LOGINDi sisi David. Adegan dimulai saat pria itu membawa istrinya bak karung beras ke kamar."Turunin!" teriak Irish, dua kakinya bergerak berontak.David yang wajahnya merah padam. Dia menurunkan istrinya di sofa. Irish gegas duduk kasar. "Sejak kapan kamu main wanita?" Sedikit menyentak dengan mata merah tajam."Sejak kapan? Kenapa kamu tanya padaku? Aku nggak suka main wanita. Kalau dekat sama wanita, pasti serius." David membuang napasnya yang berat.Mata Irish berkaca-kaca. Jadi yang dia lihat di kafe itu, semua serius? Bukan cuma main-main cari selingan? Apa mungkin lagi nyari yang sesuai selera buat dipilih?Dia meremas dadanya. Rasanya hancur lebur hatinya saat ini. Tak sadar ada rintik air mata yang lolos dari ujung kelopak matanya. "Ternyata seperti ini rasanya jadi istri orang kaya? Manis di depan, manis juga di belakang." Irish membekap mulutnya.David membuang napasnya dan mengusap wajah kasar. "Kapan aku manis di belakang? Ya, aku tetap tersenyum manis meski wanitaku membel
"Dokter, tenangkan dirimu. Di negaraku, kami menghargai wanita cantik. Jika kamu tidak bisa menjaganya dengan baik, jangan salahkan orang lain yang ingin melakukannya."Tak sadar mereka menyiram minyak di bara emosi David. Dan tak tahu kalau pria itu jika sudah kumat jiwa gangster-nya, maka akan habis dilempar ke laut."Apa kamu bilang?!" Pekik David denga suara rendah menekan.David maju selangkah demi selangkah, sorot matanya makin menakutkan. "Dengar!! Aku tahu persis di mana titik syaraf yang bisa membuatmu tidak bisa berjalan lagi hanya dengan satu tekanan jari. Mau coba?" Dia tidak teriak, tapi justru membuat merinding."David! Cukup!" Irish berteriak, mencoba mendorong dada David agar menjauh dari Luca. "Kamu tidak berhak mengancamnya! Tadi kamu sendiri yang asyik dirayu wanita-wanita itu, kenapa sekarang jadi pahlawan kesiangan?!"Mata David melotot tak percaya. Istrinya membela pria lain? Emosinya jadi berasap."Aku tidak menikmatinya, Irish! Mereka yang mengerumuniku. Dan bo
Di sisi lain. Amber dan Irish mulai kehilangan kesabaran melihat suami mereka disentuh-sentuh. Antara jengkel dan cemburu. Ego mereka terlalu tinggi untuk menyerah sekarang. Mereka sengaja mengeraskan suara untuk membalas dendam."Oh, Jack! Kamu bilang mau mengajakku ke Paris?" teriak Amber sambil menyentuh bahu pria mancanegara di sampingnya, matanya melirik tajam ke arah Reyvan yang sedang dipegang paksa oleh wanita berbikini. "Yes. Kamu mau?" ujar pria itu."Tentu saja aku mau! Aku butuh udara segar setelah terjebak dengan pria narsis yang seleranya ternyata murahan!" teriak Amber dengan tawa renyah.Irish tidak mau kalah, dia memegang tangan pria Italia di dekatnya dan menatapnya dalam-dalam."Lucas, ceritakan lagi soal vila itu. Sepertinya menginap di sana jauh lebih terhormat daripada berada di resort sama pria yang hobi mengumpulkan wanita. Aku benci pria yang tidak punya harga diri!" Irish menutup mulutnya dengan tawa kecil.David yang mendengar itu benar-benar ingin mengam
Galaxy menunjuk. "Pria kurang tampan itu, Papaku. Dan yang sedikit tampan itu, Om-ku. Mereka sedang melakukan challenge untuk membuat istri-istri mereka cemburu dengan merayu wanita lain."Irish dan Amber serentak melipat tangan di dada sambil melempar senyum sangat lebar ke arah suami mereka. Tapi tatapan matanya tajam seperti hendak menguliti.Lalu, Amber bahkan memberikan jempol pada anaknya. Sementara Irish menikmati wajah David yang mulai berubah pucat pasi.Dua pria itu jadi mematung gelisah. Otaknya berhenti bekerja saat mendapati tatapan seperti itu. Mereka jadi tak tahu harus bagaimana."Sejak tadi usaha mereka terlihat sangat menyedihkan dan tidak ada yang berhasil," lanjut Galaxy menggantung.David dan Reyvan menarik napasnya dalam-dalam, untuk mencari kekuatan menghadapi istrinya. Oh bukan, juga menghadapi bocil biang kekacauan."Maka di sini aku akan membuka challenge ini untuk umum! Siapa saja Tante Tante di sini yang sanggup merayu dua suami kurang tampan itu dan benar-
"Lihat lihat! Tanduk mereka udah keluar. Sok mau terbar pesona booking wanita. Kita juga bisa," bisik Amber."Kalau istri sudah turun gunung, habislah mereka. Siapkan mental buat lihat istri dikerumuni banyak pria tampan," balas bisik Irish.Amber dan Irish duduk anggun di tengah kepungan lima pria mancanegara yang tampak seperti model majalah kebugaran, dan aktor.Amber menyandarkan punggungnya sambil memainkan ujung rambutnya dan melempar tawa renyah yang sengaja dikeraskan. "Oh ya? Menarik sekali. Aku jadi mau lihat tempat itu. Kapan-kapan gimana kalau kita semua pergi bersama?"Sementara Irish menopang dagu, memberikan tatapan paling intens kepada seorang pria Italia di depannya. "Aku jadi malas pergi karena kalian."Di sana, David dan Reyvan berdiri dengan tubuh kaku, rahang mengeras dan tangan mengepal sampai gemetar kuat. Emosi mereka benar-benar mendidih, tanduknya sudah ON. Entah keluar tanduk berapa. Dadanya kembang kempis naik turun, bergemuruh tak karuan."Lihat itu, Vid.
Sedang Reyvan. Pria itu mengibas kerah kemejanya karena gerah campur risih. Ide gila demi citra, tapi resikonya tinggi. Dia yang sudah pensiun jadi playboy, kini malah harus menebar pesonanya. "Resort ini, bangunan apartemen mewah di pusat kota, dan hotel bintang lima. Kamu benar-benar pria idaman. Aku jadi selingan saja sudah beruntung." Satu wanita mengerling. "Heyy, antri. Aku duluan yang duduk di sini. Pak Rey ini sangat profesional, bahkan dalam bermain wanita pun dia pakai jadwal. Iya, kan, Bos ...." Tangan wanita itu menyambar dada Reyvan. Tapi, Reyvan cepat menghindar. "Ehem! Sorry!" Tangannya menepis pelan. Di sana, Amber mengutuk suaminya. "Lihat, Irish. Dia memegang dada suamiku dan anehnya, Reyvan malah tersenyum dan memegang tangan wanita itu. Dia harus direndam pakai air mawar semalam, biar aura jahat wanita itu hilang dari tubuh suamiku nanti. Awas, kamu, Rey! Bisa-bisanya cari selingan!" Kini Reyvan sedang tertawa kecil, berusaha bertahan. Dia juga melirik ke semb







