Share

Menikahi Adik Musuh
Menikahi Adik Musuh
Penulis: Luisana Zaffya

1. Pernikahan?

Penulis: Luisana Zaffya
last update Terakhir Diperbarui: 2022-09-01 10:09:55

Pesta itu berlangsung sangat meriah. Nadia Farick memastikan semua yang terbaik, tapi Zaffya lebih memilih menyendiri di balkon yang sepi. Ia sudah terlalu banyak memasang senyum palsu malam ini. Sudah cukup bosan mendengarkan segala macam pujian yang dilontarkan atas keberhasilan membuka cabang rumah sakit terbaru mereka di pulau seberang. Keberhasilan yang entah keberapa kali dalam setahun belakangan ini.

Selalu saja, hidupnya berjalan dengan amat sangat lancar. Kerajaan bisnis keluarga yang diturunkan pada Zaffya membuat dirinya memiliki segalanya, tapi anehnya, memiliki segalanya nyatanya membuat Zaffya tak cukup mampu menginginkan apa yang diangankan dalam hati. Di antara meriahnya pesta yang sedang berlanjut di belakang, ia tak merasakan secuil pun emosi yang mampu membuat bibir Zaffya bergerak membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang tak bisa lagi dilengkungkan sejak beberapa tahun terakhir, kecuali senyum palsu yang selalu dipasang ketika media menyorot dirinya. Klasik, kisahnya seperti pemeran utama dalam drama-drama yang sering dimainkan di televisi yang ditonton oleh Vynno.

"Mama ingin bertemu denganmu." Suara seorang pria yang berjalan menghampiri tak membuat Zaffya tertarik untuk menoleh. Ia tahu siapa pemilik suara itu bahkan tanpa memastikannya. Menyodorkan segelas sampanye padanya.

Zaffya menerima gelas itu dan menyesap sedikit. Ia butuh sesuatu yang lebih keras daripada ini. Setidaknya untuk merayakan keberhasilannya, bukan?

"Apakah pestanya begitu membosankan?"

Zaffya hanya mendesah kecil dan mengedikkan bahu sebagai jawaban ya atas pertanyaan itu. terlalu malas bahkan hanya untuk menjawab iya.

"Tahanlah sebentar lagi, mamaku hanya ingin bertemu denganmu lima menit."

Zaffya menoleh. Menatap wajah tampan itu sambil memutar bola matanya bosan. Lima menit itu berarti lima jam jika mamanya Dewa yang mengajak bicara, karena ia tahu apa yang akan dibahas oleh wanita paruh baya itu.

Tentang pertunangan mereka yang masih saja tak menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih serius. Ia harus segera mengakhiri drama yang mereka mainkan secepatnya sebelum semua orang benar-benar mendesaknya dan ia benar-benar berakhir sebagai pendamping hidup pria ini.

Akan tetapi, bagaimana mungkin hubungan yang berjalan dengan sangat lancar dan baik-baik saja tanpa angin tanpa hujan tiba-tiba mendatangkan petir bagi siapa pun yang mendengarnya.

"Ayolah, hanya lima menit." Dewa meraih pundak Zaffya dan membalikkan badan wanita itu. Membawanya kembali ke dalam hiruk pikuk pesta yang semakin ramai.

Zaffya tak punya pilihan selain menurut. Ia butuh cepat pulang, dan ia tahu ia tak akan bisa pulang tanpa menemui wanita paruh baya yang telah melahirkan tunangannya tersebut.

"Mama hanya ingin menyapa," tambah Dewa lagi, "setelahnya aku akan mengantarmu pulang."

"Berdoalah mamamu tak membahas sesuatu yang membuatku pergi di detik itu juga," bisik Zaffya pelan. Sekalipun ada nada mengancam yang terselip di antara kalimatnya yang membuat Dewa tersenyum miris.

Zaffya tak pernah berubah. Sekalipun ia sudah berhasil mengikat wanita itu dengan pertunangan mereka, tapi ia tak pernah berhasil mengikat hati wanita itu. Mungkin tak akan pernah bisa.

***

"Ada apa lagi, Sat?" tanya Zaffya ketus pada asisten yang masih berdiri di depan mejanya. Beberapa berkas yang diminta tanda tangan oleh pria itu sudah ia tanda tangani. Lalu, sekarang ia butuh waktu untuk dirinya sendiri. Memikirkan pertunangannya dengan Dewa. Memikirkan scenario untuk mengakhiri pertunangan mereka dalam waktu dekat.

Sialan ....

Sejak tadi Zaffya tak bisa menenangkan hati dan pikirannya mengingat percakapan tadi malam yang sebenarnya sudah ia ketahui akan berakhir seperti apa. Sekalipun tidak secara gamblang mamanya Dewa dan mamanya yang menyuruh segera menentukan kapan tanggal pernikahan, ia tahu pembicaraan mereka mengarah ke sana. Menyudutkannya dengan Dewa untuk segera menikah.

"Tuan Rehardi ingin Anda memeriksa dokumen ini." Satya menunjukkan map berwarna biru itu pada Zaffya. Meminta ijin sebelum meletakkan di meja. Wanita itu tidak suka dirinya meletakkan sembarang dokumen yang belum diketahui dengan pasti di atas meja kerja.

"Dokumen apa?" tanya Zaffya malas.

"Dokter yang akan bekerja di CMC ...."

Zaffya berdecak malas, memotong kalimat Satya sebelum berlanjut lebih panjang lagi, "Kenapa harus aku yang memeriksanya? Bukankah tanggung jawab rumah sakit urusan Vynno?"

"Tuan Rehardi hanya ingin Anda memeriksanya sekali lagi."

"Kalau dia merasa bagus untuk CMC, kenapa aku harus repot-repot? Aku memberikannya pekerjaan bukan untuk merepotkanku," gerutu Zaffya lagi. Tak memberikan isyarat apa pun agar Satya meletakkan berkas itu di atas meja.

"Tuan Rehardi pergi dengan tuan Sebastian ke Amerika untuk ..."

"Aku sudah tahu." Zaffya mengibaskan tangan malas. Tahu apa yang dilakukan kedua sahabatnya di sana. Meninggalkannya sendirian dengan permasalahan yang menumpuk, meskipun ia tak sepenuhnya kecewa. Ia sedang tidak membutuhkan kedua orang itu, tahu benar nasehat apa yang akan diberikan keduanya dengan permasalahan pelik yang sedang ia hadapi.

Mencoba menjalani apa yang ada di hadapannya, dan sayangnya hati Zaffya tidak semudah jalan pikiran mereka. Selalu memilih jalan yang lebih rumit. Tak peduli, jika hatinya berkata A maka ia akan melakukan A, dan jika hatinya berkata B maka ia akan melakukan B. Sudah cukup ia mengikuti sandiwara hidup selama ini.

"Kau periksa, apa yang diinginkan Vynno, kalau ada yang tidak beres terserah mau diapakan," perintah Zaffya akhirnya.

Satya diam, menggerutu dalam hati sambil meletakkan kembali map biru itu bercampur dengan tumpukan berkas yang ada di pelukannya dan mengangguk patuh. Suasana hati bosnya sedang buruk dan dia tidak mau mencari gara-gara.

"Batalkan meeting siang ini dan atur jadwalnya kembali. Siang ini aku tidak ingin diganggu siapa pun," tambah Zaffya lagi. Lalu menekan tombol di remote yang ada di atas meja untuk memburamkan kaca. Membatasi dirinya dari hiruk pikuk bawahannya di lantai yang sama.

Sekali lagi Satya mengangguk, lalu berbalik dan melangkah keluar.

Zaffya memutar kursi, menatap pemandangan kota melewati dinding kaca dengan desahan yang keras dan berat melewati kedua bibirnya. Ingin mengosongkan pikirannya sejenak, tapi tetap saja sesak yang terasa kosong itu membuat kepalanya terasa berputar dan penuh sumpalan. Kemudian ia memilih menyandarkan punggung dan memejamkan mata untuk sejenak menghilangkan penat.

Namun, belum sempat matanya benar-benar terpejam, suara pintu yang terbuka membuatnya mengumpat dalam hati. Dua langkah kaki yang tertangkap indera pendengarannya, satu dengan langkah tenangnya dan satunya lagi dengan langkah panik. Membuat Zaffya kembali mengembuskan napas dengan berat. Tahu benar siapa yang berani menganggu dan kebal atas perintah yang tak terbantahkan pada Satya.

"Maafkan saya, Nyonya. Tuan Sagara ...." Suara khawatir Satya terdengar dari balik punggung Zaffya.

Zaffya mengibaskan tangan kanan sebagai isyarat agar Satya keluar. Tak menunggu lama, pria itu melangkah keluar dan menutup pintu. Membiarkan kedua orang itu. Seperti biasanya.

Zaffya masih tak bergerak dari tempatnya. Memejamkan mata setelah melihat bayangan sosok yang berdiri di belakangnya lewat dinding kaca. Tak begitu jelas tapi ia tahu betul siapa sosok yang kini melangkah menghampirinya. Ia tak suka waktunya diganggu oleh Dewa, tapi sepertinya ia juga butuh bicara dengan Dewa. Semakin lama ditunda, masalah akan semakin menumpuk dan membesar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikahi Adik Musuh   68. Welcome Baby Boy (End)

    "Bayinya lahir dengan selamat. Karena bayi lahir prematur dan memiliki berat badan di bawah normal, kami membawanya ke ruang NICU di lantai empat. Anda bisa melihatnya di jam-jam tertentu.""Bagaimana keadaan istri saya, Dok?""Istri Anda masih belum sadar dan sedang berada di ruang pemulihan. Setelah sadar, kami akan memeriksanya sekali lagi sebelum membawanya ke ruang perawatan. Keadaannya masih sangat rentan."Rasanya Dewa bisa kembali bernapas. Tubuhnya jauh di kursi dengan kelegaan yang luar biasa. Karena keadaan Dania yang belum boleh dilihat, Dewa pun pergi ke lantai empat, untuk melihat bayinya.Tak ada sepatah kata pun yang bisa mengungkapkan perasaan Dewa. Pertama kali Dewa menatap bayi mungilnya, dan ia langsung jatuh cinta. Hanya itu satu-satunya perasaan yang bisa ia telaah. Setetes air mata jatuh, kebahagiaan dan rasa pedih bercampur aduk memenuhi dada Dewa. Melihat bayi mungilnya yang rapuh, tak berdaya, dan sangat kecil dan harus berjuang hidup di sana sendirian. Dewa

  • Menikahi Adik Musuh   67. Akhir Mikha

    Sepertinya Raka tak bisa lagi memasang senyum palsu di bibir kepada para tamu yang diperkenalkan mamanya. Dengan alasan hendak ke kamar mandi sebentar, Raka melepas lengan Alra yang melingkari lengannya. Berjalan ke dalam rumah. Entah kenapa, firasat buruk menyergap dadanya hanya dengan memikirkan Dania yang tak berhenti memenuhi kepalanya. Ditambah ia pun tak melihat Dania sejak Zaffya entah pergi ke mana dengan Nadia Farick sedangkan Dewa terjebak dengan teman-temannya tak jauh dari tempatnya.Seorang pelayan berlari ke arahnya dan menyenggol pundaknya. Pelayan itu berhenti sejenak untuk meminta maaf dengan wajah pucat. Lalu berlari ke dalam pesta. Raka hanya mengerutkan kening dan mengabaikannya. Melanjutkan langkahnya. Teapi kemudian jantung Raka berdebar keras, melihat beberapa pelayan berlari ke arah ruang tengah dengan terburu-buru, dan bukan ke arah taman belakang. Raka tak tahu apa yang begitu menarik perhatian para pelayan itu, tapi kakinya ikut bereaksi dan berlari menngiku

  • Menikahi Adik Musuh   66. Insiden

    Suara musik yang mengalun indah dan pelan, dengan berbagai jenis bunga menghiasi sepanjang jalan masuk ke taman belakang kediaman Sagara. Dengan konsep pesta kebun, yang terlihat santai dan elegan."Kau gugup? Kauingin kembali? Jangan membuatku salah paham, Dan," bisik Dewa mendekatkan bibirnya di telinga Dania saat mereka melintasi halaman samping rumah menuju halaman belakang, tempat pernikahan akan berlangsung. Genggaman tangan Dania di tangannya semakin mengetat, dan kegugupan tergaris jelas di sepanjang bibir wanita itu yang menipis. Menandakan bahwa Dania menggigit bibir bagian dalam. "Kau hanya boleh gugup karenaku."Dania memutar bola matanya jengah. Sempat-sempatnya pria itu mengurusi kecemburuan di saat kegugupan mendera dirinya sekuat ini. Gaun yang ia pakai adalah pilihan terbaik dengan harga fantastis, Dania tak akan bertanya darimana uang Dewa karena suaminya sudah melarang dan mewanti-wanti bahwa ia hanya perlu memilih gaun yang membuatnya terpesona. Dan tanpa sengaja p

  • Menikahi Adik Musuh   65. Memperbaiki Hubungan

    Dengan perut besar, Dania tampak begitu riang menatap semua benda-benda yang memenuhi toko tempat peralatan bayi. Dewa tak berhenti mengawasi Dania, mengekor ke mana pun wanita itu melangkah. Setiap gerakan lincah Dania membuatnya was-was, karena terlalu bersemangat memeriksa satu persatu benda-benda mungil yang memenuhi rak-rak yang berjajar panjang.Mata Dania tak berhenti beredar, berpindah dari satu rak ke rak yang lain. Bahkan tak jarang Dewa lah yang dengan sigap menyingkirkan benda-benda di depan Dania sebelum wanita itu menabraknya."Sepertinya sudah cukup." Dania akhirnya merasa kelelahan, menatap tiga troli besar yang penuh dengan pakaian dan segala macam pernak-pernik untuk bayi."Kauyakin?" tanya Dewa sangsi. Ini kalimat 'sepertinya sudah cukup' yang Dania ucapkan untuk ketiga kalinya.Dania mengangguk dengan mantap. Lalu mencari tempat duduk dan menemukan kursi panjang yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Kakiku pegal sekali."Dewa menatap Dania yang menjauh,

  • Menikahi Adik Musuh   64. Berbelanja

    Take LoveDewa & Dania###Part 28###"Untuk pertama kalinya, Mama melihat mereka sebagai pasangan yang cocok," gumam Monica dengan senyum di bibir.Raka mengikuti arah pandang Mamanya. Sudah cukup kesal hanya dengan mendengar cara bicara Dania dan Dewa bicara, sekarang ia benar-benar merasa gerah melihat pasangan yang duduk di meja. Dewa sibuk menyuapkan makanan dari kotak bekal untuk Dania, -makanan yang katanya dibuat oleh Dewa-. Melihat bentuk makanannya dari jarak sejauh ini, Raka tak yakin dengan rasanya. Tapi Dania tampak menikmati makanan itu seolah itu adalah makanan terlezat yang pernah gadis itu makan. Padahal, makanan yang ia pesan untuk sarapan Dania adalah makanan khusus wanita hamil yang direkomendasikan oleh ahli gizi, yang kemudian ia berikan pada koki dengan tangan ajaib yang tak mungkin diragukan lagi keahlian memasaknya. Apalagi dibanding dengankan dengan tangan Dewa.Apakah cinta memang sebuta itu? CkDewa bahkan tak pernah menginjakkan kaki di dapur, tapi adikny

  • Menikahi Adik Musuh   63. Masih Terpengaruh

    Take LoveDewa & Dania###Part 27###Raka belum menghabiskan makanannya ketika ponsel pria itu kembali berdering. Wajahnya berubah tegang, setelah mendengar kalimat dari seberang."Kecelakaan?"Dania menegakkan punggung. Tak bisa menahan tubuhnya untuk sedikit condong ke arah Raka."Luar kota?" ulang Raka tak percaya. Kenapa hal seperti ini datang di saat yang tepat seperti ini. "Baiklah. Aku ..." Raka menghela napas pendek. "Aku tak tahu apakah bisa langsung mengeceknya. Aku sedang di rumah sakit.""...""Oke, akan aku usahakan." Raka menurunkan ponselnya, mengurut kening dengan tangan kiri dan pundaknya menurun seolah beban seberat ribuan ton tertumpu di sana."Apa Kak Raka harus pergi?"Raka mendesah keras."Biar Dan yang menjaga Mama. Kak Raka bisa pergi."Raka diam. Mempertimbangkan tawaran Dania."Sepertinya masalah Kakak sangat mendesak.""Bagaimana dengan Dewa? Dia pasti akan menerorku.""Biar Dan yang mengurusnya.""Baiklah," putus Raka setelah memikirkan kembali tawaran Da

  • Menikahi Adik Musuh   62. Merawat Mertua

    Take LoveDewa & Dania###Part 26###"Mau ke mana kau?" tanya Dewa melihat Dania sudah berpakaian rapi dengan sibuk mengaplikasikan pelembab di wajah. Satu tas kecil sudah siap di meja rias."Jika kau tidak ingin ke rumah sakit, sebaiknya kau tak mencegahku." Dania mengakhiri sesi dandannya dengan mengoleskan lipbalm di bibir. Bibirnya sudah merah tanpa bantuan lipstik, setidaknya hal itu yang bisa ia banggakan dibandingkan dengan wanita-wanita yang mengejar Dewa. Dania mengusir pemikiran gila itu, untuk apa dia memedulikan wanita-wanita di sekitar Dewa."Apa kau mencoba menjadi lebih keras kepala melebihiku?""Katakan ya jika memang terlihat seperti itu. Kaupikir hanya kau yang bisa menjadi keras kepala di sini."Dewa menggeram frustrasi. Seperti biasa, langsung mengangkat kedua tangan ke kepala dan menggusur keseluruh jemari di antara rambut yang masih basah. Menang melawan wanita yang sedang hamil jelas bukan kemenangan."Sebelum kau mengalahkan orang lain, kalahkan dulu keegoisa

  • Menikahi Adik Musuh   61. Bertengkar Lagi

    Take LoveDewa & Dania###Part 25###Dania terkejut melihat Dewa duduk mematung di sofa ruang tamu saat masuk ke dalam apartemen. Pria itu duduk dengan kedua siku disanggah lutut, dan wajah tenggelam dalam kedua telapak tangan. Kefrustrasian jelas terlihat dari rambut kusut Dewa yang sepertinya berkali-kali tergusur oleh jemari. Dania juga melihat jas Dewa yang terlempar begitu saja di sofa, bersama dasi yang jatuh di lantai.Apa Dewa memiliki masalah lagi dengan pekerjaan? Cubitan kecil menyakiti hatinya karena ia tak bisa membantu kesulitan Dewa selain hanya sebagai pendukung dan tempat bersandar pria itu. Dania ingin melakukan lebih."Dewa?" Dania menyentuh pundak Dewa dengan perlahan. Hampir mengira Dewa tertidur karena pria itu sama sekali tak bergerak. Sekali lagi ia mengangkat tangan ke arah Dewa dengan panggilan yang sedikit lebih keras. "Dewa?""Dari mana kau?" desis suara dingin Dewa ketika pria itu bergerak menaikkan kepala menatap Dania yang berdiri di sampingnya.Dania

  • Menikahi Adik Musuh   60. Bertemu Raka

    ###Hari ini, Dewa pulang lebih malam. Dania menunggu di ruang tengah sambil menonton televisi dengan toples dalam pelukannya ketika pintu apartemen terbuka. Dania bergegas menghampiri Dewa. Memeluk tubuh dan menghirup aroma Dewa yang sangat ia rindukan seharian penuh."Apa kau sangat merindukanku?" Dewa merangkul Dania dan keduanya berjalan masuk.Dania mengelak dengan menggelengkan kepala. "Aku bosan seharian menghabiskan waktu di apartemen sendirian.""Kau harus bersabar." Dewa melemparkan jasnya ke sofa dan duduk."Kauingin minum atau langsung mandi?""Kopi." Dewa menyandarkan kepala di punggung sofa. Menatap layar televisi yang menampilkan film romance tanpa suara. Sama sekali bukan seleranya, tapi melihat adegan ketika si pria mencium perut wanita hamil di sampingnya dengan air mata berurai, Dewa memahami perasaan itu. Perasaan takjub dan terharu. Keajaiban yang tak pernah ia sangka datang di hidupnya.Dania melewati sofa menuju dapur. Tak lama kembali dengan cangkir kopi yang m

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status