LOGINBab 81: Apa Aku Terlalu Lemah?Pertahanan Albert akhirnya runtuh, wajahnya yang tegas perlahan melembut, dia memeluk Naina erat sekali. "Maafkan aku, Nai. Aku nggak kepikiran sampai sana. Waktu itu yang ada di otakku hanya keinginan untuk memilikimu seutuhnya. Aku nggak punya cara lain lagi, karena pernikahanku dengan Cherry sudah terlanjur.""Kamu egois, Al! Kamu nggak mikirin gimana menderitanya aku setelah kejadian itu. Kamu pergi gitu aja, nggak ada tanggung jawab. Aku pikir kamu sudah bahagia dengan istrimu. Rasanya....""Stop!" Albert buru-buru menyela. "Aku sudah menerima hukuman dengan kehilangan dirimu masa itu, saat kamu memutuskan untuk menikah dengan Revan. Dalam ketidakberdayaan, apa yang bisa kulakukan, Nai? Aku hampir gila waktu itu, menyadari jika kamu lepas dari jangkauan, padahal saat itu aku tahu kamu telah mengandung Bilqis.""Sayang... tolong, jangan pergi. Kita sudah sampai sejauh ini, kita bisa sama-sama, walaupun kamu tidak mau diajak untuk menikah. Kalau anak-
Bab 80: Bukan Inginku Ada Diantara Kalian Suasana restoran ini tidak terlalu ramai. Ini bukan restoran untuk kelas menengah ke atas, tetapi hanya restoran sederhana, meski letaknya juga di mall. Harga makanannya juga tidak terlalu mahal. Naina sengaja memilih itu, dari beberapa rekomendasi restoran yang di sebutkan oleh Albert, karena tahu sendiri gimana kondisi keuangan Albert sekarang. Meskipun Albert sudah terlihat cukup mapan dengan perusahaan barunya, tapi bagi Naina, jika memang tidak terlalu urgent, dia tidak akan meminta Albert untuk mengeluarkan uang.Ini hanya sekedar perayaan kecil, meskipun bagi Naina, tetaplah bukan sebuah perayaan. Ini hanya sekedar makan-makan, dan dia tidak ada sedikitpun rasa senang dengan perceraian Albert dan Cherry.Hatinya sudah lama hambar. Albert bercerai dari Cherry atau tidak, itu bukan urusannya.Dia hanya mengikuti alur yang di buat oleh pria itu, karena sulit baginya untuk keluar dari jeratan Albert."Bukan inginku ada di antara kalian!"
Bab 79: Jangan Menangis, Nai"Jangan menangis, Nai." Pria itu menegakkan wajah Naina, lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Aku janji, aku nggak akan membuat kamu menangis. Aku akan berusaha untuk bersabar....""Kurang sabar apalagi aku sama kamu, Al?" sergah Naina dengan nada putus asa. Dia memejamkan matanya sejenak. Kalau boleh jujur, luka dengan Albert sudah terlalu dalam. Luka yang tak pernah Albert sadari, karena dia sibuk menyalahkan orang lain yang menyebabkan hubungannya dengan Naina di masa lalu kandas. "Sejak kita memiliki hubungan, aku seperti terperangkap dalam satu labirin, dan aku tersesat. Kamu nggak akan tahu gimana rasanya....""Aku tahu, meski dalam bentuk yang berbeda. Kita sama-sama menderita." Pria itu mengusap-ngusap pundak Naina dengan lembut. "Ayo kita jalani semuanya sama-sama. Kalau memang kamu nggak mau menikah sekarang, oke. Bisa nanti-nanti, tapi yang jelas, aku akan selalu menunggumu. Aku nggak akan maksa...""Tapi caramu menungguku, seolah-olah
Bab 78: Biarkan Aku Pergi"Menikah?"Edward balas menatapnya dengan raut wajah serius."Memangnya kenapa, Pa? Aku ingin segera meresmikan hubungan dengan Naina. Aku ingin menikahinya secepat mungkin, meskipun secara siri dulu sambil menunggu urusan cerai dengan Cherry tuntas di pengadilan," ujar Albert mantap. Suaranya penuh ambisi, seolah-olah pernikahan adalah sebuah transaksi yang bisa ia putuskan sepihak.Edward menghela napas panjang, dia yang duduk disamping putranya itu. "Al, kamu harus ingat satu hal. Menikahi Naina bukan hanya soal kemauanmu. Dia sudah terlalu lama disakiti, terlalu sering menjadi korban dari keadaan yang kamu buat. Belum tentu dia bersedia menjadi istrimu lagi setelah semua babak belur yang ia rasakan.""Dia butuh perlindungan, Pa. Dan satu-satunya cara melindunginya adalah dengan menjadikannya istriku," bantah Albert keras kepala."Tapi bukan begitu caranya," ujar sang papa dengan ketenangan yang terukur."Dari awal kamu sudah salah. Kamu memperkosa
Bab 77 Mereka tidak langsung keluar, tetapi mengintip dari balik kaca. Dua orang pria segera datang dan memeriksa sebuah bungkusan kresek hitam. Albert sudah stand by dengan ponselnya. "Apa isinya?" tanya pria itu setelah ia melihat dua pria kepercayaannya membawa benda itu menjauh dari halaman rumah. "Tidak apa-apa, Tuan. Ini hanya benda yang tidak berguna. Kami bisa mengatasinya, percayalah," sahut salah satu dari mereka, yang memang sedang menggenggam benda pipih itu. Sementara temannya tengah menjinjing bungkusan kresek. "Apa ada yang ingin mencoba bermain-main denganku?" "Sepertinya iya, tetapi Tuan jangan khawatir. Kami sudah terbiasa mengatasi masalah seperti ini. Nanti akan kami laporkan juga perihal ini kepada...." "Jangan laporkan kepada Papa! Kamu boleh meminta bantuan kepada para pengawal yang lain, tapi jangan lapor kepada Papa dulu." "Baik, Tuan, kami mengerti." Albert segera memutus panggilan dan tepat saat ia baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku
Bab 76Gayatri terdiam untuk sesaat. Perasaannya sulit untuk ia jabarkan. Dia hanya bisa menatap bayi yang baru saja bisa duduk itu. Memang, Bilqis terlihat sangat cantik. Wajahnya pun sangat mirip dengan Albert. Tak diragukan lagi jika Bilqis memang darah daging Albert, putra mereka. Namun, entah kenapa rasanya dia tidak bisa menerima kenyataan, kenapa putranya harus menanamkan benih di dalam rahim seorang wanita rendahan seperti ini?Bagaimana tanggapan keluarga besarnya kelak jika dia mengangkat seorang menantu dari kalangan rendahan, dari rakyat jelata, kasta terendah. Gayatri yang memiliki nama lengkap Dewi Ajeng Gayatri adalah wanita berdarah bangsawan. Silsilah keluarganya tersambung dengan keluarga kerajaan di masa lalu. Adat dan tradisi masih melekat dalam keluarganya, sehingga dia tidak bisa memilih orang sembarangan sebagai menantu.Seperti halnya dia sendiri yang akhirnya menikah dengan pria yang masih kerabat kerajaan Inggris, namun memilih menjadi mualaf dan tinggal di
Bab 75"Akhirnya Mama sudah tahu, kan, gimana menantu kesayangan Mama itu? Makanya, Ma. Jangan memandang sesuatu itu hanya dari bebet, bibit dan bobot saja. Keturunan yang baik tidak menjamin, contohnya Cherry. Mungkin Mama menganggap jika dia itu anak sahabat mama, cucunya orang terkenal di neger
Bab 74"Aku pikir kamu bisa diajak kerjasama, Cher, mengingat di antara kita tidak ada hubungan apapun. Pernikahan kita murni karena bisnis. Aku bisa menerimamu sebagai wanita pilihan Mama, tapi sayangnya kamu tidak bisa menjaga harga dirimu sendiri. Bukan aku yang mempermalukan keluargamu, tetapi
Bab 72Novia merasa ragu, takut, dan sedikit cemas. Namun, perempuan muda yang tengah berdiri tepat berada di depan pintu itu masih tampak sabar menunggu. Dia memencet tombol berkali-kali dan suara denting lonceng berbunyi berulang-ulang, memecah keheningan suasana rumah ini.Akhirnya Novia memutus
Bab 71Tanpa menunggu jawaban Naina, Albert langsung memindahkan Bilqis dan Queen ke dalam stroller."Ayo kita piknik, anak-anak!" serunya antusias seraya mendorong stroller menuju ke halaman belakang.Melihat Albert yang begitu antusias, akhirnya Naina terpaksa berjalan mengiringi mereka, walaupun







