Partager

5. Terjerat Hutang

Auteur: DF Handayani
last update Date de publication: 2026-05-13 00:01:03

Mobil yang dikendarai Jemmy melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Bangunan itu menjulang angkuh, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau dingin yang mengintimidasi. Dari luar saja, gedung tersebut sudah menunjukkan satu hal, kekuasaan mutlak milik sang pemilik.

Catriona menyipitkan mata, menatap ke atas tanpa gentar. Bibirnya melengkung tipis, lebih menyerupai seringai ketimbang senyum. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah Jemmy yang duduk kaku di kursi pengemudi. Tangan pria itu mencengkeram setir erat, ruas jarinya memucat, dan getarannya jelas tak bisa disembunyikan.

“Bukannya ini perusahaan Crush Company?” ucap Catriona remeh. “Jadi ini yang kau maksud organisasi Black Jack?”

“Ya… benar, Nona,” jawab Jemmy lirih.

“Lalu kenapa tanganmu bergetar seperti orang mau mati?” dengus Catriona tajam. “Apa yang kau takutkan?”

“Nona sepertinya belum benar-benar paham,” ujar Jemmy dengan suara nyaris bergetar.

“Aku memang tidak paham dengan ketakutanmu!” potong Catriona dingin. “Turun, sekarang!"

Tanpa menunggu Jemmy bergerak lebih dulu, Catriona membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Ia mengayunkan langkahnya dengan angkuh, dagu terangkat tinggi. Rok span membungkus kaki jenjangnya dengan sempurna, selaras dengan heels stiletto setinggi sepuluh sentimeter yang membuat tiap langkahnya berbunyi tegas. Tas mewah menggantung santai di lengannya, seluruh penampilannya adalah simbol kekuasaan dan kepercayaan diri.

Begitu memasuki gedung, atmosfer langsung berubah. Semua pasang mata tertuju padanya.

Catriona memang tak pernah gagal menjadi pusat perhatian. Wajah cantiknya bak pahatan, tubuh molek dengan lekuk sempurna, aura dominan yang membuat siapa pun, baik pria maupun wanita secara naluriah menoleh. Para lelaki menelan ludah, sebagian terpaku, sebagian lain berpura-pura sibuk.

Jemmy bergegas menyusul dari belakang, napasnya terengah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Hari ini terasa seperti hari terakhirnya bernapas.

“Selamat datang, Nyonya,” sambut resepsionis dengan senyum profesional.

Tatapan Catriona langsung berubah tajam. “Panggil aku Nona Catriona.”

“Maaf, Nona Catriona,” gugup resepsionis itu. “Apakah Nona memiliki janji?”

“Aku ingin bertemu pimpinanmu.”

“Tuan Ricard?” tanya resepsionis ragu.

“Bukan.” Catriona mendekat satu langkah. “Black Jack.”

Senyum di wajah resepsionis mengeras. Nama itu bukan nama yang disebut sembarangan.

“Tidak ada orang bernama Black Jack di sini, Nona,” jawabnya hati-hati.

Catriona mendecak kesal. Ia mengeluarkan sebuah map, lalu melemparkan surat penyegelan ke meja resepsionis. Logo di sudutnya membuat wajah lelaki itu langsung berubah pucat.

“Sebaiknya kau periksa ulang sebelum menuduhku.”

Resepsionis itu segera menelan ludah dan menghubungi seseorang. Beberapa detik terasa seperti menit yang menyesakkan.

“Nona Catriona Wilson dipersilakan menuju lantai Departemen,” ucapnya akhirnya. “Kepala Departemen sudah menunggu.”

Tanpa ucapan terima kasih, Catriona berbalik menuju lift VIP. Jemmy berdiri terpaku.

“Kau tidak perlu ikut,” ujar Catriona dingin saat Jemmy hendak melangkah. “Kehadiranmu hanya menggangguku.”

Pintu lift tertutup di depan wajah Jemmy, meninggalkan pria itu dengan firasat buruk yang semakin menguat.

Lift berhenti di lantai khusus. Pintu terbuka, dan seorang pria berpakaian serba hitam sudah menunggu.

“Silakan ikut saya, Nona.”

Koridor lantai itu sunyi, dipenuhi pegawai pria yang diam-diam mencuri pandang. Tak ada satu pun pegawai perempuan di sana, dan kehadiran Catriona bagai anomali yang memesona.

Ia berhenti di depan sebuah pintu besar bertuliskan Departemen Aset. Dua pengawal memberi hormat dan membukakan pintu.

Begitu melangkah masuk, napas Catriona tertahan.

“Ayah?” serunya tak percaya.

“Catriona?” Wilson berdiri dari kursinya, sama terkejutnya.

Dunia seakan berhenti berputar.

“Jelaskan semua ini,” suara Catriona bergetar menahan amarah. “Apa ini ada hubungannya dengan penyegelan perusahaanku?”

Kepala Departemen mempersilakan mereka duduk, lalu berbicara datar. “Wilson Group disita karena Tuan Wilson gagal melunasi hutang pribadinya.”

“Hutang?” Catriona menatap tajam. “Perusahaan kami tidak punya hutang.”

“Bukan perusahaan. Hutang pribadi Tuan Wilson. Seluruh aset dijadikan jaminan.”

Setiap kata terasa seperti tamparan.

“Perjudian?” suara Catriona pecah. “Apa itu benar?”

Wilson hanya mengangguk pelan.

Kepala Catriona pening. Dadanya sesak.

“Berapa?” desaknya.

Wilson terdiam. Lalu berkata ringan, “Kau tak akan mampu membayarnya.”

Catriona mengepalkan tangan. “Aku akan melunasinya. Beri aku waktu.”

“Keputusan ini mutlak,” jawab Kepala Departemen. “Atas perintah Tuan Black Jack.”

Nama itu kembali menggema.

“Ya, Black Jack, sejak tadi aku juga ingin menemuinya. Bawa aku menemuinya, sekarang!” ucap Catriona tegas, tanpa setitik pun rasa takut.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   140. Kabar Buruk

    "Selamat Pagi kakek Barcklay!" sapa Derren dengan nada suaranya yang berat. Terlihat kegelisahan dan sedikit takut di wajah Derren."Derren, lama tak berbicara denganmu. Sepertinya kau sangat sibuk akhir-akhir ini. Atau kau sengaja untuk menghindari ku?" satir Barcklay."Maaf kakek, hanya ..." Belum Derren selesai berbicara, Barcklay sudah memotong pembicaraan mereka."Hanya kau gagal mendapatkan yang seharusnya menjadi milikku. Haruskah kakek kecewa padamu Derren? Saudaramu secara terang-terangan mengambilnya darimu. Tapi kau tak bisa berbuat apa pun!" sergah Barcklay seketika membungkam mulut Derren.Tangan Derren sedikit bergetar. Ini bukanlah hal baik. Dari nada bicara Barcklay, menunjukkan sebuah kemarahan yang besar. Tenggorokan Derren rasanya tercekat hebat. Napasnya tiba-tiba tak beraturan."Jika kau tak bisa menyelesaikannya, maka aku sendiri terpaksa turun tangan. Tunggu aku di bandara Barbara, Derren." ucap Barcklay kemudian menutup sambungan teleponnya.Nada sambungan tele

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   139. Sekali Lagi

    "Bangun Honey! Kau tak ingin melihat matahari terbit di sana!" Dominic mencoba membangunkan Catriona yang masih lelap dalam tidurnya.Selalu saja, Dominic yang pertama kali bangun. Dan Catriona selalu masih tertidur pulas. Alih-alih semalam mereka tidur, nyatanya keduanya melanjutkan pergumulan panasnya kembali.Baik Dominic maupun Catriona sama-sama lepas kendali. Bagaikan sebuah candu bagi mereka, tak ada rasa puas, ingin lagi dan lagi. Hingga keduanya terkulai setelah pelepasan terhebatnya.Dan benar saja. Sekarang Catriona seperti kehilangan daya di tubuhnya. Jangankan bangun, untuk membuka mata saja rasanya tak sanggup, seperti ada lem di kelopak matanya."Hm." Catriona hanya menggeliat dan merubah posisi tidurnya saja."Honey, kau akan terlambat jika tidak segera bangun." ucap Dominic mengingatkan."Hm." Hanya suara itu yang muncul dari bibir Catriona.Dominic juga tak mau terlambat bekerja. Sepertinya terpaksa ia harus membangunkan paksa dan memandikannya segera. Dominic mengan

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   138. Penyusup

    Langit seperti sedang mendukung mereka. Jika banyak orang bilang tempat paling indah melihat bulan dan bintang adalah di tepi pantai, memang benar jawabnya.Hari ini, Dominic dan Catriona memilih untuk bersantai di luar campervan. Beralaskan karpet tebal, ditemani lilin juga secangkir coklat panas. Beratapkan langit yang sangat cerah. Nampak keduanya sedang saling melemparkan candaan.Setelah pergumulan panas yang cukup lama, mereka berdua mandi bersama. Saling membantu membilas dan menggosok tubuh satu sama lain. Sepanjang malam ini mereka berdua tak henti bersenda gurau.Dunia hanya milik sepasang suami istri yang sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Tak ada lagi beban yang menghantui mereka. Semuanya kesedihan dan kegelisahan telah sirna tergerus oleh kebahagiaan.Keduanya memutuskan berkomitmen untuk saling mempercayai dan mencintai. Tak lagi peduli pada siapa saja yang ingin memisahkan mereka. Keduanya akan sama-sama bertahan.Dominic mendekap erat tubuh Catriona yang berbaring

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   137. Buat Aku Hamil

    Dominic menggesekkan kedua hidung mereka. Senyum pun terlukis di bibir Catriona yang sudah kehilangan lipstiknya, namun tetap bewarna pink alami.Bibir keduanya saling bertemu dan kembali memberikan kenikmatan satu sama lain. Kini Dominic melakukannya dengan lembut, tak mau tergesa-gesa dan membuat Catriona cepat sampai ke puncak lebih dulu. Ia ingin mencapainya bersama-sama.Kecupan itu tak lagi berada di bibir, melainkan sudah turun ke leher Catriona. Sudah banyak jejak kepemilikan yang ditinggalkan Dominic di sana. Kedua tangan mereka saling menggenggam erat, kala Dominic mulai bermain intens di dua bukit favoritnya.Tubuh Catriona mulai bergerak gelisah. Ia benar-benar masih sensitif. Namun, Dominic sudah kembali menjelajahi tubuhnya. Tak mau melewatkan sejengkal pun yang nampak di depan matanya. Gigitan-gigitan lembut menyambut erangan yang lembut, suara Catriona sudah terdengar parau.Dominic melepaskan genggaman tangannya. Tangan kokoh itu tak lagi menganggur. Ia sudah bergerak

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   136. Bermain Liar

    "Aku tak mau memaksa!" Dominic ingat betul bagaimana saat Catriona tersiksa karena melakukan hal itu. Itu sebabnya ia tak pernah lagi melakukannya saat bercinta."Aku sendiri yang menginginkannya!" ucap Catriona.Perlahan Dominic pun melepaskan cengkraman-nya, ia tak lagi menghalangi Catriona.Jemari lentik Catriona sudah berhasil meloloskan short pendek yang dikenakan suaminya. Dan hanya menyisakan satu-satunya penutup tubuh suaminya yang kekar nan atletis itu."Honey ..." Dominic mati-matian menahan hasrat yang hampir meledak. Saat Catriona mengusap lembut perut ratanya.Catriona duduk dengan tegap, dan sedikit mendorong tubuh Dominic."Aku tak mau memaksamu untuk melakukannya, Honey!" Dominic kembali mengingatkan. Catriona mendongak lalu mengulas senyumnya."Bagaimana jika aku yang menginginkannya?" timpal Catriona dan berhasil meloloskannya dari penutup terakhir.Catriona memejamkan mata sebentar begitu benda tersebut terpampang nyata di depannya. Dominic benar-benar tak percaya C

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   135. Melakukan Tugas Sebagai Istri

    Dominic menutup pintu mobil campervan miliknya. Dan menghempaskan tubuh Catriona di atas sofa bed yang dilapisi dengan bulu-bulu lembut.Sejak di atas gendongan Dominic, mata Catriona sudah menatap heran pada campervan yang tiba-tiba sudah terparkir di samping motor Dominic.Entah bagaimana caranya mobil yang sudah dimodifikasi mirip mini camp tersebut ada di sana. Tapi, kembali lagi, Catriona harus sadar siapa lelaki yang kini bersama dengannya. Dia adalah Dominic, lelaki penguasa yang memiliki kekayaan tak berseri. Apa pun bisa dia lakukan dalam sekejap."Bagaimana caranya mobil ini sudah ada di sini?" tanya Catriona.Dominic tak menjawab ia malah menarik pinggang Catriona hingga tubuh keduanya tak lagi memiliki jarak. Tangan Catriona berusaha menahan di depan dada. Tapi, dengan cepat Dominic menyingkirkannya. Tubuh keduanya masih sama-sama basah."Setidaknya biarkan aku membilas tubuh dulu." pinta Catriona tiba-tiba merasa sangat gugup melihat sorot mata Dominic yang berbeda.Mata

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   7. Seratus Milyar Untuk Servis Pembuka

    “Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   6. Jadilah Milikku, Layani Aku, Puaskan Aku!

    Setelah negosiasi panjang, akhirnya Catriona dan ayahnya-Wilson, melangkah ke lorong penghubung rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian orang terpercaya. Dua pengawal mengiringi mereka dalam diam. Lorong itu panjang dan sunyi. Di ujungnya, sebuah lift menanti. Salah satu pengawal menempelkan kar

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   4. Selamat Jadi Impoten!

    "Aaaaaarrgggghhh!" jerit Dominic, meringis kesakitan seketika. Lututnya lemas, tubuhnya berguncang hebat seperti diterjang aliran listrik mematikan.Catriona tak hanya menginjak kakinya, tapi menyikut keras bagian paling vital milik Dominic tanpa ampun, tanpa keraguan. Seketika pelukan erat pria it

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   3. Bayar Dengan Tubuhmu

    “Kau sangat keren!” puji Emely penuh kagum, matanya berbinar saat melihat Catriona melangkah keluar dari privat room dengan aura dingin namun memesona, bangga dan tanpa rasa bersalah. Catriona hanya menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah benar-benar hangat, tapi justru memancarkan el

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status