LOGIN“Apa saja keluhannya?” tanya dokter muda tampan itu saat mulai memeriksa perutku. Aku tahu, ia setengah mati mempertahankan profesionalitasnya di depan pasien.Sentuhannya yang tenang membuat jantungku berdebar tak karuan. Bukan sekadar karena pemeriksaan medis, tapi karena sejarah yang tertinggal di antara kami berdua. Rasa pusing di kepalaku kini tak lagi karena akting sakit perut, tapi karena kenyataan bahwa duniaku yang lama mendadak muncul tepat di hadapanku.Kenapa di saat aku sedang berupaya mendapatkan kendali atas hidupku dari Bara, pria ini yang harus muncul?“Mas... maaf,” lirihku akhirnya.Dokter itu menghentikan gerakannya seketika. “Maaf? Maksudnya?”“Sebenarnya... aku tidak benar-benar sakit,” jawabku jujur, suaraku nyaris hilang tertelan sunyi ruangan.Ia mengernyitkan dahi, ekspresinya berubah menjadi bingung sekaligus sedikit kesal. “Maksudnya bagaimana? Maaf, Silvia, tapi pasien saya masih banyak menunggu di luar.” Ia segera menarik stetoskopnya dari perutku dan mer
Keesokan harinya, aku pun berakting sakit perut supaya Bara mau mengantarkanku ke puskesmas.“Kamu makan apa sampai sakit perut begitu?” tanya Bara. Aku tidak tahu dia benar-benar cemas atau hanya sekadar bertanya, tapi suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya.“Nggak tahu, Mas. Ini sakit banget. Tolong antar aku ke puskesmas,” pintaku sambil meringkuk di ranjang. Aku terus memegangi perutku yang sebenarnya tidak sakit sama sekali, berusaha meyakinkannya dengan raut wajah seolah sedang menahan nyeri yang hebat.Bara tidak banyak bertanya lagi. Ia segera mengangkat tubuhku dengan sangat protektif menuju mobil. Di sepanjang jalan, aku hanya bisa berdoa dalam hati agar rencanaku mendapatkan pil itu berjalan lancar tanpa membuat Bara menaruh curiga sedikit pun.Setibanya di puskesmas, suasana agak sepi.‘Bagus,’ batinku, ‘berarti tidak banyak orang yang harus kuhindari.’Bara menggendongku langsung ke dalam puskesmas, langkahnya setengah berlari.“Lho, Mas Bara, ada apa dengan Mbak Si
“Kamu selalu punya cara untuk membuatku tidak bisa menahan diri, Silvia,” bisiknya rendah.Aku hanya diam, jantungku berdegup kencang. Separuh dari diriku terhanyut dalam suasana ini, tapi separuh lainnya masih tertuju pada celana panjang yang ia tinggalkan begitu saja di kamar mandi. Kunci itu. Aku harus tetap terjaga. Aku tidak boleh membiarkan rasa lelah atau kantuk menguasaiku setelah ini.Bara mulai menciumiku, sebuah perpaduan antara kelembutan dan tuntutan yang sulit kutolak. Tangannya yang kasar karena pekerjaan ladang bergerak di permukaan kulitku, menciptakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Di saat-saat seperti ini, aku hampir lupa bahwa pria ini adalah sosok misterius yang mungkin saja menjadi ancaman terbesar bagi hidupku.Cukup lama kami tenggelam dalam keintiman malam itu. Hingga akhirnya, Bara tampak mulai tenang. Ia merebahkan tubuhnya di sampingku, menarikku ke dalam pelukannya, dan membenamkan wajahnya di ceruk leherku. Suara nafasnya perlahan mulai ter
Setibanya di rumah, Bara langsung menuju kamar mandi, sementara aku beralih ke dapur untuk menghangatkan lauk siang untuk makan malam kami.Dulu, saat masih tinggal bersama Papa, aku tidak pernah menyentuh pekerjaan semacam ini. Menu harian kami selalu bervariasi dan segar. Sekarang, hidupku berubah total. Aku sebenarnya sudah lelah mengeluh soal jamban jongkok, kamar mandi tanpa shower, hingga kasur tua yang selalu berderit setiap kali aku bergerak. Belum lagi atap kamar yang berlubang dan rutinitas memasak menggunakan kayu bakar yang membuat mataku perih.Terkadang, nafsu makanku hilang begitu saja. Bukan karena lapar yang tak kunjung datang, tapi karena aku sudah tidak selera lagi menyantap masakan yang sama dengan menu tadi siang. Semua kesederhanaan ini terasa begitu menyesakkan, kontras dengan kehidupan yang pernah kujalani sebelum pelarian ini dimulai.Sambil mengaduk lauk di atas tungku, telingaku tetap terjaga, menangkap suara kucuran air dari kamar mandi. Pikiranku justru te
Pak Kades mempersilakan Bara untuk maju ke depan. Pria itu berdiri dengan tenang, namun auranya langsung mendominasi ruangan. Semuanya terdiam.“Terima kasih, Pak Kades,” suara berat Bara menggema. Ia melirikku sejenak sebelum menyapu pandangan ke arah warga.“Sejak awal saya datang ke sini tujuannya hanya ingin membangun desa. Saya sangat bersyukur, desa sudah bisa swasembada pangan. Bisa menjual hasilnya sendiri ke pasar dengan harga yang sesuai.”Bara menghela nafas, menoleh pada Pak Kades yang langsung mengangguk. Lalu melanjutkan lagi, “Sungguh untuk memimpin desa ini, saya serahkan ke Pak Kades saja.”“Jangan begitu, Mas Bara.” Pak Kades berusaha menyela, tapi senyumnya tampak sumringah dipuji begitu.“Sebenarnya ada hal lain yang ingin saya sampaikan secara resmi. Supaya tidak ada fitnah atau kabar burung yang simpang siur di desa kita,” lanjut Bara.Jantungku mulai berdegup tidak karuan. Aku hanya tidak ingin terikat terlalu dalam dengan pria bernama Bara ini. Aku punya impian
‘Masa aku harus bercinta dengan Bara lagi untuk bisa mengalihkan perhatiannya?’Hanya memikirkan itu saja sudah membuatku bergidik ngeri.‘Bisa-bisa dia salah paham, dipikirnya aku menyukai hal itu. Jatuh harga diriku...’ batinku lagi. Tidak, itu pilihan terakhir yang sangat tidak ingin kuambil.Aku menggeleng frustrasi, mencoba mengusir pikiran konyol itu dari kepalaku. ‘Lalu bagaimana caranya mengambil kunci itu tanpa dia sadari?’Aku menangkupkan kedua tanganku di depan wajah sambil berpikir keras, menimbang-nimbang setiap kemungkinan yang ada. Tanpa aku sadari, rupanya Bara memperhatikanku sejak tadi. Dia diam membeku, melihat bagaimana ekspresiku berubah-ubah secara drastis dari yang terlihat jijik, bingung, hingga kemudian nampak sangat frustrasi.“Kenapa wajahmu begitu? Masih kepikiran soal luka Jaka tadi?” suara berat Bara tiba-tiba memecah lamunanku.Aku tersentak, buru-buru menetralkan ekspresi wajahku agar tidak terlihat mencurigakan. “Bukan, bukan apa-apa. Aku cuma... lapa
Aku menutup tubuhku menggunakan handuk itu. Lalu sejenak mendengarkan, di luar sepi sepertinya Bara sudah tidak ada atau mungkin tertidur. Akhirnya Silvia keluar kamar mandi dengan perlahan, khawatir terlihat Bara.“Sepi... kosong...” gumam Silvia, ia pun langsung masuk ke kamar.Ternyata Bara bera
Bu Dirman mengangguk lemah, wajahnya sudah basah karena peluh dan air mata. Aku segera ke dapur mencuci tangan dengan bersih, lalu segera kembali ke kamar bersalin.Aku berlutut di antara kedua kaki Ibu Dirman. Tanganku gemetar saat melakukan pemeriksaan dalam, namun aku berusaha tetap tenang.“Pe
“Apa sih?” aku mengerling padanya dengan wajah kesal.“Jangan khawatir, aku sedang tidak berminat...” ujarnya enteng.“Lagipula, kamu sepertinya butuh waktu untuk mengembalikan fungsi bagian intimu agar bisa normal lagi,” tambah Bara dengan nada yang sangat menyebalkan. Ia berdiri di ambang pintu,
Aku pun bangkit dari ayunan, hendak menghampiri suara tersebut. Aku menyusuri kebun belakang, di sana tampak dua orang anak. Salah satunya duduk di tanah terisak, penamilannya benar-benar kumal seolah tidak takut kotoran. Aku mendekati mereka perlahan, khawatir aku yang akan terjatuh di tanah basah