Share

Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku
Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku
Author: Adyari

Bab 1 

Author: Adyari
Saat membuka mata, seluruh tubuhku terasa sangat sakit. Meskipun telah melakukannya berkali-kali, aku masih belum terbiasa dengan stamina Ashton yang luar biasa.

Ketika aku berbalik, dia sudah bangun. Otot sayapnya yang indah terlihat jelas di bawah sinar matahari, dan berkilauan dengan warna madu yang samar. Matanya setengah terbuka dan dia terlihat malas.

"Kenapa kamu bangun sepagi ini?" Suaranya masih serak.

Kekakuan dan rasa sakit di pinggangku membuatku mengerutkan kening. Aku membungkuk untuk memakai stokingku, tetapi menemukan bahwa dia telah merobeknya kemarin. Stoking itu sama sekali tidak bisa dipakai lagi.

Ashton berguling, lalu mengangkat bra-ku dengan ujung jarinya dan menyerahkannya kepadaku. Kilatan nakal terpancar di matanya. "Sudah berapa umurmu? Kenapa kamu masih pakai yang renda putih seperti ini? Ini sudah ketinggalan zaman! Coba pakai sesuatu yang baru."

Aku mengambil bra itu. "Kalau begitu, aku akan beli bra baru. Kamu suka yang seperti apa ...."

Ashton menyela perkataanku, "Nggak usah. Aku akan ganti kata sandi pintu nanti. Kelak, jangan datang lagi kecuali benar-benar perlu."

Aku pun terkejut. Aku telah menjalin hubungan seperti ini dengan Ashton selama setahun. Awalnya, dia akan mengajakku datang hampir setiap beberapa hari sekali. Kemudian, kecuali saat aku harus lembur, aku praktis tinggal di rumahnya.

Biasanya, aku akan mengerjakan pekerjaan rumah untuknya. Ketika aku pulang kerja lebih awal, kami akan menonton film dan makan popcorn di sofa, lalu sudah tenggelam dalam hasrat sebelum film selesai. Kami benar-benar seperti pasangan sungguhan.

Perlahan-lahan, aku mulai terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Terkadang, aku tak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa mungkin Ashton juga sudah terbiasa dengan kehadiranku. Jika suatu hari nanti kami bisa membangun keluarga, itu akan sangat membahagiakan.

Namun, sekarang dia malah menyuruhku untuk jangan datang lagi.

Aku langsung berkata tanpa sadar, "Keluargamu mau datang? Atau kamu sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini? Aku bisa ...."

Dia berdiri, lalu menatapku dan tersenyum tipis. "Bukan, dia sudah setuju untuk jadi pacarku."

Butuh beberapa saat bagiku untuk menyadari siapa yang Ashton maksud dengan "dia". Akhir-akhir ini, aku mendengar bahwa Ashton sedang mengejar seorang gadis yang baru saja lulus dari universitas.

Selama bertahun-tahun, wanita di sisinya datang dan pergi tanpa henti dan hubungan terlamanya tidak lebih dari tiga bulan. Awalnya, kupikir ini hanya sekadar ketertarikan sesaat dan tidak terlalu memperhatikannya.

Aku bertanya dengan ekspresi datar, "Kamu serius?"

Ashton tersenyum, "Serius. Dia berbeda dari semua wanita lain, Ashley. Kamu nggak tahu, dia sangat polos. Aku nggak ingin dia tahu tentang kita. Dia akan ngambek. Aku sudah mengejarnya begitu lama."

Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah tirai sangat menyilaukan hingga membuat orang merasa pusing.

"Ah, oke." Setelah jeda sejenak, aku menjawab dengan tenang, "Kalau begitu, aku akan pindahkan semua barangku hari ini."

"Nggak usah terburu-buru." Ashton dengan santai mengambil celana panjang santai berwarna abu-abu dan memakainya. "Bukannya kamu sudah batalkan kontrak sewa apartemenmu? Tinggallah beberapa hari lagi di sini. Cari dulu tempat baru sebelum pindah."

Aku memejamkan mata sejenak. Rasa sakit yang tajam membuatku ingin menangis dan agak kewalahan. Aku menjawab, "Nggak perlu. Aku akan pindah hari ini."

Aku tidak tahu kenapa aku begitu terburu-buru. Ashton benar, aku memang tidak punya tempat tujuan. Namun, aku hanya ingin segera meninggalkan tempat ini. Aku merasa Ashton seperti telah mengupas kulitku dan menjemurnya di bawah sinar matahari. Aku hampir ditelan rasa malu.

Tidak ada banyak barangku di rumah Ashton. Sebagian besar barang yang kubeli adalah panci dan wajan untuk memasak, satu set seprai, serta beberapa bantal dan dekorasi lainnya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 20

    Ashley juga menyuruhku pergi dan aku benar-benar pergi.Sesampainya di rumah, aku menemukan setelan piama Snoopy itu di lemari. Aku tahu dia membelikan piama couple untuk kami, tetapi aku tidak mengatakan apa pun saat itu dan bahkan memakainya beberapa kali. Dia selalu sangat senang ketika melihatku mengenakan piama itu. Dia akan diam-diam tertawa, juga mengambil foto.Sebelum pergi, dia menyuruhku membuang piama itu. Namun, entah kenapa aku tidak melakukannya dan malah menyimpannya di lemari.Aku mengeluarkan piama itu dan hanya menatapnya sambil termenung. Kemudian, aku baru menyadari bahwa aku sebenarnya sudah menyukai Ashley sejak lama. Sebenarnya, akulah yang lebih bergantung padanya. Hanya saja, dalam alam bawah sadarku, aku merasa aku tidak seharusnya menyukainya.Aku ingat apa yang dikatakan ibuku sebelum meninggal. Jangan terlalu menyukai seseorang, cinta bisa membunuh.Cinta sudah membunuhnya. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk satu pria, tetapi pada akhirnya, dia malah k

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 19

    "Tapi sekarang, aku mengerti bahwa siapa pun bisa tetap bisa melanjutkan hidup meski kehilangan orang tertentu. Pada akhirnya, perasaanmu juga akan pudar," ucapku.Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir lima menit. Jika aku terlambat, Bastien yang pencemburu itu pasti akan menyindirku.Aku berbalik dan melambaikan tangan. "Ashton, aku masuk dulu, ya." Setelah berjalan cukup jauh, aku tiba-tiba mendengar tangisan yang memilukan dari belakang."Ashley, aku nggak bisa lupakan kamu! Aku nggak akan pernah bisa lupakan kamu!"Aku tidak menghentikan langkahku."Haih, Ashley ... aku nggak bisa lupakan kamu ...."Ketika aku sedang melepas sepatu, Bastien bersandar di dinding dan tidak berhenti menyindirku sambil melirikku.Aku berpura-pura santai dan berkata, "Ibuku suruh kita pergi makan pangsit nanti. Kamu mau ikut?"Dia langsung melupakan kejadian tadi dan menjawab, "Ikut!"...Kabar tentang Bastien, sang pelukis jenius yang akan mengadakan pameran menjadi viral di internet.Temanku sangat

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 18

    "Ada lagi?" tanya BastienAku tidak bisa menahan rasa perih di hidungku dan menunduk untuk menyembunyikan air mata."Nggak ada lagi."Bastien menyeringai nakal. "Ops, ada yang mau nangis."Mataku sudah berkaca-kaca, tetapi dia malah mencondongkan tubuhnya untuk menatapku dari bawah dan bertanya dengan usil, "Nangis? Benar-benar nangis?" Pria ini benar-benar gila! Kali ini, aku tidak bisa menangis lagi. Aku mendorongnya menjauh dengan marah. "Kamu gila?" Namun, Bastien malah tertawa. Sudut matanya melengkung dengan tajam. "Aku tahu kamu nggak rela aku pergi. Aku akan kembali lusa. Jangan lupa menjemputku di bandara."Aku bertanya dengan terkejut, "Hah? Kamu akan kembali?""Omong kosong." Dia memutar matanya, lalu menyeka air mata dari sudut mataku. "Aku sudah bayar sewa setahun."Aku bertanya tanpa berpikir, "Gimana setelah setahun?"Bastien mengelus dagunya sambil berpikir. "Setelah setahun, kurasa Ibu nggak akan minta uang sewa lagi dari menantunya."Wajahku seketika memerah. Aku me

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 17

    "Kita bersama, ya. Aku tahu kamu menyukaiku. Mulai sekarang, aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan. Aku nggak akan bersama orang lain lagi. Kembalilah, Ashley," ujar Ashton.Aku menatapnya sejenak dan tak bisa menahan diri untuk berpikir, betapa bahagianya aku jika dia mengucapkan kata-kata itu beberapa bulan yang lalu. Aku telah menyukainya selama bertahun-tahun. Dalam sepuluh tahun ini, aku pernah lelah, menangis, dan menderita. Namun, aku tak pernah berhenti mencintainya sekali pun. Akhirnya, aku mendapatkan apa yang selalu kuimpikan. Ashton membalas perasaanku.Namun, aku hanya merasa absurd. Kelelahan yang tak terlukiskan muncul dalam hatiku.Aku menggeleng dan menjawab, "Nggak."Ashton meraih bahuku dengan kening berkerut. Secercah amarah melintasi matanya."Kenapa? Ashley, kamu berani bilang kamu nggak menyukaiku?"Aku menatap matanya. Orang yang kucintai selama sepuluh tahun ini telah tumbuh dari seorang anak laki-laki menjadi seorang pria. Penampilannya tidak banyak ber

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 16

    "Oh begitu. Sayang sekali. Tapi, nanti kamu harus hadir di pernikahanku dan Ashton, ya!" ucap Isabelle.Aku terlalu malas untuk bermain-main dengannya. Jadi, aku hanya menjawab dengan asal, "Ya, kalau aku punya waktu." Sepanjang makan, Ashton tidak berhenti memamerkan kemesraan. Dia terus menaruh makanan di piring Isabelle, menggantikannya minum alkohol, juga saling berpelukan dengan sangat mesra.Jika itu dulu, aku pasti akan merasa sakit hati. Sekarang, yang kupikirkan hanyalah ciuman Bastien. Apa sebenarnya maksudnya? Apa dia menyukaiku? Jika begitu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku ... menyukainya?Ashton memamerkan kemesraannya dengan makin gencar. Isabelle yang awalnya tersenyum lebar tiba-tiba mengubah ekspresinya setelah Ashton menaruh sepotong daging sapi di piringnya.Dia berkata dengan kaku, "Ashton, aku alergi daging sapi. Kamu lupa?"Gerakan Ashton terhenti. Baru saja dia hendak berbicara, tiba-tiba terjadi keributan di meja sebelah.Meja sebelah adalah meja khusus un

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 15

    Selama beberapa hari terakhir, aku juga telah mencari tahu tentang Bastien. Dia sebenarnya adalah pelukis yang sangat terkenal dan berbakat di industri. Harga lukisannya paling tidak ratusan juta sampai miliaran. Salah satu lukisannya bahkan terjual lebih dari 6 miliar di acara lelang."Apa yang lagi kamu gambar akhir-akhir ini? Aku belum pernah melihatmu menggambar."Bastien menunduk dan melirikku. "Rahasia.""Cih, ya sudah kalau nggak mau kasih tahu. Kamu kira aku begitu ingin tahu? Kamu memang sok banget!" cibirku sambil memutar bola mata.Angin laut yang dingin dan lembap meresap ke tulang-tulangku. Setelah tinggal di area selatan sekian lama, aku sudah tidak terbiasa dengan cuaca dingin seperti ini. Aku menggosok-gosokkan tanganku dan mengembusnya.Bastien malah berkata dengan usil, "Sudah kubilang, pakai baju yang lebih tebal. Tapi kamu cuma fokus sama penampilan. Kedinginan, 'kan?"Aku memelototinya. "Laki-laki normal zaman sekarang akan melepas pakaian mereka dan memberikannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status