LOGINWajah Charlie mendadak sepucat kertas. Matanya melotot menatap Nami yang kini memegangi perutnya sambil membeberkan telapak tangan di atas bibir, menahan gejolak mual yang amat sangat.Belum sempat Charlie melontarkan makian atau bantahan atas celetukan pedas rekan kerjanya, tubuh Nami mendadak limbung. Pandangan gadis itu menggelap seketika akibat beban stres, emosi yang memuncak, dan rasa lelah fisik setelah seharian ditindas di rumah keluarga Young.Brukk!Nami ambruk ke lantai marmer kantor tanpa kesadaran. Suasana kantor yang tadinya gaduh oleh makian dan keributan seketika berubah menjadi jeritan kaget dari beberapa karyawan wanita."Nami! Nami, bangun!" pekik Charlie panik setengah mati. Rasa malu yang tadi membakar ubun-ubunnya mendadak berganti menjadi rasa takut luar biasa. Jika terjadi apa-apa pada Nami di ruang publik seperti ini, karier dan reputasinya benar-benar akan tamat malam ini juga.Dengan tangan gemetaran, Charlie mengangkat tubuh Nami yang terkulai lemas ke dala
Selena memutar tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyum penuh cemoohan yang teramat menohok sebelum melangkah pergi meninggalkan kediaman Pramoedya yang dicekat keheningan mencekam.Di dalam rumah, amarah Nami sudah membakar habis sisa akal sehatnya. Merasa dipermalukan habis-habisan di depan orang tuanya, ditambah tatapan kecewa sekaligus murka dari sang ayah, membuat dada Nami terasa mau meledak. Ia tidak bisa tinggal diam. Tanpa memedulikan penampilannya yang masih berantakan, gaun lusuh, riasan luntur, dan tangan kotor bekas berkebun, Nami menyambar kunci mobilnya dan melesat pergi.Tujuannya cuma satu, kantor tempat Charlie bekerja.Charlie, pria yang dulu direbutnya dari Selena dan kini menjadi sandaran sekaligus kekasih gelapnya, harus bertanggung jawab atas penderitaannya malam ini.Brak!Pintu kaca kantor agensi tempat Charlie bekerja terdorong kasar. Nami menerobos masuk seperti angin puting beliung. Beberapa karyawan yang masih lembur di area open-space langsung terlonjak k
Para tamu undangan yang mengerti situasi rumit tersebut segera berdiri, memberikan penghormatan singkat pada Nyonya Young, Satria, dan Selena, lalu melangkah meninggalkan ruang makan dengan tenang. Mereka cukup bijak untuk tidak mencampuri urusan domestik keluarga Young yang kini berurusan dengan drama keluarga Pramoedya.Meski tak sedikit dari mereka tetap menggunjingkan apa yang terjadi pada saat ini. Mereka semua menyayangkan sikap Nami yang kekanak-kanakan dan sangat jelas terlihat punya karakter yang buruk. Padahal keluarga Pramoedya terkenal dengan sikap sopan dan ramah. Tapi Hari ini, Nami telah mencoreng dan memperlihatkan kesan dan citra buruk di mata semua orang. Secara tidak langsung, Nami telah mempermalukan nama besar keluarganya sendiri. "Satria, kau tenangkan saja ibu mertua. Aku akan pergi menemui keluargaku sebelum Nami bikin ilah lebih parah lagi dari ini," ucap Selena izin pamit pulang menyusul Nami. "Kau mau aku temani?" tawar Satria. Selena menggeleng. "Tidak p
Nami melompat dari kursinya hingga mangkuk porselen di hadapannya terguling, menyiramkan sedikit kuah hangat ke taplak meja yang putih bersih. Wajah gadis itu pucat pasi bagai mayat, kedua matanya terbelalak penuh horor menatap potongan daging yang baru saja diberitahukan Selena sebagai daging ular."Sialan! Kau memang wanita iblis, Selena!" jerit Nami melengking, napasnya memburu cepat. Tubuhnya gemetaran hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau sengaja mau meracuniku, kan? Ibu ... Satria ... lihat dia! Dia memberiku makan ular!""Bukan aku," sanggah Selena dengan gaya polosnya. "Kalau bukan kau, siapa lagi, kau sendiri yang memasak di dapur. Kau sengaja mau membuat kita semua yang ada di sini pindah alam?" bentak Nami masih bergidik ngeri melihat daging ular berserakan di depan matanya. Niat hati ingin menjatuhkan Selena malah dirinya sendiri yang kena mental. "Aku tidak punya niat seperti itu Nami, kau lihat saja sendiri, semua hidangan yang ku suguhkan tidak ada ularnya.
Mata Nami mendadak berbinar gila di balik sisa air matanya. Tiba-tiba saja ada ular air tawar tak sengaja melintas didepannya. Gadis itu langsung berteriak histeris saking kagetnya meski ular tersebut tak berbisa alias tidak berbahaya.Mang Aji yang mendengar suara teriakan Nami bergegas mendekat dan mencoba menjinakkan ular tersebut. Begitu Mang Aji berhasil, ia langsung mengikat mulutnya menggunakan tali kencang sebelum memasukkannya ke dalam karung goni.Kejadian itu membuat otak licik Nami langsung berputar cepat. Rasa takutnya menguap, berganti dengan hasrat membara untuk menghancurkan Selena malam ini juga."Mang, biar aku saja yang buang ularnya," pinta Nami tiba-tiba. "Anda yakin? Bukannya tadi Anda berteriak karena ketakutan melihat ular ini?""Aku pikir tadi ular kobra, ternyata hanya ular sawah. Lagipula, tadi itu aku hanya kaget saja." Nami beralasan. Ia punya niat terselubung terhadap ular sawah dalam karung gini itu. Mang Aji tak curiga, ia menyerahkan karung gini ters
"Halo Kak," sapa wanita muda yang tak lain dan tak bukan adalah Nami. Selena lumayan terpaku, tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia merasa, kedatangan Nami ke rumah keluarga suaminya bukanlah hal yang baik. Pasti Nami mau balas dendam dan cari gara-gara dengannya dengan memanfaatkan ibu mertua Selena sebagi kelemahannya. "Apa yang kau lakukan di sini, Nami?" tanya Selena mencoba bersikap tenang. "Oh, aku merindukan calon ibu mertua walau sekarang sudah jadi ibu mertuamu. Bagaimanapun juga aku pernah jadi calon bagian keluarga ini walau harus direbut olehmu. Makanya aku datang berkunjung, benar, kan ibu?" tanya Nami sambil sok tersenyum ceria. Ia bahkan bergelendot manja di lengan wanita yang paling berkuasa di rumah ini. Selena hampir muntah mendengar ucapan Nami tapi ia berusaha mencoba menahan diri. Jangan sampai ia lepas kendali dan membuat ibu mertuanya semakin membencinya. Saat ini, ia tak tahu apa yang ada dalam pikiran ibu Satria itu. Yang jelas,







