Home / Romansa / Menikahi Pewaris Dingin / Bab 2: Pencarian Tanpa Harapan

Share

Bab 2: Pencarian Tanpa Harapan

Author: SolaceReina
last update Last Updated: 2025-09-11 14:52:52

Clara duduk di bangku taman dekat restoran, masih belum sanggup pulang. Jalanan di depannya ramai dengan mobil yang lewat, lampu merah dan kuning berkilauan seperti bintang jatuh. Tapi Clara tidak melihat apa-apa. Pikirannya kosong dan penuh pada saat bersamaan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Mira.

*"Kamu ke mana? Sudah mau potong kue nih!"*

Clara menatap layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak lambat mengetik balasan.

*"Maaf, ada urusan keluarga mendadak. Selamat ulang tahun, Mir. Maaf banget."*

Dia menekan tombol kirim, lalu mematikan ponselnya. Tidak sanggup melihat balasan Mira yang pasti akan penuh pertanyaan.

Angin malam berhembus, membawa aroma knalpot dan makanan dari warung pinggir jalan. Clara memeluk tubuhnya sendiri. Dingin. Atau mungkin hanya perasaannya saja.

Satu bulan.

Bagaimana mungkin dia bisa menemukan pria yang mau berpura-pura jadi tunangannya dalam waktu sesingkat itu? Pria seperti apa yang mau melakukan hal gila seperti itu?

Clara mengambil ponselnya lagi, menyalakannya. Jari-jarinya membuka aplikasi I*******m, scrolling tanpa tujuan. Hanya butuh pengalihan. Apa saja yang bisa membuatnya berhenti memikirkan tatapan serakah Tuan Hendra dan senyum dingin Paman Robert.

Feed-nya penuh dengan foto-foto teman yang bahagia. Liburan ke pantai. Foto makanan. Selfie dengan pacar. Semuanya terlihat sempurna, seperti hidup mereka tidak pernah punya masalah.

Clara terus scrolling.

Lalu jarinya berhenti.

Sebuah artikel muncul di timeline-nya. Foto seorang pria berjas hitam memenuhi layar. Wajahnya tampan tapi dingin, seperti dipahat dari es. Matanya tajam, menatap kamera dengan tatapan yang tidak ramah.

**"Pewaris A&A Group Kembali Tolak Lamaran dari Keluarga Konglomerat"**

Clara menatap foto itu lebih lama. Ada sesuatu tentang wajah pria itu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan.

Alex Anggara.

Nama itu terasa familiar di telinganya. Clara ingat ayahnya dulu sering menyebut nama A&A Group dengan nada tidak suka. Perusahaan raksasa yang selalu jadi rival bisnis Arta Group. Mereka selalu bersaing memperebutkan proyek besar, tender pemerintah, kontrak dengan investor asing.

Tapi sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu, persaingan itu berakhir. A&A Group semakin besar, semakin kuat. Sementara Arta Group perlahan tenggelam dalam hutang dan korupsi Paman Robert.

Clara membaca artikel itu perlahan, kata per kata.

*"Alex Anggara, pewaris tunggal A&A Group, kembali menolak lamaran dari keluarga pengusaha properti terkemuka. Ini adalah penolakan kelima dalam dua tahun terakhir. Sumber dari dalam keluarga Anggara menyebutkan bahwa Alex tidak tertarik pada hubungan romantis dan lebih fokus pada bisnis."*

Clara scrolling ke bawah.

*"Namun, tekanan dari kakeknya, Tuan Besar Adam Anggara, semakin kuat. Kakek Alex dikabarkan memberikan ultimatum: jika Alex tidak menikah dalam waktu dekat, posisinya sebagai pewaris tunggal bisa terancam."*

Clara berhenti membaca. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Dia membaca kalimat terakhir itu lagi. Dan lagi.

*"Jika Alex tidak menikah dalam waktu dekat, posisinya sebagai pewaris tunggal bisa terancam."*

Sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya. Ide yang gila. Tapi mungkin bisa berhasil.

Alex butuh istri untuk menenangkan kakeknya. Dia butuh suami untuk membatalkan perjodohan dengan Tuan Hendra.

Ini bisa cocok. Ini bisa bekerja.

Tapi bagaimana caranya mendekati pria seperti Alex Anggara? Pria yang tidak pernah terlihat tertarik pada siapa pun? Pria yang dingin dan arogan, menurut semua artikel yang Clara baca?

Clara terus membaca artikel-artikel lain tentang Alex. Semakin banyak dia membaca, semakin dia merasa ini adalah satu-satunya jalan keluarnya.

Pukul sebelas malam, Clara akhirnya pulang ke apartemen kecilnya. Ruang tamu yang sempit, sofa lama yang sudah amblas di satu sisi, dapur mungil yang hanya muat untuk satu orang. Ini rumahnya sejak dia pindah dari rumah keluarga setelah ayahnya meninggal. Rumah keluarga itu sekarang dikuasai Paman Robert.

Clara mandi cepat, berganti pakaian, tapi tidak bisa tidur. Dia duduk di kasur, laptop di pangkuannya, mencari segala informasi tentang Alex Anggara.

Foto-fotonya kebanyakan formal. Acara bisnis. Konferensi pers. Peresmian gedung. Tidak ada foto pribadi. Tidak ada foto dengan teman. Tidak ada foto dengan keluarga kecuali kakeknya.

Alex terlihat selalu sendiri. Selalu dingin. Selalu menjaga jarak.

Clara menemukan jadwal acara publik yang akan dihadiri Alex. Ada lelang amal besok malam di Hotel Mulia. Acara eksklusif untuk kalangan bisnis.

Ini kesempatannya.

Tapi bagaimana caranya masuk ke acara seperti itu? Clara bukan siapa-siapa di dunia bisnis sekarang. Arta Group hampir bangkrut. Namanya tidak lagi punya bobot.

Clara mengambil ponselnya, menelepon seseorang yang mungkin bisa membantu.

"Halo?" Suara mengantuk menjawab setelah nada dering kelima.

"Dina, maaf mengganggu malam-malam."

"Bu Clara?" Dina, asisten pribadinya yang masih setia bekerja meski gajinya sering telat. "Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?"

"Aku butuh bantuanmu. Besok ada lelang amal di Hotel Mulia. Aku harus masuk ke sana. Bisakah kamu carikan cara?"

Hening sebentar. "Itu acara eksklusif, Bu. Hanya undangan. Dan tiketnya jutaan rupiah per orang."

"Aku tahu. Tapi kumohon, Dina. Ini penting. Sangat penting."

Dina menghela napas. "Biar saya coba hubungi kenalan saya yang kerja di event organizer. Tapi saya tidak janji ya, Bu."

"Terima kasih, Dina. Terima kasih banyak."

Clara menutup telepon. Dia menatap langit-langit kamarnya yang retak di beberapa bagian. Semua ini terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada habisnya.

Tapi dia harus mencoba. Dia tidak punya pilihan lain.

---

Pagi datang terlalu cepat. Clara tidak tidur sama sekali. Matanya perih, kepalanya pusing. Tapi dia bangkit dari kasur, mandi, dan bersiap pergi ke kantor.

Kantor Arta Group terletak di gedung tua di kawasan Kuningan. Gedung yang dulunya megah, tapi sekarang terlihat usang. Cat dindingnya mengelupas. Lift sering rusak. AC tidak dingin.

Clara naik ke lantai lima dengan lift yang berbunyi keras. Begitu pintu lift terbuka, dia disambut oleh koridor sepi. Dulu koridor ini ramai dengan karyawan yang hilir mudik. Sekarang hanya ada beberapa orang yang masih bertahan.

Ruang kerjanya kecil, penuh dengan tumpukan dokumen. Laporan keuangan. Surat ancaman dari kreditur. Tagihan yang belum dibayar. Semua bukti kehancuran perusahaan ayahnya.

Clara duduk di kursinya, menatap tumpukan kertas itu dengan perasaan lelah yang dalam.

Pintu ruangannya terbuka. Dina masuk dengan wajah cerah.

"Bu Clara, saya dapat tiket!" Dina menutup pintu di belakangnya. "Kenalan saya bisa kasih satu tiket untuk lelang amal malam ini. Tapi harganya... lima juta rupiah."

Clara menelan ludah. Lima juta. Uangnya hampir habis. Tapi ini investasi. Ini jalan keluarnya.

"Baiklah. Transfer sekarang."

Dina tersenyum. "Sudah saya bayar duluan, Bu. Nanti bisa ganti saya kalau sudah ada uang."

Clara merasakan matanya memanas. "Terima kasih, Dina. Aku berutang banyak padamu."

"Sama-sama, Bu. Saya percaya pada Ibu."

Setelah Dina pergi, Clara membuka lemari kecil di sudut ruangannya. Di dalamnya tergantung beberapa pakaian formal yang jarang dia pakai. Dia mengambil gaun hitam panjang yang dulu dia beli untuk acara gala perusahaan beberapa tahun lalu.

Gaun itu masih bagus. Elegan. Sederhana tapi berkelas.

Clara menatap gaun itu, merasakan jantungnya berdegup cepat.

Malam ini, dia akan bertemu Alex Anggara. Malam ini, dia akan mengajukan tawaran gila yang mungkin akan ditolak mentah-mentah.

Tapi dia harus mencoba.

Ini satu-satunya harapannya.

---

Malam tiba dengan langit gelap tanpa bintang. Clara berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, merapikan rambutnya yang dia ikal sedikit. Makeup tipis, tidak terlalu menor. Dia harus terlihat profesional, bukan putus asa.

Gaun hitam membalut tubuhnya dengan pas. Sepatu hak tinggi membuatnya terlihat lebih percaya diri, meski sebenarnya kakinya gemetar.

Clara menatap pantulan dirinya. Wajahnya pucat. Mata bengkak karena tidak tidur. Tapi dia memaksa dirinya tersenyum.

"Kamu bisa," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. "Kamu harus bisa."

Pukul tujuh malam, Clara tiba di Hotel Mulia. Gedung megah dengan lampu-lampu yang berkilauan seperti istana. Deretan mobil mewah parkir di depan pintu masuk. Orang-orang berpakaian mahal hilir mudik.

Clara turun dari taksi online, merasa seperti ikan kecil di tengah lautan hiu.

Dia berjalan masuk dengan langkah yang dipaksakan percaya diri. Menunjukkan tiket pada petugas di pintu. Petugas itu memeriksa tiketnya sebentar sebelum mengangguk dan membukakan pintu.

Ballroom Hotel Mulia terasa seperti dunia lain. Lampu kristal besar bergantungan di langit-langit. Musik klasik mengalun lembut dari speaker tersembunyi. Meja-meja bundar penuh dengan makanan mewah. Orang-orang berbincang dengan gelas wine di tangan.

Clara berjalan pelan, mata mencari-cari sosok Alex.

Lalu dia melihatnya.

Alex berdiri di sudut ruangan, berbicara dengan beberapa pria berjas. Tingginya sekitar 185 cm. Postur tubuhnya tegap, bahu lebar. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung. Tapi yang paling mencolok adalah ekspresinya.

Dingin. Tanpa emosi. Seperti patung.

Clara menarik napas dalam. Jantungnya berdegup keras di dada.

Ini sekarang atau tidak sama sekali.

Dia melangkah mendekati Alex dengan kaki yang terasa berat. Setiap langkah seperti memaksanya lebih dekat ke tebing.

"Tuan Alex?"

Alex menoleh. Matanya yang gelap menatap Clara dengan tatapan tajam, menilai, menganalisis. Tidak ada kehangatan di sana. Hanya keingintahuan dingin.

"Ya?"

Suaranya dalam, datar. Seperti tidak peduli dengan siapa pun yang mengganggunya.

Clara mengulurkan tangannya. "Saya Clara. Clara Wijaya. Dari Arta Group."

Alex menatap tangan Clara tanpa menjabatnya. Tatapannya bergerak dari tangan Clara ke wajahnya, lalu kembali ke matanya.

"Arta Group yang hampir bangkrut itu?"

Kata-katanya seperti tamparan. Tapi Clara menahan diri untuk tidak bereaksi. Dia menurunkan tangannya perlahan.

"Ya," jawabnya tegas. "Tapi saya punya tawaran yang mungkin menarik untuk Anda."

"Saya tidak tertarik pada tawaran dari perusahaan yang sekarat."

Alex berbalik, hendak kembali berbicara dengan pria-pria di sampingnya.

"Ini soal masalah suksesi Anda."

Alex berhenti. Tubuhnya menegang sedikit. Pria-pria di sampingnya menatap Clara dengan tatapan curiga.

Alex menoleh kembali, matanya menyipit. "Anda punya dua menit."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 131: PENGKHIANATAN DI ATAS PENGKHIANATAN

    Asap granat memenuhi ruangan, mengubah aula mewah itu menjadi labirin abu-abu yang mencekam. Broto Sudiro, yang baru saja merasakan kemenangan psikologis atas Alex, tiba-tiba merasakan cengkeraman tangan yang sekeras baja di kerah bajunya."Alex? Apa yang kau lakukan? Helikopter sudah di atas!" Broto terbatuk di tengah asap."Helikopter itu tidak akan menjemputmu, Broto," bisik Alexandre tepat di telinganya. "Clara sudah membajak frekuensi pilotmu. Saat ini, mereka sedang mendarat di markas tim taktis kami."Wajah Broto yang tenang mulai retak. "Kau... kau sudah tahu?""Aku tahu bahwa kau hanyalah parasit yang mencoba mencuri nama ayahku," Alexandre menyentakkan Broto ke tengah lantai marmer yang terbuka. "Selamat datang di akhir permainanmu."Tiba-tiba, pintu depan meledak. Unit Centurions masuk dengan formasi tempur penuh. Namun, mereka tidak menembak Alexandre. Mereka berhenti dan membuka jalan bagi seorang pria yang mengenakan jubah sutra hitam—Target Ke-5 dalam daftar: Hadi Sasmi

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 130: BADAI DI ISTANA MENTENG

    Ruangan yang tadinya mewah kini menjadi labirin asap dan pecahan kristal. Broto Sudiro, meski sudah berumur, bergerak dengan efisiensi seorang predator yang sudah sering melewati upaya pembunuhan. Di sampingnya, Alexandre bertarung dengan amarah yang terpendam—setiap peluru yang ia lepaskan adalah bentuk pelarian dari kenyataan pahit tentang asal-usulnya."Sektor barat ditembus!" teriak pengawal Broto melalui radio sebelum suara tembakan mengakhiri kalimatnya.Tujuh orang tersisa dari daftar 'The Resurrection' telah mengirimkan unit gabungan paling mematikan mereka: The Centurions. Mereka bukan tentara biasa, melainkan tentara bayaran internasional yang dilengkapi dengan penglihatan malam canggih."Alex, ke kiri!" teriak Broto sembari melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang yang mencoba masuk lewat jendela balkon.Alexandre berguling di balik pilar marmer, melepaskan dua tembakan yang melumpuhkan lawan di depannya. "Jangan memberi perintah padaku!" geram Alex."Kau punya insting

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 129: Pakta Perang dan Pengkhianatan Ganda

    Markas rahasia Alex di Berlin terasa dingin dan mencekam. Kekalahan di altar meninggalkan bekas luka yang dalam, bukan hanya di lantai gereja, tetapi juga di harga diri Alex. Kehilangan Elang dan Biarawati Marta, aset terpenting mereka, membuat Alex berada di titik terendah. Alex berdiri di depan peta Mediterania yang terpampang di layar besar. Pulau Triton hanya terlihat sebagai titik kecil, tetapi bagi Clara, itu adalah rumah masa lalunya dan sarang bahaya terbesar. "Pulau Triton," desis Alex, menunjuk koordinat. "Markas besar Sindikat Kriminal Ayahmu. Kau yakin bisa membawaku masuk?" Clara berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian taktis yang dikirimkan Ben. Gaun pengantinnya sudah menjadi abu. "Saya mendesain sistem keamanannya," jawab Clara, suaranya mantap. "Saya tahu pintu belakangnya. Vega tidak akan menduga saya mengkhianati Ayah saya sendiri." Alex menoleh, matanya menatap Clara dalam. "Kau akan menjadi pengkhianat ganda. Mengkhianati Ayahmu untuk menyelamatkan adikku.

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 128: Harga Kegagalan di Altar

    Kekacauan di dalam gedung gereja baru saja berakhir . Tim keamanan Alex sibuk mengurus korban dan membersihkan area. Alex berdiri di altar, di tengah pecahan kaca dan noda darah yang berceceran di tempat seharusnya mereka mengucapkan janji suci mereka kembali untk bersama. Dia gagal. Alex kehilangan kendali atas segalanya: pernikahannya hancur, dan adiknya, satu-satunya aset moralnya, diculik oleh musuh terbesarnya, Vega.Clara mendekati Alex. Alex masih mematung, menatap pintu tempat Vega menyeret Elang."Alex," panggil dengan suara nya yang lembut Clara, suara nya yang ter dendengar sangat lembut.Alex tidak bergerak. Dia kemudian berbalik, matanya merah, dipenuhi kegagalan dan amarah."Ini adalah harga kegagalanmu," desis Alex, menatap Clara. "Kau memancingnya ke sini. Kau yang memberinya kesempatan. Kau yang ingin membuktikan diri di hari pernikahanku."Clara tahu dia benar, tetapi dia tidak akan mundur. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan menyentuh El

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 127: Altar sebagai Jebakan Berdarah

    Gereja tua di Berlin telah dihias mewah, tetapi suasana di ruang ganti Alex terasa seperti bunker militer. Alex mengenakan tuksedo hitam, tetapi di bawahnya, ia mengenakan rompi anti peluru dan pistol tersembunyi."Vega tidak akan datang ke pernikahan," ujar Ben, suaranya dipenuhi keraguan. "Dia akan mengirim anak buahnya.""Vega tahu kendaliku atas Clara adalah inti dari Warisan," desis Alex, menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia harus melihat kehancuranku. Dia akan datang."Alex menoleh kepada Gerry, kepala tim keamanannya. "Pastikan setiap sudut gereja diawasi. Jangan biarkan siapa pun menyentuh Clara. Aku akan menjadi targetnya."Alex tahu, dengan mengumumkan pernikahan ini secara global, dia telah menjadikan dirinya target utama Vega. Namun, dia ingin Vega melihat **betapa posesifnya dia terhadap Clara, bahkan di tengah bahaya.Sementara itu, di ruang ganti Clara.Clara mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana, memilih gaun yang mencerminkan kesepakatan polos mereka (cin

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 126: Cincin Polos dan Bayangan di Berlin

    Clara menatap cincin emas putih polos di telapak tangannya . Ini bukan cincin berlian, melainkan simbol jujur dari hukuman Alex: pernikahan tanpa klausul pelepasan, ikatan selamanya."Kita akan menikah di Berlin," ujar Alex, nadanya final. "Gereja kecil, hanya kita, Elang, dan Ben. Sisanya akan melihat pernikahan kita di berita. Pemberitahuan formal kepada dunia bahwa kau adalah Nyonya Anggara sejati."Clara mengangguk. "Dan setelah itu, kita bawa Ayahmu dan Elang ke tempat yang aman. Kita perlu rehabilitasi penuh untuk Tuan Anggara. Hanya Elang yang bisa membantunya memulihkan diri dari trauma yang dipaksakan Ibunya."Alex memeluk Clara. Pelukannya kini terasa berbeda, ada unsur kelegaan dan rasa terima kasih yang mendalam, meskipun posesifnya tidak pernah hilang."Kau menyelamatkan keluargaku," bisik Alex, mencium kening Clara. "Aku tidak akan pernah melupakan itu. Tapi ingat, Nyonya Anggara. Aku Jangkar-mu. Kau akan selalu kembali padaku."Seminggu kemudian, Berlin.Suasana tenang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status