Home / Romansa / Menikahi Pewaris Dingin / Bab 10: Sarapan dengan Sang Patriark

Share

Bab 10: Sarapan dengan Sang Patriark

Author: SolaceReina
last update Last Updated: 2025-10-20 21:27:35

Clara terbangun pukul lima pagi dengan jantung berdebar. Mimpi buruk tentang pernikahan yang gagal terus menghantuinya sepanjang malam. Dia bermimpi berdiri di altar sendirian, dengan tamu-tamu yang menertawakannya.

Dia bangkit dari tempat tidur, tubuhnya terasa berat. Mandi dengan air hangat yang seharusnya menenangkan tapi tidak berhasil. Memilih pakaian dari lemari yang masih setengah kosong. Akhirnya dia mengenakan dress sederhana berwarna krem. Tidak terlalu formal tapi tetap sopan untuk bertemu kakek Alex.

Clara berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap pantulannya. Wajahnya pucat. Ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan dengan concealer tipis.

"Kamu harus kuat," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. "Tinggal satu hari lagi. Satu hari lagi dan semuanya akan selesai."

Tapi sebenarnya, semuanya baru akan dimulai.

Pukul enam tiga puluh, Clara turun ke lantai bawah. Apartemen itu terasa lebih sepi di pagi hari. Tidak ada suara apa pun kecuali detak jam dinding.

Alex sudah ada di ruang makan. Dia mengenakan kemeja putih dengan celana bahan hitam. Rambutnya rapi. Wajahnya segar, tidak seperti Clara yang terlihat seperti mayat hidup.

"Kau bangun," kata Alex tanpa mengangkat kepala dari tablet yang sedang dia baca.

"Pagi," jawab Clara pelan.

"Kita berangkat jam tujuh kurang seperempat. Jangan sampai terlambat."

Clara duduk di ujung meja yang jauh dari Alex. Bu Tari datang membawakan sarapan. Roti panggang. Telur. Jus jeruk segar. Semuanya terlihat lezat tapi Clara merasa tidak berselera.

Dia memaksa diri memakan beberapa suap. Tenggorokannya terasa tersumbat setiap kali menelan.

"Hari ini kakek akan menanyakan banyak hal," kata Alex tiba-tiba. "Tentang kita. Tentang rencana masa depan. Tentang kapan kita ingin punya anak."

Clara hampir tersedak jusnya. "Anak?"

"Tenang saja. Aku sudah siapkan jawaban untuk semua pertanyaan itu." Alex akhirnya menatap Clara. "Kau hanya perlu mengangguk dan tersenyum. Jangan bicara terlalu banyak. Kau mudah ketahuan kalau sedang berbohong."

Clara merasa seperti ditampar. Tapi dia tidak membalas. Apa gunanya?

Pukul tujuh kurang seperempat, mereka berangkat dengan mobil Alex. Sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik. Interior kulit yang berbau mahal. Clara duduk di kursi penumpang, merasakan jarak yang dingin antara mereka meski hanya terpisah beberapa puluh sentimeter.

Alex menyetir dengan fokus. Tidak bicara. Tidak menatap Clara. Seolah Clara hanya bagasi yang harus dia bawa.

Perjalanan memakan waktu dua puluh menit. Mereka tiba di sebuah hotel berbintang lima di kawasan Menteng. Gedung megah dengan lobi yang dipenuhi marmer dan kristal.

"Ingat," kata Alex sebelum turun dari mobil. "Tersenyum. Terlihat bahagia. Jangan buat kakek curiga."

Clara mengangguk. Tangannya gemetar saat membuka sabuk pengaman.

Mereka masuk ke lobi hotel bersama. Alex meraih tangan Clara. Sentuhan yang dingin dan kaku tapi dari luar terlihat seperti pasangan yang mesra.

Clara memaksa senyum di wajahnya. Kakinya terasa berat dengan setiap langkah.

Kakek Alex sudah menunggu di restoran hotel. Dia duduk di meja dekat jendela besar dengan pemandangan taman yang indah. Mengenakan setelan abu-abu yang mahal. Wajahnya keras tapi matanya tajam.

"Alex! Clara!" Kakek Adam berdiri, tersenyum lebar. "Akhirnya kalian datang!"

Alex melepaskan tangan Clara untuk memeluk kakeknya. Pelukan singkat yang kaku. Lalu Clara juga harus memeluk Kakek Adam. Tubuh pria tua itu terasa keras dan berbau parfum yang kuat.

"Selamat pagi, Kakek," kata Clara dengan suara yang berusaha terdengar ceria.

"Selamat pagi, calon cucuku!" Kakek Adam tertawa. "Besok lusa kau akan resmi jadi bagian dari keluarga Anggara. Senang sekali aku!"

Mereka duduk. Pelayan datang mengambil pesanan. Kakek Adam memesan banyak makanan. Alex hanya memesan kopi hitam. Clara memesan teh.

"Kalian berdua terlihat serasi," kata Kakek Adam sambil menatap mereka bergantian. "Tapi kenapa wajahmu pucat, Clara? Apa kau sakit?"

Clara terkejut. "Tidak, Kakek. Saya hanya... kurang tidur. Deg-degan memikirkan pernikahan besok lusa."

Kakek Adam tertawa. "Wajar! Semua pengantin pasti deg-degan. Tapi percayalah, setelah menikah, semua akan terasa lebih tenang."

Clara memaksa senyum. Kalau saja Kakek Adam tahu kebenaran di balik pernikahan ini.

"Jadi," Kakek Adam melanjutkan setelah makanan datang, "kalian sudah merencanakan bulan madu? Aku punya villa di Bali. Kalian bisa pakai gratis."

Alex menjawab dengan tenang. "Terima kasih, Kakek. Tapi kami pikir bulan madu bisa ditunda dulu. Perusahaan sedang ada proyek besar yang harus aku awasi."

Kakek Adam mengerutkan dahi. "Alex, ini pernikahan. Masa kau lebih mementingkan pekerjaan?"

"Bukan begitu, Kakek," Clara tiba-tiba bicara. Suaranya keluar lebih tenang dari yang dia duga. "Saya yang minta Alex untuk fokus dulu ke pekerjaannya. Bulan madu bisa kapan saja. Tapi proyek besar tidak bisa ditunda."

Kakek Adam menatap Clara dengan tatapan yang menilai. Lalu dia tersenyum. "Kau wanita yang pengertian, Clara. Alex beruntung dapat istri sepertimu."

Clara tersenyum kembali. Di dalam hatinya, dia merasa mual.

Sarapan berlanjut dengan berbagai pertanyaan dari Kakek Adam. Tentang rencana masa depan mereka. Tentang apakah Clara akan berhenti bekerja setelah menikah. Tentang kapan mereka berencana punya anak.

Alex menjawab sebagian besar pertanyaan dengan tenang. Clara hanya mengangguk dan sesekali menambahkan komentar singkat. Seperti yang diminta Alex, dia tidak bicara terlalu banyak.

"Kalian tahu," kata Kakek Adam sambil menyeruput kopinya, "aku dulunya tidak yakin Alex akan menikah. Dia selalu menolak semua wanita yang aku kenalkan."

Clara merasakan tubuhnya menegang.

"Tapi begitu bertemu Clara, dia langsung berubah." Kakek Adam menatap Alex dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku sangat senang, Alex. Sangat senang kau akhirnya menemukan seseorang yang kau cintai."

Alex tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.

Clara menatap piring di depannya. Merasa seperti pengkhianat yang duduk di meja ini, mendengarkan harapan tulus dari pria tua yang tidak tahu dia sedang dibohongi.

"Oh ya," Kakek Adam mengambil amplop tebal dari tas di sampingnya. "Ini hadiah pernikahan dari kakek."

Dia memberikan amplop itu pada Alex. Alex membukanya. Di dalam ada sebuah dokumen legal yang tebal.

"Itu adalah surat pengalihan lima persen saham A&A Group atas namamu, Alex." Kakek Adam tersenyum. "Sekarang kau resmi jadi pemegang saham mayoritas. Posisimu sebagai CEO tidak akan bisa diganggu gugat lagi."

Alex terdiam. Matanya menatap dokumen itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Terima kasih, Kakek," katanya pelan.

"Kau pantas mendapatkannya." Kakek Adam menepuk bahu Alex. "Kau sudah membuktikan kau siap memimpin perusahaan. Dan sekarang dengan menikah, kau juga membuktikan kau sudah dewasa."

Clara merasakan dadanya sesak. Jadi ini alasannya. Ini kenapa Alex akhirnya mau menerima tawarannya.

Bukan karena dia kasihan pada Clara. Bukan karena dia butuh istri untuk menenangkan kakeknya saja.

Tapi karena ada saham. Ada kekuasaan. Ada kendali penuh atas perusahaan.

Clara adalah alat untuk mencapai tujuan itu.

Dan dia terlalu bodoh untuk menyadarinya sejak awal.

Sarapan berakhir pukul sembilan. Kakek Adam pamit untuk mengurus persiapan resepsi. Meninggalkan Alex dan Clara sendirian di meja itu.

Keheningan menggantung berat di antara mereka.

"Lima persen saham," kata Clara pelan. Suaranya gemetar. "Jadi itu alasanmu."

Alex menatapnya dengan wajah datar. "Apa masalahnya? Kau dapat apa yang kau mau. Aku dapat apa yang aku mau. Ini kontrak yang adil."

"Adil?" Clara hampir tertawa. "Anda menjadikan saya alat untuk mendapatkan kekuasaan. Dan Anda bilang ini adil?"

"Kau yang datang padaku," kata Alex dingin. "Kau yang menawarkan diri. Jangan berpura-pura suci sekarang."

Clara merasakan air matanya hampir keluar. Tapi dia menahannya. Dia tidak akan menangis di depan pria ini lagi.

"Benar," katanya akhirnya. "Anda benar. Saya yang datang. Saya yang menawarkan. Jadi saya tidak berhak marah."

Clara berdiri. "Saya tunggu di mobil."

Dia berjalan keluar dari restoran dengan langkah yang dipaksakan tenang. Tapi begitu sampai di luar, kakinya hampir lemas.

Clara bersandar pada dinding hotel, menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar. Dadanya sesak.

Besok lusa, dia akan menikahi pria yang melihatnya sebagai alat. Sebagai batu loncatan untuk mencapai kekuasaan.

Tidak ada cinta. Tidak ada kehangatan. Tidak ada apa pun.

Hanya kontrak dingin yang mengikat mereka dalam sandiwara yang harus dimainkan seumur hidup.

Atau setidaknya, sampai Alex tidak membutuhkannya lagi.

Clara menutup matanya. Merasakan angin pagi yang sejuk di wajahnya.

"Ayah," bisiknya sangat pelan. "Maafkan aku. Maafkan anakmu yang bodoh ini."

Tapi tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang panjang.

Dan Clara tahu, dia harus menjalani ini sendirian.

Tidak ada yang akan menyelamatkannya.

Tidak ada yang akan memahaminya.

Dia sudah membuat pilihan. Dan sekarang dia harus hidup dengan konsekuensinya.

Apa pun yang terjadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 131: PENGKHIANATAN DI ATAS PENGKHIANATAN

    Asap granat memenuhi ruangan, mengubah aula mewah itu menjadi labirin abu-abu yang mencekam. Broto Sudiro, yang baru saja merasakan kemenangan psikologis atas Alex, tiba-tiba merasakan cengkeraman tangan yang sekeras baja di kerah bajunya."Alex? Apa yang kau lakukan? Helikopter sudah di atas!" Broto terbatuk di tengah asap."Helikopter itu tidak akan menjemputmu, Broto," bisik Alexandre tepat di telinganya. "Clara sudah membajak frekuensi pilotmu. Saat ini, mereka sedang mendarat di markas tim taktis kami."Wajah Broto yang tenang mulai retak. "Kau... kau sudah tahu?""Aku tahu bahwa kau hanyalah parasit yang mencoba mencuri nama ayahku," Alexandre menyentakkan Broto ke tengah lantai marmer yang terbuka. "Selamat datang di akhir permainanmu."Tiba-tiba, pintu depan meledak. Unit Centurions masuk dengan formasi tempur penuh. Namun, mereka tidak menembak Alexandre. Mereka berhenti dan membuka jalan bagi seorang pria yang mengenakan jubah sutra hitam—Target Ke-5 dalam daftar: Hadi Sasmi

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 130: BADAI DI ISTANA MENTENG

    Ruangan yang tadinya mewah kini menjadi labirin asap dan pecahan kristal. Broto Sudiro, meski sudah berumur, bergerak dengan efisiensi seorang predator yang sudah sering melewati upaya pembunuhan. Di sampingnya, Alexandre bertarung dengan amarah yang terpendam—setiap peluru yang ia lepaskan adalah bentuk pelarian dari kenyataan pahit tentang asal-usulnya."Sektor barat ditembus!" teriak pengawal Broto melalui radio sebelum suara tembakan mengakhiri kalimatnya.Tujuh orang tersisa dari daftar 'The Resurrection' telah mengirimkan unit gabungan paling mematikan mereka: The Centurions. Mereka bukan tentara biasa, melainkan tentara bayaran internasional yang dilengkapi dengan penglihatan malam canggih."Alex, ke kiri!" teriak Broto sembari melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang yang mencoba masuk lewat jendela balkon.Alexandre berguling di balik pilar marmer, melepaskan dua tembakan yang melumpuhkan lawan di depannya. "Jangan memberi perintah padaku!" geram Alex."Kau punya insting

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 129: Pakta Perang dan Pengkhianatan Ganda

    Markas rahasia Alex di Berlin terasa dingin dan mencekam. Kekalahan di altar meninggalkan bekas luka yang dalam, bukan hanya di lantai gereja, tetapi juga di harga diri Alex. Kehilangan Elang dan Biarawati Marta, aset terpenting mereka, membuat Alex berada di titik terendah. Alex berdiri di depan peta Mediterania yang terpampang di layar besar. Pulau Triton hanya terlihat sebagai titik kecil, tetapi bagi Clara, itu adalah rumah masa lalunya dan sarang bahaya terbesar. "Pulau Triton," desis Alex, menunjuk koordinat. "Markas besar Sindikat Kriminal Ayahmu. Kau yakin bisa membawaku masuk?" Clara berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian taktis yang dikirimkan Ben. Gaun pengantinnya sudah menjadi abu. "Saya mendesain sistem keamanannya," jawab Clara, suaranya mantap. "Saya tahu pintu belakangnya. Vega tidak akan menduga saya mengkhianati Ayah saya sendiri." Alex menoleh, matanya menatap Clara dalam. "Kau akan menjadi pengkhianat ganda. Mengkhianati Ayahmu untuk menyelamatkan adikku.

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 128: Harga Kegagalan di Altar

    Kekacauan di dalam gedung gereja baru saja berakhir . Tim keamanan Alex sibuk mengurus korban dan membersihkan area. Alex berdiri di altar, di tengah pecahan kaca dan noda darah yang berceceran di tempat seharusnya mereka mengucapkan janji suci mereka kembali untk bersama. Dia gagal. Alex kehilangan kendali atas segalanya: pernikahannya hancur, dan adiknya, satu-satunya aset moralnya, diculik oleh musuh terbesarnya, Vega.Clara mendekati Alex. Alex masih mematung, menatap pintu tempat Vega menyeret Elang."Alex," panggil dengan suara nya yang lembut Clara, suara nya yang ter dendengar sangat lembut.Alex tidak bergerak. Dia kemudian berbalik, matanya merah, dipenuhi kegagalan dan amarah."Ini adalah harga kegagalanmu," desis Alex, menatap Clara. "Kau memancingnya ke sini. Kau yang memberinya kesempatan. Kau yang ingin membuktikan diri di hari pernikahanku."Clara tahu dia benar, tetapi dia tidak akan mundur. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan menyentuh El

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 127: Altar sebagai Jebakan Berdarah

    Gereja tua di Berlin telah dihias mewah, tetapi suasana di ruang ganti Alex terasa seperti bunker militer. Alex mengenakan tuksedo hitam, tetapi di bawahnya, ia mengenakan rompi anti peluru dan pistol tersembunyi."Vega tidak akan datang ke pernikahan," ujar Ben, suaranya dipenuhi keraguan. "Dia akan mengirim anak buahnya.""Vega tahu kendaliku atas Clara adalah inti dari Warisan," desis Alex, menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia harus melihat kehancuranku. Dia akan datang."Alex menoleh kepada Gerry, kepala tim keamanannya. "Pastikan setiap sudut gereja diawasi. Jangan biarkan siapa pun menyentuh Clara. Aku akan menjadi targetnya."Alex tahu, dengan mengumumkan pernikahan ini secara global, dia telah menjadikan dirinya target utama Vega. Namun, dia ingin Vega melihat **betapa posesifnya dia terhadap Clara, bahkan di tengah bahaya.Sementara itu, di ruang ganti Clara.Clara mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana, memilih gaun yang mencerminkan kesepakatan polos mereka (cin

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 126: Cincin Polos dan Bayangan di Berlin

    Clara menatap cincin emas putih polos di telapak tangannya . Ini bukan cincin berlian, melainkan simbol jujur dari hukuman Alex: pernikahan tanpa klausul pelepasan, ikatan selamanya."Kita akan menikah di Berlin," ujar Alex, nadanya final. "Gereja kecil, hanya kita, Elang, dan Ben. Sisanya akan melihat pernikahan kita di berita. Pemberitahuan formal kepada dunia bahwa kau adalah Nyonya Anggara sejati."Clara mengangguk. "Dan setelah itu, kita bawa Ayahmu dan Elang ke tempat yang aman. Kita perlu rehabilitasi penuh untuk Tuan Anggara. Hanya Elang yang bisa membantunya memulihkan diri dari trauma yang dipaksakan Ibunya."Alex memeluk Clara. Pelukannya kini terasa berbeda, ada unsur kelegaan dan rasa terima kasih yang mendalam, meskipun posesifnya tidak pernah hilang."Kau menyelamatkan keluargaku," bisik Alex, mencium kening Clara. "Aku tidak akan pernah melupakan itu. Tapi ingat, Nyonya Anggara. Aku Jangkar-mu. Kau akan selalu kembali padaku."Seminggu kemudian, Berlin.Suasana tenang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status