Share

Bab 8

Penulis: Lyla Veil
last update Tanggal publikasi: 2026-03-24 18:01:59

Tanganku gemetar membuka kancing kemeja Bara, dada kami bersentuhan. Takut ia akan menolak atau malah pergi. Aku segera berjinjit, menciumnya penuh keputusasaan.

“Mas nggak buru-buru soal ini, Dek...” bisiknya parau di sela ciuman kami. Aku makin menenggelamkan wajah di lehernya. Pakaiannya tanggal ke lantai, memamerkan lekuk tubuhnya yang kokoh.

“Aku butuh Mas, sekarang,” bisikku.

Bara menyerah, ia mengangkatku ke pinggangnya lalu membawaku ke ranjang dengan perlahan. Di atas sprei bersih, i
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 48

    Begitu Bara meninggalkanku di kamar. Spontan aku bangkit dari kasur, mencari sesuatu di balik kasur. Tanganku menggapai bawah kasur tapi...Obat itu!Pikiranku langsung terlempar pada kenyataan bahwa tadi Bara sempat membongkar sudut ranjang ini sebelum kami bercinta. Dengan gerakan terburu-buru, aku langsung turun dari tempat tidur. Persetan dengan pakaian, aku hanya menyambar selimut seadanya, lalu langsung menjatuhkan diri berlutut di lantai kamar.Dengan jantung yang berdegup kencang, aku menyisipkan tanganku lebih dalam ke celah bawah kasur, meraba-raba area gelap tempat aku menyembunyikan strip pil KB.Kosong.Dahiku mengernyit. Aku menggeser posisiku, meraba lebih jauh ke sela-sela kayu dipan. Rasa dingin langsung menjalar dari ujung jari hingga ke ubun-ubun. Aku menarik tanganku, lalu beralih menyingkap seluruh seprai baru yang dipasang Bara dengan rapi, memeriksa setiap sudut kasur, bahkan sampai membungkuk dalam-dalam untuk mengintip kolong ranjang yang berdebu. Kemasan pera

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 47

    Aku terbangun saat fajar baru saja masuk dari balik celah ventilasi. Aku melirik ke samping, mendapati Bara masih tertidur dengan napas teratur. Tangan kekarnya yang semalam memelukku kini terkulai santai di atas kasur. Jarang-jarang dia kesiangan seperti ini, mungkin karena kelelahan setelah aktivitas kemarin.Dengan gerakan pelan agar kasur tidak berderit, aku bangkit, menyambar handuk, dan bergegas melangkah keluar kamar menuju kamar mandi belakang. Namun, baru saja kakiku menginjak lantai dapur, perutku mendadak melilit. Rasa mulas yang tiba-tiba membuatku harus mempercepat langkah masuk ke kamar mandi.Gara-gara urusan perut yang terganggu ini, aku menghabiskan hampir empat puluh menit di kamar mandi. Aku sengaja tidak terburu-buru, berharap saat aku keluar nanti, Capybara sudah pergi.Begitu selesai, aku hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhku dengan rambut yang masih setengah basah terurai begitu saja. Aku melangkah kembali ke dalam kamar, dan langsung tertegun di ambang

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 46

    Kami tiba di rumah saat benar-benar gelap. Aku menggigil sudah kedinginan sejak tadi, bahkan jemariku keriput.Begitu pintu terbuka, aku langsung melangkah masuk dengan menghentakkan kaki lebar-lebar, meninggalkan jejak-jejak air yang menetes dari ujung rokku ke atas ubin.Penampilanku saat ini sudah tidak ada bedanya dengan hantu penunggu hulu sungai. Bajuku yang robek akibat keganasan badai cemburu Bara tadi sore terpaksa kutinggalkan di hutan. Sebagai gantinya, sekarang aku memakai kaus oblong hitam polos milik Bara yang ukurannya tiga kali lebih besar dari badanku, tenggelam sampai ke paha, berpadu dengan rok panjangku yang masih basah kuyup dan melekat dingin di kaki.Rambutku? Jangan ditanya. Acak-acakan kering seadanya, dengan beberapa helai daun kering yang terselip di sela-selanya.“Pria gila! Egois! Capybara tidak punya perasaan!” omelku berapi-api sambil melempar sandal jepitku ke sudut ruang tamu dengan kesal. Aku berbalik, menunjuk muka Bara yang berjalan santai di belaka

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 45

    Bahu Aditya akhirnya sudah jauh lebih baik. Beruntung itu hanya otot yang tiba-tiba menegang karena nekat mengangkat beban berat tanpa pemanasan, bukan cedera serius. Namun, drama hari ini ternyata belum selesai. Dalam perjalanan pulang kami menggunakan mobil, di dalam kabin terasa begitu pekat dan membisu. Bara menyetir dengan rahang mengeras rapat tanpa mengucapkan satu patah kata pun.Hingga di pertengahan jalan yang sepi, Bara mendadak membanting setir dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Hari sudah sore, matahari hampir tenggelam sepenuhnya, dan siluet pepohonan di sekitar kami mulai meremang gelap.“Lho, kok berhenti di sini, Mas?” tanyaku heran, menatap sekeliling yang hanya berupa vegetasi liar.“Turun!” perintah Bara pendek. Ia tidak menunggu jawabanku dan langsung melompat turun lebih dulu dari mobil.Aku mengernyitkan dahi, membuka pintu mobil dengan perasaan waswas. “Mas Bara mau ngapain di sini? Ini sudah mau gelap, lho.”“Turun, Silvia.” Kali ini ia berbalik, m

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 44

    “Ah, Pak Bara bisa saja. Saya nggak sampai dehidrasi kok, cuma agak haus,” sanggah Aditya cepat, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sedikit tercoreng.Melihat situasi yang canggung, Asih segera bergerak gesit. Ia mengambil teko berisi air putih dingin, lalu meletakkannya di atas nampan bersama dua buah gelas kosong untuk Bara dan Aditya.Kami berempat pun keluar dari kantor guru menuju selasar depan sekolah yang agak teduh. Sembari duduk melepas lelah di lantai selasar, Asih dengan telaten menuangkan air putih ke dalam dua gelas tersebut. Satu gelas pertama diserahkannya kepada Aditya yang langsung menerimanya dengan anggukan lega. Namun, saat Mbak Asih hendak menyerahkan gelas kedua kepada Bara, suamiku itu tiba-tiba menoleh menatapku tajam.“Silvi, sini!” panggil Bara, suaranya berat dan mutlak.Aku mengernyitkan dahi bingung, tapi kaki ini tetap melangkah menuruti panggilannya. Begitu aku sudah berdiri dekat di hadapannya, aku bertanya, “Ada apa, Mas?”Tanpa menjawab, tangan

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 43

    Aku berjalan dengan langkah canggung menyusuri koridor selasar. Mau kembali ke toilet lagi jelas tidak mungkin, bisa-bisa dikira aku sedang diare. Tapi kalau bertahan di halaman depan, mataku benar-benar diuji oleh pemandangan yang luar biasa ajaib. Dokter Aditya ternyata sudah mulai kewalahan. Baru mengangkat dua sak semen yang masing-masing beratnya 40 kilogram itu, nafasnya sudah tersengal-sengal. Kulitnya yang putih bersih langsung berubah merah padam, dan tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat. Otot gym-nya yang estetik itu ternyata langsung menyerah begitu berhadapan dengan realita semen proyek yang berdebu dan kasar. Melihat lawannya sudah ngos-ngosan, Bara mendengkus geli sebuah ejekan tanpa suara yang sangat menyebalkan. “Biar saya yang urus semennya, Dok. Dokter angkat batako saja,” ujar Bara dengan nada meremehkan yang sangat kentara. Tanpa babibu, si Capybara itu langsung memosisikan tubuhnya di dekat truk. Dengan gerakan yang terlihat begitu terlatih dan enteng, ia me

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 42

    Semua ini bermula ketika jam menunjukkan pukul satu siang. Anak-anak sekolah sudah dipulangkan sejak tadi, dan tugas pemeriksaan kesehatan dokter Aditya pun sudah selesai sepenuhnya. Namun, alih-alih langsung pamit pulang naik motor dinasnya, pria kota itu malah memilih untuk tetap tinggal. Mataha

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 41

    Jantungku berdegup kencang hingga rasanya mau meledak. Itu benar-benar dia. Pria yang selama ini memenuhi isi hatiku, mau apa dia di sini?Aditya yang sedang mengedarkan pandangan ke arah bangunan sekolah yang sedang direnovasi, mendadak menghentikan tatapannya tepat di tempatku berdiri. Matanya me

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 37

    Pergelangan kakiku akhirnya benar-benar pulih, pagi ini, setelah memastikan Bara pergi ke ladang dengan motor trailnya, aku langsung bersiap. Aku sengaja memilih waktu ini, jam di mana anak-anak sekolah dasar biasanya sedang fokus belajar di dalam kelas.Tujuanku hanya satu untuk menemui Asih, dan

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 35

    Pagi datang tanpa gairah, hanya membawa cahaya pucat yang memaksa masuk melalui celah-celah dinding kayu. Aku terbangun bukan karena alarm, melainkan suara gaduh dari arah dapur. Bunyi denting piring dan mata pisau yang beradu keras dengan talenan menghiasi pagi ini dengan kecemasan yang mendadak me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status