MasukDavid berjalan cepat mengikuti anak buahnya beberapa ratus meter dari lokasi pertama. Mobil kedua terlihat ditinggalkan dalam posisi pintu terbuka. Kondisinya ringsek parah setelah menabrak pohon besar. Kaca depan pecah total. Bekas tembakan terlihat jelas di body mobil dan darah segar terlihat berceceran di aspal.Mobil kosong, tidak ada siapapun di dalamnya bahkan mayat sekalipun. David berhenti tepat di depan mobil itu.Tatapannya perlahan berubah kacau.“Tidak…” gumamnya pelan.Ia menyugar rambutnya kasar, mencoba berpikir dan menganalisa situasi.Satu mobil terbakar dengan empat jenazah. Satu mobil kosong penuh darah. Celina dan Daniel menghilang.David menendang keras pintu mobil ringsek itu sampai berbunyi nyaring.“SIALAN!”Semua orang langsung diam. David berjalan mundur beberapa langkah sambil mengusap wajahnya frustasi. Ia tidak tahu bagaimana keadaan Celina—hidup atau mati.Tidak tahu siapa yang membawa atau melindunginya. Apakah Daniel atau justru Celina jatuh ke tangan
David berdiam diri di ruang kerjanya di malam yang rasanya begitu panjang. Sejak kepergian Celina, ia terus mengurung diri dalam ruangan menunggu kabar keberadaan Celina. Daniel menyangkal mengetahui keberadaan istrinya itu. Tapi David tak percaya begitu saja. Ia menempatkan orang-orang terbaiknya di sekitar apartemen mewah adiknya itu dan terus memantau lokasi-lokasi yang mungkin didatangi Celina. Ponsel canggihnya tak pernah jauh dari David. Menunggu kabar tentang jejak Celina. Seperti saat ini, sudah satu jam David menunggu laporan berkala dari Steve. Ia berdiri di depan jendela besar, satu tangan berada di saku celana sementara tangan lainnya menggenggam gelas whiskey yang sejak tadi bahkan belum disentuh. Pintu terbuka tanpa ketukan membuat David menoleh cepat. “Tuan.” Steve masuk dengan napas sedikit terburu. “Ada kabar baru?” Steve mengangguk cepat. “Informan kita menemukan lokasi Nyonya Celina.” Untuk sesaat, David membeku. Seolah tubuhnya lupa cara bernafas. “Kataka
Daniel terlihat tegang, ia membuka kaca jendela dan mengarahkan senjatanya ke arah mobil Van hitam di depan mereka. “Lebih dekat lagi!” ujar Daniel dingin. Mobil mereka menyalip satu kendaraan di tikungan tajam. Mobil melaju semakin kencang di jalanan sempit, dan gelap, yang hanya diterangi lampu kendaraan. Van di depan mencoba zig-zag, menghindari tembakan lurus. “Dia makin dekat!” panik salah satu pria di dalam van. “Singkirkan dia!” bentak yang lain. Kaca jendela belakang van dibuka. Mereka menembaki tanpa jeda. DOR! DOR! DOR! Peluru menghantam jalan di depan mobil Daniel, memercikkan aspal. “Sial,” gumam sopir Daniel sambil memutar setir menghindar. Daniel tetap tenang dan kembali membidik. “Dekati lagi.” Mobil mereka kembali menempel. Daniel kembali membidik. Matanya fokus pada ban belakang van. DOR! Ban belakang van meledak. Kendaraan itu oleng. “Oh, SIAL!!” teriak pengemudi van panik. Van berputar setengah, hampir kehilangan kendali, sebelum akhirny
Irene terdiam beberapa saat setelah Daniel menutup panggilannya. Ia menoleh ke pondok kayu berpikir sejenak. Pertemuannya dengan Celina membuat bara yang tak kunjung padam di hatinya.“Dia pasti datang untuk wanita sialan itu.” Ucapnya pelan merancang strategi.“Kau, hubungi Rafael. Kita mendapatkan subjek baru. Perintahkan untuk segera menjemput mereka.” perintahnya tenang tanpa berkedip.“Nona, bagaimana dengan Ethan?” salah satu anak buahnya bertanya.“Bawa dia, kita masih membutuhkannya saat ini.”“Berapa lama waktu yang dibutuhkan mereka untuk tiba disini?” Tanya Irene.“Sekitar empat sampai lima jam Nona.”Irene menarik nafas dalam-dalam, rahangnya mengeras. “Itu terlalu lama. Daniel bisa lebih dulu datang.”Wanita cantik itu kembali memutar otak. “Bawa mereka ke Dover. Kita bertemu disana sebelum Rafael datang.”“Baik, Nona.”Irene segera pergi dengan anak buahnya menuju Dover meninggalkan pondok kayu dengan penjagaan ketat.Celina berdiri di dekat jendela besar, nafasnya tidak
“Beritahu Tuan Daniel dan …,”KRAAK!!Suara patahan ranting membuat keduanya terdiam, menunduk cepat dan waspada.Pria di kursi penumpang tadi kini mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Layarnya menyala redup, menerangi sebagian wajahnya.“Lebih baik aku mengirim koordinatnya sekarang.”Jarinya bergerak cepat di layar mengetik pesan.[Latitude. Longitude. Keterangan singkat.Target confirmed. Pine Hollow Lake. Cabin by the water.]Saat ia menekan tombol kirim, alisnya berkerut. “Sial, sinyalnya …,”Suara langkah kaki perlahan mendekat, keduanya semakin waspada. Salah satu dari mereka memberi kode pada dua orang lainnya yang masih berjaga di dalam mobil.“Kalian dengar itu?” bisiknya pelan melalui earpiece.“Arah jam dua,” jawab yang lain cepat.Keempatnya langsung berpencar dengan senjata aktif di tangan. Mata mereka menyapu kegelapan di antara pohon-pohon pinus. Tiba-tiba suasana menjadi begitu sunyi, hanya suara binatang malam yang terdengar terus bersahutan.Salah satu dari merek
Dua orang lelaki mengawasi mansion David dari balik pepohonan sementara dua lainnya duduk diam dengan mata bak elang mengawasi sekitar dari dalam mobil.Mereka berada disana sejak Celina dan David menghilang dari pesta amal. Beberapa saat menunggu akhirnya pergerakan mencurigakan muncul.Dari posisi mereka berjaga, sosok wanita terduga Celina mengendap-endap keluar. Salah satu dari lelaki di mobil menekan ponselnya.“Tuan, sesuai dugaan Anda. Nona Valemont pergi.”Helaan nafas berat terdengar dari seberang sana. “Awasi terus dan jangan bertindak kecuali aku ijinkan.”“Tapi bagaimana jika itu membahayakan Nona?” pria itu kembali bertanya, berjaga dari situasi tak terduga.“Untuk sementara, aku rasa dia aman. Kita harus menunggu sampai mereka mengambil umpan.”“kami mengerti, Tuan.”“Ingat, jaga jarak aman. Aku ingin tahu seberapa jauh dia merencanakan semua ini.” Pesan lelaki dalam hubungan komunikasi jarak jauh itu.Usai mendapat laporan, lelaki itu terdiam cukup lama di depan jendela
“Dokter, akhirnya kau datang juga. Tuan menunggu di kamar.” Steve panik dan cemas saat Dokter Andreas keluar dari lift dengan tenangnya. “Tunggu jelaskan padaku situasinya, Steve.” Dokter Andreas membetulkan letak kacamatanya, lalu memeriksa jam di tangannya. Steve menarik nafas panjang sebelum
Pintu President Suite tertutup di belakang mereka, meredam suara dunia luar. Hening menyapa, yang terdengar hanya suara nafas Celina yang tidak teratur dan detak lambat jam dinding.David menurunkan Celina perlahan diranjang. Erangan lemah terdengar saat luka di dada Celina sedikit tertekan. David
Ditengah keramaian ballroom, seorang wanita muda melangkah mendekati David.Wanita cantik dengan rambut pirang keemasan—ditata rapi dengan hiasan simpel tapi terlihat mewah—berjalan dengan penuh percaya diri. Gaun sutra biru pucat membingkai siluetnya dengan indah dan berkelas. Senyumnya mengemban
Alunan musik dansa mereda, Tuan Eldric melangkah ke podium. Ia mengangkat gelas kristalnya sedikit, menunggu perhatian para tamu.“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Anda semua. Setiap kontribusi malam ini akan menjadi harapan bagi mereka yang m







