ANMELDEN“Dia alasanku masih bertahan hidup.”Cornell terdiam mendengar itu.Kalimat yang sederhana, tapi cara Daniel mengucapkannya terasa jauh lebih berat dibanding luka-luka di tubuhnya sendiri. “Kau … benarkah ini Daniel yang ku kenal?” Ucapnya pelan tak percaya.Hujan di luar makin deras. Angin laut menghantam kaca jendela kecil klinik hingga menimbulkan bunyi berderit pelan.Cornell akhirnya bergerak cepat mengambil jaket tebal dari gantungan.“Kita harus pindah sekarang sebelum fajar,” katanya serius. “Pelabuhan mulai ramai jam lima pagi. Kalau ada orang asing melihat kalian, kabar bisa menyebar ke seluruh kota.”Daniel mengangguk singkat. Ia berdiri perlahan, tapi baru beberapa langkah tubuhnya sedikit goyah. Cornell sigap menahan lengannya.“Kau juga butuh perawatan.”“Aku baik-baik saja.” elak Daniel menepis pelan tangan Cornell.“Kau keras kepala sekali. Apa harus menunggu mati untuk sadar, huh?”Daniel mengabaikannya. Tatapannya kembali pada Celina yang masih terbaring pucat di ra
Cornell terdiam saat kata ‘Monster’ diucapkan Daniel. Kata yang cukup lama tidak di dengar Cornell. Dulu ia menyebut kata itu untuk mendefinisikan orang-orang kejam yang nyaris membunuh keluarganya sebelum akhirnya ditolong Daniel.Cornell sudah mengenal Daniel cukup lama, tapi pria itu seperti teka-teki yang rumit ditebak. Daniel hampir tidak pernah meminta bantuan siapa pun termasuk dirinya.Karena itu melihat Daniel muncul tengah malam dalam keadaan terluka sambil menggendong seorang wanita tak sadarkan diri rasanya begitu mengejutkan.“Lukamu cukup dalam,” ucap Cornell pelan sambil melepas sarung tangan medisnya. “Jika dibiarkan akan terinfeksi.”“Tenang saja, aku masih hidup.”“Ya untuk sementara. Tapi jika kau tidak menurutiku maka …hidupmu selesai dalam tiga puluh enam jam.”“Ciiih, berlebihan sekali. Aku memiliki cadangan nyawa yang jauh lebih banyak darimu.”Cornell mendekat, lalu tanpa menunggu izin Daniel, ia menarik kemeja Daniel kasar. Pria itu mendesis pelan saat pakaian
Sementara itu, di salah satu gedung pencakar langit, di tengah kota London. Beberapa jam sebelum David meninggalkan pusat kota.Cahaya kota London di malam hari menembus dinding kaca besar dan memantul pada lantai marmer hitam mengkilap. Beberapa layar monitor menyala menampilkan berita yang terus berganti.“Knight Corp mengalami penurunan saham terbesar tahun ini.”“Heatrix kehilangan beberapa investor utama.”“Seluruh media mulai menyoroti krisis internal keluarga Knight.”Andreas duduk santai di kursinya. Jas hitamnya rapi sempurna, kontras dengan senyum tipis yang perlahan terukir di wajahnya. Jemarinya mengetuk pelan sandaran gelas kristal berisi wine merah.“Ini indah sekali …,” ia tergelak dan benar-benar menikmati kekacauan itu.“David Knight … kau memang bodoh. Hanya seorang wanita dan kau … melupakan segalanya.”Ia memiringkan kepala menatap salah satu layar yang memperlihatkan ulang rekaman mobil David melaju meninggalkan pusat kota London.“Kelemahanmu adalah Celina. Kau d
“Apa rencana Tuan?”David tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada mobil berlumur darah itu. Pintu belakang terbuka, bekas peluru memenuhi bodi samping, dan darah di jok belakang masih belum mengering.Terlalu banyak darah, tapi mayat yang ditemukan hanya satu. Terlalu bersih untuk baku tembak sekelas salah satu kelompok mafia terbesar di Sisilia.“Entahlah Steve, ini terlalu janggal,” gumamnya pelan.Steve mengernyit. “Tuan?”David perlahan berjongkok, memperhatikan kembali bercak darah di aspal dan dalam mobil.“Kalau Irene menangkap Celina, dia tidak akan meninggalkan kekacauan seperti ini.” Mata David menyipit tajam. “Dia akan membawa Celina hidup-hidup. Karena dia jaminan untuk menaklukkan Daniel.”“Tapi bisa saja Nyonya dibunuh dan Daniel mau tidak mau menuruti Irena karena kalah jumlah.”David menggeleng, “itu bukan cara Daniel. Aku yakin Celina masih hidup dan dia bersama Daniel. Mobil ini hanya pengalihan untuk membantu pelarian mereka.”David berdiri kembali.
David berjalan cepat mengikuti anak buahnya beberapa ratus meter dari lokasi pertama. Mobil kedua terlihat ditinggalkan dalam posisi pintu terbuka. Kondisinya ringsek parah setelah menabrak pohon besar. Kaca depan pecah total. Bekas tembakan terlihat jelas di body mobil dan darah segar terlihat berceceran di aspal.Mobil kosong, tidak ada siapapun di dalamnya bahkan mayat sekalipun. David berhenti tepat di depan mobil itu.Tatapannya perlahan berubah kacau.“Tidak…” gumamnya pelan.Ia menyugar rambutnya kasar, mencoba berpikir dan menganalisa situasi.Satu mobil terbakar dengan empat jenazah. Satu mobil kosong penuh darah. Celina dan Daniel menghilang.David menendang keras pintu mobil ringsek itu sampai berbunyi nyaring.“SIALAN!”Semua orang langsung diam. David berjalan mundur beberapa langkah sambil mengusap wajahnya frustasi. Ia tidak tahu bagaimana keadaan Celina—hidup atau mati.Tidak tahu siapa yang membawa atau melindunginya. Apakah Daniel atau justru Celina jatuh ke tangan
David berdiam diri di ruang kerjanya di malam yang rasanya begitu panjang. Sejak kepergian Celina, ia terus mengurung diri dalam ruangan menunggu kabar keberadaan Celina. Daniel menyangkal mengetahui keberadaan istrinya itu. Tapi David tak percaya begitu saja. Ia menempatkan orang-orang terbaiknya di sekitar apartemen mewah adiknya itu dan terus memantau lokasi-lokasi yang mungkin didatangi Celina. Ponsel canggihnya tak pernah jauh dari David. Menunggu kabar tentang jejak Celina. Seperti saat ini, sudah satu jam David menunggu laporan berkala dari Steve. Ia berdiri di depan jendela besar, satu tangan berada di saku celana sementara tangan lainnya menggenggam gelas whiskey yang sejak tadi bahkan belum disentuh. Pintu terbuka tanpa ketukan membuat David menoleh cepat. “Tuan.” Steve masuk dengan napas sedikit terburu. “Ada kabar baru?” Steve mengangguk cepat. “Informan kita menemukan lokasi Nyonya Celina.” Untuk sesaat, David membeku. Seolah tubuhnya lupa cara bernafas. “Kataka
“Dokter, akhirnya kau datang juga. Tuan menunggu di kamar.” Steve panik dan cemas saat Dokter Andreas keluar dari lift dengan tenangnya. “Tunggu jelaskan padaku situasinya, Steve.” Dokter Andreas membetulkan letak kacamatanya, lalu memeriksa jam di tangannya. Steve menarik nafas panjang sebelum
Pintu President Suite tertutup di belakang mereka, meredam suara dunia luar. Hening menyapa, yang terdengar hanya suara nafas Celina yang tidak teratur dan detak lambat jam dinding.David menurunkan Celina perlahan diranjang. Erangan lemah terdengar saat luka di dada Celina sedikit tertekan. David
Ditengah keramaian ballroom, seorang wanita muda melangkah mendekati David.Wanita cantik dengan rambut pirang keemasan—ditata rapi dengan hiasan simpel tapi terlihat mewah—berjalan dengan penuh percaya diri. Gaun sutra biru pucat membingkai siluetnya dengan indah dan berkelas. Senyumnya mengemban
Alunan musik dansa mereda, Tuan Eldric melangkah ke podium. Ia mengangkat gelas kristalnya sedikit, menunggu perhatian para tamu.“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Anda semua. Setiap kontribusi malam ini akan menjadi harapan bagi mereka yang m







