Share

BAB III

Penulis: Shine
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-07 18:36:54

“Apapun yang terjadi, Nona hanya perlu duduk dan dengarkan. Biarkan saya yang bicara,” 

Hari ini adalah hari rapat saham. Ucapan Pak Damian membuatku tak gentar walau mampu membuatku gemetar.

Aku mengangguk, menahan napas saat pintu ruang rapat dibuka. Begitu pintu terbuka, percakapan yang semula ramai langsung mereda. Puluhan mata serempak beralih padaku.

Miranda duduk di kursi utama. Duduk tegak dengan senyum sinis. “Ah, Pak Damian,” sapanya datar. “Kami hampir mulai tanpamu.”

Pak Damian menangguk singkat. Ia menarik kursi di sebelahnya, memberi isyarat halus agar aku duduk.

Miranda menyandarkan punggung, menatapku dari ujung kepala hingga kaki. “Kalau begitu,” katanya sambil menautkan jemari, “mari kita mulai rapatnya. Topik utama rapat ini yaitu penunjukan pimpinan sementara Adikara Group.”

Ia berhenti sejenak, memastikan semua perhatian tertuju padanya.

“Seperti yang kita tahu, perusahaan tidak bisa dibiarkan tanpa arah. Maka, sampai Tama sadar, tanggung jawab ini secara alami jatuh kepada saya—istri sah mendiang.”

Nadanya penuh keyakinan. Terlalu yakin, seolah keputusan sudah dibuat sebelumnya.

Beberapa anggota direksi mengangguk pelan, sebagian lain saling bertukar pandang. Miranda tersenyum kecil, seolah mendapat konfirmasi atas ucapannya sendiri.

“Selama ini, saya sudah mendampingi keluarga Adikara dalam banyak keputusan penting. Saya rasa, tidak ada yang lebih memahami arah perusahaan ini selain saya.”

Pak Damian bersandar tenang di kursinya.

“Tidak diragukan lagi, Bu Miranda memang banyak berjasa,” katanya datar.

Senyum Miranda mengembang. Tapi tak lama—Damian melanjutkan,

“Namun, sebelum memutuskan, saya perlu menyampaikan satu hal yang belum diketahui sebagian besar dewan.”

Damian membuka map di depannya, menarik satu berkas, dan meletakkannya di tengah meja.

“Sesuai wasiat terakhir Pak Ardian, hak kepemilikan sementara dan suara utama dalam rapat ini jatuh kepada keluarga inti Adikara. Dan sejak pagi tadi, posisi itu resmi diwakili oleh Nyonya Tama Adikara.”

Aku menunduk sedikit, jantungku berdebar.

Miranda menatap tajam, nafasnya terdengar berat.

“Kalian…” suaranya rendah, tapi getir. “Kalian menikah tanpa izin dariku?”

Tak ada yang menjawab.

Damian hanya menautkan tangan di depan dada, sementara aku menatap meja, berusaha menahan getar di ujung jariku.

Miranda tertawa pelan—dingin, tidak lucu sama sekali.

“Luar biasa. Jadi semua ini sudah diatur dari awal?”

“Sudah,” jawab Damian tenang. “Atas instruksi mendiang.”

Senyum itu lenyap seketika.

Miranda menatapku, kali ini tanpa kedok manis. “Kau pikir ini cukup untuk membuatmu diterima di sini, Nona?”

Miranda mengepalkan tangan di pangkuan. Lalu meninggalkan ruangan rapat ini menatapnya kebingungan.

**

Sore ini, aku kembali ke rumah utama. Senja begitu cantik. Tapi aku terlalu lelah, bahkan untuk menikmati suasana.  Hari ini terasa panjang sekali. Baju hitamku mulai kusut, tapi aku belum sanggup pulang.

Aku berjalan pelan, menghampiri Tama yang terbaring di balik selimut putih. Sejak pagi tadi, ia dipindahkan dari rawat inap ke rumah utama. Alasannya untuk keselamatannya, katanya.

Separuh wajahnya tertutup perban, ada bekas memar di rahang, dan selang oksigen yang menempel di hidungnya.

Aku menelan ludah. 

Ternyata separah ini kondisinya.

Aku baru menyadarinya, karena sejak kemarin—sampai tadi pagi, pikiranku terlalu penuh untuk memperhatikan secara detail. 

Dulu dia terlihat jauh kugapai, dan sekarang… terlalu rapuh untuk kusentuh.

“Hai?”

Aku bicara pelan, hampir berbisik.

“Aku hari ini nikah.”

Senyumku muncul sebentar. “Sama kamu… lucu, ya?”

“Hmm… Katanya, walau kamu masih gak sadar, tapi masih bisa dengar,” lanjutku. “Jadi aku ngomong aja, ya. Biar kamu nggak bosan.”

Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri.

“Tau gak? Tadi kita nikah gak bilang dulu ke Ibu. Aku tanya Pak Damian, katanya perintah Ayah. Jadilah Ibu marah-marah.”

“Aku selalu takut kalau Ibu marah. Tapi tadi aku berani jawab Ibu, meski cuma dikit.  Kalau dilanjut nanti suaraku gemetar.”

Senyumku miris. “Untung ada Pak Damian, tapi tetep aja… rasanya aneh banget duduk di meja itu. 

Harusnya kamu yang di sana, aku temenin kamu aja.”

Aku menggenggam tangannya, merasakan dingin yang sama seperti sebelumnya.

“Tama. Ayah udah meninggal. Kemarin di pemakaman, banyak orang datang. Tapi semuanya sibuk bicarain perusahaan.”

Aku berhenti sebentar, suaraku pelan sekali. “Kecelakaan itu… ngambil semuanya. Ayah, juga kamu. Kamu masih di sini, tapi kayak… setengahnya hilang.”

Mataku panas. “Awalnya aku ragu, tapi… aku berusaha ngelakuin apa yang Ayah minta. Dan sekarang kamu jadi suami aku.”

Sunyi. 

Aku tersenyum tipis. “Rasanya aneh nyebut kamu suami.”

“Tapi anehnya… aku suka.”

Dari ujung kepala, tak ada noda. Alis dan bulu mata yang rupawan, membuat siapa pun iri. Hidungnya yang mancung dan bibirnya—

Gak.

Sadar, Anya.

Aku menarik napas pelan, tapi tangan ini justru bergerak sendiri. Jemariku menyentuh pelipisnya, turun ke rahangnya yang kaku, hingga berhenti di bibirnya.

Dingin. Tapi masih sama seperti dulu saat dia bicara dengan nada datar yang bikin aku marah setengah mati.

Detik itu, layar monitor berganti ritme—hanya sedikit, tapi cukup bikin jantungku berhenti sepersekian detik.

Aku menatapnya, menahan napas.

Aku membetulkan posisi duduk, mengusap ujung mataku pelan.

“Biasanya orang yang abis nikah langsung honeymoon. Tapi aku duduk di sini, nemenin kamu yang nggak tahu apa-apa. Bahkan kamu sendiri ga tau kalo udah nikah. Iya kan?”

“Dan lagi, aku nggak pake gaun. Cuma pake baju ini, yang dari pagi belum aku ganti.”

Aku menunduk sedikit, tersenyum kaku. “Konyol banget, ya. Aku dulu bahkan nggak berani manggil kamu tanpa mikir panjang. Kayaknya dulu kamu juga gak pernah anggap aku ada. Tapi sekarang aku berani ngoceh panjang.”

Aku memainkan jari-jariku di atas selimut, lalu berbisik, “Aku nggak tahu kamu bisa dengar sejauh apa, Tam. Tapi aku mau kamu tahu satu hal. Aku nggak nikah ini karena takut, atau karena disuruh. Aku cuma ngerasa… kalau aku ninggalin kamu sekarang, kamu sama siapa?”

“Dan juga… Setelah Ayah pergi, rasanya aku belum siap untuk sendiri di dunia ini. Meskipun kamu tidur, tapi kamu masih disini.”

Bip. 

Bunyi monitor berdetak pelan.

Aku tersenyum kecil, mengangkat kepalaku menatap wajahnya yang tenang.

“Eh, jangan kepedean dulu. Aku nggak tiba-tiba suka kamu, ya!”

“Aku cuma… ingin kamu tahu, kamu nggak sendirian. Dan aku pun ga sendiri. Iya kan?”

Aku menghela napas panjang, lalu menyandarkan dagu di punggung tanganku yang masih menggenggam jarinya.

“Kalau kamu sadar nanti, aku nggak tahu harus mulai dari mana. Manggil kamu apa, misalnya. Kak Tama? Mas Tama? Atau… cuma ‘kamu’ aja?”

“Atau suami–?”

Tapi detik berikutnya, sesuatu berubah.

Bip. 

Nada mesin pelan itu melambat—lalu naik sepersekian detik, cepat, tak beraturan.

Aku refleks menatap layar monitor, lalu ke wajahnya.

Kelopak matanya… bergerak sedikit. Hampir tak kelihatan.

“Tama?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikahi Kakakku yang Koma   XXXVIII

    Semilir angin malam terasa dingin.Butiran air hujan turun perlahan, suara katak bersautan.Aku duduk di kursi tua di teras rumah, membiarkan ujung kakiku terkena cipratan air hujan.Di rumah Tama, semuanya berlapis marmer yang mahal dan dingin. Di sini, semuanya terasa nyata dan jujur."Minum ini dulu," Tante Ratna meletakkan secangkir cokelat panas di meja kayu kecil.Aku tidak langsung menyentuhnya. Mataku masih tertuju pada pagar besi yang catnya mulai mengelupas.“Tante tak akan bertanya?” tanyaku.Tante Ratna duduk di sampingku.“Tentang kau yang datang dengan basah kuyup?” ia menggenggam tangaku.Aku terdiam."Kenapa Ayah dulu membawaku, Tante? Apa Tante tahu alasannya?" tanyaku lagi, tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya. "Tuan Ardian melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, Anya. Dia selalu bilang, kau punya ketulusan yang tidak bisa dibeli dengan saham mana pun. Dia ingin ketulusan itu tetap ada di keluarga Adikara."Aku meringis.“Ternyata memang sejak awal, aku han

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB XXXVII

    Pagi itu, suara gerimis mengetuk kaca jendela. Aku terbangun dengan rasa berat di kepala. Di sampingku, Tama sudah duduk di tepian ranjang, memunggungiku sambil mengenakan jam tangan peraknya. Dari ujung mataku, kulihat Tama berbalik."Anya, kau sudah bangun?"Aku hanya bergumam pendek, tak berniat menjawabnya."Bersiaplah. Sarapan sudah siap di bawah. Kita berangkat tiga puluh menit lagi," ucapnya tenang.Aku menarik napas perlahan, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba datang. "Aku tak akan ikut hari ini,” jawabku sambil kembali menarik selimut. "Kenapa? Kau sakit?""Kepalaku sedikit pusing," jawabku datar. Aku tetap tak menatapnya, memalingkan wajah ke samping.Tama mendekat, punggung tangannya menyentuh keningku– dingin dan tegas. "Kau tidak demam. Mau kupanggilkan Dokter Lee?""Tidak usah. Aku hanya butuh istirahat di rumah. Sendiri."Ada jeda panjang sebelum dia menjawab. Aku tahu dia sedang menimbang, mungkin menghitung risiko jika 'variabelnya' tidak berada dalam j

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB XXXVI

    Pintu ruang kerja terbuka. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu Tama. Langkah kakinya punya irama yang khas—mantap, berwibawa, dan selalu terdengar seperti seseorang yang tahu persis ke mana dia melangkah. Aku tetap menunduk, pura-pura merapikan tumpukan majalah di meja sudut, padahal jemariku hanya bergerak tanpa arah."Rapatnya selesai. Semuanya berjalan sesuai rencana," ucapnya. Suaranya terdengar lebih ringan, ada nada puas yang terselip di sana.Dahulu, nada itu akan membuatku ikut lega. Tapi sekarang, kata 'rencana' terdengar seperti dentum lonceng di kepalaku. Rencana. Investasi. Variabel.Aku menghela napas dalam sebelum berdiri.Kulirik wajahnya sekilas, memaksakan senyum tipis yang kurasa tidak sampai ke mata. "Syukurlah. Kamu pasti lelah."Tama mendekat. Dia mengulurkan tangan, hendak mengusap bahuku atau mungkin merapikan rambutku.Aku membungkuk– sengaja. Berpura-pura tak melihatnya, merapikan meja yang sedikit berantakan. Tangannya tertahan di udara, hanya meny

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB XXXV

    Suara langkah kaki serta bisik-bisik staf bercampur jadi satu. Semua orang sibuk menyiapkan berbagai dokumen rumit yang tak kupahami.Rapat audit.Sesuatu yang dibahas Miranda pagi tadi– sumber dari segala kesibukan dan kemarahannya.Tama duduk di meja kerjanya, sibuk menandai berkas dengan teliti. Aku mengamatinya.Garis-garis di kertas, gerakan tangan yang berulang, napasnya yang tenang tapi penuh fokus. “Kau butuh sesuatu?” tanyaku sambil melangkah mendekat.Ia menoleh sekilas, matanya tetap menatap dokumen. “Tidak. Hanya memastikan semuanya siap.”Aku mengangguk, dan kembali duduk di sofa. Tama menutup map hitamnya perlahan, lalu mengecek jam di pergelangan tangannya.Ia kemudian berdiri, merapikan jas hitamnya yang sedikit kusut.“Ayo,” nada suaranya datar.“Ikut aku,” ia mengulurkan tangannya. Aku terdiam sejenak, ragu.“Tama,” panggilku pelan, “aku tak akan ikut.”Ruangan hening sesaat.“Kenapa?” tanyanya singkat.“Rapat audit,” jawabku tenang. “Aku tidak punya posisi ap

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB XXXIV

    Gedung Adikara tidak berubah.Lorong yang sama. Cahaya putih yang sama. Lantai marmer yang selalu terlalu bersih. Tapi, tatapan dari karyawan berbeda dari kali terakhir.Saat itu, aku menopang tubuh Tama. Namun kini, ia menggenggam tanganku.Kami berjalan bersama, menuju ruang kerjaTama di lantai atas, tepat di sebelah ruang kerja Ayah.Tama membuka pintu ruang kerjanya yang luas, lalu menahan pintu itu untukku. "Masuklah."Ruangan ini terasa familiar.Meja kerja besar menghadap jendela. Kursi kulit gelap. Rak dokumen tersusun rapi. Tak ada foto. Tak ada benda pribadi yang mencolok.Persis seperti kamarnya dahulu– sebelum ku dekorasi ulang. Aku memilih kursi yang menghadap jendela. Dari sana, aku dapat melihat langit yang cukup cerah hari ini. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku terlalu sering mengamati langit.Tama mengambil beberapa map dari mejanya, kemudian duduk di sampingku.Tangannya sibuk membolak-balik kertas, membaca satu laporan ke laporan lain.Aku mengamatinya. T

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB XXXIII

    Malam datang lagi.Namun suasana di rumah agak berbeda kali ini.Langkah-langkah asing, suara alat, dan bisikan singkat para teknisi yang bergerak dari satu sudut ke sudut lain. Lampu-lampu menyala lebih terang dari biasanya. Beberapa kabel terlihat terbuka, lalu menghilang kembali ke balik dinding.Aku memperhatikan dari kejauhan. Tidak ikut campur. Tidak juga bertanya terlalu banyak. Tama masih bersama teknisi. Suaranya tidak terdengar jelas, hanya potongan-potongan pendek yang cukup untuk membuatku tahu: ia sedang fokus.Aku berjalan pelan, tanpa tujuan yang jelas, sampai mataku menangkap sesuatu di atas meja kecil dekat tangga— secarik kertas kosong di bawah tumpukan buku. Entah milik siapa. Entah sejak kapan ada di sana. Aku mengambilnya, ragu sejenak, lalu menulis singkat.Aku ke balkon. Jangan khawatir.Aku meninggalkan catatan itu di kamar, di atas meja di samping ranjang Tama. Seharusnya dia melihatnya nanti.Lalu aku naik ke balkon lantai atas.Udara malam menyambutku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status