan menurunkan tangannya dari wajah Marielle. Wajah Raja itu kembali dingin seperti biasa.“Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya rendah.Leonard langsung gugup.“Saya hanya berjalan-jalan sebentar karena tidak bisa tidur, Yang Mulia.”Leonard
“Apa yang Anda lakukan disini?” Marielle menghampiri Cassian yang masih termangu di depan rumahnya.Bibirnya tersenyum tipis saat melihat wanita itu datang.“Aku ingin melihatmu,” ujarnya lirih.Keduanya saling menatap. Marielle hanya bisa menatap Cassian diam. Perlahan tangan besar Raja mulai meraih tangannya lalu menggenggamnya erat.“Apa kau tidak apa-apa? Aku dengar dari Claude kamu diserang seseorang.”Marielle sedikit tersentak. Wajahnya menegang mendengar ucapan sang Raja. “Claude memberitahu Anda soal penyerangan pada saya?” Suara Marielle terdengar lirih namun cukup tajam di tengah dinginnya malam Valerante.Cassian hanya mengangguk pelan dengan tatapan yang teduh. Angin pelan meniup rambut peraknya saat ia berdiri di depan Cassian. Sedangkan Cassian hanya diam menatapnya.Sudah lama mereka tak sedekat ini. Sejak terakhir kali ia melihat Raja berdiri mematung seolah tak tahu harus berbuat apa saat ia meninggalkan istana.Marielle terlihat berbeda sekarang. Gaunnya sederhana.
“Yang Mulia Raja telah memasuki wilayah Valerante!” Suara pengawal menggema di gerbang utama kota saat iring-iringan Raja dan Ratu mulai memasuki pusat wilayah kekuasaan Grand Duke Aldric.Para penduduk segera menepi. Beberapa membungkuk hormat. Yang lain sibuk berbisik pelan saat melihat lambang kerajaan Minerva berkibar di atas kereta hitam besar milik Raja.Suasana kota langsung berubah tegang. Sudah lama sekali Raja tidak datang langsung ke Valerante. Dan kali ini kedatangannya terasa terlalu mendadak.Di depan mansion Grand Duke, para pelayan langsung berlarian panik mempersiapkan penyambutan. Sedangkan di aula utama, Aldric berdiri tenang dengan pakaian bangsawan lengkap dengan warna gelap kesukaannya.Namun di balik ekspresi santainya, matanya jelas terlihat dingin.“Dia datang lebih cepat dari perkiraanku,” gumamnya pelan.Jackson yang berdiri di samping langsung menunduk. “Apakah Anda ingin mengubah rencana?”Aldric tersenyum kecil. “Tidak.”Tatapannya mengarah ke luar jendel
“Percepat kudanya. Kita harus tiba sebelum malam.” Suara Cassian terdengar dingin dari dalam kereta kerajaan. “Baik, Yang Mulia!” jawab kusir cepat dari depan. Detik berikutnya, suara cambuk menggema dan roda kereta bergerak lebih cepat membelah jalan utama ibukota menuju Valerante. Hari ini Rombongan Raja meninggalkan istana bersama Ratu dengan dalih Ratu ingin mengunjungi kampung halamannya. Angin pagi menerpa tirai hitam berhias lambang kerajaan Minerva. Di belakang kereta utama, puluhan ksatria berkuda mengikuti dengan formasi rapi. Beberapa membawa panji kerajaan, membuat rakyat yang dilewati langsung menepi dan membungkuk hormat. Namun suasana rombongan kerajaan kali ini terasa berbeda. Apalagi dimana Raja dan Ratu yang menaiki kereta kuda yang sama. Keduanya saling menghindari pandangan satu sama lain. Raja masih memikirkan wanita yang baru saja ia usir dari istana, sedangkan Ratu masih memikirkan bagaimana caranya agar wanita itu tetap berada di luar istana. Sampai seka
“Aku harus segera pergi ke Valerante secepatnya.”Kalimat dari Cassian itu membuat ruangan kerja langsung sunyi. Rowan yang berdiri di depan meja hanya bisa terdiam tegang.“Yang Mulia… apakah Anda yakin?” tanyanya hati-hati.Cassian masih meremas surat dari Claude lalu meletakkannya kembali di atas meja.“Grand Duke sudah melangkah terlalu jauh.” Nada suaranya datar.Namun justru itu yang membuat Rowan semakin bingung. Namun dia hanya diam karena saat ini Raja sedang sangat marah.Cassian berjalan menuju jendela besar ruangannya. Di luar, hujan tipis mulai turun membasahi halaman istana Minerva.“Aku sudah membiarkan Marielle pergi.” Tatapannya lurus ke luar.“Tapi sekarang Aldric malah mencoba menyakitinya lagi.” Rahang Cassian mengeras.Ia masih teringat insiden saat festival berburu, dimana Marielle diserang saat tengah berburu. Dia menyesal tidak langsung menghukum Grand Duke saat itu juga.“Aku harus menyelamatkan Marielle,” ujarnya lirih namun terdengar jelas.Rowan menegang, d







