ログイン”Lady Marielle! Ada kereta kuda di depan rumah!” teriak Diana keesokan paginya saat mereka baru saja bersiap-siap untuk pergi menuju kastil Grand Duke.Marielle yang ada di ruang tengah bergegas berlari menuju depan, dimana Diana sudah berdiri disana. Ia melihat kereta kuda sudah terparkir rapi dengan kusirnya. Dari dalam, keluar seorang ksatria. Ksatria itu berjalan dan langsung membungkuk memberi hormat kala tepat berada didepan Marielle. “Selamat pagi Lady Marielle. Saya datang kesini untuk menjemput Anda atas perintah Grand Duke,” jelasnya.Marielle menghela nafas cukup panjang. Padahal kemarin dia sudah bilang agar tidak menjemputnya, tapi tetap saja tidak didengar. Dengan wajah malas, ia menunjuk barang-barang yang sudah Diana susun sebelumnya. “Itu barang-barangku. Tolong bawakan ya.” Tanpa basa-basi Marielle langsung menyuruhnya.“Baik Lady.” Pria itu membungkuk kembali dan langsung mengangkat beberapa tas dengan bantuan Diana.Marielle berjalan lebih dulu menuju kereta ku
"Lady Marielle?!" Suara Jackson melengking, hampir memekakkan telinga. Pria itu menatap Aldric dengan mata melotot sempurna, seolah baru saja mendengar sang Grand Duke mengumumkan akan menyerahkan seluruh wilayah Valerante kepada musuh."Yang Mulia, Anda pasti sedang bercanda, bukan?" bisik Jackson panik, melangkah mendekat seraya menoleh kanan kiri untuk memastikan tidak ada pengawal yang mendengar. "Lady Marielle De Aubrey? Wanita yang sangat Anda benci itu?""Aku tidak sedang bercanda, Jackson," potong Aldric tenang namun dingin. Ia melangkah menuju meja kerjanya yang ditimbun puluhan dokumen, lalu mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. "Marielle memiliki kemampuan dan pemikiran tajam yang kita butuhkan untuk membangun kembali Valerante. Mulai lusa, ia yang akan memegang kendali penuh atas tim rekonstruksi."Jackson menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering. "Tapi, Yang Mulia... bagaimana dengan para menteri dan pejabat kastil? Anda tahu
“Apa Marielle belum bangun?” tanya Aldric pada Diana yang menemaninya berkemas.“Belum Grand Duke,” jawabnya pelan.Aldric mengangguk. Ia melangkah sambil menenteng tas yang berisi perlengkapannya selama tinggal di rumah kayu Marielle. Pria itu membuka pintu, yang memperlihatkan suasana masih pagi buta.“Yang Mulia Grand Duke, apakah Anda tidak berpamitan dengan Lady Marielle dulu sebelum pergi? Saya rasa pergi diam-diam seperti ini terlihat kurang sopan,” ujar Diana lirih, takut sang Grand Duke menjadi tersinggung atas ucapannya.Diluar perkiraan, Aldric malah tersenyum tipis. Ia menaruh barang-barangnya di punggung kuda lebih dulu sebelum menaiki kudanya.“Aku tidak ingin membuatnya marah hari ini,” jawabnya santai.“Apa Anda tidak apa-apa? Seharusnya kereta kuda yang menjemput Anda akan datang pagi nanti.”“Aku tidak apa-apa Diana. Baiklah, aku pergi sekarang. Tolong jaga Marielle untukku ya.”Dengan begitu, Aldric menarik tali kekang hingga membuat kuda yang ditungganginya berlari
"Tinggal di kastil Anda?" ulang Marielle datar, nadanya dipenuhi sindiran yang sangat jelas. "Apakah pendengaran Anda bermasalah, Grand Duke? Saya baru saja meminta Anda angkat kaki dari rumah saya, dan sekarang Anda malah mengajak saya masuk kembali ke sarang Anda?"Aldric menegakkan posisi duduknya. Wajah lesu yang tadi menghiasi mukanya perlahan memudar, berganti dengan raut wajah serius dan rasional, mode seorang penguasa wilayah yang sedang menyusun strategi negosiasi."Aku bicara murni demi efisiensi kerja kita, Marielle," sahut Aldric cepat, menahan diri agar tidak terdengar seperti sedang memaksanya. "Kastil Valtore adalah pusat data dan arsip seluruh Valerante. Peta wilayah, laporan kependudukan, hingga catatan kas daerah semuanya ada di sana."Pria tegap itu memajukan tubuhnya sedikit, menatap Marielle lurus-lurus untuk mempertegas setiap kata-katanya."Jika kau harus pulang pergi setiap hari, berapa banyak waktu yang terbuang di jalan? Belum lagi jika cuaca buruk atau
“Syarat? Apa saja syaratnya?” Aldric menatap wajah Marielle dalam-dalam.“Ada tiga syarat yang harus Anda penuhi. Sebelum saya menjelaskannya, berjanjilah terlebih dahulu untuk tidak menolak syarat yang saya ajukan,” tawar Marielle.Wanita ini membuat Aldric mati kutu. Ia tidak pernah menyangka Marielle sangat pandai dalam hal negosiasi. Dirinya langsung teringat kala Marielle juga membuat sebuah kesepakatan saat dirinya ketahuan akan menggulingkan Raja.Mau tidak mau Aldric bersedia. Ia menganggukkan kepala dan berkata “Iya.”“Baiklah, tolong dengarkan baik-baik syarat yang akan saya berikan pada Anda.”Aldric memajukan posisi duduknya, menatap Marielle lurus-lurus dengan cemas sekaligus penuh rasa ingin tahu. Pria penguasa Valerante itu siap mendengarkan syarat tersulit apapun, asalkan wanita di hadapannya ini tidak membatalkan kesepakatan yang baru saja dicapai.Marielle meletakkan jemarinya di atas meja, mengetuk kayu permukaan meja pelan-pelan dengan ritme yang tenang namun pen
“Membangun Valerante bersama Anda?” Kening Marielle mengernyit.Bagaimanapun, bagi Marielle ini sangat aneh. Dia bukan siapa-siapa. Tapi Grand Duke malah menawarinya kerjasama untuk membangun wilayah yang baru saja terjadi perang ini.Diseberang meja, wajah Aldric masih terlihat tenang namun harap-harap cemas jika wanita itu menolaknya. Apalagi dia baru bisa berbicara setelah melewati tujuh hari yang diliputi dingin dan sunyi.“Aku tahu ini terdengar konyol, tapi aku melihat potensi dalam dirimu untuk bisa membantuku. Valerante sudah lama terbelakang. Apalagi ditambah penyerangan Pangeran Henry waktu itu. Aku tidak ada niatan apapun. Aku hanya ingin kau membantuku itu saja,” jelas Aldric cepat-cepat sebelum Marielle salah paham kembali.Marielle tidak langsung menganggukkan kepala. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Aldric dengan pandangan menelisik yang dipenuhi skeptis."Tidak," tolak Marielle dingin. "Saya baru saja keluar dari pusaran konflik istana dan
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m







