Share

Bab 853

Author: Liazta
last update publish date: 2026-01-16 22:26:04

Leo hampir tidak percaya saat melihat tempat tidur Anisa didorong masuk ke ruangan yang sama dengannya. Matanya mengikuti setiap gerakan perawat tanpa berkedip. Jantungnya berdetak lebih cepat—ia bahkan lupa kalau jarum infus masih menancap di punggung tangannya sendiri.

Begitu posisi Anisa sudah sejajar di samping tempat tidurnya, Leo menghela napas panjang. Napas lega yang selama ini tertahan di kerongkongan.

“Akhirnya,” gumamnya pelan. “Sekamar juga.”

Anisa belum sadar. Wajahnya masih pucat,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 1027

    Rumah sakit itu terasa sunyi.Lorong panjang berwarna putih dipenuhi aroma obat-obatan dan suara langkah kaki perawat yang berlalu-lalang sejak pagi.Berbeda dengan keluarga Hermawan yang sudah kembali ke Paris— Leo dan Anisa, justru memilih tetap tinggal beberapa hari lebih lama di Indonesia.Bukan tanpa alasan.Mereka datang untuk melihat kondisi dua orang yang selama ini menjadi bagian dari masa lalu kelam Anisa.Mirna. Dan Sandy.Suasana di lantai perawatan VIP terasa begitu hening ketika langkah kaki Anisa berhenti di depan sebuah pintu kamar.Tangannya perlahan mengepal.Sedangkan Leo berdiri di samping istrinya sambil memperhatikan wajah Anisa dengan tenang.“Kalau nggak siap… kita bisa pulang,” ucap pria itu pelan.Anisa menggeleng kecil.“Aku harus masuk.”Leo akhirnya mengangguk.Dan perlahan— pintu kamar itu terbuka.Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar di sudut ruangan. Namun suasana di dalam kamar tetap terasa dingin.Mirna duduk sendiri di atas ranjang rumah

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 1026

    Salju masih turun perlahan.Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, membuat jalanan Jepang terlihat seperti potongan adegan film romantis.Namun di antara banyak pasangan yang berjalan menikmati musim dingin— Atar dan Jasmine justru sibuk berdebat soal makanan.“Aku mau itu.”Jasmine menunjuk kios kecil penjual taiyaki di pinggir jalan.Atar mengikuti arah telunjuk istrinya. Lalu mengangguk pelan.“Oke.”Beberapa menit kemudian— Jasmine sudah memegang taiyaki hangat berbentuk ikan sambil meniup-niup pelan karena masih terlalu panas.Sedangkan Atar berdiri di sampingnya sambil kedua tangan masuk ke saku coat.“Aku ngerti sekarang,” gumam pria itu.“Ngerti apa?” tanya Jasmine sambil menggigit sedikit kue itu.“Kenapa orang rela keluar rumah pas musim dingin.”“Karena saljunya cantik?”“Karena makanan hangat," kata Atar.Jasmine langsung tertawa kecil.“Mas pikirannya makan terus.”“Ya realistis.”“Mas dari tadi realistis mulu.”“Atar memang pria penuh kenyataan.”Jasmine kembali t

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 1025

    Jepang menyambut pasangan baru itu dengan musim dingin yang tenang.Salju turun perlahan sejak pagi. Menutupi jalanan, pepohonan, dan atap bangunan dengan warna putih lembut yang terlihat seperti lukisan.Dari jendela hotel mewah tempat mereka menginap, pemandangan kota terlihat begitu indah.Namun berbeda dengan Jasmine— Atar justru memandang keluar jendela dengan ekspresi seperti orang sedang dizalimi kehidupan.“Mas…” Jasmine berdiri di dekat kaca sambil menahan senyum. “Ini cantik banget.”“Hm.”“Saljunya turun.”“Hm.”“Mas nggak Excited?”Atar menoleh pelan. Wajah tampan pria itu terlihat datar sambil memeluk selimut tebal.“Tentu saja bersemangat.” Jawabannya pendek sekali.Jasmine langsung tertawa kecil.Karena sejak sampai tadi malam— suaminya itu benar-benar seperti beruang musim dingin.Kerjanya cuma: masuk selimut. minum yang hangat. dan bilang dingin setiap lima menit sekali.Padahal di Indonesia, Atar terlihat begitu keren dan berwibawa.Begitu sampai Jepang— langsung ber

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 1024

    Bandara internasional pagi itu tampak ramai.Namun keluarga Hermawan tetap menjadi pusat perhatian.Bukan hanya karena jumlah mereka yang banyak.Namun juga karena aura keluarga besar itu benar-benar mencolok.Anak-anak kecil berlarian.Para pria sibuk memastikan koper.Sedangkan para wanita saling mengobrol sambil sesekali tertawa.Albert berdiri paling depan.Wajah pria itu kembali serius seperti biasa.Mode pebisnisnya sudah aktif lagi."Semua sudah masuk?" tanyanya."Sudah, Daddy," jawab Darren."Paspor?""Aman.""Barang?""Aman juga.""Anak-anak?""Nah itu nggak aman," gumam Noah sambil mengejar Deon.Semua langsung tertawa.Eve juga tidak kalah aktif.Samuel bahkan sampai harus menggendong putrinya karena gadis kecil itu terus ingin lari dan kejar-kejaran dengan sepupunya.Sedangkan Melien sibuk berjalan sambil memakai kacamata hitam kecilnya."Aku mirip artis nggak?" tanyanya pada Michael."Mirip bodyguard artis," jawab Michael jujur."Daddy jahat."Michael langsung tertawa sam

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 1023

    “Aku benci harus pergi…” bisik Alicia pelan.Arbi memejamkan mata sesaat.“Aku juga.”Suara pria itu rendah sekali. Serak.Dan itu cukup membuat hati Alicia makin kacau.Gadis itu mendongak perlahan.Menatap wajah Arbi dari jarak sangat dekat.Matanya mulai memerah. Namun bibirnya justru tersenyum kecil.“Kamu jangan lupa sama aku.”Arbi langsung mengernyit pelan. “Mana mungkin.”“Aku serius.”“Alicia,” bisik Arbi sambil mengusap rambut gadis itu perlahan, “aku bahkan nggak bisa tenang dua hari nggak ketemu kamu.”Kalimat itu membuat napas Alicia tercekat.Karena ia tahu— Arbi bukan tipe pria yang pandai merangkai kata romantis.Namun sekali pria itu bicara jujur— rasanya jauh lebih menghancurkan.“Aku takut…” gumam Alicia lirih. “Takut nanti kita jauh terus.”Arbi menatapnya dalam. Lama.Lalu dahinya menyentuh dahi Alicia pelan.“Nggak akan selamanya.”“Janji?”“Janji.”Tatapan mereka saling terkunci.Dan untuk beberapa detik— tidak ada suara apa pun.Hanya napas yang saling bertabra

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 1022

    Suasana mansion langsung kembali ramai.Dan di tengah semua tawa itu—ada satu orang yang justru diam.Alicia.Gadis itu duduk di lantai kamarnya sambil menatap koper yang sudah tertutup rapi.Biasanya ia paling semangat kalau akan kembali ke Paris.Namun kali ini—hatinya terasa berat.Karena ia tahu.Begitu pesawat lepas landas nanti—jarak antara dirinya dan Arbi kembali menjadi ribuan kilometer.Alicia menunduk pelan.Mengusap layar ponselnya.Pesan terakhir Arbi masih ada di sana.Aku bakal nyusul kamu ke Paris.Namun kapan?Seminggu lagi?Sebulan?Atau lebih lama?Dadanya terasa sesak.Dan di saat itulah—suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya.Tok.Tok.Alicia menoleh cepat."Masuk…"Pintu terbuka perlahan.Dan detik berikutnya—mata Alicia langsung berbinar.Arbi berdiri di sana.Dengan wajah tenang khasnya.Namun tatapan pria itu begitu hangat saat melihat dirinya.Seketika seluruh rasa sedih Alicia runtuh begitu saja."Arbi…"Senyum kecil langsung muncul di wajah pria i

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 814

    Samuel refleks menarik tangannya, lalu tertawa gugup. “Aku belum biasa.”“Berarti,” Violet berbisik sambil tersenyum, “sekarang waktunya belajar.”Samuel diam dan tersenyum.Violet memiringkan kepala, memperhatikan wajah Samuel dari dekat. “Mas tahu? Sejak tadi kamu terus nanya apa aku nyaman. Tapi

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 830

    "Wah Kakak ipar sangat cerdas," goda Olivia. "Tentu," jawab Violet tersenyum lebar. Samuel menurunkan satu tangannya dan kemudian menggenggam tangan istrinya. Kemudian pria itu berbisik. Begitu mendengar bisikan dari suaminya, wajah violet langsung memerah Bahkan dia sampai menyembunyikan wajahn

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 829

    Menara Eiffel berdiri megah di hadapan mereka, menjulang tinggi dan berkilau diterpa cahaya sore Paris. Turis berlalu-lalang, suara kamera berbunyi di mana-mana. Dan di tengah suasana romantis itu—Jasmine melipat tangan di dada. “Aku mau foto di situ,” katanya sambil menunjuk spot yang jelas-jelas

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 834

    Suara dokter dari Indonesia terdengar jelas di seberang sambungan internasional itu. Nada profesional, tenang—namun setiap kata yang keluar seperti menghitung harga sebuah nyawa.“Pak Leo,” dokter itu memulai, “saya akan jelaskan secara rinci, supaya tidak ada yang Bapak setujui tanpa memahami selu

    last updateLast Updated : 2026-04-03
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status