LOGIN“Sini, biar aku periksa kepalamu. Aku yakin ada yang tidak beres,” ucap Aldric dengan nada setengah mengejek, mendadak melangkah maju untuk menyentuh kening Marielle guna memastikan wanita itu tidak sedang demam atau mengalami benturan di lorong tadi.Sikap Grand Duke tampak sangat kontras, di satu sisi ia merasa khawatir melihat kerapuhan yang sempat singgah di wajah Marielle, namun di sisi lain ia merasa sangat asing dan tidak percaya bahwa wanita yang selama ini terus menentangnya bisa berubah menjadi begitu lembut hanya dalam beberapa menit saja.Melihat tangan Aldric yang terulur mendekat, Marielle tidak tinggal diam. Dengan gerakan refleks yang cepat, ia menepis tangan sang Grand Duke dan langsung mundur dua langkah, menciptakan jarak aman di antara mereka. Ekspresi rapuh di manik peraknya seketika lenyap, tergantikan oleh tatapan tajam dan sengit yang selama ini menjadi ciri khasnya.Melihat kembali sorot mata permusuhan itu, Aldric justru mengukir senyuman tipis di sudut bi
“Aku sedang bicara dengan mantan istriku. Bisakah kau tidak terus menggangguku?” Cassian menatap tajam pada Aldric untuk memberi tekanan agar pria itu segera pergi dan tidak mengganggunya.Aldric hanya bisa menghela nafas. Ia sebenarnya tidak peduli dengan drama Raja. Tapi karena ini menyangkut Marielle, ada satu tekanan dalam dadanya yang terus membuatnya untuk maju.“Tapi caranya tidak seperti ini juga, Yang Mulia,” balas Aldric mencoba mengulur waktu.Cassian melepas genggamannya, berjalan mendekati Aldric penuh tekanan penguasa. Sementara, di belakang Cassian, Aldric melihat Marielle menampakan raut ketakutan. Ia sedikit terkejut hingga matanya membulat sejenak. Ia belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajah Marielle. Marielle yang ia kenal adalah wanita kuat dan juga tangguh. Meskipun saat menangis, itu hanya sebuah ekspresi kesedihan biasa. Tapi malam ini, Marielle menampakkan ekspresi asing yang sanggup membuat tangannya terkepal erat.“Aku bilang pergi. Jangan. Ganggu
“Kau benar-benar sangat mengganggu, Grand Duke. Baiklah, silahkan bicarakan apa yang perlu kau bicarakan?”Perhatian Cassian sepenuhnya teralihkan pada Aldric.“Ini soal keamanan Valerante. Saya berencana membangun benteng antara Minerva dan Eldora agar kejadian penyerangan Pangeran Heinry tidak terjadi lagi.”Cassian terdiam sejenak. Meski ia memiliki ikatan yang dekat dengan Raja Eldora sekarang, tapi tidak menutup kemungkinan di masa depan Heinry akan menyerang lagi. Apalagi dia adalah salah satu pewaris takhta di Eldora yang kuat.“Ide bagus. Kita bisa memperkuat pertahanan di perbatasan.”Akhirnya mereka berdua larut dalam pembicaraan soal benteng pertahanan. Marielle yang sudah selesai makan tiba-tiba langsung pamit undur diri.“Karena saya sudah selesai, saya mohon undur diri dahulu.” Ia membungkuk untuk pamit.Melihat Marielle berdiri, Cassian juga ikut berdiri. Seolah tak mau wanita itu pergi.“Marielle, tunggu sebentar. Bisakah kita bicara empat mata lebih dulu? Ada sesuatu
“Tuhan, berikan aku kekuatan. Setidaknya biarkan aku menikmati satu malam saja tanpa harus melihat wajah arogan kedua pria itu,” gumam Marielle lirih.Ia mencoba kembali memfokuskan pandangannya pada kertas-kertas yang masih harus ia kerjakan agar segera selesai. Setidaknya Aldric sudah berjanji padanya jika setelah proyek ini selesai dia akan pulang ke rumahnya di tepi hutan.Setelah kepergian Aldric yang terpaksa melangkah untuk meminta maaf pada sang Raja, Marielle berharap ia bisa menghabiskan sisa harinya dalam ketenangan yang mutlak. Namun, baru saja ia memetakan jalur logistik pengamanan musim dingin, pintu kayu ruang kerjanya terketuk dua kali dengan cepat sebelum akhirnya terbuka lebar.Diana, pelayan setianya, melangkah masuk dengan ekspresi campur aduk antara cemas dan serba salah. Wanita paruh baya itu meremas ujung apronnya dengan gugup.“Maaf mengganggu konsentrasi Anda, Lady Marielle, tapi saya baru saja menerima pesan langsung dari pelayan pribadi Grand Duke,” lapo
“Hei! Apa yang kau lakukan?” bisik Aldric setengah protes, meski sudut bibirnya sempat terangkat tipis merasakan kehangatan jemari Marielle yang melingkar erat di lengan mantelnya.“Grand Duke, diamlah. Ikut saya, karena ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda,” balas Marielle tanpa mengalihkan pandangannya dari jalur koridor batu yang terbentang di hadapan mereka, menyeret sang penguasa Valerante menjauh dari tatapan membara Cassian yang masih terpaku di tempatnya.Langkah kaki mereka menggema teratur, membawa keduanya menjauhi kerumunan sayap barat hingga akhirnya tiba di ruang kerja pribadi Aldric yang sunyi dan hangat. Begitu pintu kayu berukir itu tertutup rapat dan mengunci dari dalam, Marielle langsung melepaskan cengkramannya. Ia berbalik badan dengan cepat, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap tajam ke arah sang Grand Duke dengan mata perak yang menyipit penuh amarah tertahan.“Apa sebenarnya yang ada di dalam kepala Anda, Grand Duke?” cerca Marielle sen
“Jangan bilang... kalau yang Mulia Raja masih mengharapkan wanita yang sudah lama Anda buang ini?” ledek Aldric telak, senyuman miringnya semakin melebar melihat raut wajah Cassian yang menggelap hebat.Darah Cassian mendidih seketika. Tanpa memperdulikan tatapan para pengawal kerajaan dan prajurit Valerante di sekitar mereka, tangan sang Raja bergerak cepat, mencengkeram kuat kerah mantel bulu tebal Aldric hingga tubuh sang Grand Duke terdorong membentur dinding batu koridor dengan suara gedebuk yang keras.“Jaga mulutmu, Aldric!” geram Cassian tertahan, suaranya bergemerincing penuh ancaman mematikan. Manik hitamnya menyala tajam, memancarkan amarah murni seorang penguasa yang harga dirinya diinjak-injak di tanah orang lain. “Kau pikir posisimu sebagai penguasa perbatasan memberimu hak untuk mempermainkan batas kesabaranku?”Alih-alih merasa gentar atau takut, Aldric justru menatap balik manik hitam Cassian dengan seringai dingin yang semakin menguji kesabaran. Tidak ada sediki
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m
“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi
“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi







