แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Lyla Veil
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-25 14:27:46

Kami berdua menegang secara bersamaan. Aku merasakan kontraksi hebat kembali menjalar di bagian intiku, bersamaan dengan Bara yang mengerang keras dan membenamkan wajahnya di pundakku. Cairan hangatnya menyembur deras di dalam diriku, menandakan ia juga telah mencapai puncaknya.

Bara tidak langsung melepaskan tautan tubuh kami. Ia tetap di sana, memelukku dari belakang, menyalurkan berat tubuhnya yang hangat di balik punggungku. Pusakanya masih berdenyut di dalam intiku, sama berdenyutnya denga
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 30

    Maisaroh hari itu benar-benar tidak menjengukku ke kamar. Sikapnya seolah tidak peduli lagi padaku, dan aku pun terlalu malas untuk berteriak memanggil namanya. Akhirnya, aku memutuskan untuk rebahan seharian di ranjang—sebuah pengorbanan kecil agar Bara tidak menaruh curiga pada kepura-puraanku.Namun, di balik sandiwara ini, Bara justru menunjukkan sisi yang sangat manis dan lembut. Sepulang dari ladang, ia membawakanku berbagai macam buah-buahan segar; ada alpukat, pisang, dan kelapa. Ia bahkan dengan telaten menyuapiku alpukat mentega yang rasanya sangat enak. Katanya, itu adalah hasil panen terbaiknya hari ini.Malam itu aku sengaja tidur lebih cepat. Aku ingin hari esok segera tiba supaya aku bisa lepas dari jeratan "sakit" ini. Sungguh, aku sudah sangat bosan terkurung di kamar yang mulai terasa bau apak ini.Begitu pagi menjelang, aku bangun dengan semangat yang meluap. Saat menuju dapur, aku mendapati Bara sedang sibuk di depan kompor.“Lho, Mai belum datang?” tanyaku heran.

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 29

    Pertanyaanku tadi sukses membuat Bara terdiam sepanjang jalan. Suasana di dalam mobil Hilux ini mendadak jadi sangat kaku. Aku yakin, ada sesuatu yang sangat besar yang sedang ia rahasiakan dariku.“Kalau kamu memang ingin tahu soal itu, aku bisa mengantarkanmu dan memberitahumu sekarang. Tapi... kamu sedang sakit,” ujar Bara akhirnya, memecah keheningan. “Kalau terlalu lama di perjalanan, nanti kamu malah tambah sakit, dan ujung-ujungnya kamu akan menyalahkanku lagi.”Lagi?Darahku berdesir. Maksudnya, setelah malam pertama itu, aku akan menyalahkannya lagi? Ini kan, urusannya berbeda. Sekarang aku tidak sedang sakit, aku hanya sedang mencari jawaban! Namun, aku tersadar. Jika aku memaksanya sekarang, Bara yang waspada ini pasti akan semakin mencurigaiku. Aku harus bermain cantik. Aku harus sangat hati-hati agar rahasia tentang Aditya tidak ikut terbongkar. Tidak untuk saat ini.“Ya sudah, pulang saja sekarang,” pintaku akhirnya sambil membuang muka ke arah jendela.Bara tidak menyah

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 28

    “Mas! Mas Bara!” panggilku lantang saat melihat pria itu baru saja melangkah masuk ke dalam puskesmas. Ia langsung membalikkan badan begitu mengenali suaraku.“Silvia?” Ia menghampiriku dengan langkah lebar.“Ayo, kita pulang. Aku sudah lelah,” ujarku cepat, berusaha memutus percakapan sebelum dimulai. Aku langsung berjalan mendahuluinya menuju mobil Hilux miliknya yang terparkir di depan.Bara mengikutiku dari belakang. Ia segera naik ke kursi kemudi dengan raut wajah yang tampak sedikit bingung. Namun, setelah mesin menyala, ia tidak kunjung menjalankan mobilnya. Ia hanya diam sambil terus memandangiku dengan tatapan menyelidik.Hal itu membuatku mulai salah tingkah. Apa yang sebenarnya sedang ia perhatikan? Apa ia bisa tahu apa yang baru saja dilakukan Aditya hanya dengan menatapku seperti ini? Ah, tidak mungkin. Dia bahkan tidak tahu kalau Aditya adalah dokter baru di puskesmas ini.Aku menoleh padanya, mencoba memecah keheningan. “Kenapa tidak jalan?”Bara justru balik bertanya d

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 27

    “Apa saja keluhannya?” tanya dokter muda tampan itu saat mulai memeriksa perutku. Aku tahu, ia setengah mati mempertahankan profesionalitasnya di depan pasien.Sentuhannya yang tenang membuat jantungku berdebar tak karuan. Bukan sekadar karena pemeriksaan medis, tapi karena sejarah yang tertinggal di antara kami berdua. Rasa pusing di kepalaku kini tak lagi karena akting sakit perut, tapi karena kenyataan bahwa duniaku yang lama mendadak muncul tepat di hadapanku.Kenapa di saat aku sedang berupaya mendapatkan kendali atas hidupku dari Bara, pria ini yang harus muncul?“Mas... maaf,” lirihku akhirnya.Dokter itu menghentikan gerakannya seketika. “Maaf? Maksudnya?”“Sebenarnya... aku tidak benar-benar sakit,” jawabku jujur, suaraku nyaris hilang tertelan sunyi ruangan.Ia mengernyitkan dahi, ekspresinya berubah menjadi bingung sekaligus sedikit kesal. “Maksudnya bagaimana? Maaf, Silvia, tapi pasien saya masih banyak menunggu di luar.” Ia segera menarik stetoskopnya dari perutku dan mer

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 26

    Keesokan harinya, aku pun berakting sakit perut supaya Bara mau mengantarkanku ke puskesmas.“Kamu makan apa sampai sakit perut begitu?” tanya Bara. Aku tidak tahu dia benar-benar cemas atau hanya sekadar bertanya, tapi suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya.“Nggak tahu, Mas. Ini sakit banget. Tolong antar aku ke puskesmas,” pintaku sambil meringkuk di ranjang. Aku terus memegangi perutku yang sebenarnya tidak sakit sama sekali, berusaha meyakinkannya dengan raut wajah seolah sedang menahan nyeri yang hebat.Bara tidak banyak bertanya lagi. Ia segera mengangkat tubuhku dengan sangat protektif menuju mobil. Di sepanjang jalan, aku hanya bisa berdoa dalam hati agar rencanaku mendapatkan pil itu berjalan lancar tanpa membuat Bara menaruh curiga sedikit pun.Setibanya di puskesmas, suasana agak sepi.‘Bagus,’ batinku, ‘berarti tidak banyak orang yang harus kuhindari.’Bara menggendongku langsung ke dalam puskesmas, langkahnya setengah berlari.“Lho, Mas Bara, ada apa dengan Mbak Si

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 25

    “Kamu selalu punya cara untuk membuatku tidak bisa menahan diri, Silvia,” bisiknya rendah.Aku hanya diam, jantungku berdegup kencang. Separuh dari diriku terhanyut dalam suasana ini, tapi separuh lainnya masih tertuju pada celana panjang yang ia tinggalkan begitu saja di kamar mandi. Kunci itu. Aku harus tetap terjaga. Aku tidak boleh membiarkan rasa lelah atau kantuk menguasaiku setelah ini.Bara mulai menciumiku, sebuah perpaduan antara kelembutan dan tuntutan yang sulit kutolak. Tangannya yang kasar karena pekerjaan ladang bergerak di permukaan kulitku, menciptakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Di saat-saat seperti ini, aku hampir lupa bahwa pria ini adalah sosok misterius yang mungkin saja menjadi ancaman terbesar bagi hidupku.Cukup lama kami tenggelam dalam keintiman malam itu. Hingga akhirnya, Bara tampak mulai tenang. Ia merebahkan tubuhnya di sampingku, menarikku ke dalam pelukannya, dan membenamkan wajahnya di ceruk leherku. Suara nafasnya perlahan mulai ter

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 17

    Aku menutup tubuhku menggunakan handuk itu. Lalu sejenak mendengarkan, di luar sepi sepertinya Bara sudah tidak ada atau mungkin tertidur. Akhirnya Silvia keluar kamar mandi dengan perlahan, khawatir terlihat Bara.“Sepi... kosong...” gumam Silvia, ia pun langsung masuk ke kamar.Ternyata Bara bera

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 16

    Bu Dirman mengangguk lemah, wajahnya sudah basah karena peluh dan air mata. Aku segera ke dapur mencuci tangan dengan bersih, lalu segera kembali ke kamar bersalin.Aku berlutut di antara kedua kaki Ibu Dirman. Tanganku gemetar saat melakukan pemeriksaan dalam, namun aku berusaha tetap tenang.“Pe

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 14

    “Apa sih?” aku mengerling padanya dengan wajah kesal.“Jangan khawatir, aku sedang tidak berminat...” ujarnya enteng.“Lagipula, kamu sepertinya butuh waktu untuk mengembalikan fungsi bagian intimu agar bisa normal lagi,” tambah Bara dengan nada yang sangat menyebalkan. Ia berdiri di ambang pintu,

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 12

    Aku pun bangkit dari ayunan, hendak menghampiri suara tersebut. Aku menyusuri kebun belakang, di sana tampak dua orang anak. Salah satunya duduk di tanah terisak, penamilannya benar-benar kumal seolah tidak takut kotoran. Aku mendekati mereka perlahan, khawatir aku yang akan terjatuh di tanah basah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status