LOGINBegitu pintu utama mansion Albert terbuka, semua mata langsung tertuju pada satu titik: Noah… dan Aishwa.Bukan karena mereka datang terakhir. Bukan juga karena status pengantin barunya. Tapi karena cara jalan Aishwa yang—jujur saja—lebih cocok untuk antre obat rematik daripada makan malam keluarga. Langkahnya pelan, terbuka sedikit. Tangannya mencengkeram lengan Noah seperti pegangan darurat.Ruangan mendadak hening. Samuel yang sedang duduk santai di kursi makan langsung menyipitkan mata. Violet menutup mulutnya, matanya membulat. Michael dan Rizky saling pandang. Nathan sudah lebih dulu senyum-senyum curiga.“Aishwa…” Eliza berdiri setengah panik. “Kamu kenapa, Nak?”Aishwa tersenyum kaku. “Nggak kenapa-kenapa, Mommy mertua.”Hermawan mengangguk pelan. “Kalau nggak kenapa-kenapa, biasanya jalannya nggak begitu.”Kakek Hermawan sudah lama hidup dan terlalu banyak pengalaman. Sehingga tau apa yang sebenarnya terjadi. Namun tetap saja, ia berbicara seperti ini, hanya sekedar menggoda
"Wah Kakak ipar sangat cerdas," goda Olivia. "Tentu," jawab Violet tersenyum lebar. Samuel menurunkan satu tangannya dan kemudian menggenggam tangan istrinya. Kemudian pria itu berbisik. Begitu mendengar bisikan dari suaminya, wajah violet langsung memerah Bahkan dia sampai menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Lagi-lagi tingkah violet yang sangat polos membuat mereka semua tertawa. "Kenapa Noah lama sekali. Padahal Samuel dan juga Violet sudah pulang sejak semalam." Dengan sengaja Eliza mengalihkan topik obrolan. Karena dia takut Violet akan semakin malu.Yuna menimpali sambil tersenyum geli. “Yang satu kelihatan habis baca buku parenting, yang satu lagi mungkin masih cari tenaga buat jalan.”Violet langsung menunduk, pipinya memerah. “Aunty Yuna…”Aruna yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara, nada suaranya santai tapi penuh arti. “Samuel ini dari dulu memang rapi. Dari awal mendekati sampai nikah, konsisten.”Albert mengangguk setuju. “Iya. Terlalu konsisten malah.”Sa
Menara Eiffel berdiri megah di hadapan mereka, menjulang tinggi dan berkilau diterpa cahaya sore Paris. Turis berlalu-lalang, suara kamera berbunyi di mana-mana. Dan di tengah suasana romantis itu—Jasmine melipat tangan di dada. “Aku mau foto di situ,” katanya sambil menunjuk spot yang jelas-jelas ramai.Attar melirik. “Di situ penuh orang. Kita geser sedikit ke kiri, cahayanya lebih bagus.”“Nggak. Aku maunya di situ.”“Jasmine, di situ bayangannya nutup setengah wajah kamu.”“Itu sudut artistik.”“Itu namanya ketutup tiang, bukan artistik.” Attar berkata sambil menghembuskan napasnya.Jasmine menoleh tajam. “Kamu ngajarin aku foto?”Attar mengangkat tangan menyerah setengah. “Aku cuma mau menyelamatkan hasil fotonya.”“Berarti kamu meragukan selera estetikaku.” Jasmine sangat yakin, hasil fotonya pasti sangat bagus.“Berarti kamu menyimpulkan sendiri.”Jasmine mendengus. “Ya sudah. Kamu foto aja. Jika hasilnya jelek, itu salah kamu.”Attar mengambil ponsel, mundur beberapa langkah.
Pintu kamar hotel akhirnya terbuka. Noah melangkah keluar lebih dulu, rambut sedikit berantakan, wajahnya tampak puas sekaligus kelelahan. Ia menarik napas panjang, seperti seseorang yang baru kembali ke dunia nyata setelah dua hari menghilang.Beberapa detik kemudian, Aishwa menyusul. Langkahnya teramat pelan. Pinggang sedikit miring, bahu turun, dan setiap langkah diambil dengan ekspresi menahan, seolah lututnya sedang bernegosiasi dengan gravitasi.“Mas,” gumamnya, suara lirih tapi penuh tuduhan, “ini kenapa kakiku rasanya kayak bukan punya aku?”Noah menoleh, alisnya naik sebelum menutup mulut untuk menahan tawa. “Jalanmu kenapa kayak nenek-nenek habis senam pagi?” tanyanya polos—kesalahan fatal.Aishwa berhenti, menoleh pelan dengan tatapan tajam. “Mas Noah,” katanya sambil menunjuk pinggangnya, “ini semua akibat kamu.”Noah langsung mengangkat tangan. “Eits. Jangan dibalik fakta.”“Apa fakta?”“Kamu yang sering mulai,” jawab Noah tenang dan santai. “Aku cuma… menanggapi.”“Menan
Menara Eiffel berdiri anggun di depan mereka, besinya berkilau terpapar matahari sore Paris. Angin berhembus pelan, membawa aroma kopi dan suara turis yang berlalu-lalang.Jasmine menyilangkan tangan, dagunya terangkat sedikit. “Aku bilang dari tadi, kita harus belok ke kanan.”Attar mendesah. “Dan aku bilang, ke kiri lebih cepat.”“Menurut siapa?”“Menurut logika.”Jasmine memutar badan, menatap tajam. “Logikamu sering salah.”Attar mengangkat alis. “Atau mungkin logikaku benar, tapi kamu alergi mengakuinya.”“Itu fitnah,” ujar Jasmine cepat. “Aku cuma nggak suka salah.”Attar tertawa kecil—suara yang membuat Jasmine semakin kesal. “Tuh kan. Kamu ketawa karena tahu aku benar.”Jasmine melangkah lebih dekat. “Aku kesal karena kamu merasa benar.”“Keduanya beda?”“Banget.”Attar menghela napas panjang, lalu menunjuk Menara Eiffel di belakang. “Kita ke sini untuk menikmati pemandangan, bukan lomba debat.”“Justru karena di Paris aku harus menang,” tegas Jasmine. “Romantis itu bonus.”At
Anisa bergerak kecil. Dahi Leo langsung berkeringat.Perempuan itu menggeser kepalanya sedikit, pipinya kini menempel tepat di kulit Leo. Lalu—tanpa sadar—Anisa semakin mendekat, seakan mencari posisi yang paling nyaman.Leo memejamkan mata.Ya Tuhan. Ini bahaya.Beberapa detik berlalu sebelum Anisa akhirnya terbangun. Kelopak matanya bergetar pelan, lalu terbuka perlahan.Ia tidak langsung menyadari posisi mereka.Yang pertama ia rasakan adalah hangat.Yang kedua, detak jantung—bukan miliknya.Alis Anisa mengernyit.Ia mengangkat kepala sedikit… dan langsung membeku ketika menyadari wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Leo.Dan tangannya?Masih melingkar di pinggang pria itu.“Oh.”Hanya satu kata itu yang keluar.Leo membuka mata. Tatapan mereka bertemu.Hening.Leo menelan ludah. Ia tidak bergerak. Bahkan bernapas pun terasa berisik.“Anisa…,” ucapnya pelan, nyaris seperti permintaan maaf yang belum jadi.Anisa buru-buru menarik tangannya, seakan tersengat. Wajahn







