Share

BAB 2. Aku Ingin Cerai

Penulis: Bayang Cermin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-01 12:19:05

Mendengar kata cerai, Davin tersentak dan segera mematikan ponselnya. Kata-kata yang sangat mustahil diucapkan Irenne, terlontar begitu saja.

Davin bangkit dari kursinya, menghampiri Irenne. "Omong kosong! Kau sadar apa yang baru saja kamu katakan, ha?" 

Irenne berdecih, "Kau bilang omong kosong? Apa kau perduli padaku? Aku baru saja keguguran, tapi kau bahkan tidak menjenguk. Kau asik selingkuh, kan?"

Pandangan Irenne dan Davin saling bertaut. Ia tak menyangka Irenne mengetahui perselingkuhannya. Namun, alih-alih merasa bersalah ia justru bersikap acuh tak acuh.

Davin membalas, "Kau keguguran karena kecerobohanmu sendiri. Atas dasar apa kau menuduhku selingkuh?" 

Irenne tak percaya, lelaki yang begitu di cintainya tega mengatakan hal itu. Bayinya bahkan tidak diperdulikan sedikitpun.

Padahal, Davin selalu mendesaknya untuk segera hamil. Keluarganya bahkan menuduhnya mandul. 

Ironisnya, saat Irenne hamil mereka tak ada yang perduli.

“Suami macam apa kamu Davin?!”

Irenne mengambil ponsel, menggenggamnya  erat. Ia menunjukkan bukti foto dan video perselingkuhan Davin.

Davin terlihat terkejut. Tetapi tetap acuh tak acuh, dan berusaha tidak tampak bersalah.

"Jangan salahkan aku. Semua itu aku lakukan karena aku ingin punya anak. Siapa suruh selama ini kau tak juga hamil, dan sekarang kau bahkan keguguran," ujarnya santai.

Irenne menggeleng lemah, tangannya terasa lemas. Ia mengabaikan Davin.

Dengan tertatih ia berjalan menuju kamarnya di lantai dua, menaiki anak tangga satu persatu dengan hati-hati. Davin bergegas mengikutinya dari belakang.

Pintu kamar terbuka, disambut kenangan indah yang kini terasa pahit. Sesaat matanya terpejam.

Irenne berjalan menuju lemari, mengambil koper besar. Pakaian, beberapa perhiasan dan surat-surat berharga dimasukkannya satu persatu. 

Davin merebut koper yang ada di tangan Irenne. "Kamu gila?! Kamu benar-benar mau bercerai?!" 

Irenne menarik kembali kopernya, matanya berkilat tajam. "Iya, aku yakin. Untuk apa pernikahan ini di pertahankan. Selama ini kau juga sudah mengabaikan aku."

Irenne menyeret koper keluar kamar. Davin yang tak rela kehilangannya mencoba mengejar Irenne.

"Mau kemana kamu!"

“Terserah aku mau kemana. Toh selama ini aku tidak ada apa-apanya di mata kamu!” ujar Irenne menahan sakit hatinya.

Saat di lantai bawah, Davin menghentikan langkah Irenne.

Davin menghadangnya. "Aku tidak akan menceraikan kamu," ucapnya berusaha menghentikan Irenne.

Meskipun kini ia berselingkuh dengan Aurel. Irenne tetaplah wanita yang pernah dicintainya. Ia tak pernah berniat menceraikannya. 

"Untuk apa kau menghalangi wanita tidak tau diri itu?" Irish berjalan menghampiri mereka. 

Irish melirik Irenne dengan tatapan meremehkan.

"Sudah, ceraikan saja dia! Kita tidak butuh wanita sakit!" cacinya tanpa sedikit pun rasa iba. 

Irenne menggenggam erat pegangan kopernya. Ia harus menahan semua hinaan dan cacian dari mertuanya.

Irish selalu memperlakukannya dengan buruk selama ini. Namun, berbeda dengan perlakuannya ke Aurel.

Saat Aurel datang ke rumah. Irish selalu menyambutnya bahkan memintanya untuk melayaninya.

Irenne tak ingin berdebat. Ia memilih pergi meninggalkan mereka.

"Irenne!" teriak Davin.

Namun, Irish menghentikannya. Ia lebih menginginkan jika Davin bersama Aurel. Karena selama ini dia tau, kekayaan keluarga Irenne dikendalikan Amy Adelineーibu tiri Irenne.

Jika terus bersama Irenne, ia khawatir Davin tak akan mendapatkan warisan dari keluarga Kenneth.

Irenne memanggil taksi. Di dalam mobil, tangisnya pecah. Ia sudah berusaha menahannya. Rasa sakit yang dialaminya begitu mendalam. 

Irenne berencana tinggal bersama Andreaーsahabatnya. Namun setelah dipikir-pikir, ia takut jika Davin akan mencarinya ke sana.

Akhirnya, Irenne memutuskan menyewa apartemen dengan uang tabungannya. Ia meminta bantuan Andrea untuk mencarikannya apartemen. 

 

Irenne bertekad bangkit dari keterpurukan. Ia ingin bekerja. 

Dengan latar belakang pendidikannya yang mumpuni sebagai lulusan terbaik Desain Arsitektur dari universitas di New zerland.

Irenne melamar pekerjaan melalui situs-situs online dan berbagai perusahaan desain ternama.

Keesokan harinya, Irenne dihubungi pihak perusahaan untuk wawancara. 

Irenne berdiri di depan gedung tinggi Estetika Design. Perusahaan besar di kota Laudion. 

Logo perusahaan terpampang jelas. "Aku pasti bisa," gumamnya mantap. 

Dengan penuh percaya diri Irenne melangkahkan kakinya. Matanya berbinar saat melihat lalu lalang orang dengan pakaian rapi.

Ini pengalaman pertamanya melamar pekerjaan. Namun, ia tersentak saat melihat Aurel dan Davin yang baru saja keluar dari dalam ruangan.

Irenne menghentikan langkahnya saat Aurel menghampirinya dengan tatapan merendahkan. 

Aurel tersenyum sinis. "Lihatlah, siapa ini?" 

Pandangan Davin dan Irenne bertemu. Davin tampak acuh, bahkan seakan tak mengenalinya.

Aurel mengejeknya. "Ah ... Irenne. Sekarang kamu jatuh miskin, ya? Jadi mau coba kerja?" 

Irenne melempar pandangan tajam. "Aku tidak punya urusan denganmu, jadi jangan ganggu aku."

Irenne tak ingin membuat keributan. Ini kali pertama ia mendapatkan kesempatan wawancara. Ia tak ingin menyia-nyiakannya. 

Aurel tak menghiraukan ucapan Irenne. Ia justru menghadangnya.

"Tapi aku tidak akan biarkan kamu bekerja di sini," sahut Aurel.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Lisna Yati
sukses selalu BAYANG CERMIN.GBU
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 79. TAMAT

    Suara tangis bayi memenuhi kamar besar istana keluarga Mark—suara yang menggema lembut di antara dinding-dinding marmer, lampu kristal yang berpendar hangat, menyatu dengan tangisan bayi perempuan berusia 3 bulan. Irenne duduk di sisi tempat tidur besar, menggendong bayi perempuan mungil di pelukannya. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun penuh cinta. "Kamu kenapa nangis terus, sayang?" bisiknya lembut, mengusap pipi si kecil yang kemerahan. "Kamu nunggu Papa pulang ya?" Arley, yang kini sudah terlihat lebih tinggi, berdiri di samping Irenne sambil memiringkan kepala memperhatikan adiknya. "Mungkin Dede mau susu, Ma," ucap Arley polos, senyumnya mengembang melihat bayi itu dengan gemas. Sebelum Irenne sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Pintu kamar terbuka pelan. Mark muncul dengan wajah lelah namun langsung berubah cerah saat mendengar suara tangis itu. "Hei, Sayang … anak Papa," ujar Mark sambil mendekat cepat. "Marlen, sini sama Papa." Tanpa

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 78. Malam Pengantin

    "Oma, Aley mau sama Mama!" seru Arley bersiap berlari ke arah Irenne. Tapi Irish mencegahnya. "Sayang, Arley cucu Oma. Papa sama Mama kan sedang menikah. Biar Mama Irenne bisa urus Arley terus. Jadi Arley gak usah ganggu. Arley ikut Oma aja yah. Kita pulang. Besok juga Papa Mama sudah pulang kok." Arley tersenyum. "Jadi Mama akan sama-sama Aley terus? Asyiiik!" seru Arley sambil naik ke mobil bersama suster Ina. Di sisi lain, Laura akhirnya berkata pelan, "Tadi… Mark banyak bercanda tentang saya dan Bapak." Edgar refleks sambil batuk kecil. "Ah … itu Mark. Dia memang suka omong sembarangan." "Hmmm, begitu ya?" Laura menatapnya singkat, matanya jernih. "Ya, sudah ... jangan diambil hati." Laura hanya tersenyum, menatap kembali ke jalanan gelap yang diterangi lampu mobil. "Padahal saya … tidak keberatan kok, kalau dia mau atau tidak bercanda, terserah Mark aja." Mobil seketika terasa lebih sempit. Edgar menaikkan kerah kemejanya, yang seolah-seolah panas, tapi membuang rasa gugu

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 77. Seusai acara

    Edgar.Gerakannya cepat, refleks, seperti ia sudah terbiasa melindungi tanpa berpikir. Laura terperangkap dalam pelukan yang tidak ia duga—dadanya menempel tipis ke dada pria itu.Mata mereka bertemu. Beberapa detik terasa seperti dunia berhenti berputar. Jarak wajah mereka hanya beberapa inci. Napas mereka hampir bersentuhan. Laura bisa merasakan dada Edgar naik turun dekat sekali dengan dirinya, terlalu dekat.Ada getaran halus, tapi terasa jelas—menyeruak dari dasar hatinya. Sesuatu yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.Edgar juga tak bisa memalingkan tatapannya. Mata pria itu melembut. Waktu seolah membeku. Sampai akhirnya Laura tersadar."Oh, ma—maaf"Ia buru-buru berpegangan ke samping, melepaskan pelukan tangan Edgar dengan kikuk. Wajahnya memerah, bukan karena malu saja, tapi karena perasaan yang tiba-tiba menyerbu tanpa permisi."Terima kasih …" ucap Laura cepat, nyaris berbisik, tanpa berani menatap mata Edgar lagi.Wanita itu langsung membalikkan badan dan melangkah ce

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 76. Pernikahan Berlangsung

    Seminggu kemudian, di sebuah gedung pencakar langit yang hampir menyentuh awan, pernikahan Mark dan Irenne berlangsung dengan sangat megah. Lantai ballroom dibuat seolah berada di langit, dilengkapi kaca besar menghadap panorama kota malam yang bertabur cahaya. Dekorasinya elegan, mewah, dan berkelas. Aroma bunga segar—mawar putih, peony merah muda, lily casablanca, anggrek, dan sedikit wangi lavender, menyebar lembut ke seluruh ruangan. Warna-warni bunga itu tersusun artistik, menghiasi setiap sudut dengan estetika yang memanjakan mata. Lampu kristal di langit-langit berkilau seperti bintang. Lalu muncul lah sosok yang paling ditunggu. Irenne, mempelai wanita. Ia melangkah perlahan, gaunnya memantulkan cahaya setiap kali ia bergerak. Gaun Victoria Swarovski yang ia kenakan diselimuti detail berlian kecil yang terjahit halus hingga ke ekor gaun. Di beberapa sisi, tersemat emas 18 karat, membingkai siluet tubuhnya dengan kemewahan yang lembut. Setiap orang yang melihatnya langsung t

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 75. Peresmian Perusahaan Irenne.

    Seisi ruangan terperangah. Amy mundur satu langkah, wajahnya berubah pucat. "K—kamu bercanda, kan?" suaranya gemetar. "Sejak kapan aku suka bercanda?" Suara Edgar penuh tekanan. Edgar menunduk, suaranya meledak. "Aku tidak ingin hidup dengan seseorang yang hanya mengejar harta dan mempermalukan keluargaku." Amy memekik, "Tidak! Tidak, kamu tidak bisa! Edgar! EDGAR!" Namun Edgar tak lagi menoleh. Ia berjalan menghampiri Irenne, menyilangkan kedua tangan di dada, menunduk dalam. "Maafkan Papa, sekali lagi, maafkan Papa." Irenne terdiam, tidak berkata apa pun. Namun Arley memeluk kaki ibunya, menatap Edgar dengan bingung. Mark langsung bergerak, berdiri di depan Irenne dan Arley—melindungi mereka dari kerusuhan yang mungkin terjadi. Irenne langsung menggendong Arley. Amy sangat terpukul, tubuhnya seperti tersengat listrik ketika kata "cerai" meluncur dari bibir Edgar—suaminya sendiri. Dia kembali menghampiri Edgar. "kamu, kamu jadi belain Irenne?" suara Amy bergema,

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 74. Pembukaan Perusahaan Kenneth yang Baru

    Seminggu kemudian, gedung baru itu berdiri megah dengan kaca bening yang memantulkan cahaya matahari siang. Di fasad depan, terpampang jelas tulisan “Irenne Vision Architecture”, sebuah nama yang kini menjadi kebanggaan sekaligus simbol perjalanan penuh luka dan keberanian. Hari itu, halaman gedung sudah dipadati para karyawan yang hadir untuk merayakan ulang tahun pertama perusahaan itu—ulang tahun yang menandai langkah besar Kenneth yang memulai semuanya dari nol kebangkrutan demi membangun masa depan untuk Irenne dan Arley. Dekorasi sederhana namun elegan terpajang di area lobi. Balon-balon putih, bunga putih, dan pita emas tergantung anggun, memberikan nuansa hangat namun tetap profesional. Di dekat panggung kecil, Laura berdiri dengan pakaian formal hitam-putih yang membuatnya tampak lebih dewasa dari biasanya. Ia tersenyum, kali ini tanpa ironi, tanpa ambiguitas. Ketika Laura, mendekat, ia langsung mengulurkan tangan pada pada Irenne. "Selamat atas ulang tahun pertama perusa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status