Compartilhar

Bab 8

Autor: Lyla Veil
last update Data de publicação: 2026-03-24 18:01:59

Tanganku gemetar membuka kancing kemeja Bara, dada kami bersentuhan. Takut ia akan menolak atau malah pergi. Aku segera berjinjit, menciumnya penuh keputusasaan.

“Mas nggak buru-buru soal ini, Dek...” bisiknya parau di sela ciuman kami. Aku makin menenggelamkan wajah di lehernya. Pakaiannya tanggal ke lantai, memamerkan lekuk tubuhnya yang kokoh.

“Aku butuh Mas, sekarang,” bisikku.

Bara menyerah, ia mengangkatku ke pinggangnya lalu membawaku ke ranjang dengan perlahan. Di atas sprei bersih, i
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 23

    Pak Kades mempersilakan Bara untuk maju ke depan. Pria itu berdiri dengan tenang, namun auranya langsung mendominasi ruangan. Semuanya terdiam.“Terima kasih, Pak Kades,” suara berat Bara menggema. Ia melirikku sejenak sebelum menyapu pandangan ke arah warga.“Sejak awal saya datang ke sini tujuannya hanya ingin membangun desa. Saya sangat bersyukur, desa sudah bisa swasembada pangan. Bisa menjual hasilnya sendiri ke pasar dengan harga yang sesuai.”Bara menghela nafas, menoleh pada Pak Kades yang langsung mengangguk. Lalu melanjutkan lagi, “Sungguh untuk memimpin desa ini, saya serahkan ke Pak Kades saja.”“Jangan begitu, Mas Bara.” Pak Kades berusaha menyela, tapi senyumnya tampak sumringah dipuji begitu.“Sebenarnya ada hal lain yang ingin saya sampaikan secara resmi. Supaya tidak ada fitnah atau kabar burung yang simpang siur di desa kita,” lanjut Bara.Jantungku mulai berdegup tidak karuan. Aku hanya tidak ingin terikat terlalu dalam dengan pria bernama Bara ini. Aku punya impian

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 22

    ‘Masa aku harus bercinta dengan Bara lagi untuk bisa mengalihkan perhatiannya?’Hanya memikirkan itu saja sudah membuatku bergidik ngeri.‘Bisa-bisa dia salah paham, dipikirnya aku menyukai hal itu. Jatuh harga diriku...’ batinku lagi. Tidak, itu pilihan terakhir yang sangat tidak ingin kuambil.Aku menggeleng frustrasi, mencoba mengusir pikiran konyol itu dari kepalaku. ‘Lalu bagaimana caranya mengambil kunci itu tanpa dia sadari?’Aku menangkupkan kedua tanganku di depan wajah sambil berpikir keras, menimbang-nimbang setiap kemungkinan yang ada. Tanpa aku sadari, rupanya Bara memperhatikanku sejak tadi. Dia diam membeku, melihat bagaimana ekspresiku berubah-ubah secara drastis dari yang terlihat jijik, bingung, hingga kemudian nampak sangat frustrasi.“Kenapa wajahmu begitu? Masih kepikiran soal luka Jaka tadi?” suara berat Bara tiba-tiba memecah lamunanku.Aku tersentak, buru-buru menetralkan ekspresi wajahku agar tidak terlihat mencurigakan. “Bukan, bukan apa-apa. Aku cuma... lapa

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 21

    Maisaroh muncul sambil membawa kotak jarum dan benang. Aku melihat ke dalam kotak, mencari jarum yang agak panjang lalu benang.“Mai tolong nyalakan lilin di meja,” pintaku.Maisaroh melakukan semua itu tanpa banyak tanya.Berikutnya Bara sudah kembali dengan membawa kotak p3k berwarna merah. Ia menyerahkannya padaku, aku mengambil obat luka itu. Maisaroh sudah selesai memasang lilin, api kecil menyala terang. “Mai, tolong rebuskan daun sirih seratus mili saja.”“Seratus mili?” Maisaroh bingung dengan permintaanku.Bara langsung berdiri, “Sudah Mai kamu di sini saja bantu Mbak Silvi.”Setelah semua alat seadanya tersedia, aku pun segera melakukan pengobatan pada luka pria muda itu. Sambil mengajaknya mengobrol supaya ia tidak terlalu tegang, aku pun tahu bahwa pemuda itu bernama Jaka dan ia adalah anak buah Bara di ladang.Dengan hati-hati aku menjahit luka itu menggunakan benang jahit biasa yang sudah kurendam air sirih. Jaka menahan diri untuk tidak berteriak karena malu, tapi bebe

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 20

    Aku pun fokus mencari kunci koper ini. Aku mulai meraba bagian atas lemari, mengecek di balik bingkai foto Eyang, bahkan sampai merogoh saku-saku pakaian yang tergantung. Aku harus menemukannya sekarang, sebelum Bara pulang dari ladang dan memergokiku menggeledah barang peninggalan Eyang.Aku terus menggeledah setiap sudut kamar Eyang, tapi kunci koper itu tidak juga ketemu. Pikiranku berputar. Bara adalah orang kepercayaan Eyang, penjaga harta dan kebunnya. Kalau ada sesuatu yang sangat penting, Eyang pasti menitipkannya pada pria itu.Aku segera melangkah menuju kamar Bara, kamar kami. Aku memperhatikan setiap sudut, melihat titik-titik yang mungkin saja terlewati oleh pencarianku sebelumnya.Pandanganku beralih ke sebuah kotak kayu kecil di atas lemari. Aku menarik bangku dan menaikinya, lalu meraih kotak kecil itu. Begitu kubuka, ternyata isinya adalah perhiasan.“Ini pasti milik Eyang,” gumamku sambil menatap deretan perhiasan kuno itu. “Sedekat apa sebenarnya hubungan Eyang dan

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 19

    Wajah Bara berubah suram mendengar perkataanku. Ia menatapku tajam, lalu bergerak mendekatiku. Tangannya meraih rahangku dengan tegas.“Mas!” pekikku tertahan sambil memegangi tangan yang mencengkram rahangku.“Tidak akan!” ucapnya penuh penekanan, “aku sudah terlanjur menyukai setiap inci tubuhmu Silvia, kamu sangat menggairahkan...”Lalu ia melepaskan tangannya dari rahangku.“Setidaknya, kamu harus bertahan sampai aku puas! Setelah itu... mungkin kita akan bercerai...”Ia pun melangkah pergi, meninggalkan aku dalam keheningan kamar yang lembab.Tak lama kemudian, terdengar suara Maisaroh di luar. Sepertinya Bara memintanya membereskan barang-barang bawaan Pak Dirman, termasuk memasukkan ayam jago pemberian itu ke kandang agar tidak merusak tanaman di depan.Aku mencoba duduk, lalu berdiri perlahan. Rasa perih seketika menjalar di bagian bawah, membuatku meringis. “Sialan si Capybara itu, lagi-lagi bikin aku sulit jalan,” rutukku pelan. Rasanya benar-benar tidak nyaman, seolah tubuh

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 18

    “Aarrgghh...” desahan maskulin menggema di dalam kamar, tanda Bara telah mencapai puncak kenikmatannya.Sedangkan tubuhku rasanya remuk, setiap inci kulitku seolah masih merekam sentuhan kasar yang memabukkan dari Bara. Aku mencoba bergerak, tapi rasa linu di pinggang dan sisa lemas di perut akibat mual membuatku kembali terhempas ke bantal. Aku pun membiarkan Bara tertidur di sampingku.Pagi cepat beralih, aku terbangun di kasur yang sudah dingin. Bara sudah bangun lebih dulu. Terdengar suara riuh rendah dari halaman depan mengejutkanku. Suara laki-laki yang sangat kukenal volumenya, seperti Pak Dirman.“Mas Bara! Mas Bara!” teriaknya penuh semangat, disusul suara beberapa warga lainnya.Aku berusaha untuk duduk, mengintip dari jendela. Di bawah sana, Bara berdiri dengan gagah tanpa kaus, hanya mengenakan celana kain hitam dan mengenakan caping. Otot punggungnya yang kecokelatan berkilat tertimpa cahaya pagi. Pak Dirman berdiri di depannya sambil memegangi seekor ayam jago besar, sem

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 14

    “Apa sih?” aku mengerling padanya dengan wajah kesal.“Jangan khawatir, aku sedang tidak berminat...” ujarnya enteng.“Lagipula, kamu sepertinya butuh waktu untuk mengembalikan fungsi bagian intimu agar bisa normal lagi,” tambah Bara dengan nada yang sangat menyebalkan. Ia berdiri di ambang pintu,

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 17

    Aku menutup tubuhku menggunakan handuk itu. Lalu sejenak mendengarkan, di luar sepi sepertinya Bara sudah tidak ada atau mungkin tertidur. Akhirnya Silvia keluar kamar mandi dengan perlahan, khawatir terlihat Bara.“Sepi... kosong...” gumam Silvia, ia pun langsung masuk ke kamar.Ternyata Bara bera

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 16

    Bu Dirman mengangguk lemah, wajahnya sudah basah karena peluh dan air mata. Aku segera ke dapur mencuci tangan dengan bersih, lalu segera kembali ke kamar bersalin.Aku berlutut di antara kedua kaki Ibu Dirman. Tanganku gemetar saat melakukan pemeriksaan dalam, namun aku berusaha tetap tenang.“Pe

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 12

    Aku pun bangkit dari ayunan, hendak menghampiri suara tersebut. Aku menyusuri kebun belakang, di sana tampak dua orang anak. Salah satunya duduk di tanah terisak, penamilannya benar-benar kumal seolah tidak takut kotoran. Aku mendekati mereka perlahan, khawatir aku yang akan terjatuh di tanah basah

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status