LOGINKalimat itu—menusuk.Dalam.Sandy menginjak rem sedikit lebih keras.Mobil sedikit tersentak. Namun mobil kembali melaju tanpa menghentikannya.“Cukup, Mirna.”Suaranya rendah.Namun penuh tekanan.“Aku sudah diam terlalu lama.”Mirna menatapnya tajam.Matanya penuh amarah.“Diam? Kamu bilang itu diam? Itu pengecut, Sandy."Dan kalimat itu—memecahkan segalanya.“AKU PENGECUT?!” Sandy membentak.“Aku yang kerja! Aku yang tanggung semuanya! Dan kamu—”“Aku apa?!” Mirna memotong.“Kamu hanya bisa menyalahkan orang lain!”“Karena kamu MEMANG SALAH!”Suasana meledak.Tidak terkendali.Tidak ada lagi logika.Hanya emosi.Dan dalam kemarahan itu—Mirna tiba-tiba bergerak.Tangannya—meraih setir.“Kamu tidak layak pegang kendali!"“Mirna! Lepas!” Sandy kaget.Namun terlambat.Setir tertarik.Mobil oleng.Kiri.Kanan.Tidak stabil.“LEPAS, MIRNA!!” teriak Sandy.Namun wanita itu seolah kehilangan kewarasannya.“Semua ini karena kamu!!”Di depan sebuah truk Fuso melaju.Dekat.Terlalu dekat.
Napasnya memburu.Tidak stabil.Matanya mulai memerah.“Anak pertamaku… meninggal.”Kalimat itu keluar pelan.Namun terasa seperti beban yang runtuh.“Anak keduaku… lahir dalam kondisi cacat.”Tangannya bergetar.Namun ia tetap berbicara.“Dan anak ketigaku…” suaranya hampir hilang, “…Mama yang membuangnya.”Hening.Sesaat.Namun justru terasa menghancurkan.“Bahkan… ibunya pun meninggal… dan Mama tidak pernah memberitahuku.”Sandy menutup matanya rapat.Rahangnya mengeras.Menahan sesuatu yang sudah tidak bisa lagi ditahan.Ia terdiam cukup lama.Lalu perlahan membuka mata.“Bertahun-tahun… bahkan puluhan tahun…” suaranya kembali terdengar, berat dan penuh luka, “aku hidup dalam rasa sakit ini.”Tangannya kembali terangkat.Dan—bugh!Ia memukul dadanya lagi.Lebih keras.“Semakin aku mencoba melupakan…”bugh!“…semakin sakit itu menekan di sini.”Tangannya berhenti.Namun dadanya masih naik turun dengan kasar.“Anisa… sudah pergi.”Suaranya melemah.Hampir tidak terdengar.“Dia suda
“Memangnya cuma kamu yang punya badan?” Tia menyindir tajam. “Aku juga bisa sakit!”“Ya sudah kamu saja kalau begitu!”“Kamu saja!”“Kamu!”“Kamu!”Suara mereka saling tumpang tindih.Saling dorong tanggung jawab.Saling melempar beban—tanpa satu pun yang benar-benar mau menerima.Mirna memijat pelipisnya lagi, kesal.“Cukup!” bentaknya tiba-tiba.Kedua wanita itu terdiam, meski masih saling menatap dengan emosi.Mirna menghembuskan napas kasar, lalu berkata dengan dingin, “Kita tidak mungkin semua tinggal di sini. Harus ada yang jaga. Tapi bukan aku.”Tia langsung mengangguk. “Aku juga tidak.”Tina menyusul cepat, “Aku juga tidak mau.”Keputusan itu terasa begitu mudah diucapkan.Tanpa rasa bersalah.Tanpa beban.Di sudut ruangan—Sandy masih berdiri.Diam.Sejak awal ia tidak ikut dalam perdebatan itu.Tidak menyela.Tidak membela diri.Tidak juga menawarkan solusi.Ia hanya berdiri, dengan wajah yang semakin kosong.Seolah sudah terlalu lelah untuk melawan.Mirna melirik ke arahny
Ruang rawat itu terasa dingin dan sunyi, seolah waktu berjalan lebih lambatDan terasa… asing.Mesin monitor berbunyi pelan.Teratur.Namun justru membuat suasana semakin mencekam.Di atas tempat tidur—Wati terbaring kaku.Setengah tubuhnya tidak bisa digerakkan.Mulutnya miring.Matanya terbuka…"Mengapa mama harus sakit menjijikan seperti ini disaat kondisi kita sulit. Jika ekonomi masih stabil, bagiku tak masalah. Kita bisa membayar perawat lansia." Wati diam sambil merasakan sakit yang luar biasa ketika mendengar perkataan anak-anaknya. Ia ingin memandang putri sulungnya itu. Ia ingin melihat ekspresi wajah anaknya itu ketika berbicara dengan sangat kejam. Namun kepalanya tidak bisa bergerak. Hanya bisa memandangi dinding putih yang bersih. Namun justru memantulkan kesan asing, jauh dari kehangatan. "Menyusahkan saja," kata Tina."Aku paling tidak suka mendengar suara mesin monitor seperti ini." Tia berkata sambil memandang alat monitor yang menunjukkan frekuensi garis naik tur
Sunyi.Tangannya gemetar.Tubuhnya membeku.Dan sebelum ia sempat mencerna—ponselnya kembali berdering.Nama yang muncul:Bagian Keuangan.Dengan tangan bergetar, ia mengangkat.“Bu… kita dalam masalah besar!” suara di seberang panik.“Pak David menarik semua modalnya!”“Dan… dan bukan cuma dia—investor lain ikut menarik dana mereka!”Dunia Mirna seolah runtuh.“Apa maksudmu ikut menarik—”“Semua, Bu! SEMUA! Dana proyek berhenti total!”Napas Mirna tersengal.“Kontrak… bagaimana dengan kontrak yang sudah berjalan…?”“Tidak bisa dilanjutkan, Bu! Kita tidak punya dana untuk menyelesaikan proyek!”“Penalty… kita akan kena penalty besar!”Telepon hampir jatuh dari tangannya.“Mirna?! Ada apa?!” Tina langsung berdiri.Namun belum sempat dijawab—ponsel Tina sendiri berdering.Lalu Alea.Lalu Sandi.Satu per satu.Bersahutan.Seperti alarm kehancuran.“Ma! Klien kita membatalkan kontrak!”“Semua proyek dihentikan!”“Media sudah menyebarkan video itu!”“Sudah ditonton lebih dari satu juta o
“Apa maksudmu?” Wati menyipitkan mata.Namun Sandi melangkah maju.Satu langkah.Dan setiap langkahnya—seolah membawa semua luka yang selama ini ia simpan.“Andaikan dulu aku menuruti Papa…”suaranya semakin berat,“…aku tidak akan seperti ini.”Ia menatap lurus ke arah ibunya.Untuk pertama kalinya—tanpa takut.Tanpa ragu.“Aku akan hidup bahagia bersama Eliza… dan anakku.”Hening.Nama itu—seperti tamparan keras.Dan Sandi belum selesai.“Dan kalau saja aku mendengarkan Papa…”matanya mulai berkaca,“…untuk menyayangi Anisa dengan sepenuh hati…”Suaranya pecah.“…dia tidak akan membenciku seperti sekarang.”Sunyi.Sunyi yang menyakitkan.Wati merasa sangat marah mendengar ucapan putranya yang begitu sangat menyakitkan. padahal semua yang ia lakukan, demi Sandy. Wati tidak bisa menahan emosi dan juga rasa kecewanya. Kemarahannya meledak.“Apa maksudmu?!” teriaknya.“Kau menyalahkanku?!”Sandi tertawa lagi.Namun kali ini—lebih keras.Lebih hancur.“Iya.”Satu kata.Tegas.Tanpa
"Sebentar pak, saya akan menghubungi anak-anak saya. Walau bagaimanapun kami harus berkumpul. Anak-anak harus tahu," kata Wati dengan semangat. Wajah yang tadi penuh kemarahan berubah dalam hitungan detik. Akhirnya apa yang ditunggunya selama ini akan, segera dia dapatkan. Wati langsung menghubungi
Eliza terbangun ketika mendengar suara Noah yang sudah merengek manja. Hal pertama yang dilihatnya ketika membuka mata adalah wajah Nathan. Melihat Nathan tidur dikamar yang sama dengannya, tentu saja membuat Eliza panik dan gugup."Ya ampun, semalam aku tidur pasti sangat lelap sampai gak tahu kalau
Eliza duduk santai di ayunan besi sambil memangku malaikat kecilnya. Takdir manusia tidak ada yang bisa menebak. Jika sang pencipta berkehendak yang hitam bisa jadi putih yang putih bisa dah jadi hitam bahkan semudah membalikkan telapak tangan. Begitulah dengan nasib Eliza. Disaat ia diberikan cobaa
"Bukankah selama ini kamu yang begitu sangat pandai menghina orang. Berkaca dengan diri sendiri, lihat dirimu. Sebenarnya aku tidak ingin membuka aib di depan umum. Tapi kamu yang terlalu kelewatan sehingga membuat aku tidak bisa menutupi lagi kekurangan kamu. Setelah ini kita sudah tidak lagi menja







