MasukCatriona menerobos dan melenggang masuk begitu saja. Ia langsung mencari sosok yang membuatnya sejak tadi penasaran. Derren mengikuti langkah Catriona dari belakang."Kakek!" panggil Catriona dengan suara lantangnya. "Kakek Barcklay!" panggilnya lagi seraya menyusuri ruangan. Ia clingak-clinguk kesana kemari mencari keberadaan kakeknya."Kakek!" serunya lagi, ia masuk ke dalam salah satu ruangan baca. Dan benar di sanalah kakeknya duduk santai sambil membaca buku.Catriona tersenyum saat melihat sosok kakeknya yang sudah lama sekali tak pernah dilihatnya. Terakhir kali bertemu, saat ia masih berusia lima belas tahun. Setelah itu, mereka tak pernah lagi saling menyapa. Seakan sengaja saling menghindari.Ia berjalan mendekati sang kakek. "Apa kakek tidak ingin menyapaku?" ujar Catriona.Barcklay yang sibuk dengan bukunya, akhirnya meletakkannya di atas meja. Ia memindai pandangannya dari buku ke arah Catriona."Apa benar ini cucuku?" tanya Barcklay menimpali dengan wajah datarnya.Catri
"Bagaimana kau tahu kakek Barcklay kemari Derren? Aku saja tidak tahu. Dan Ayah juga tidak menghubungiku. Artinya Ayahku juga tidak tahu hal ini!" seru Catriona merasa aneh. Di dalam benaknya kini dipenuhi dengan tanda tanya."Banyak yang membicarakan kedatangannya ke Barbara. Siapa yang tidak mengenal sosok Barcklay?" timpal Derren balik bertanya.Catriona menarik panjang napasnya. Sudah sangat lama sekali ia tak bertemu dengan sang kakek. Catriona tahu, jika kakeknya salah satu orang yang berpengaruh di Barbara.Namun, sejak dulu keluarganya tak pernah menyinggung sosok sang kakek. Catriona tahu, jika ayahnya tidak pernah akur sejak dulu.Catriona segera merubah topik pembicaraan. "Beruntung kamu menyelamatkanku, Derren." ucap Catriona berterima kasih.Sedikit saja Derren datang terlambat, mungkin ia akan menjadi santapan Maxim.Derren mengulas senyum, namun ia tetap fokus pada jalan raya. Entah, mengapa saat ini ia tak ingin menatap wajah Catriona secara langsung."Sudah tugasku Ca
Dengan keras Maxim menutup pintu mobilnya kembali dan menguncinya. Terlihat Catriona menggendor-gedor kaca mobil dan berusaha meloloskan diri. Namun, semuanya sia-sia karena pintu sudah terkunci. Dan kini, Maxim sudah duduk di kursi kemudinya."Kau harus membayar semua yang sudah kau lakukan padaku!" geram Maxim kemudian menekan gasnya dan melesat dengan cepat."Maxim, jangan membuat masalah denganku!" ucap Catriona."Kenapa aku harus takut padamu?" timpal Maxim dengan senyum remehnya."Ini adalah peringatan terakhir. Turunkan aku sekarang juga! Atau nyawamu akan terancam!" ancam Catriona penuh peringatan."Kau pikir aku takut dengan ancamanmu!" seringai Maxim sama sekali tak peduli dengan semua ancaman yang dilontarkan mantannya itu."Maxim!" bentak Catriona. "Dominic akan membunuhmu jika tahu kau membawaku pergi seperti ini! Aku sudah menikah dengannya. Jadi, jangan mencoba menyentuhku! Dia tak akan membiarkan siapa pun yang mencoba untuk menyakiti atau menyentuhku!" Catriona memper
Catriona berjalan menuju lobi rumah sakit tanpa ditemani siapa pun. Nampak ia sibuk dengan ponsel miliknya. Sejak tadi ia berusaha menghubungi Dominic. Akan tetapi, belum ada jawaban. Beberapa pesan chat ia kirimkan untuk memberi tahu jika, saat ini dirinya sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. "Apa dia sangat sibuk?" gumamnya sendiri saat melihat tak ada balasan dari suaminya. Catriona menyimpan kembali ponselnya lalu menuju ke tempat resepsionis. "Selamat Pagi, ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya Resepsionis dengan ramah. "Bisa berikan saya jadwal salah satu dokter kandungan shift pagi ini?" tanya Catriona. "Sudah memiliki janji sebelumnya?" tanya Resepsionis. Catriona menggelengkan kepalanya. "Saya belum memiliki janji." jawabnya. "Maaf Nona, semua dokter shift pagi sudah full. Jika tidak keberatan Nona bisa menunggu pada shift selanjutnya." saran Resepsionis. "Begitu ya." Catriona diam sejenak untuk berpikir. "Bisa berikan saya jadwal sif
"Anda menolaknya dengan keren Nona. Lihat ekspresinya tadi, ia menahan malu! Aku mendengar dia seorang playboy. Banyak wanita yang sudah tidur dengannya." cibir Jemmy."Apa kau admin akun gosip? Bagaimana bisa kau tahu seluk beluk kehidupan pribadi seseorang?" timpal Catriona tak peduli.Ia beranjak dari tempat duduknya dan menyambar tasnya. "Jemmy aku harus pergi sekarang! Jika ada yang mencariku, kau bisa menghandlenya lebih dulu. Jika itu tidak terlalu penting. Jika ada hal mendesak segera hubungi aku!" pesan Catriona."Nona mau pergi kemana? Menemui Tuan Dominic?" tanya Jemmy."Tidak, aku akan memeriksakan kandunganku." ucap Catriona.Jemmy tertegun mendengarnya. Antara bahagia dan tak percaya. "Apa Nona sedang hamil?" tanyanya."Secepatnya Jemmy." jawab Catriona.Jemmy senang mendengarnya. "Nona, saya selalu mendukung kalian berdua." ucap Jemmy dengan tekad penuh. Apalagi setelah mendapatkan mandat dari Mark pagi tadi. Semangatnya untuk melindungi dan mendukung Catriona semakin m
"Tuan, saya mendapat kabar jika tuan Derren dan nona Dayana membatalkan penerbangan mereka hari ini." lapor Mark.Dominic tak merespon, namun ia mendengarkan laporan dari Mark. Bukan tidak peduli, Dominic justru memikirkan sesuatu. Derren membatalkan penerbangannya bersamaan dengan kedatangan Barcklay.Artinya hal ini bukanlah suatu kebetulan. Melainkan memang Derren sengaja membatalkannya karena Barcklay datang ke Barbara."Mark, sepertinya aku perlu mengunjungi mertuaku." ucap Dominic dengan senyum tipisnya yang mengandung satu arti rahasia."Saya sudah menghubungi Jemmy, dia mengatakan jika tuan Wilson sudah kembali ke mansionnya." ucap Mark."Pesankan wine terbaik dan kirim ke alamat mansion mertuaku. Kita perlu mengundang Victor bersama." ucap Dominic sudah menyusun rencananya.Mark melirik tuannya dari kaca spion. Ia mengulas senyum tipis."Tak ada salahnya berdamai dengan ayah mertua." timpal Mark.***"Paman Barcklay kemari?" Jenny menatap tegang pada Derren dan juga Jackson.
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp
“Kau sangat keren!” puji Emely penuh kagum, matanya berbinar saat melihat Catriona melangkah keluar dari privat room dengan aura dingin namun memesona, bangga dan tanpa rasa bersalah. Catriona hanya menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah benar-benar hangat, tapi justru memancarkan el
Hanya ada satu orang. Satu-satunya teman yang pernah menyebutnya "kucing arogan" hanyalah Dominic, si lelaki cupu yang dulu kerap menjadi korban bully di sekolah.“Tidak mungkin…” gumam Catriona pelan. Masih tak percaya. Bagaimana mungkin Dominic, lelaki cupu yang dulu tak berani menatap mata siapa
Anda yakin akan menghabiskan malam di sini, Tuan?" tanya seorang pria tegap dari balik kursi kemudi. Nada suaranya sopan, namun jelas menyiratkan kegelisahan."Hm," jawab lelaki di belakangnya dengan suara berat dan dalam. Sebuah smirk angkuh menyungging di sudut bibirnya. Dingin. Tajam. Membekukan







