Share

Bab 8

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-03-24 18:01:59

Tanganku gemetar membuka kancing kemeja Bara, dada kami bersentuhan. Takut ia akan menolak atau malah pergi. Aku segera berjinjit, menciumnya penuh keputusasaan.

“Mas nggak buru-buru soal ini, Dek...” bisiknya parau di sela ciuman kami. Aku makin menenggelamkan wajah di lehernya. Pakaiannya tanggal ke lantai, memamerkan lekuk tubuhnya yang kokoh.

“Aku butuh Mas, sekarang,” bisikku.

Bara menyerah, ia mengangkatku ke pinggangnya lalu membawaku ke ranjang dengan perlahan. Di atas sprei bersih, i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 163

    Aku tidak tahu lagi harus bicara apa. Lidahku mendadak kelu, seolah-olah seluruh pasokan udara di sekitarku menguap. Jika dia sampai tahu hubungan yang sebenarnya antara aku dan suaminya... apa yang akan dilakukannya padaku? Apa ia akan membenciku, mengusirku dari sini, atau membongkar semuanya di hadapan Tuan Ananta?"Nyonya... saya hanyalah pelayan di rumah ini," ucapku serak, berusaha sekuat tenaga mempertahankan nada suaraku agar tidak bergetar. "Saya tidak pernah berpikir atau berniat menyimpang dari batas tugas saya."‘Ya Tuhan... maafkan aku Nyonya Salma...’ batinku perih.“Bukan kamu tapi Sinyo, dia bisa menikahiku tapi dia bisa mencintaimu juga...”Aku terdiam kembali, pria itu memang bisa melakukan itu.Salma menatapku lekat-lekat, matanya berkaca-kaca menahan rasa tertekan yang teramat sangat. "Aku harap begitu, Silvia. Karena jika sampai dugaan burukku ini benar... aku benar-benar tidak tahu harus memercayai siapa lagi di mansion ini."Aku meraih tangannya, lalu meyakinkan

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 162

    “Aku kira kamu sudah mulai sibuk di kantor sejak tiga hari lalu,” gumam Salma lirih, matanya menatap piring di hadapannya sebelum akhirnya beralih menatap Sinyo. “Tiga hari dua malam kemarin kamu bilang ada urusan bisnis di luar kota, kan?”Bara tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dengan gerakan tenang khas Tuan Sinyo, ia meletakkan pisau dan garpunya ke atas piring porselen. Bunyi denting logam yang beradu dengan keramik membuat Yumna dan Ibu Diana turut menghentikan suapan mereka kemudian menatap suami istri itu.“Ya, memang aku ada urusan ke luar kota... itu sudah selesai kemarin,” sahut Sinyo dingin dari balik topeng hitamnya. “Dan hari ini aku baru benar-benar masuk ke kantor pusat untuk membereskan kekacauan yang dibuat Papa. Ada yang aneh dari itu?”Salma menelan saliva, sedikit tersentak oleh nada bicara suaminya yang tak menyisakan ruang untuk perdebatan. Ia menggeleng pelan, lalu mencoba tersenyum tipis. “Tidak... aku hanya khawatir kamu kelelahan.”“Aku baik-baik saja,

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 161

    “Aroma pakaian Sinyo kadang tercampur dengan aroma lain.”Kalimat itu bukan sekadar keluhan seorang istri yang merasa diabaikan, melainkan sinyal bahaya bahwa intuisi seorang wanita tidak bisa diremehkan. Salma mungkin tidak memiliki bukti fisik, tetapi indranya telah menangkap kejanggalan. Setiap kali Mas Bara memelukku, menciumku, atau mendekapku erat seperti di penthouse maupun di kamar ini, aroma tubuhku pasti tertinggal dan melekat pada kemeja atau jasnya.Aku terduduk pelan di tepi ranjang, meremas jemariku yang mendadak dingin. Rasa bersalah dan panik bercampur menjadi satu."Aku harus lebih berhati-hati," bisikku lirih pada diri sendiri seraya mengusap perutku.Aku harus menahan diri. Mulai besok, aku tidak boleh membiarkan Mas Bara menyentuhku sembarangan saat berada di area Paviliun Lavender. Kami tidak boleh ceroboh hanya karena merindukan satu sama lain. Permainan sandiwara ini terlalu berisiko jika harus hancur hanya karena kecerobohan sekecil aroma parfum.Pagi harinya,

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 160

    Tautan bibir kami terlepas seketika. Suasana kamar yang tadinya panas mendadak mendingin oleh ketegangan yang mendadak menyergap. Napas Bara berhembus berat di atas permukaan kulit leherku, dadanya kembang kempis menahan gejolak hasrat yang dipaksa berhenti secara mendadak."Silvia?" suara Salma kembali terdengar dari balik pintu, diikuti ketukan halus yang berulang.“Gimana ini?” tanyaku panik.“Diam saja, ia berpikir kamu sudah tidur,” bisiknya.“Silvia...”Bara sama sekali tidak panik, ia malah menciumi leherku."Boleh aku minta tolong sebentar? Tolong buatkan teh herbal untukku, perutku agak mual."Mataku membelalak lebar. Tatapanku bertemu lurus dengan manik cokelat Mas Bara dalam remang kamar.Dengan gerakan secepat kilat, aku bergeser turun dari pangkuannya. Jemariku yang gemetar bergegas membenahi kemeja Bara yang kancingnya sempat kubuka, merapikan kerahnya dengan panik.Bara meraih tanganku, menahannya sejenak lalu mengusap punggung tanganku lembut mencoba menyalurkan ketena

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 159

    Suasana mansion besar itu mulai hening setelah pukul sepuluh. Seluruh lampu di lorong utama redup, menyisakan lampu dinding bercahaya kuning temaram. Aku duduk di tepi ranjang kamarku, memandangi perutku sendiri di balik gaun malam yang longgar. Jemariku mengusapnya perlahan seraya tersenyum tipis.Hari ini cukup melelahkan, Nyonya Salma benar-benar memintaku untuk menemaninya seharian. Sebenarnya aku cukup bersyukur karena bisa menghindari pertanyaan menuntut dari Yumna. Ia tidak berani menyela permintaan kakak iparnya sendiri. Tuan Sinyo atau Mas Bara, aku tau dia menahan diri untuk tidak menatapku, tidak menyela istri bisnisnya juga menjauh sementara dari kami.Klek.Suara engsel pintu yang terkuak pelan membuat jantungku melonjak seketika. Aku menoleh cepat ke arah pintu. Sosok tegap melangkah masuk dengan gerakan sangat halus, hampir tanpa suara, lalu merapatkan pintu kembali hingga terkunci rapat.Pria itu sudah melepaskan jas dan topeng hitamnya. Dalam keremangan kamar, paras te

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 158

    Mobil hitam mewah itu berhenti perlahan tepat di pelataran Paviliun Lavender. Begitu pintu mobil dibuka, sosok pria di sisiku langsung berubah total. Aura hangat dan lembut Mas Bara yang kunikmati dua hari ini mendadak menguap tanpa sisa.Gesturnya kembali tegap, dingin, dan amat mengintimidasi kembali menjadi Tuan Sinyo yang disegani. Ia telah mengenakan topeng hitamnya, sementara aku melangkah mundur dua langkah di belakangnya, siap memainkan peranku kembali sebagai seorang pelayan.Di depan pintu utama, Nona Salma dan Ibu Diana sudah berdiri menanti kedatangan kami.Tanpa ragu sedikit pun, Salma langsung menghambur maju dan memeluk tubuh Tuan Sinyo dengan erat.Tubuhku seketika menegang menyaksikan pemandangan itu secara langsung. Meskipun aku sudah berjanji tidak akan cemburu, dadaku tetap saja berdesir panas. Dari sudut mataku, aku melihat rahang Tuan Sinyo mengeras perlahan di balik topeng hitamnya. Ia tampak menahan diri setengah mati agar tidak menghempaskan atau menepis tanga

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 3

    “Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 6

    “Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 5

    Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 4

    Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status