MasukHari ini, adalah hari eksekusi setelah menunggu seminggu lamanya. Alun-alun menjadi saksi bisu dari akhir tragis para pengkhianat Minerva.“Ayo cepat jalan!” ujar pengawal pada para pengkhianat.Di atas panggung eksekusi yang terbuat dari kayu jati tebal, lima orang kepala keluarga bangsawan Valerante berlutut dengan tangan terikat rantai besi di punggung mereka. Wajah mereka pucat pasi, dipenuhi memar dan keputusasaan. Leopold bersama lainnya sudah duduk berjajar di atas panggung eksekusi yang dilihat banyak orang.Raja Cassian terlihat duduk di singgasana pengadilan yang ditempatkan di balkon atas, menatap kelima pengkhianat itu dengan sorot mata perak yang sedingin es. Namun, bukan Cassian yang menjadi algojo hari ini.Di atas panggung eksekusi, Grand Duke Aldric berdiri tegak. Jubah hitamnya berkibar pelan diterpa angin. Wajah tampannya terukir kaku tanpa setitik pun belas kasih. Jika di depan Marielle pria ini mulai menunjukkan keraguan dan emosi yang tak menentu, maka di pan
"Senang melihat Anda begitu dermawan pagi ini, Yang Mulia Raja," sindir Aldric dingin. Tangannya terangkat, menunjuk langsung ke arah stempel otoritas tersebut. "Namun, saya harus menolak pemberian stempel itu untuk Marielle."Cassian menegakkan punggungnya, sorot mata peraknya seketika menajam. "Apa maksudmu, Grand Duke? Ini adalah wewenang khusus yang kuberikan pada sang Pahlawan Kerajaan.""Wewenang khusus? Apakah Yang Mulia tidak berpikir jika wewenang itu secara terang-terangan melangkahi kekuasaan saya?" potong Aldric tegas, suaranya dipenuhi ketegasan khas pimpinan Valerante.Aldric melangkah maju hingga berdiri sejajar di samping Marielle, menatap Cassian tanpa gentar sedikit pun."Valerante adalah wilayah otonom di bawah kepemimpinan saya," lanjut Aldric dengan nada angkuh. "Jika Anda memberikan stempel otoritas pembangunan langsung kepada Marielle tanpa melalui persetujuan saya, itu sama saja dengan merendahkan posisi saya sebagai Grand Duke! Anda membuat seolah-olah p
“Apa lagi yang kau inginkan?” Cassian masih berusaha merayu dengan memberikan apapun yang Marielle inginkan.Wanita itu langsung terdiam sejenak. Ia menunduk, seperti ingin bicara namun terlihat sungkan.“Yang Mulia…” panggilnya pelan.“Iya?”“Bisakah Anda memperindah makam Enzo? Saya ingin makam Enzo terlihat lebih baik. Karena bagaimanapun, dia bukan pengkhianat.”Cassian terdiam sejenak. Lagi-lagi soal pria yang sudah tiada itu. Namun, demi pujaan hatinya, Cassian mengangguk pelan dan tersenyum.“Baiklah… aku akan memperbaiki makam Enzo hanya untukmu.”“Terima kasih Yang Mulia. Anda benar-benar sangat baik.” Mata Marielle tiba-tiba berkaca.Melihatnya, Cassian langsung menghapus satu bulir air mata yang berhasil menetes di pipi indah Marielle.“Jangan menangis. Air matamu sangat berharga untuk menetes,” ucapnya pelan.“Maafkan saya. Saya sangat merasa senang karena Yang Mulia mau mengabulkan semua permintaan saya.”“Sudah, jangan menangis. Ayo kita segera ke taman. Hadiahmu sudah m
”Bagaimana sarapan pagi ini Lady? Apa Lady suka?” tanya Diana yang terus melihat Marielle tengah mengiris-iris daging di piringnya.Marielle mengangguk. “Enak. Sudah lama aku tidak makan daging. Kita di Valerante cuma makan roti dan sayuran saja ya.” Ia tersenyum, mengingat bagaimana sederhananya kehidupannya saat berada dalam pengasingan.Marielle duduk tenang di meja makan kecil di sudut kamarnya, menikmati suapan daging steak yang masih hangat dan secangkir teh herbal untuk meredakan sisa pening di kepalanya akibat alkohol semalam.Suara pintu kamar yang terbuka tanpa di ketok menghentikan garpu yang hampir menyentuh bibir Marielle. Sosok tinggi berwibawa dengan jubah keemasan melangkah masuk tanpa ragu. Dialah Raja Cassian.Tanpa meminta izin atau basa-basi, Cassian langsung menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Marielle.Marielle mengerjap, tertegun sejenak. Ia menatap sang Raja dengan pandangan bingung, lalu bertanya pelan, "Yang Mulia... kenapa Anda ada di sini?"Cas
“Grand Duke! Lepas!” Marielle langsung menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Aldric.Wanita itu langsung berdiam diri di lorong, menatap pria di depannya yang baru saja membawanya pergi. Suasana lorong istana yang temaram terasa makin dingin ketika langkah kaki Marielle dan Aldric terhenti dalam keheningan malam. Lilin-lilin di dinding memantulkan bayangan panjang mereka di atas lantai marmer.Marielle menyandarkan punggungnya pada pilar batu, menatap Aldric dengan mata peraknya yang redup akibat alkohol, namun terpancar kecurigaan yang begitu pekat."Berhenti disitu, Grand Duke," ujar Marielle dengan suara serak. "Sebenarnya... apa mau Anda? Mengapa Anda tiba-tiba menarik saya pergi?"Aldric berbalik menatap Marielle. Wajah tampannya yang biasa sedingin es tampak sedikit goyah dibawah pendar cahaya lilin."Aku hanya ingin mengantarmu sampai ke kamar, Marielle. Kau dalam keadaan mabuk dan lukamu belum sembuh."Marielle tertawa kecil. Sebuah tawa getir tanpa rasa humor s
“Elira, aku mohon jaga bicaramu itu,” Cassian langsung mengingatkan, nada suaranya menajam di hadapan para tamu.“Kenapa? Aku hanya bertanya,” balas Elira santai, masih menyunggingkan senyum tipis yang memprovokasi ke arah Marielle.Marielle sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. Sebelum menjawab, ia menghela napas panjang terlebih dahulu untuk menenangkan gemuruh di dadanya.“Yang Mulia Ratu… saya berjanji jika saya sudah sembuh nanti, saya pasti akan segera pergi dari sini,” jawab Marielle mantap, matanya menatap lurus ke dalam netra Elira tanpa ada keraguan sedikit pun.Jawaban mutlak dari Marielle mendadak membuat rahang Cassian mengetat. Rasa jengkel menyergap benak sang Raja, bukan hanya pada provokasi istrinya, tetapi juga pada kepastian Marielle yang begitu mendesak untuk pergi dari sisinya."Cukup. Aku tidak ingin mendengar perdebatan soal tinggal di istana lagi di meja makan ini," potong Cassian dingin dan tegas, membungkam Elira dan Marielle seketika.“Maafkan saya,
Marielle mengerjap ketika dirinya terbangun. Ia merenggangkan badan, menghembuskan nafas pada pagi ini.“Enzo, ambilkan aku air,” ucapnya pelan.Namun tak ada jawaban. Dia langsung duduk, mengamati sekeliling. Tak ada batang hidung Enzo yang terlihat.“Kemana dia? Biasa
“Aku ingin menyaksikan sendiri saat wanita yang dia cintai mati perlahan di hadapannya.” Aldric tersenyum licik sambil menggenggam erat botol kecil tersebut. Angin malam Eldora berhembus dingin di balkon tinggi istana kekaisaran. Aldric masih berdiri disana, memandangi kota yang dipenuhi cahaya la
“Raja akan pulang besok lusa.” Suara Marielle terdengar pelan di pinggir lapangan latihan sore itu.Angin berhembus lembut, menggerakkan rumput tipis di tepi arena. Matahari mulai turun, meninggalkan warna keemasan di langit.Enzo yang sedang membereskan pedang langsung menoleh ke arahnya. Marielle
Kereta kuda yang memiliki lambang serigala Valerante berhenti tepat di pelataran utama Istana Eldora.Derap kuda mulai mereda. Istana kekaisaran Eldora berdiri megah di hadapan Aldric Valtore yang baru saja tiba. Menara-menara menjulang tinggi, pilar marmer raksasa kokoh berdiri, serta bendera ungu







