LOGINEmpat tahun kemudian ...."Papa! Cepat!"Suara tawa seorang anak laki-laki memenuhi halaman rumah yang berdiri megah di tengah hamparan kebun bunga lavender.Anak kecil berusia hampir empat tahun itu berlari dengan langkah pendeknya sambil membawa pesawat kayu di tangan. Rambut hitamnya sedikit berantakan diterpa angin, sementara sepasang mata abu-abu yang diwarisi sang ayah tampak berbinar penuh semangat."Pelan-pelan, Nak!" seru Lisa dari teras rumah. Namun, peringatannya datang terlambat."Papa!"Bruk!Tubuh mungil itu langsung menabrak kaki Gandha yang baru saja turun dari mobil.Alih-alih marah, Gandha justru tertawa pelan. Dengan satu gerakan, ia mengangkat putranya tinggi-tinggi hingga terdengar suara cekikikan riang. "Wah... siapa ini? Kok berat sekali?""Bukan berat!" protes si kecil sambil tertawa. "Arka sudah besar!""Kalau begitu sudah tidak mau digendong Papa?" Gandha menggoda putranya."Tetap mau." Jawaban polos itu membuat Lisa terkekeh."Katanya sudah besar.""Kalau sa
Beberapa saat, Gandha hanya memandangi nama yang terus berkedip di layar ponselnya. Sesekali ia mengalihkan pandangan ke arah Lisa, tetapi tidak juga mengangkat panggilan itu hingga deringnya berhenti dengan sendirinya.Belum sempat ia menyimpan ponsel, layar itu kembali menyala.Nama yang sama kembali muncul.Gandha mengembuskan napas pelan, lalu menatap Lisa dengan wajah memelas."Lihat sendiri, kan?" katanya sambil mengangkat ponselnya. "Belum jadi pimpinan saja, orang-orang sudah mengejarku seperti ini."Lisa tak kuasa menahan senyum melihat tingkah suaminya."Angkat saja, Mas. Siapa tahu keponakanmu mau membicarakan hal lain.""Kalau ternyata dia sama saja dan memaksaku lagi, bagaimana?" Gandha kembali melihat ke arah istrinya itu."Ya didengarkan dulu. Jangan mengambil kesimpulan sendiri." Lisa berkata dengan suara lembut.Gandha menggeleng pelan sambil terkekeh. Akhirnya ia mengusap layar ponselnya dan menerima panggilan itu. Sengaja ia menyalakan pengeras suara agar Lisa ikut
Sejujurnya, Lisa sangat penasaran. Sejak semalam, ia merasa ada yang berbeda dengan sikap suaminya. Di satu sisi, ia begitu kagum melihat betapa dihormatinya Gandha oleh banyak orang. Namun di sisi lain, ia juga menangkap sesuatu yang disembunyikan pria itu. Di balik senyum dan ketenangannya, Gandha tampak menyimpan beban yang cukup berat."Sebenarnya, Mas Gandha kenapa, ya?" gumam Lisa lirih.Rasa penasarannya akhirnya mengalahkan keinginan untuk tetap diam. Ia melangkah keluar kamar, mengikuti arah suaminya.Langkah Lisa terhenti di ambang pintu balkon.Dari kejauhan, ia melihat Gandha sedang berbicara melalui telepon. Nada suaranya terdengar rendah, tetapi tegas. Wajah yang biasanya tenang kini dipenuhi keseriusan yang belum pernah Lisa lihat selama lima tahun mereka bersama."Apa ada masalah besar di perusahaan?" bisiknya pelan.Lisa mengurungkan niat untuk menghampiri. Ia tidak ingin mengganggu pembicaraan suaminya, terlebih jika itu memang sesuatu yang penting.Sebagai gantinya,
Melihat wajah Gandha yang panik dan langsung mendekati Lisa membuat Radiah dan Lisa terkejut sesaat.“Sayang kamu, tidak apa-apa, kan?” tanya Gandha dengan wajah yang penuh diliputi rasa khawatir.Lisa lalu tersenyum kemudian sedikit tertawa dan menggeleng pelan, “Aku tidak apa-apa, jangan berlebihan.” “Tapi … kenapa kau …?” Gandha lalu melihat ke arah ibunya dengan pandangan menuntut penjelasan.“Apa aku terlihat seperti ibu mertua yang ingin menindas menantunya? Pikiranmu payah sekali. Bahkan kau tidak percaya pada mamamu sendiri.” Radiah berkata lalu memperlihatkan wajah sedihnya.“Minta maaflah sama Mama. Bahkan mama sudah sangat baik padaku,” ujar Lisa dengan suara yang sedikit serak.Gandha hanya mengernyitkan keningnya mencoba untuk mengerti situasi yang sedang terjadi saat ini.Lisa dan Radiah saling pandang lalu tersenyum. “Tidak seperti yang ada dalam pikiranmu, Mas, Mama sangat menerimaku, bahkan aku merasakan kalau saat ini aku benar-benar mendapatkan seorang ibu yang men
Melihat cara Radiah yang menatap Lisa, membuat Gandha menjadi sedikit tidak tenang. “Lisa, namamu Lisa, kan?” suara Radiah terdengar sangat tenang.Lisa hanya mengangguk pelan, lalu melihat ke arah Gandha sejenak.“Mama … apa yang ingin mama bicarakan dengan istriku?” tanya Gandha sambil merangkul Lisa, seolah-olah tidak ingin melepaskannya sendirian.Radiah lalu tersenyum melihat putranya. “Kau tenang saja, mama ini bukan ibu mertua yang suka mengancam seperti di drama-drama anak muda itu!”Mendengar ucapan Radiah membuat Lisa tersenyum, dia lalu melihat ke arah Gandha yang wajahnya diliputi rasa khawatir.“Lagipula, kalau mama tidak suka sudah daritadi istrimu ini Mama tarik.” Radiah kembali menambahkan lalu tersenyum lalu menarik Lisa dari pelukan Gandha.Gandha merasa tidak rela tapi Lisa hanya tersenyum dan memberikan ekspresi kalau dia tidak apa-apa.“Istrimu saja tidak takut, kenapa kau ini sangat khawatir kalau mama akan melukainya?” Radiah berkata dengan nada sedikit manja d
Melihat Gandha yang benar-benar berdiri di hadapan keduanya, tentu saja Radiah tidak mampu menahan air mata bahagianya. “Nak apa ini benar-benar kamu?” tanyanya sambil memegang wajah anaknya itu. Seperti biasa, bawaan Gandha yang tenang meyakin mereka kalau ini memang nyata.“Aku membawa seseorang untuk kuperkenalkan pada kalian.” Gandha lalu melihat ke arah Lisa, lalu berjalan pelan menghampiri istrinya itu.“Dia adalah istriku, Lisa.” Gandha memperkenalkan istrinya pada mereka semua.“A-apa? Kamu sudah memiliki istri?” Radiah tampak cukup terkejut.Gandha lalu membawa Lisa ke hadapan kedua orang tuanya, sedikit malu-malu Lisa tersenyum pada kedua orang tua Gandha. Dalam hatinya jantungnya berpacu cepat, meski ada sedikit rasa gugup dan takut tidak diterima dia harus melakukan yang terbaik saat ini.Siapa sangka Radiah langsung memeluknya, sebentuk rasa hangat merayap dalam hatinya saat itu juga.“Terima kasih … terima kasih kamu sudah menjaga anakku.” Dia berkata sambil terisak.Ti
“Mbak bajuku apa sudah disetrika?” Yasmin menghampiri Lisa yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga ini.Lisa tersenyum dan mengangguk. “Sudah, tunggu sebentar, ya.” Dia lalu mengambilkan baju yang dimaksud oleh Yasmin dan menyerahkannya. Yasmin mengamati hasil seterika dari Lisa dan kembali
Lisa tertegun sejenak, dia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Ibu dan adik tirinya itu. Hanya saja selama ini dia masih diam dan tidak melawan untuk mengurangi percekcokan yang terjadi di rumah ini.Ayah dan ibunya juga kerap kali bertentangan pendapat yang ujung-ujungnya Duha akan mengal
“Mas Gandha, apa kamu paham apa yang aku katakan?” Lisa kembali mengulang tanya untuk memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi jika suaminya bisa diajak bicara dengan normal.“Aku … aku hanya ingat namaku, aku juga ingat kalau aku belum menikah,” ucap Gandha, “tapi selebihnya, aku tidak bisa meng
“Bagaimana saksi, apa ini sah?”“Sah!” Beberapa orang menjawab dengan lantang. “Alhamdulillah,” ucap yang hadir di sana. Kini, Lisa benar-benar sudah resmi menjadi seorang wanita bersuami.Doa dipanjatkan setelah ijab kabul terdengar. Namun, Lisa masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri, rasany







