Mag-log inBab 83: Aku Tidak Sedang Mengusirmu, NaiMalam beranjak semakin larut, namun sepasang mata Albert masih menatap langit-langit kamar dengan nanar. Kamar yang luas itu terasa begitu sunyi dan mencekam. Kalimat sang papa terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.“Carikan rumah baru... Jangan tinggal seatap selama belum ada ikatan resmi. Itu tidak baik untuk ketenangan jiwa Naina sendiri. Dulu papa pikir bisa memberikan Naina perlindungan saat berada di rumah ini. Itulah kenapa Papa memintanya untuk kemari, tapi ternyata sampai setahun berlalu, dia masih tetap menolak kamu. Nak, jangan terlalu dipaksakan. Seorang wanita yang sudah terlanjur disakiti tidak akan mudah untuk kamu bujuk... Papa bisa mengerti perasaan kamu. Tapi jangan sampai kamu kehilangan akal sehat."Albert mendengus, membalikkan tubuhnya ke samping. Hatinya bergejolak hebat. Melepaskan Naina keluar dari rumah utama ini rasanya seperti mencabut separuh nyawanya sendiri. Meskipun dalam satu tahun terakhir keadaan
Bab 82: Mau Sampai Kapan, Al?Klek.Gagang pintu kuningan itu berputar dengan mudah karena memang tidak dikunci dari dalam. Dengan dada yang bergemuruh oleh amarah dan rasa muak, Gayatri mendorong daun pintu itu dengan kasar, siap melabrak kebejatan yang ia pikir sedang terjadi di dalam sana.Dia sudah membayangkan Albert dan Naina tengah bergumul hebat, berbagi kenikmatan. Gayatri tahu jika mereka masih saling mencintai.Dalam kurun waktu setahun, mustahil jika tidak pernah terjadi apa-apa. Itu yang ia takutkan. Jangan sampai ia memiliki cucu lagi yang tidak jelas statusnya.Dia memang jarang berada di rumah ini, namun dia selalu memantau lewat kepala pelayan di rumah ini. Wanita itu sangat bisa dipercaya. Kinara selalu melapor semua perkembangan yang terjadi di rumah. Namun anehnya, Kinara tidak pernah melaporkan soal keintiman Albert dan perempuan itu. Apa memang ada hal yang terlewat?"Albert! Apa-apaan kamu—"Kata-kata Gayatri mendadak tercekat di tenggorokan. Matanya membe
Bab 81: Apa Aku Terlalu Lemah?Pertahanan Albert akhirnya runtuh, wajahnya yang tegas perlahan melembut, dia memeluk Naina erat sekali. "Maafkan aku, Nai. Aku nggak kepikiran sampai sana. Waktu itu yang ada di otakku hanya keinginan untuk memilikimu seutuhnya. Aku nggak punya cara lain lagi, karena pernikahanku dengan Cherry sudah terlanjur.""Kamu egois, Al! Kamu nggak mikirin gimana menderitanya aku setelah kejadian itu. Kamu pergi gitu aja, nggak ada tanggung jawab. Aku pikir kamu sudah bahagia dengan istrimu. Rasanya....""Stop!" Albert buru-buru menyela. "Aku sudah menerima hukuman dengan kehilangan dirimu masa itu, saat kamu memutuskan untuk menikah dengan Revan. Dalam ketidakberdayaan, apa yang bisa kulakukan, Nai? Aku hampir gila waktu itu, menyadari jika kamu lepas dari jangkauan, padahal saat itu aku tahu kamu telah mengandung Bilqis.""Sayang... tolong, jangan pergi. Kita sudah sampai sejauh ini, kita bisa sama-sama, walaupun kamu tidak mau diajak untuk menikah. Kalau anak-
Bab 80: Bukan Inginku Ada Diantara Kalian Suasana restoran ini tidak terlalu ramai. Ini bukan restoran untuk kelas menengah ke atas, tetapi hanya restoran sederhana, meski letaknya juga di mall. Harga makanannya juga tidak terlalu mahal. Naina sengaja memilih itu, dari beberapa rekomendasi restoran yang di sebutkan oleh Albert, karena tahu sendiri gimana kondisi keuangan Albert sekarang. Meskipun Albert sudah terlihat cukup mapan dengan perusahaan barunya, tapi bagi Naina, jika memang tidak terlalu urgent, dia tidak akan meminta Albert untuk mengeluarkan uang.Ini hanya sekedar perayaan kecil, meskipun bagi Naina, tetaplah bukan sebuah perayaan. Ini hanya sekedar makan-makan, dan dia tidak ada sedikitpun rasa senang dengan perceraian Albert dan Cherry.Hatinya sudah lama hambar. Albert bercerai dari Cherry atau tidak, itu bukan urusannya.Dia hanya mengikuti alur yang di buat oleh pria itu, karena sulit baginya untuk keluar dari jeratan Albert."Bukan inginku ada di antara kalian!"
Bab 79: Jangan Menangis, Nai"Jangan menangis, Nai." Pria itu menegakkan wajah Naina, lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Aku janji, aku nggak akan membuat kamu menangis. Aku akan berusaha untuk bersabar....""Kurang sabar apalagi aku sama kamu, Al?" sergah Naina dengan nada putus asa. Dia memejamkan matanya sejenak. Kalau boleh jujur, luka dengan Albert sudah terlalu dalam. Luka yang tak pernah Albert sadari, karena dia sibuk menyalahkan orang lain yang menyebabkan hubungannya dengan Naina di masa lalu kandas. "Sejak kita memiliki hubungan, aku seperti terperangkap dalam satu labirin, dan aku tersesat. Kamu nggak akan tahu gimana rasanya....""Aku tahu, meski dalam bentuk yang berbeda. Kita sama-sama menderita." Pria itu mengusap-ngusap pundak Naina dengan lembut. "Ayo kita jalani semuanya sama-sama. Kalau memang kamu nggak mau menikah sekarang, oke. Bisa nanti-nanti, tapi yang jelas, aku akan selalu menunggumu. Aku nggak akan maksa...""Tapi caramu menungguku, seolah-olah
Bab 78: Biarkan Aku Pergi"Menikah?"Edward balas menatapnya dengan raut wajah serius."Memangnya kenapa, Pa? Aku ingin segera meresmikan hubungan dengan Naina. Aku ingin menikahinya secepat mungkin, meskipun secara siri dulu sambil menunggu urusan cerai dengan Cherry tuntas di pengadilan," ujar Albert mantap. Suaranya penuh ambisi, seolah-olah pernikahan adalah sebuah transaksi yang bisa ia putuskan sepihak.Edward menghela napas panjang, dia yang duduk disamping putranya itu. "Al, kamu harus ingat satu hal. Menikahi Naina bukan hanya soal kemauanmu. Dia sudah terlalu lama disakiti, terlalu sering menjadi korban dari keadaan yang kamu buat. Belum tentu dia bersedia menjadi istrimu lagi setelah semua babak belur yang ia rasakan.""Dia butuh perlindungan, Pa. Dan satu-satunya cara melindunginya adalah dengan menjadikannya istriku," bantah Albert keras kepala."Tapi bukan begitu caranya," ujar sang papa dengan ketenangan yang terukur."Dari awal kamu sudah salah. Kamu memperkosa
Bab 58"Maaf, saya bukan Revi. Mungkin Mbak salah orang." Suara itu lirih, bahkan menyerupai desir angin.Naina memindai wajah dan tubuh itu. Tak ada yang berubah. Hanya saja, Revi yang sekarang kulitnya terlihat lebih gelap dan tubuhnya berisi... Ah tidak. Hanya bagian perut saja yang berisi, terl
Bab 57 Roy sudah berusaha mengucapkan kalimat selembut mungkin, tetapi tetap saja penuh tekanan. Dia berjuang keras untuk menyembunyikan rasa cemburu di dadanya. Bagaimana mungkin dia tidak cemburu, saat mengetahui ternyata Naina masih sering dikirimi uang oleh Albert? Memang itu sebagai bent
Bab 56Naina terus mengomel sepanjang perjalanan. Dia menyalahkan Roy yang memberikan stroller itu begitu saja kepada Rere. Padahal Naina tahu, harga stroller itu tidak murah. Kalau stroller yang kemarin dibelinya untuk Bilqis saat masih di rumah Albert, mungkin Naina masih bisa merelakan. Tapi str
Bab 55"Naina memang bukan siapa-siapanya Mbak Novia. Dia hanya seorang tetangga yang kebetulan datang ke rumah ini. Tetapi apakah dia hanya diam saja jika menyaksikan ada seseorang yang dikenalnya mendapatkan perlakuan yang menyakitkan?!" Belum sempat Naina menjawab, suara bariton itu lebih dulu h







